Indonesia
NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:60
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12 — Peresmian Mural yang Viral

Mereka sedang mempertahankan valuasi, sementara Raka menghabiskan tujuh belas hari mempertaruhkan namanya pada sebuah dinding.

Setiap pagi ia tiba di TK Bintang Cemerlang sebelum pekerja lain. Ia memeriksa kelembapan, menandai campuran bahan, dan memotret nomor batch. Dua pekerja lepas menangani dasar sesuai modul; setiap bentuk penting tetap disentuh ulang oleh tangannya sendiri. Sore hari, area dibersihkan dan dikunci agar tak ada anak memasuki zona kerja.

Pada hari ketujuh belas, koridor yang dulu putih dan kosong berubah menjadi hutan Nusantara.

Akar pohon timbul mengalir di sepanjang dinding tanpa menghalangi jalur berjalan. Burung rangkong, rusa, daun pakis, dan bentuk awan muncul dalam lapisan berbeda. Zona bawah memiliki jalur sentuh dengan permukaan bulat; anak dapat mengikuti urutan bentuk dari biji, tunas, daun, hingga pohon. Di dekat ruang baca, motif kawung berubah perlahan menjadi empat wajah anak yang saling memandang.

Tidak ada sudut tajam. Tidak ada bagian kecil yang dapat dicabut.

Raka tidak membuka tirai peresmian sebelum semua pemeriksaan selesai.

Bu Rina berdiri bersamanya saat petugas memeriksa dokumen bahan, daya lekat, kebersihan, dan kualitas udara. Alat ukur portabel menunjukkan angka dalam batas yang disyaratkan setelah masa curing dan ventilasi. Dua titik dinding yang dulu lembap juga diperiksa ulang melalui lubang inspeksi kecil.

"Kalau hasilnya buruk?" tanya seorang wartawan yang mendapat izin meliput tanpa merekam wajah murid.

"Peresmian ditunda," jawab Raka. "Karya yang cantik tidak memberi saya hak mempertaruhkan kesehatan anak."

Bu Rina menandatangani bagian teknis. "Lulus."

Barulah tirai dibuka.

Suara kagum memenuhi koridor.

Anak-anak masuk dalam kelompok kecil bersama guru dan orang tua yang telah memberi persetujuan. Ada yang langsung menyentuh ekor rusa, ada yang mengikuti jalur akar dengan telunjuk, dan ada yang berdiri di bawah rangkong sambil mengepakkan tangan. Sasa berjalan paling pelan. Ia menyentuh tunas kecil di ujung jalur, lalu menoleh kepada Raka.

"Ayah, ini seperti aku?"

Raka berjongkok. "Bagian mana?"

"Dari biji kecil jadi pohon."

"Kalau Sasa mau."

"Aku mau jadi pohon yang kuat. Tapi tidak boleh ada sabuk di hutannya."

"Tidak ada," kata Raka. "Di hutan ini semua anak aman."

Seorang guru yang mendengar percakapan itu diam-diam mengusap mata.

Penilaian dilakukan terbuka. Tim teknis memberi nilai sembilan puluh tujuh dari seratus. Dari formulir orang tua, sembilan puluh enam persen menyatakan desain aman, jelas, dan sesuai ruang belajar. Anak-anak tidak diberi angka rumit; mereka diminta menempel stiker senyum atau datar pada papan pilihan. Seratus delapan belas dari seratus dua puluh stiker menempel pada wajah tersenyum.

Dua stiker datar berasal dari anak yang menginginkan dinosaurus.

"Kritik yang sah," kata Raka ketika Bu Rina menunjukkan hasilnya. "Mungkin proyek berikutnya."

Video jalur sentuh dan jawaban Sasa diunggah akun resmi sekolah dengan izin terbatas. Dalam tiga jam, tayangannya menembus ratusan ribu. Potongan Prof. Damar memeriksa panel lama kembali beredar. Nama Studio Nusa Karya masuk daftar pencarian, dan pengikut Raka naik melewati tiga puluh ribu.

Bu Rina ikut mengunggah ringkasan hasil uji, nomor batch bahan yang disamarkan sebagian, dan lembar penilaian tanpa data anak. Viralitas itu kini memiliki jejak verifikasi publik yang dapat diperiksa, bukan sekadar potongan gambar cantik.

Di kantor pusat yang namanya sengaja tidak pernah disebut Nindya kepada Raka, tayangan itu terbuka pada layar ruang kerja.

"Tim media bisa mendorong tagarnya ke nomor satu malam ini," kata asistennya melalui sambungan aman. "Tanpa menyebut perusahaan."

"Jangan beli satu pun tayangan," jawab Nindya. "Simpan data pertumbuhan organiknya saja. Kalau ada akun yang memotong ucapan Sasa atau menampilkan wajah murid tanpa izin, laporkan melalui kanal platform dan beri tahu sekolah."

"Jadi kita hanya menjaga batas?"

"Hari ini milik Raka. Jangan sentuh kemenangannya."

Nindya memperbesar satu bingkai ketika Raka berlutut menjawab Sasa. Ia ingin berada di sana, tetapi terlalu banyak pebisnis dan media mengenali wajahnya. Satu langkah ceroboh akan mengubah peresmian mural menjadi berita tentang seorang direktur utama. Maka ia memilih menyaksikan dari jauh dan membiarkan angka tumbuh karena karya itu sendiri.

Namun peresmian itu bukan hanya milik mural.

TK Bintang Cemerlang juga merayakan hari jadi. Balet Larasati diundang membawakan pertunjukan anak selama dua belas menit di panggung aula. Larasati menari dengan tepat dan anggun. Para murid bertepuk tangan. Raka menonton dari sisi ruangan tanpa kebencian; kemampuan panggung Larasati selalu nyata, apa pun yang gagal dalam pernikahan mereka.

Masalah dimulai saat Sulastri melihat media lebih lama merekam mural daripada mewawancarai putrinya.

"Lucu," katanya cukup keras di depan wartawan. "Seseorang menumpang acara balet terkenal untuk mempromosikan dindingnya."

Bu Rina yang sedang lewat berhenti. "Maaf, Bu Sulastri. Kontrak mural dan undangan Balet Larasati adalah dua program terpisah. Tidak ada pihak yang menumpang."

Ratna tersenyum tipis. "Tetap saja, tanpa nama Larasati, acara sekolah tidak akan seramai ini."

Seorang wartawan mengangkat ponselnya. "Bu, video mural sudah ramai sejak sebelum penampilan dimulai."

Wajah Ratna mengeras.

Raka mendekat untuk mengambil map serah-terima, bukan meladeni. Sulastri justru menghalangi jalannya.

"Kau senang sekarang? Sengaja memilih acara yang sama untuk mempermalukan Laras?"

"Saya menandatangani kontrak sebelum mengetahui daftar pengisi acara," kata Raka. "Penampilan Bu Laras bagus. Tidak perlu direndahkan dengan perbandingan yang Ibu buat sendiri."

Kalimat itu menusuk dua arah. Ia mengakui seni Larasati, sekaligus menunjukkan bahwa ibunya sendiri yang menyeretnya ke perlombaan murahan.

Larasati mendengar dari belakang.

"Mas..." panggilnya.

Raka menoleh. "Ada kebutuhan Keisha?"

"Tidak." Larasati melihat mural, kerumunan orang tua, lalu kemeja kerja Raka yang masih terkena setitik cat hijau. "Aku tidak tahu kamu bisa membuat karya sebesar ini."

"Kamu tidak pernah bertanya."

Tak ada tuduhan dalam suaranya. Justru fakta sederhana itu membuat Larasati kehilangan jawaban.

Prof. Damar datang membawa lembar penilaian. "Raka, media ingin komentar. Kalau kau bicara lebih dari tiga menit, saya pulang."

"Mengapa batasnya tiga menit, Prof?"

"Karena seniman yang baru terkenal mudah jatuh cinta pada suaranya sendiri."

Beberapa orang tertawa. Damar lalu melihat Sulastri dan Ratna. "Karya murid saya tidak membutuhkan nama keluarga mana pun untuk berdiri. Hari ini angka pemeriksaan, pengguna, dan kontrak sudah bicara."

Sulastri mengatupkan bibir.

Di layar besar aula, akun resmi sekolah menampilkan peningkatan tayangan. Komentar orang tua memuji keamanan, detail, dan kisah di balik jalur sentuh. Tepat di bawahnya, video Balet Larasati memperoleh respons baik tetapi biasa saja.

Upaya menumpang cahaya justru membuat perbandingan yang ingin mereka hindari terlihat oleh semua orang.

Raka menerima dokumen serah-terima tahap akhir. Pelunasan akan diproses setelah administrasi bank selesai. Bu Rina juga menyerahkan tiga permintaan kontak dari sekolah lain yang meminta izin melihat lokasi.

"Saya tidak menjanjikan Anda kepada mereka," katanya. "Saya hanya memberi nomor bisnis. Selebihnya urusan Pak Raka."

"Itu sudah lebih dari cukup, Bu."

Tepuk tangan baru saja reda ketika pintu aula terbuka.

Seorang pria dalam setelan abu-abu masuk diiringi dua staf. Senyumnya hangat, langkahnya santai, dan semua kamera yang mengenal keluarga Sanjaya segera berputar kepadanya.

Sebastian Sanjaya.

Keisha yang datang bersama pengasuh berlari dari dekat Larasati. "Om Sebastian!"

Sebastian mengangkatnya sebentar, lalu berjalan menuju Raka. Ia lebih tinggi setengah kepala dan memakai jam yang nilainya mungkin cukup untuk membeli seluruh kontrakan di gang Raka.

"Akhirnya kita bertemu langsung," katanya sambil mengulurkan tangan. "Saya banyak mendengar tentang Anda. Selamat. Karya yang fotogenik."

Raka menyambut tangannya. "Terima kasih, Pak Sebastian. Karya ini juga sudah lulus pemeriksaan yang tidak memakai kamera."

Senyum Sebastian tidak berubah, tetapi tekanannya pada genggaman menguat. Raka membalas secukupnya tanpa mengubah wajah.

"Bagus," kata Sebastian. "Karena viralitas sering membuat orang salah mengira perhatian sebagai kualitas. Hari ini orang menyukai dinding. Besok mereka mencari hal lain."

"Itu sebabnya saya membuat kontrak dan hasil uji, bukan hanya konten."

Wartawan mendekat. Sebastian sengaja tidak menurunkan suara.

"Sanjaya Entertainment sedang memperluas divisi kreatif. Kami bisa membawa Studio Nusa Karya ke jaringan nasional. Produksi konten, sponsor, sekolah premium, pusat belanja. Anda tidak perlu lagi bekerja di kamar kontrakan."

Seorang staf menyerahkan folder tipis.

Raka membukanya. Halaman pertama menampilkan proyeksi pengikut dan pemasukan yang besar. Halaman berikutnya mencantumkan eksklusivitas lima tahun, hak pengelolaan konten, persetujuan klien melalui Sanjaya, dan bagian mayoritas atas pendapatan merek.

"Anda ingin mengelola karya saya," kata Raka.

"Saya ingin membuat Anda besar."

"Dengan mengambil hak memilih klien dan kendali atas nama Studio Nusa Karya."

"Itu harga infrastruktur." Sebastian mendekat sedikit. "Gue bisa bikin semua orang di Jakarta mengenal nama lo, Raka."

Register halus itu akhirnya retak.

Raka menutup folder. "Nama saya baru dikenal karena pekerjaan saya. Mengapa saya harus menyerahkannya kepada orang lain tepat saat pekerjaan itu terbukti?"

Tatapan Sebastian menjadi dingin.

"Karena pasar tidak hanya memerlukan bakat. Pasar memerlukan pintu. Sanjaya memegang banyak pintu."

"Kalau pintunya meminta saya menyerahkan rumah sebelum boleh masuk, saya bisa membangun pintu sendiri."

Kerumunan hening. Larasati menatap Raka seperti baru pertama kali memahami betapa jauh lelaki itu telah bergerak dari suami yang selalu mengalah.

Sebastian mengambil kembali foldernya. "Jangan terburu-buru. Tawaran seperti ini tidak datang dua kali."

"Kalau syaratnya tetap sama, sekali pun terlalu banyak."

Senyum Sebastian hilang selama satu detik. Ia mengangkat tangan, membuat staf dan kamera mundur, lalu berjalan ke arah pintu.

Sebelum keluar, ia menoleh kepada Raka.

"Jakarta itu luas," katanya. "Dan umur panas seorang seniman internet sangat pendek. Kita lihat berapa lama nama lo bertahan tanpa pintu yang gue buka."

Pintu aula menutup di belakangnya.

Ponsel Raka bergetar pada saat yang sama. Tiga unggahan baru muncul dari akun hiburan besar—semuanya mulai mempertanyakan apakah mural viral itu benar-benar layak dihargai setinggi kontraknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!