Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Sang Raja Pahlawan

Sistem Sang Raja Pahlawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Action
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Laten Kishi

Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.

Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelatihan (2)

Hari ke 7 Latihan Kisaragi Dan Amane.

Pukul 03:00 Sore Hari.

BAK! BUK!

Lumina dan Kisaragi sedang berlatih dengan tangan kosong di halaman belakang rumah.

Setiap serangan Kisaragi ditangkis dengan muda oleh Lumina.

Di satu momen, Kisaragi melihat celah.

“Sekarang!”

BRAK!

Dia dijatuhkan oleh Lumina yang menendang salah satu kakinya hingga terjatuh.

Tidak lama, ia langsung bangkit kembali dan membersihkan debu di pakaiannya.

“Sejauh ini kita hanya berlatih bela diri, apa cukup?"

“Kurasa sudah cukup, aku yakin kamu akan menyadarinya saat duel nanti.” ucap Lumina.

“Kalau begitu, aku tidak akan bertanya lebih lanjut, dan terimakasih banyak telah melatihku,” ucap Kisaragi sambil sedikit menunduk.”

“Tidak masalah, oh iya, Amane dan Nako tidak keliatan.” ucap Lumina.

“Sepertinya mereka sudah selesai duluan.”

“Kalau begitu, kamu istirahatlah, pastikan stamina mu cukup untuk duel besok.”

“Baik!” jawab Kisaragi dengan tegas.

Lumina dan Kisaragi masuk ke dalam rumah dan mendapati Akira dan Nako sedang duduk di sofa.

“Entahlah, aku juga tidak tau kenapa dia begitu.” ucap Nako kepada Akira.

“Begitu ya…”

Lumina dan Kisaragi menghampiri Akira dan Nako.

“Kalian sedang apa?” tanya Lumina.

“Tidak ada, hanya ngobrol biasa saja.” jawab Nako.

“Apa kalian sudah selesai?” tanya Akira.

“Ya, kami sudah selesai,” jawab Lumina.

Kisaragi yang berada di sebelah Lumina mengamati sekitarnya dan tidak lama ia bertanya,

“Kanon dimana?”

“Kalo Amane dia lagi istirahat di kamarnya,” jawab Nako.

“Kalo gitu aku mau menghampirinya dulu,” ucap Kisaragi.

Kisaragi pun langsung pergi ke lantai 2.

Lalu, Akira yang melihat Lumina masih berdiri berkata,

“Duduklah.”

“Ah iya.” Tidak lama Lumina pun duduk di sofa bersebelahan dengan Akira.

“Akhir-akhir ini dia sering pergi ke kamar Amane, apa kak Lumina tau sesuatu?” ucap Nako.

“Tidak.” jawab Lumina.

“Namanya teman, dan lagi mereka masih anak sekolah, pasti mereka bermain atau berbincang,” ucap Akira.

“Ohh~ baru tau aku.” ucap Nako.

Akira tiba-tiba menatap Nako dengan seksama hingga membuat Nako menyadarinya.

“Eh? Apa?”

“Walau Lumina belum pernah sekolah, hitungannya dia gak perlu lagi, tapi kan kamu…”

“Mana bisa gitu! Hanya karena aku berumur 16 bukan berarti aku masih kecil!”

“Tapi… apa benar kamu gak terlalu ingat kehidupan sebelum ke planet Remnant? Mungkin kamu pernah sekolah.”

“Itu… hemm.” Dahi Nako Berkerut dan kedua tangannya memegang pinggir kepalanya dengan telunjuk.

Tidak lama, dia pun menyerah mengingatnya, karena tidak mendapatkan apa-apa.

“Aku tidak begitu ingat, tapi kalo intinya aku masih sedikit ingat.”

“Apa yang kamu ingat?”

“Kalo tidak salah, aku seperti selalu melihat satu ruangan yang sama dan…”

“Dan?”

“Eh, ini aneh, aku yakin ada sesuatu yang penting, tapi apa...”

Nako mencoba mengingat sesuatu, disisi lain, Lumina dan Akira yang melihat Nako justru menatap dengan mata membulat, sehingga membuat Nako kebingungan.

“Hmm? Kalian kenapa menatapku begitu?”

“Kamu… menangis?” ucap Lumina.

“Hah?”

Di pandangan Akira dan Lumina, kedua mata Nako mengeluarkan air mata.

Nako yang masih bingung, memegang sekitar matanya, lalu merasakan tangannya terkena air.

“Ti-tidak! aku tidak sedang sedih atau gimana! aku juga gak tau kenapa keluar air mata gini!” Nako mengibaskan kedua tangannya kedepan dengan terburu-buru karena khawatir mereka akan berpikir yang tidak tidak.

“Maaf Nako, sebaiknya jangan dibicarakan lebih lanjut.”

“I-ini bukan salah Kakak, aku bener-bener gak tau.”

“Sebenarnya aku juga ingin menanyakan masa lalu Lumina, tapi setelah melihat Nako—”

Di hadapan Akira, Nako sibuk membersihkan air matanya yang terus mengalir.

“Ini bener-bener aneh, padahal aku tidak merasa sedih, sepertinya aku harus ke kamar mandi untuk cuci muka.”

Nako berdiri, lalu berjalan cepat, dan ketika ia mau melewati Akira.

Grep!

“Kakak?" Nako menengok ke arah Akira dengan air mata yang masih terus mengalir.

Akira yang masih memegang lengan Nako perlahan berdiri sambil berpikir,

"Betapa bodohnya aku, sudah jelas Nako masih kecil, saat dia tereinkarnasi pun, dia harus bertarung, bahkan, setelah peperangan selesai... dia masih—"

“Ada ap—”

Peluk!

“Eh?!”

Akira memeluk Nako secara mendadak, sedangkan Nako kebingungan harus bagaimana.

“Maaf.”

“Ka-kakak kenap—”

“Kalau ingin menangis, menangislah sampai kamu tenang.”

Nako yang mendengar Akira langsung terdiam dengan air mata yang terus mengalir, Nako mencoba menahan air matanya, namun, air matanya justru semakin deras hingga ia tak bisa menahannya lagi.

“Ka-kakak…” Nako kesulitan berbicara, perasaan tenang dan sedih bercampur aduk hingga membuatnya bingung.

“Tidak apa.” Dengan perlahan Akira mengelus kepala Nako secara lembut.

“A-aku Hiks…”

Nako yang merasa malu tidak mengeluarkan suara keras, lalu dia bersandar di dada Akira sambil memeluknya.

Selama berjam-jam, Nako terus menangis dalam pelukan Akira.

......................

Pukul 10:30 Malam Hari.

Di kamar Amane, Kisaragi sedang duduk di kasur dan berbincang dengan Amane.

“Oh iya, bagaimana latihanmu Kanon?”

“Cukup melelahkan sih… tapi! aku menjadi lebih kuat hanya dalam seminggu!”

“Baguslah kalau begitu.”

“Oh iya, sepertinya ini sudah hampir tengah malam, maaf ya... aku mau istirahat dulu untuk besok.”

“Aku tidak menyadari sama sekali, kalau begitu…”

Kisaragi pun berdiri, dan sebelum pergi dia berkata,

“Kanon, jika ada apa-apa kau bisa membicarakannya padaku.”

“Aku tau itu, tapi... kayaknya kamu sudah bilang, apa aku lupa ya...” ucap Kanon sambil menggaruk kepalanya.

Kisaragi yang mendengar Kanon sedikit tertawa lalu berkata,

“Yasudah, sampai jumpa besok.”

“Ya, sampai jumpa.” ucap Kanon sambil tersenyum

Kisaragi pun pergi dari kamar Amane, begitu Amane sendiri, senyumannya menghilang dan langsung berbaring di kasur.

“Aku bahkan gak tau apa bakal ada hari esok untukku…” pikir Amane.

......................

Pukul 09:00 Pagi.

Diruang tamu, sebagian mereka pada berkumpul dengan persiapan yang lengkap untuk pergi.

“Apa kalian semua sudah siap?” tanya Akira.

“Sudah!” jawab Nako dengan ceria.

“Sudah.” jawab Lumina

“Sudah—” jawab Kisaragi.

Kisaragi menyadari ada yang aneh dengan bagian bawah mata Nako yang terlihat merah hingga membuatnya penasaran.

“Kenapa mata Nako terlihat merah?”

Lumina dan Akira yang mendengar pertanyaan Kisaragi, bingung harus menjawab apa.

“Ohh ini?” Nako menunjuk bawah matanya yang memerah.

“Sepertinya aku terlalu bersemangat buat hari ini! jadi aku kurang tidur!” Mukanya berseri-seri seperti tidak ada hal yang dicurigai dari perkataannya.

“Be-begitu ya.” Kisaragi hanya bingung melihatnya dan percaya saja apa yang dikatakan Nako.

“Ehem!” Akira membuat batuk buatan untuk menarik perhatian.

“Ngomong-ngomong dimana Amane?” tanya Akira.

“Katanya dia masih siap-siap di—”

Kisaragi melihat Amane sudah turun dan sedang berjalan ke arah Kisaragi.

“Oh, itu dia.”

Semuanya melirik ke arah Amane yang terus berjalan tanpa sepatah katapun dengan wajah yang menunduk dan satu tangannyabberada di belakang.

Tidak lama, Amane sudah dekat dengan Kisaragi.

“Kanon apa kam—”

Grep!

“?!”

Amane mengunci Kisaragi dari belakang sambil menodongkan pisau ke lehernya hingga membuat yang lain terdiam.

“Ka-kanon?” tanya Kisaragi yang masih kebingungan sambil menatap Amane.

Namun yang ia lihat sekarang tidak seperti Amane yang biasanya, sorot matanya kosong sambil menatap ke arah depan.

“Jika bergerak sedikit saja, dia akan mati.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!