Indonesia
NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35. Ravian Berpisah Dengan Selena

Malam itu, hujan turun perlahan di luar jendela apartemen Ravian, apartemen yang sudah Ravian dan selena tempati bersama selama hampir satu tahun penuh.

Suara rintik hujan menabrak kaca terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sesuatu yang sudah lama tertunda.

Ravian duduk di tepi sofa, menatap Selena yang sedang berdiri di dekat lemari pakaian, lemari yang isinya kini terbagi dua, separuh miliknya, separuh lagi milik Selena.

Sudah berminggu-minggu sejak kejadian di kantor Mikael. Kata-kata Selena yang menuduh Naira tanpa dasar, tatapan irinya yang tajam, dan cara ia menikmati penderitaan orang lain, semuanya membuka mata Ravian perlahan namun pasti.

Selama ini ia berpikir bahwa dengan tinggal bersama Selena, ia bisa melupakan Naira. Bahwa kehadiran Selena setiap hari di sisinya akan membuat hatinya akhirnya beralih.

Tapi hari demi hari, ia menyadari satu hal yang menyakitkan, ia tidak hanya tidak pernah benar-benar mencintai Selena, ia bahkan tidak benar-benar mengenalnya. Dan yang lebih buruk lagi, ia membiarkan Selena membangun seluruh dunianya di atas pasir yang rapuh.

Selena berbalik dan melihat Ravian menatapnya dengan tatapan yang berat, serius, dan penuh kesedihan yang dalam. Ia berhenti melipat baju yang sedang di tangannya.

"Ravian? Ada apa? Kamu menatapku seperti ada sesuatu yang sangat besar yang ingin kau katakan."

Ravian berdiri perlahan. Ia berjalan mendekat, namun berhenti pada jarak yang aman.

"Aku harus berbicara jujur padamu, Selena. Dan aku tahu ini akan menyakitkan. Lebih menyakitkan dari apa pun yang pernah kita alami.

Tapi aku tidak bisa terus berdiam diri dan membiarkanmu hidup dalam kebohongan ini. Itu tidak adil. Terutama padamu. Kamu berhak tahu kebenaran, bahkan jika itu menghancurkan segalanya."

Selena menelan ludah. Tangannya gemetar di sisinya. "Kamu membuatku takut, Ravian. Apa yang ingin kamu katakan?"

Ravian menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengucapkan kata-kata yang sudah lama tertahan di tenggorokannya.

Matanya menatap lurus ke mata perempuan itu dengan jujur, lembut, namun tidak bisa diganggu gugat.

"Aku tidak pernah benar-benar mencintaimu, Selena. Dan itu adalah kesalahan terbesarku. Aku mengajakmu tinggal bersamaku bukan karena aku melihatmu, bukan karena aku membayangkan masa depan bersamamu.

Aku melakukannya karena aku takut. Aku pikir jika aku memiliki seseorang yang cantik, yang dikagumi semua orang, yang selalu ada di sisiku, aku akan bisa melupakan Naira.

Aku pikir aku bisa menipu diriku sendiri untuk mencintaimu. Tapi aku tidak pernah berhasil. Hatiku tidak pernah utuh bersamamu.

Bagian terbesar dari hatiku selalu tertinggal di tempat lain. Dan membiarkanmu tinggal di sini, membangun harapan di atas kekosongan... itu kejam. Terlalu kejam."

Keheningan yang menyakitkan menyelimuti apartemen itu. Hanya suara hujan di luar yang terdengar jelas.

Selena berdiri terpaku, matanya perlahan membesar, lalu air mata mulai mengalir deras di pipinya, air mata kehancuran yang sunyi dan mendalam.

Semua kenangan yang ia bangun di sini, ternyata semuanya berdiri di atas fondasi yang kosong.

"Jadi... selama ini..." suaranya pecah pelan, "selama hampir satu tahun aku tinggal di sini... aku hanya... pengganti? Dan kamu tidak pernah... tidak pernah sekalipun mencintaiku?"

"Aku menghormatimu, Selena. Aku menghargaimu sebagai perempuan yang baik. Tapi cinta... tidak bisa kupalsukan selamanya.

Dan kamu pantas mendapatkan seseorang yang mencintaimu sepenuhnya. Seseorang yang bangga memilikimu. Bukan seseorang yang berbaring di sebelahmu namun memikirkan wajah orang lain setiap malam. Mari kita berpisah dengan tenang. Kuharap kita tidak saling menyakiti lebih jauh dari ini."

Selena mundur selangkah, seolah kata-katanya menamparnya dengan keras. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya terguncang isak tangis yang ia tahan sekuat tenaga.

Semua usahanya, semua caranya menjauhkan Naira, semua tawa yang ia paksa di ruangan ini, semuanya sia-sia. Karena dari awal, ia tidak pernah memiliki hati pria ini. Ia memenangkan tempat tinggal, tapi kalah di tempat yang paling penting.

"Kamu tidak tahu... betapa aku mencintaimu, Ravian," isaknya pelan dan getir. "Selama ini aku melakukan segalanya agar kamu melihatku.

Aku berpakaian seperti yang kamu suka, aku tertawa pada leluconmu, aku bahkan diam saat kamu menatap kosong ke luar jendela dan memikirkan dia.

Aku pikir, jika aku cukup sabar, jika aku cukup baik, kamu akhirnya akan berbalik. Tapi ternyata, bahkan saat dia tidak di sini, kamu tetap tidak bisa kumiliki."

"Aku tahu, Selena. Dan aku minta maaf. Maaf karena membuatmu berharap pada hal yang tidak bisa kuberikan.

Maaf karena membiarkanmu menghabiskan waktumu, usiamu, dan hatimu untuk seseorang yang bahkan tidak berusaha sepertimu. Itu kejam. Dan aku menyesal melakukannya padamu."

Selena menyeka air matanya dengan kasar, napasnya masih terengah menahan tangis. Ia berjalan menuju lemari pakaiannya, membuka koper besar yang tersimpan di bagian bawah, koper yang dulu ia buka dengan penuh harapan saat pertama kali pindah ke sini.

Kini ia melipat pakaiannya satu per satu, gerakannya lambat namun pasti. Setiap gaun, setiap aksesori, setiap barang yang pernah ia letakkan di ruangan ini, semuanya kembali masuk ke dalam koper.

Seolah ia tidak pernah benar-benar menetap di sini. Hanya singgah, menunggu waktu untuk pergi.

"Ke mana aku harus pergi?" bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Selama ini seluruh hidupku berpusat pada ruangan ini, pada kamu. Aku tidak punya mimpi lain selain menjadi milikmu. Dan sekarang, aku tidak tahu siapa diriku tanpa kamu."

Ravian berjalan mendekat namun tidak menyentuhnya. Ia berdiri beberapa langkah di belakangnya, suaranya lembut namun tulus.

"Mungkin ini saatnya kamu menemukannya, Selena. Mungkin selama ini kamu sibuk menata hidupku, sehingga kamu lupa menata hidupmu sendiri.

Sekarang kamu punya waktu. Kamu punya kebebasan. Mulailah dari awal. Temukan teman-teman baru. Bangun mimpi yang hanya milikmu.

Dan suatu hari nanti, kamu akan berterima kasih pada takdir karena tidak membiarkanmu terjebak selamanya dalam cinta yang sepihak dan tidak sehat ini."

Selena berbalik perlahan. Matanya bengkak dan merah, tapi di balik air mata itu, ada sesuatu yang mulai berubah.

Kepahitan masih ada, tapi keputusasaan perlahan digantikan oleh kesadaran yang pahit namun nyata. Ia kalah. Dan ia tidak bisa menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri karena terus bertahan.

"Aku akan pergi," katanya pelan, suaranya gemetar namun tegas. "Aku sudah memikirkan kota yang akan kutuju. Aku butuh waktu untuk menyembuhkan luka ini. Dan aku tidak bisa melakukannya di sini."

Ravian mengangguk pelan, rasa bersalahnya semakin berat namun ia tahu ini keputusan yang benar. "Itu keputusan yang baik. Aku akan menanggung semua biaya pindah dan tempat tinggalmu di kota baru. Anggap itu permintaan maafku.

Dan jika kamu butuh apa pun... kamu tahu di mana menemukanku. Aku tidak akan mengganggumu. Kau bebas, Selena. Benar-benar bebas."

Selena tersenyum getir, senyum yang penuh luka namun juga penuh keikhlasan yang baru mulai tumbuh. Ia menutup koper terakhirnya, mengunci gagangnya dengan bunyi yang nyata dan final.

"Terima kasih, Ravian. Karena akhirnya jujur. Meskipun jujur itu menyakitkan. Setidaknya aku tidak perlu lagi menebak-nebak perasaanmu. Dan itu... entah bagaimana... membuatku sedikit lebih tenang."

Ia mengangkat koper-kopernya, berat tapi tidak seberat beban yang ia pikul di dadanya selama ini. Berjalan menuju pintu yang dulu ia lewati dengan senyum bahagia setiap hari.

Di ambang pintu, ia berhenti sekali lagi, menatap ruangan yang telah menjadi rumahnya namun tidak pernah benar-benar menjadi tempat hatinya beristirahat.

"Selamat tinggal, Ravian. Semoga kau bahagia. Dan semoga suatu hari nanti kamu juga bisa mencintai seseorang yang mencintaimu sepenuh hati. Seperti aku mencintaimu. Tapi semoga dia lebih beruntung dariku."

"Selamat tinggal, Selena. Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada yang pernah kamu cari dariku. Kamu pantas mendapatkannya."

Pintu tertutup. Langkah kaki Selena menjauh di lorong apartemen. Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, apartemen itu sunyi, sunyi yang damai.

Beban berat yang Ravian pikul di dadanya selama ini akhirnya terangkat. Ia tidak mencintai Selena, dan ia tidak akan pernah bisa. Tapi ia membebaskannya. Dan dalam membebaskan Selena, ia juga membebaskan dirinya sendiri.

Di luar, hujan mulai reda. Langit perlahan terang kembali. Dan di kota lain, di tempat yang belum diketahui siapa pun, seorang perempuan bernama Selena akan memulai perjalanan panjang.

Dan perjalanan itu, meskipun dimulai dengan air mata, adalah langkah pertama menuju kebahagiaan yang sejati.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!