Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Putri Konglomerat
Seorang pria tua bertubuh tegap dengan setelan jas tailor-made berwarna abu-abu gelap melangkah masuk ke area Veloctra Motors.
Langkahnya tenang namun penuh wibawa. Di belakangnya, seorang sopir pribadi berjalan beberapa langkah dengan sikap takzim yang kentara. Sepasang mata tajam milik pria tua itu menyapu sekeliling bengkel yang berdebu, lalu berhenti tepat pada sosok Aira yang baru saja meletakkan dongkrak hidrolik.
"Permisi. Apakah bengkel ini bisa menangani mobil klasik Eropa?" ucap sang sopir mewakili tuannya, maju dengan sikap formal yang sopan. "Mobil kami tiba-tiba kehilangan tenaga dan mengeluarkan asap putih di depan sana."
Aira baru saja hendak menjawab, namun Pak Beni sudah muncul dari kantor dengan sigap. Instingnya langsung mengenali aura mahal dari tamu tersebut.
"Siang, Kek! Tentu saja bisa," sambut Pak Beni cepat. "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Ra, tolong tangani mobil kakek ini segera. Kamu kan paling paham mesin tua. Jaka, Rian, selesaikan motor pelanggan tadi!"
"Siap, Pak!" sahut Aira.
Ia langsung menyambar tas perkakas khususnya. Wajah santainya seketika berubah fokus menjadi seorang profesional.
"Saya akan antar Kakek ke ruang tunggu sebentar," ucap Pak Beni sopan kepada pria berjas itu.
Pria tersebut—Baskara Wirasena, Chairman Emeritus Wirasena Group—hanya mengangguk tipis.
"Silakan, Pak. Saya akan menunggu di area luar saja. Udaranya cukup segar, dan saya ingin melihat proses perbaikannya secara langsung jika tidak mengganggu," jawab Kakek Baskara dengan suara berat yang tenang.
Pak Beni mengangguk paham lalu pamit masuk kembali ke kantor.
Kakek Baskara tetap berdiri kokoh di area teduh. Matanya yang sarat akan pengalaman hidup mengamati gerak-gerik Aira tanpa berkedip. Ia diam-diam terkesan melihat ketangkasan gadis itu dalam menangani peralatan bengkel yang berat.
Bagi orang-orang awam di bengkel, Kakek Baskara hanyalah klien kaya biasa yang kebetulan mobilnya mogok. Tapi bagi Kakek Baskara pribadi, ia sedang menilai sebuah berlian kasar. Jenis berlian yang sudah sangat langka ditemukan di kalangan elite Jakarta.
Dua puluh menit berlalu dalam keheningan yang produktif.
Klik.
Aira menutup kap mesin mobil klasik belasan miliar itu dengan bunyi mantap. Ia menyeka tangannya yang ternoda oli menggunakan kain bersih, lalu melangkah mendekati kakek Baskara dengan senyuman profesional.
"Sudah beres, Kek," lapor Aira. "Masalahnya bukan di kelistrikan, melainkan pada mechanical fuel pump yang melemah. Diafragma karetnya getas karena usia."
Aira menunjuk ke arah mesin. "Saya sudah menggantinya dengan suku cadang orisinal yang kebetulan saya simpan untuk kasus darurat. Jalur bahan bakarnya juga sudah dibersihkan dari kerak. Sekarang tekanan bensinnya sudah kembali stabil."
Kakek Baskara mengangguk puas. Ia memberikan isyarat halus pada sopirnya. "Coba nyalakan, Darto."
Sopir itu bergegas masuk ke balik kemudi mewah dan memutar kunci kontak.
BRRRRRRRUMMMMMM!
Mesin V8 tua itu seketika menderu halus. Suaranya bulat, dalam, dan terdengar sangat bertenaga. Jauh dari gejala tersendat-sendat yang terjadi sebelumnya.
Darto turun dari mobil dan melaporkan dengan takzim. "Mesin berjalan sempurna, Tuan. Tidak ada getaran aneh lagi."
Kakek Baskara tersenyum tipis. Ia menoleh kembali pada Aira. "Impresif. Jarang sekali menemukan montir muda yang memahami karakter mesin klasik sedalam itu. Nama kamu?!"
"Aira, Kek."
"Baik, Aira." Kakek Baskara mengeluarkan buku cek dari saku jasnya. Ia merobek satu lembar dengan gerakan elegan, lalu menyodorkannya langsung pada Aira.
Mata Aira seketika membelalak lebar melihat nominal yang tertera di atas kertas itu. Nilainya sepuluh kali lipat dari biaya standar bengkel.
"Kek, ini... ini terlalu banyak," protes Aira gugup, buru-buru menyodorkan kembali cek tersebut. "Biaya servisnya hanya sekitar tiga ratus ribu rupiah."
"Anggap saja bonus," jawab Kakek Baskara santai.
Baginya, uang sebesar itu barangkali hanyalah recehan yang tak berarti. "Saya sangat menghargai kompetensi dan kejujuran. Jarang ada anak muda zaman sekarang yang bekerja dengan hati dan presisi seperti kamu."
Sebelum berbalik menuju mobilnya, langkah Kakek Baskara terhenti sejenak. Tatapannya mendadak berubah serius, menembus lurus ke arah Pak Beni yang kebetulan baru keluar dari kantor.
"Oh ya, Pak Beni. Saya perhatikan lokasi bengkel ini sangat strategis," ujar Kakek Baskara dengan nada datar tanpa basa-basi. "Meskipun kondisinya agak... rentan terhadap perubahan tata kota."
Pak Beni dan Aira tertegun mendengar kalimat itu.
"Jika suatu saat ada tekanan dari pengembang properti atau isu perizinan yang mengganggu operasional bengkel ini, jangan ragu untuk menghubungi saya," lanjut Kakek Baskara, menyerahkan sebuah kartu nama berlapis emas tipis di ujungnya. "Saya mungkin bisa memberikan sedikit 'perspektif' hukum yang menguntungkan pihak Anda. Anggap ini bagian dari kepuasan layanan hari ini."
Kalimat itu terdengar seperti sebuah janji perlindungan terselubung dari sosok yang sangat berkuasa. Pak Beni dan Aira saling pandang dalam kebingungan. Ada rasa lega, namun juga kewaspadaan yang perlahan merayap di hati mereka.
***
Malam harinya, di ruang makan utama The Wirasena Compound.
Suasana malam itu tidak sekaku rapat direksi, melainkan terasa hangat. Aroma steak wagyu dan sup krim memenuhi udara. Papi Surya sedang asyik bercerita tentang klub golf barunya, sementara Mami Helena sesekali tertawanya menimpali candaan suaminya.
Evan Aryasatya Wirasena duduk tenang di ujung meja panjang. Sebuah tablet masih terbuka di samping piringnya, menampilkan grafik saham yang bergerak naik turun. Ia menyantap makanannya, sesekali menyimak obrolan orang tuanya dengan ekspresi datar namun tetap sopan.
"Jadi, minggu depan Papi akan ke Bali untuk turnamen amal," kata Surya sambil menuangkan anggur merah ke gelasnya.
"Hati-hati punggungmu kumat lagi, ya," sahut Helena lembut. Wanita anggun itu lantas menoleh ke arah anak laki-lakinya. "Van, Kamu jadi ikut konferensi di Tokyo bulan depan?!"
Evan mengangguk singkat tanpa mengalihkan pandangan dari makanan. "Iya, Mi. Ada pertemuan penting dengan mitra teknologi Jepang."
Suasana hangat itu mendadak menguap tanpa sisa ketika kakek Baskara, yang duduk di kepala meja, meletakkan sendok dan garpunya. Bunyi ting yang halus namun tegas itu bergema di ruangan.
Seketika, seluruh mata tertuju pada sang patriark keluarga. Obrolan ringan di meja makan berhenti total. Suasana mendadak kaku.
"Evan," panggil Kakek Baskara. Suaranya tenang tapi membuat udara di ruang makan mendadak terasa lebih dingin.
Evan mendongak, menatap kakeknya dengan alis yang sedikit terangkat. "Ya, Kek?"
"Kakek sudah menemukan calon istri yang tepat untukmu," ucap Kakek Baskara langsung pada intinya. "Pernikahan akan dilaksanakan bulan depan."
Hening.
Garpu di tangan Helena terhenti di udara. Surya bahkan menelan anggurnya dengan susah payah hingga tersedak.
Sementara itu, Evan menatap kakeknya dengan saksama. Wajah datarnya sempat retak sedikit oleh keterkejutan, meski dengan cepat ia berhasil menguasai ekspresinya kembali.
"Calon istri?" tanya Evan datar. "Kakek tahu jadwalku sangat padat. Dan aku sama sekali tidak tertarik pada permainan perjodohan tradisional. Siapa dia? Putri dari konglomerat mana?"
"Dia bukan dari kalangan kita," jawab Kakek Baskara, seulas senyum misterius terukir di wajah senjanya. "Namanya Aira Dhea Ananta. Seorang montir di bengkel umum."
Ting!
Garpu di tangan Helena terlepas, membentur piring porselen dengan keras. Napasnya sempat tertahan karena syok sebelum akhirnya bersuara.
"Montir? Papa, apakah Papa masih berpikir jernih? Menikahkan CEO Wirasena Group dengan seorang pekerja bengkel kasar? Apa alasan bisnis di balik semua ini?"
Evan mendengus dingin. Matanya menyipit tajam menatap sang kakek. "Ini lelucon yang tidak lucu, Kek. Logika bisnisnya nol besar. Status sosialnya sama sekali tidak selevel. Bagiku, pernikahan adalah merger aset, bukan sebuah amal sosial. Aku menolak."
Kakek Baskara sama sekali tidak tersulut emosi. Ia justru membalas tatapan tajam cucunya dengan pandangan intimidasi yang jarang ia perlihatkan lagi sejak pensiun.
"Kamu tentu boleh menolak, Evan. Tapi ingat, di keluarga Wirasena, kata 'tidak' dari Kakek bukanlah sebuah saran, melainkan keputusan final yang mutlak," ucap Kakek Baskara dengan suara rendah yang menggetarkan seisi ruangan.
Kakek Baskara mengetuk meja makan dengan jarinya. "Jika kamu tidak menerima Aira sebagai istrimu dalam waktu satu bulan, maka posisimu sebagai CEO akan dievaluasi ulang hari itu juga. Kakek akan mencabut hak waris utamamu dan menyerahkan seluruh kendali operasional perusahaan kepada dewan direksi independen. Sampai kamu belajar bagaimana cara menghargai nilai kehidupan di luar angka neraca keuangan."
Evan terpaku di kursinya. Rahangnya mengeras.
Ia tahu ancaman itu nyata. Kakeknya tidak sedang menggertak. Ini bukan soal emosi sesaat, melainkan soal kekuasaan absolut yang selama ini digenggam erat oleh sang kakek selaku pemilik saham pengendali tertinggi di Wirasena Group.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Evan merasa papan catur kehidupannya yang sempurna dikacaukan oleh satu langkah tak terduga. Langkah skakmat yang sama sekali tidak pernah ia prediksi sebelumnya.