Indonesia
NovelToon NovelToon
Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 03 - Memenuhi Janji

Prosesi pemakaman Pak Danu berjalan dengan lancar dan khidmat. Tanah merah yang masih basah itu ditaburi mahkota bunga mawar dan melati yang harumnya menyeruak di tengah keheningan. Sanak saudara, tetangga sekitar, hingga kerabat dekat bermunculan memberikan penghormatan terakhir bagi pria paruh baya yang semasa hidupnya dikenal sangat baik dan tulus itu.

Di antara kerumunan pelayat, berdiri seorang gadis yang sejak tadi tak melepaskan pelukannya dari bahu lebar Nayla. Dialah Mira, sahabat terdekat Nayla di kantor yang rela menempuh perjalanan jauh dari Jakarta begitu mendengar kabar duka ini.

Mira mendekap erat tubuh Nayla yang terus bergetar tanpa suara. Sejak siuman dari pingsannya di rumah sakit tadi hingga detik ini, tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Nayla. Gadis itu hanya diam dengan tatapan mata yang kosong, seolah jiwanya telah ikut terkubur bersama raga sang ayah.

Tak jauh dari gundukan tanah merah itu, berdiri empat sosok berbusana serba hitam. Pak Hilman, Bu Ratih, Adrian serta Rio asisten Adrian yang setia mengikuti seluruh prosesi hingga selesai. Mira yang berlutut di samping Nayla sesekali melirik ke arah mereka. Dalam hati, Mira merasa kagum dan tersentuh. Ia mengira kehadiran pimpinan tertinggi Dewangga Group beserta orang tuanya murni sebagai bentuk belasungkawa dan rasa hormat perusahaan kepada Nayla, seorang sekretaris CEO yang sangat kompeten dan berdedikasi tinggi. Mira sama sekali tidak tahu-menahu tentang tragedi berdarah yang menjadi latar belakang di balik kehadiran mereka.

Langit Bandung malam ini tampak begitu pekat, seolah ikut berduka. Tak ada satu pun bintang yang bersinar di atas sana, hanya hamparan awan hitam yang bisu.

Nayla masih berlutut di samping nisan kayu bertuliskan nama ayahnya. Angin malam yang berembus kencang membuat pakaian hitamnya berkibar, menembus kulitnya dengan rasa dingin yang menggigit. Namun, dinginnya angin malam tak sebanding dengan kehampaan di dalam dadanya.

'Bapak...' bisik Nayla dalam hatinya yang hancur. 'Siapa lagi yang bakal mendengarkan keluhan Nayla tiap kali Nayla capek kerja? Siapa lagi yang bakal memuji Nayla cantik dan bilang Nayla putri paling sempurna, meskipun tubuh Nayla gemuk dan sering diasingkan orang-orang? Siapa yang bakal menyemangati Nayla sekarang, Pak? Nayla cuma punya Bapak di dunia ini...'

Air mata yang sempat mengering kembali menetes pelan, jatuh membasahi nisan kayu sang ayah.

Para pelayat satu per satu mulai pamit melangkah meninggalkan area pemakaman. Pak Hilman dan Bu Ratih, yang kondisi fisiknya masih lemah pasca kecelakaan menghampiri Nayla untuk pamit undur diri. Dengan lembut, Bu Ratih mengusap kepala Nayla seraya membisikkan kata-kata penguat sebelum akhirnya berjalan perlahan menuju mobil dibantu suaminya.

Kini, di area pemakaman yang makin sepi dan gelap, hanya tersisa Nayla yang masih berlutut dirangkul oleh Mira, serta Adrian yang berdiri tegap beberapa meter di belakang mereka bersama Rio, asisten pribadinya.

Kesadaran Nayla perlahan kembali dari lamunan panjangnya. Ia merasakan usapan lembut Mira di bahunya dan hembusan angin yang makin menyayat. Nayla mengusap pipinya yang basah, lalu memaksakan dirinya untuk berdiri walau kakinya terasa sangat lemas.

Nayla memutar tubuhnya, menatap ke arah Adrian yang sejak tadi berdiri diam seperti patung dalam kegelapan.

"Pak Adrian..." suara Nayla terdengar sangat serak dan parau, nyaris tak bertenaga. "Maaf kalau saya sudah sangat merepotkan Bapak dan keluarga hari ini. Saya... saya akan pulang ke rumah bersama Mira. Terima kasih banyak sudah berkenan hadir di pemakaman ayah saya."

Adrian menatap sekretarisnya. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk menawarkan tumpangan dan mengantar Nayla pulang secara langsung. Namun, melihat tatapan mata Nayla yang rapuh dan hampa, Adrian paham betul bahwa gadis itu membutuhkan ruang dan waktu untuk berduka tanpa gangguan siapa pun.

"Sama-sama, Nayla," jawab Adrian singkat dengan suara beratnya. "Istirahatlah. Jangan memikirkan pekerjaan dulu."

Nayla mengangguk pelan, lalu perlahan berjalan pergi meninggalkan area pemakaman dengan merangkul lengan Mira yang menuntunnya dengan hati-hati.

Sepeninggal Nayla dan Mira, Rio menyenggol pelan lengan bosnya seraya menatap punggung Nayla yang makin menjauh. "Kasian sekali Mbak Nayla ya, Pak... Dia benar-benar sendirian sekarang," bisik Rio penuh rasa simpatik.

Adrian mengangguk tipis. "Emm."

Namun, bukannya melangkah menuju mobil mewahnya yang terparkir di gerbang pemakaman, Adrian justru membalikkan badan. Langkah kakinya yang mantap bergerak mendekati gundukan tanah merah milik Pak Danu.

Di bawah pendar temaram lampu pemakaman, CEO muda yang biasanya sangat membanggakan harga dirinya itu perlahan berlutut di tanah yang basah. Adrian mengulurkan tangannya yang kokoh, menyentuh permukaan nisan kayu milik almarhum Pak Danu.

Adrian memejamkan matanya rapat-rapat. Di dalam benaknya, ia mengutarakan janji sakral yang tak terdengar oleh siapa pun.

'Pak Danu... terima kasih sudah menyelamatkan nyawa kedua orang tua saya dengan menaruhkan nyawa Anda sendiri,' batin Adrian dengan rahang yang mengeras kaku. 'Saya berjanji atas nama diri saya sendiri, saya akan menjaga putri Anda, Nayla... sebagaimana permintaan terakhir Anda sebelum berpulang. Beristirahatlah dengan tenang, Pak Danu. Serahkan keselamatan Nayla kepada saya.'

****

Satu minggu berlalu sejak hari pemakaman yang kelam itu.

Rumah sederhana berdinding cat krem pudar di sudut kota Bandung itu terasa begitu sunyi dan lengang. Tak ada lagi suara gelak tawa atau denting peralatan bengkel dari pekarangan samping. Hanya ada Nayla seorang diri yang duduk di ruang tamu.

Wajah Nayla kini tampak sedikit lebih tenang, meski bayangan kesedihan dan lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa disembunyikan. Ia sedang merapikan beberapa berkas peninggalan ayahnya saat sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan rumahnya.

Pintu rumah terbuka, menyambut kedatangan keluarga Dewangga. Pak Hilman, Bu Ratih, dan Adrian melangkah masuk ke dalam rumah sederhana tersebut. Nayla menyambut mereka dengan sopan, menyuguhkan cangkir-cangkir teh hangat di atas meja kayu yang mulai kusam.

"Pak Hilman, Bu Ratih, Pak Adrian... terima kasih sudah menyempatkan datang menjenguk saya," ucap Nayla lembut seraya duduk di kursi rotan di hadapan mereka.

Bu Ratih tersenyum hangat, mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari Nayla yang berada di atas meja. "Bagaimana keadaan kamu, Nak? Sudah agak mendingan?"

"Sudah jauh lebih baik, Bu. Terima kasih atas perhatiannya," jawab Nayla jujur.

Pak Hilman berdehem pelan, mengalihkan suasana menjadi lebih serius. Pria paruh baya itu menatap Nayla dengan tatapan penuh ketegasan dan rasa tanggung jawab yang tinggi.

"Nayla," panggil Pak Hilman dengan suara beratnya. "Kedatangan kami kemari hari ini bukan sekadar untuk menjenguk. Kami datang untuk mewujudkan dan menunaikan apa yang diinginkan oleh almarhum ayahmu sebelum beliau wafat."

Nayla tertegun sejenak, lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya halus.

"Bapak... Ibu..." potong Nayla dengan nada segan. "Saya rasa apa yang diberikan oleh keluarga Dewangga selama ini sudah jauh dari kata cukup. Keluarga Bapak sudah membiayai seluruh rumah sakit almarhum Bapak saya dengan fasilitas terbaik, membiayai pemakamannya, dan bahkan tetap membayar gaji saya selama saya cuti. Itu semua sudah lebih dari cukup bagi saya. Saya... saya bisa menjaga diri saya sendiri mulai sekarang."

Pak Hilman menatap gadis di hadapannya dengan tatapan dalam, lalu menggeleng pelan.

"Tidak, Nayla," tegas Pak Hilman tanpa henti. "Menjaga kamu dari jauh bukan cara yang tenang bagi kami untuk melunasi utang nyawa pada ayahmu. Kami sudah berdiskusi panjang dan membuat keputusan terbaik untuk masa depanmu."

Nayla menaikkan kedua alisnya, bingung. "Maksud Pak Hilman?"

Pak Hilman melirik putranya yang duduk di sampingnya, lalu kembali menatap mata Nayla dengan mantap.

"Menikahlah dengan Adrian."

Deg!

Kata-kata yang meluncur santai namun berbobot seperti hantaman guntur itu seketika meremukkan keheningan ruang tamu kecil tersebut.

Nayla membelalakkan matanya lebar-lebar. Napasnya tertahan di tenggorokan, lidahnya mendadak kelu tak mampu memproduksi sepatah kata pun.

Di sebelah Pak Hilman, Adrian yang sejak tadi hanya duduk diam dengan sikap tubuhnya yang tenang dan kaku, seketika menegakkan posisinya. Alis tebalnya bertaut tajam, dan matanya yang biasanya dingin kini memancarkan rasa terkejut yang luar biasa.

Adrian menoleh cepat pada ayahnya, lalu beralih menatap ibunya yang hanya memberikan anggukan pasrah. Pria itu sama sekali tidak diberitahu atau diajak berdiskusi sedikit pun mengenai rencana pernikahan ini oleh kedua orang tuanya.

Ruang tamu yang sempit itu mendadak dihujani oleh aura ketegangan yang sangat pekat.

Nayla, dengan tubuh gemuk dan perasaan minder yang selalu menggerogoti jiwanya, perlahan mengalihkan pandangannya pada pria di hadapannya. Pria yang merupakan atasan bertangan dingin, CEO kaya raya, dan sosok yang berdiri jauh di atas awan jauh dari jangkauannya.

Di saat yang bersamaan, Adrian pun menatap lurus ke dalam manik mata Nayla yang dipenuhi guncangan dan rasa tidak percaya.

Dua pasang mata itu saling mengunci dalam keheningan yang mencekam, tanpa ada satu pun jawaban yang jelas terucap di antara mereka.

1
Ariany Sudjana
eh ada pelacur murahan yang ga tahu diri, sudah ditolong bukannya terima kasih, sama seperti ibu kamu, sama-sama pelacur murahan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ciye pa bos cemburu nih... kenapa ga sekalian informasikan kalau Nayla itu istri bapak?
Yunie Silvia Putri
😄😄😄 orang bucin mah memang gitu Rio, cemburunya kadang suka kelewatan.....😄😄😄😍😍
Yunie Silvia Putri
🖒🖒🖒🖒.....
best suka ama ceritanya
❤❤
Yunie Silvia Putri
waaahhhh parah nih emak nya, malu dia punya anak bertubuh gendut....
Yunie Silvia Putri
wah bakalan ada yg bucin nih sama istri gemoy nya 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
waahhh makin seru nihh, lanjut thor...
Yunie Silvia Putri
halo kk author baru mampir baca nih, suka ceritanya, tapi episode ini bacanya nangis terus...😢😢
Yunie Silvia Putri: kk author boleh tanya, kapan up bab selanjutnya uda gak sabar nunggu cerita selanjutnya, jangan lama2 ya up nya 😄😄😄
total 2 replies
Ariany Sudjana
yang pasti istri Adrian itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan seperti kamu yang pelacur murahan 🤣🤣😂😂 maklum yah, mama kamu kan pelacur murahan, yang tega meninggalkan suami dan anaknya demi jadi istri konglomerat
Lisa
Sabar y Nayla..yg kuat y..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Lisa
Aku mampir Kak
sunshine wings
Good story i like..
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ariany Sudjana
ciye yang mau dinner romantis 🤣🤣😂😂
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!