Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Alina benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Bianca. Bagaimana bisa seorang wanita berselingkuh dari pria seperti Lorenzo?
Memang Lorenzo menyebalkan, terlalu dingin, dan kadang-kadang kalau bicara seperti tidak punya perasaan. Namun, kalau dibandingkan dengan pria-pria yang selama ini terlihat bersama Bianca, menurut Alina, Lorenzo masih jauh lebih baik.
Setidaknya, Lorenzo tampan, tubuhnya juga bagus. Dan yang paling penting, sejak menikah dengannya, Alina tidak pernah mendengar Lorenzo bermain perempuan.
Alina menghela napas kecil sambil menatap jalanan dari balik kaca mobil.
“Jangan-jangan alasan Bianca selingkuh karena Lorenzo tidak bisa memberi kepuasan di atas ranjang?!”
Pikiran itu tiba-tiba muncul begitu saja.
Lorenzo yang sedang menyetir langsung kehilangan fokus. Kepalanya spontan menoleh ke arah Alina. Wajahnya berubah seketika.
Alina ikut menoleh. Mata mereka bertemu. Lorenzo menatapnya dengan ekspresi seperti baru saja mendengar sesuatu yang sangat mengerikan.
Alina malah terlihat bingung. “Ada apa?” tanyanya polos.
Lorenzo buru-buru kembali melihat jalan.
Namun, Alina masih memperhatikan Lorenzo dengan intens. Kemudian tatapannya perlahan turun ke bawah. Dari wajah Lorenzo, ke dadanya, lalu ke bagian tubuh yang tertutup pakaian.
“Apa lagi yang dia pikirkan?”
Kening Lorenzo langsung berkerut. Dia menurunkan kecepatan mobil. Firasatnya mengatakan isi pikiran Alina kali ini pasti tidak akan sesuai dengan harapannya. Dan benar saja.
“Dia tidak impoten, kan?”
Lorenzo menginjak rem mendadak.
Ciiiit!
Tubuh Alina terdorong ke depan. Beruntung sabuk pengaman menahan tubuhnya sehingga dia tidak membentur dashboard.
“Awww!” keluh Alina sambil memegang dadanya. “Kenapa rem mendadak?”
Lorenzo menoleh. Wajahnya sudah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Matanya melebar, rahangnya mengeras, dan urat di pelipisnya seolah ikut berdenyut.
“Kau ...!”
Alina berkedip. “Aku kenapa?”
Lorenzo mengepalkan tangan di atas kemudi. Dia ingin sekali mengatakan sesuatu. Namun, semua itu hanya berputar di kepalanya.
Masalahnya, tuduhan itu tidak pernah keluar dari mulut Alina, tetapi hanya di dalam pikirannya. Jadi, Lorenzo tidak punya bukti apa pun untuk membela harga dirinya.
Lorenzo menarik napas panjang. “Kenapa aku harus menjelaskan hal seperti ini kepada istriku sendiri?” gerutunya dalam hati.
Alina masih memandanginya dengan mata bulat.
“Duduk yang benar!” tegur Lorenzo ketus. Dia kembali menginjak pedal gas.
Alina menurut. Namun, beberapa detik kemudian, rasa penasarannya kembali muncul.
Sementara itu, Lorenzo berusaha menenangkan dirinya. Ada alasan mengapa selama ini dia tidak pernah melakukan hubungan intim dengan wanita mana pun. Keputusan itu bukan karena dia tidak memiliki kesempatan.
Sejak muda, Lorenzo sudah melihat sendiri bagaimana buruknya akibat dari hubungan yang dilakukan sembarangan. Salah seorang kerabat baik keluarganya pernah menderita HIV setelah menjalani kehidupan seksual yang tidak sehat dan berganti-ganti pasangan. Kerabat lainnya juga pernah mengidap penyakit menular seksual setelah memiliki banyak pasangan.
Kenangan tentang keadaan mereka masih melekat kuat di kepala Lorenzo. Karena itulah dia membuat janji kepada dirinya sendiri. Dia tidak akan pernah melakukan hubungan intim dengan seorang wanita, bahkan dengan kekasihnya sendiri, sebelum mereka benar-benar menikah. Baginya, keputusan itu sudah final.
Masalahnya, hidup justru membawa Lorenzo ke pernikahan yang tidak pernah dia rencanakan sendiri. Kakeknya sudah membuat perjodohan dengan keluarga Alina bahkan sebelum Lorenzo lahir ke dunia.
Lorenzo tidak punya banyak pilihan. Jika dia menolak menikahi Alina, namanya akan dicoret dari daftar keluarga Romano.
Alina meliriknya lagi. “Ada apa?” tanyanya dengan wajah polos.
Lorenzo mengembuskan napas. “Tidak ada.”
“Tadi kamu kelihatan marah.”
“Aku tidak marah.”
“Wajahmu seperti mau memakan orang.”
Lorenzo melirik tajam dan Alina langsung diam.
Beberapa detik kemudian, mobil kembali melaju dalam keheningan. Namun, tidak lama kemudian, Alina mengingat sesuatu.
“Lorenzo.”
“Apa?”
“Kamu sudah memberi tahu tempat tinggal kita kepada Bianca sampai dia berani datang ke rumah.” Alina melanjutkan dengan suara serius. “Itu sudah menyalahi kesepakatan kita dahulu.”
Lorenzo mengembuskan napas pelan. Dia masih ingat aturan itu karena dialah yang membuatnya.
Alina melipat kedua tangannya di depan dada. “Karena kamu sudah melanggar aturan, kamu harus menerima hukuman.”
Lorenzo langsung meliriknya. “Hukumannya apa?”
“Selama tiga bulan, semua pekerjaan rumah kamu yang kerjakan.”
Lorenzo hampir menginjak rem lagi. “Tiga bulan?!”
Alina mengangguk mantap. “Iya.”
“Itu kelamaan. Sebulan saja,” tolak Lorenzo.
“Tidak bisa menawar. Tiga bulan, titik!” balas Alina tegas dan Lorenzo hanya bisa menghela napas panjang.
Lorenzo kembali fokus ke jalan. “Galak sekali.”
Alina tersenyum kecil. Dia memasang wajah puas. “Siapa suruh melanggar aturan?”
Lorenzo tidak menjawab. Namun, di dalam hati dia sudah mulai menghitung berapa banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakannya nanti.
Tidak lama kemudian, mobil mereka memasuki area gedung perusahaan. Begitu Lorenzo dan Alina turun dari mobil dan berjalan berdampingan menuju pintu masuk, beberapa karyawan langsung memperhatikan mereka. Bisik-bisik mulai terdengar.
“Itu Tuan Lorenzo bersama Alina, kan?”
“Iya.”
“Bukannya selama ini Alina naik kendaraan umum?”
“Kenapa datang bareng?”
Pertanyaan semakin banyak. Alina pura-pura tidak mendengar. Dia sudah terbiasa datang ke kantor menggunakan kendaraan umum. Karena itu, kedatangannya bersama Lorenzo tentu saja membuat banyak orang penasaran.
Apalagi sejak kemarin posisi Alina berubah menjadi sekretaris Lorenzo. Kabar itu bahkan sudah menyebar lebih cepat daripada pengumuman resmi HRD. Di beberapa grup chat karyawan, nama Alina menjadi bahan pembicaraan.
Alina mengetahui seluruh isi percakapan itu. Dan dia hanya akan menghela napas panjang. Dia sendiri masih berusaha memahami bagaimana hidupnya bisa berubah dari karyawan HR biasa menjadi sekretaris direktur dalam waktu satu hari.
Ketika mereka sampai di depan lift khusus direksi, Alina tiba-tiba berhenti. Seorang pria sudah berdiri di sana. Alina langsung mengenalinya.
“Papa mertua?”
Alessandro, ayah Lorenzo. Jarang sekali mereka bertemu, meskipun sama-sama bekerja di gedung yang sama. Selama ini Alina lebih sering menggunakan lift umum sehingga hampir tidak pernah berpapasan dengan anggota keluarga Romano.
Alina segera sedikit menundukkan kepala. “Selamat pagi, Papa.”
Alessandro menoleh. Wajahnya tetap dingin seperti biasa. Pria paruh baya itu memang tidak banyak bicara. Suaranya berat dan ekspresinya sering sulit ditebak. Namun, bagi Alina, Alessandro masih jauh lebih mudah dihadapi dibandingkan Valentina. Setidaknya, Alessandro tidak terlalu banyak mengomel.
“Sudah lama sekali kalian tidak berkunjung ke rumah utama,” ujar Alessandro dengan suara bariton.
Lorenzo berdiri tegak. Alina langsung merasa tidak enak.
Alessandro kemudian melanjutkan, “Nanti malam datang untuk makan bersama.”
Alina tersentak kecil. Seketika terbayang wajah Valentina dan nenek Lorenzo.
Sejak Giovani Romano meninggal setahun lalu, Alina hanya dua kali berkunjung ke rumah utama keluarga Romano. Bukan karena tidak mau. Dia hanya tidak terlalu nyaman berada di sana. Setiap kali datang, selalu ada saja yang membuatnya harus menahan diri.
Satu omelan dari ibu mertua. Kemudian komentar dari nenek mertua. Lalu pertanyaan yang membuatnya harus tersenyum meskipun ingin segera pulang.
Alina menelan ludah.
“Baik, Papa,” jawab Lorenzo.
Alina ikut tersenyum kaku. “Baik, Papa.”
Alessandro mengangguk.
Lorenzo meliriknya. “Ada apa?” tanyanya pelan.
Alina tersenyum dan menjawab dengan suara lirih, “Tidak ada.”
Namun, isi kepalanya justru berteriak. “Aaaaa, tidak! Aku harus menyiapkan mental dan fisik!”
Lorenzo hampir tertawa. Dia lalu kembali melirik Alina, merasa sedikit penasaran seperti apa kehidupan Alina ketika berada di tengah keluarganya?
Alina di lawan
pasti membekas di hati
bagus Aal, kamu jangan mudah terprovokasi oleh kata2 Bianca..walaupun ada kata2 Bianca yg sedikit nya benar, tp kamu jangan takut..karena status kamu lebih tinggi dr pada Bianca yaitu seorang istri,,skali pun terjadi nya pernikahan karena perjodohan..tp kamu lebih kuat kedudukan nya, apalagi skarang Lorenzo nya udh mulai membuka hati dn membuka mata..klo selama ini dia udh d berikan berlian berkat perjodohan....
penasaran niii Thor 😆😍🙏🙏