Indonesia
NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Tak Seindah yang Dibayangkan

Malam itu, selepas makan malam, keluarga Bu Sumarni berkumpul di ruang keluarga. Televisi menyala dengan volume pelan, tetapi tak seorang pun benar-benar memperhatikannya. Semua mata sesekali melirik ke arah Galang.

Hari itu adalah tanggal gajian. Selama bertahun-tahun, tanggal itu selalu menjadi hari yang paling ditunggu Bu Sumarni. Sebab, setiap kali gaji masuk, Galang tak pernah lupa mengirimkan bagian untuk ibunya. Bahkan ketika sudah menikah dengan Arini, kebiasaan itu tetap berlangsung. Tak sekali pun Galang terlambat.

Bu Sumarni berdeham pelan. "Galang, kamu hari ini gajian, kan?"

Galang yang sedang memainkan ponselnya mengangguk. "Iya, Bu."

"Mana jatah ibu yang biasanya kamu kirim?"

Galang mengangkat wajahnya lalu tersenyum kecil.

"Sekarang Ibu tinggal di sini sama aku. Jadi uang itu nggak perlu dikirim lagi, Bu."

Senyum Bu Sumarni langsung menghilang. "Nggak bisa begitu, dong."

"Kenapa memangnya?"

"Ya jatah ibu tetap jatah ibu. Mau tinggal serumah atau enggak, itu hak ibu."

Galang menghela napas. Ia sebenarnya sudah menduga pembicaraan ini akan muncul. Sebelum ia sempat menjawab, Mayang yang sejak tadi duduk diam di sampingnya angkat bicara.

"Boleh, Bu. Saya kasih Ibu seperti biasanya."

Wajah Bu Sumarni langsung berbinar. "Nah... gitu dong. Memang seharusnya begitu."

Mayang tersenyum tipis. "Tapi saya belum selesai bicara, Bu."

Bu Sumarni mengernyit. "Maksudmu?"

"Saya tetap kasih uang bulanan buat Ibu seperti dulu."

"Nah, itu baru benar."

"Tapi..." Mayang menatap lurus ibu mertuanya.

"Semua biaya hidup Ibu nanti ditanggung sendiri."

Ruangan mendadak sunyi. "Biaya hidup?" ulang Bu Sumarni.

"Iya."

"Biaya makan, listrik, air, gas, kebutuhan sehari-hari, kalau nanti Ibu sakit juga ya pakai uang itu. Pokoknya semuanya Ibu yang bayar sendiri."

Bu Sumarni spontan membelalakkan mata. "Apa? Kok bisa begitu?"

Mayang mengangkat bahu seolah itu hal yang wajar. "Ya memang begitu, Bu."

"Ya nggak bisa! Masa ibu dikasih uang, tapi disuruh bayar makan sendiri?"

"Lho, memangnya maunya Ibu bagaimana?"

"Ya seperti dulu. Ibu dapat uang dari Galang, tapi kebutuhan sehari-hari tetap ditanggung kalian."

Mayang terkekeh pelan. "Wah... enak banget, ya, Bu. Dulu kan ibu tinggal di kampung, ya wajar kalau dikasih jatah. Sekarang kan Ibu tinggal di sini, jadi otomatis uang jatah itu distop."

"Maksud kamu?"

"Ibu dapat uang utuh, tapi saya yang keluar uang buat makan, listrik, air, gas, dan semua kebutuhan rumah. Berarti saya nombok setiap bulan."

"Itu kan kewajiban anak."

"Betul. Tapi sekarang Galang sudah punya keluarga sendiri. Kami juga punya banyak kebutuhan."

Bu Sumarni mulai kehilangan kata-kata. Ia melirik Galang, berharap anaknya membela.

Namun Galang hanya duduk diam. Entah karena setuju atau memang tak ingin memperpanjang perdebatan.

Melihat suasana itu, Vera yang sejak tadi ikut mendengarkan akhirnya menyela. "Terus aku gimana?"

Mayang menoleh. "Maksudnya?"

"Uang bulananku."

Mayang menjawab tanpa ragu. "Aku cuma bisa kasih uang bensin. Tiga ratus ribu sebulan."

Vera sampai menganga. "Hah? Tiga ratus ribu?"

"Iya."

"Yang benar aja!"

"Memangnya kenapa?"

"Mana cukup! Aku kuliah. Belum jajan, fotokopi, tugas, nongkrong sama teman."

Mayang menggeleng pelan. "Kalau soal jajan, ya bawa bekal dari rumah. Fotokopi dan tugas yang memang perlu, silakan. Tapi kalau nongkrong setiap hari, itu bukan kebutuhan."

Vera langsung menatap Galang. "Mas, Kok diam aja sih?"

Galang mengusap tengkuknya yang mendadak terasa kaku.

"Mayang benar, Ver. Pengeluaran kita sekarang harus diatur. Cicilan motor kan masih ada, kebutuhan rumah tangga juga banyak."

"Tapi dulu..." Vera menghentikan ucapannya sendiri.

Dulu... Dulu ia hampir tak pernah memikirkan dari mana uang itu berasal. Setiap kali meminta, Arini selalu mengusahakan. Jika Galang kekurangan, Arini diam-diam menutupinya dari penghasilan toko onlinenya. Tak pernah sekali pun Arini mengeluh di depan mereka.

Kini, setelah Arini benar-benar pergi, barulah mereka merasakan bahwa perempuan yang selama ini mereka remehkan ternyata menjadi penyangga keuangan keluarga.

Dan ironisnya, orang yang menggantikan posisi Arini sama sekali tidak memiliki kesabaran ataupun kemurahan hati seperti perempuan yang telah mereka sakiti itu.

Suasana ruang keluarga yang sejak tadi memanas semakin sulit dikendalikan. Wajah Bu Sumarni tampak masam, sementara Vera berkacak pinggang dengan napas memburu. Galang hanya duduk di sofa, sesekali memijat pelipisnya. Ia mulai menyesali keputusannya menyetujui membawa semua orang tinggal serumah.

Vera mendengus kesal. "Pokoknya besok aku mau menemui Mbak Arini. Aku mau mengadukan semua ini."

Kalimat itu meluncur begitu saja, dipenuhi rasa jengkel.

Bu Sumarni sempat menoleh ke arah putrinya, tetapi belum sempat berkata apa-apa, Mayang justru tersenyum tipis.

"Ya, silakan aja kalau itu memang bentuk usahamu. Aku malah dukung, Ver."

Vera mengernyit. "Hah? Serius?"

"Iya."

Mayang menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan santai.

"Siapa tahu Mbak Arini mau balik lagi, kan? Biar aku nggak perlu pusing ngurus rumah tangga yang isinya cuma tuntutan."

Ucapan itu terdengar seperti sindiran yang dibungkus candaan.

Vera langsung melotot. "Dasar wanita gila. Maunya cuma enaknya sendiri."

Mayang tertawa kecil, bukannya tersinggung. "Enaknya di mana, Ver?"

Tatapannya beralih kepada semua orang yang ada di ruangan itu. "Nggak ada enak-enaknya jadi istri kakakmu yang kere begini."

"Mayang!" tegur Galang dengan nada pelan.

"Apa? Memang kenyataannya begitu."

Mayang kembali menatap Vera. "Lagian dulu yang ngebet aku jadi istri kakakmu itu siapa? Aku, ya? Bukan, kan?"

Vera terdiam.

"Yang terus-terusan membujuk aku, yang bilang hidupku bakal enak kalau nikah sama Galang, itu siapa?"

Mayang mengangkat alis. "Kakakmu sendiri... sama ibumu."

Bu Sumarni langsung tersulut. "Kamu jangan kurang ajar!"

"Saya kurang ajar, atau Ibu yang dulu terlalu banyak menjanjikan?"

Ruangan kembali sunyi. Mayang melanjutkan dengan nada datar.

"Dulu Ibu bilang Galang mapan. Katanya penghasilannya besar. Katanya semua kebutuhan pasti tercukupi."

Ia tersenyum sinis. "Setelah saya menikah, baru saya tahu kenyataannya."

Tatapan Mayang beralih kepada Galang. "Gajinya habis buat cicilan, kebutuhan rumah, biaya ini itu. Belum lagi harus menanggung orang serumah."

Vera yang masih kesal langsung menyahut. "Kalau memang merasa terpaksa begitu, ya sudah. Minta cerai aja dari Mas Galang!"

Mayang justru mengangguk santai. "Aku sih dengan senang hati, mau banget cerai sama kakakmu, mumpung belum punya bayi. Lebih baik mencari orang yang kaya daripada begini."

Jawaban itu membuat semua orang terdiam.

"Tapi..."

Mayang memandang Galang yang sejak tadi hanya menjadi penonton.

"...kakakmu ini mau nggak menceraikanku?"

Ia tersenyum tipis, lalu bertanya dengan nada yang sengaja dibuat lembut.

"Iya, kan, Mas?"

Semua mata kini tertuju kepada Galang.

Pria itu tampak salah tingkah. Tangannya naik menggaruk belakang kepala yang sama sekali tidak terasa gatal. Bibirnya beberapa kali terbuka, tetapi tak satu pun kata keluar.

Ia sadar, apa pun jawabannya akan menjadi bumerang.

Jika mengatakan "mau", ia akan terlihat mempermainkan pernikahan yang baru seumur jagung. Namun jika mengatakan "tidak", ia juga tak punya jawaban atas semua keluhan Mayang yang memang tidak sepenuhnya salah.

Keheningan yang tercipta justru menjadi jawaban paling jujur. Mayang tersenyum kecil melihat kebungkaman suaminya.

"Nah... benar, kan?"

"Laki-laki itu kadang lucu. Sebelum menikah, mati-matian mengejar. Setelah menikah, berharap istrinya sanggup menerima semua keadaan. Tapi giliran istrinya mengeluh, malah dianggap tidak bersyukur."

Galang hanya menundukkan kepala.

Kini ia sadar, sejak menikah dengan Mayang, ia merasakan sesuatu yang dulu tidak pernah ia rasakan bersama Arini.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat justru berubah menjadi medan pertengkaran yang tak pernah benar-benar selesai.

_________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Marina Tarigan
sdj kere masih Arogan mantan suami
Marina Tarigan
baru sadar ya merendahkan orang yg bertanggung jawab dan menyakiti nokmati kehancuran kalian
Marina Tarigan
amankan semua aseymu karen a bisa timbul perlawanan dari pihak suamimu dan galamg laki2 tolol itu
Marina Tarigan
waniya tangguh dan mandiri tdk perlu suami dan keluarga arogan
Marina Tarigan
diam2 menysun rencana untk dirimu tak usah punya suami bisfap dan mertua songong dhn kata2 merendahkan dan egois
Marina Tarigan
lanjut terus berantamnya Arini sdg menyusun renvana yg mematikan semuanya
Marina Tarigan
cerai saja dan usir merela dari rmh Arini bari yahu tasa
Marina Tarigan
lejutan sebentar lagi yg sangat mengejutkan kalian
Marina Tarigan
benar 2 inu bijaksana benar nasihat dan masukan ibu khadizah karena pernikahan antara laki2 dan wanita harus saling menghargai saling mencintai saling menghormati bukan menyakiti dan merendahkan mknya berverailah dp terbelenggu oleh manusia serakah tdk punya etika tdk punya hati
Marina Tarigan
bofoh kali suamimu benalu itu Arini dia tdk tahu penghasilanmu dari usaha yg besar ya. idiot kali timggalkan saja benalu itu sebelu pergi siapkan semua aset2mu dan surat2 penting baru singkirkan semua ular beludak itu baru tahu rasa utk apa suami bodoh
Marina Tarigan
galang orsng tolol iq nya hanya 3 neg kam dia lihst selama ini keadaan rumah dan belanja berapa yg dia kasih sm istrinya
Marina Tarigan
rupanya galang suami katak lompat bodoh dungu tdk punya atitude langko losong tdk punya harga diri ya. ampun keluarga benalu songong
Marina Tarigan
begitu dong eanita tangguh jgn mau ditindad kalau mereka tambah kasar dan galang hanya diam awa barang2mu tinggalkan rmh
Marina Tarigan
bacaan ini memang cerita tapi alurnya terlampau biadap deh seorang istri sah terlampau dihina keluarga dan suaminya sendiri lebib baik mundur Arini
echa purin
👍
Bella. pr1ncess
peran utama kok menye menye bebal banyet banyak mikir
Bella. pr1ncess
kenapa tidak sat set sih kok lambat banget kapan cerainya muter muter terus
Sri Lestari
kalau sdah pergi..baru terasa betapa berharganya orang tsb...
Dandelion
makan tuh si mayang bu sumarni menantu kesanyangan mu bu 😁🤣
Dandelion
galang dan keluarganya bnr2 medusa...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!