Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.
Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.
Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.
Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.
Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.
Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.
Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Rahasia Tentang Syila
Beberapa saat dalam hening, Kansa yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang perlahan berbalik. Langkahnya terdengar pelan.
Raya mengangkat wajah ketika pria itu duduk di sebelahnya.
“Pak Kansa...” panggil Raya pelan.
Kansa tidak langsung menjawab. Tatapannya lebih dulu tertuju kepada Syila yang masih tertidur di atas ranjang.
“Syila...” ujarnya akhirnya. “Dia bukan anak kandung saya.”
Raya terdiam. Keningnya perlahan mengernyit. “Bukan anak kandung?”
Kansa menyandarkan punggung pada sofa sebelum kembali berbicara.
“Kedua orang tua Syila meninggal karena kecelakaan tragis saat dia masih berusia dua tahun. Setelah itu, saya yang merawatnya. Saya tak tega memberikannya ke panti.”
Raya menatap Kansa tanpa menyela.
“Saya akhirnya mengadopsi Syila dan menganggapnya sebagai anak saya sendiri.” Kansa berhenti sejenak. “Sampai sekarang, Syila belum tahu siapa orang tua kandungnya.”
Raya kembali melirik ke arah Syila.
Anak itu tidur dengan wajah tenang, sama sekali tidak mengetahui percakapan yang sedang berlangsung.
“Hanya saja...” Kansa menggantungkan ucapannya.
Kening Raya semakin mengernyit. “Hanya saja apa, Pak?”
Kansa menarik napas panjang.
“Kedua orang tua Syila merupakan bandar narkoba dan menjadi buronan polisi pada waktu itu.”
Raya membeku. Matanya kembali beralih kepada Kansa.
“Mereka meninggal sebelum tertangkap,” lanjut Kansa. “Karena itu, saya tidak pernah berani mengatakan apa pun tentang orang tua kandungnya.”
Raya menundukkan wajah. ‘Ternyata begitu.’
“Bukan karena saya ingin menyembunyikan masa lalunya,” sambung Kansa. “Saya hanya tidak ingin Syila tumbuh dengan beban mengetahui siapa orang tua kandungnya.”
Raya kembali menatap anak yang sedang tertidur itu.
Syila masih begitu kecil, tetapi harus menerima kenyataan pahit yang bahkan belum ia ketahui.
“Jadi, saya mohon...” suaranya terdengar lebih pelan. “Izinkan Syila memanggilmu Mamah.”
Raya menoleh menatap Kansa. “Pak?”
“Karena waktu Syila mungkin tidak akan lama lagi.”
Ucapan itu membuat tubuh Raya seketika menegang.
“Maksud bapak…”
“Dia terkena leukemia, dokter bilang hidupnya tidak lebih dari setahun.”
Raya spontan menutup mulut. Matanya membesar. Perlahan, pandangannya kembali beralih kepada Syila.
Anak yang beberapa saat lalu tersenyum ceria itu kini sedang tidur dengan tenang.
Raya menatapnya cukup lama. ‘Ya Allah...’
Tenggorokannya terasa tercekat.
Tidak ada anak yang pantas mengalami hal seperti itu.
Terlebih Syila telah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil dan sekarang harus berjuang melawan penyakit yang mengancam nyawanya.
Raya mengembuskan napas perlahan. Ia kemudian menoleh kepada Kansa. Tidak ada keraguan dalam dirinya.
“Saya akan bantu, Pak.”
Kansa kembali menatapnya.
Raya tersenyum tipis. “Kalau dengan kehadiran saya Syila bisa merasa bahagia, saya bersedia.”
Tatapannya kembali mengarah kepada Syila.
“Biarkan dia punya Mamah, meskipun hanya untuk sementara.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
“Terima kasih, Raya,” ucap Kansa.
Raya hanya mengangguk kecil. Senyum tipis masih tersisa di wajahnya, meskipun matanya kembali terasa panas.
Bahkan misah Syila begitu mudah menyentuh hatinya.
Mungkin karena ia sendiri memahami bagaimana rasanya kehilangan.
Kling.
Suara notifikasi ponsel memecah keheningan.
Raya melirik sekilas ke arah tasnya, dimana ponselnya berada di dalam tasnya. Namun, ia tidak berniat mengambil ponsel tersebut.
‘Biarkan saja.’
Raya kembali menatap Syila yang masih tertidur di atas ranjang.
“Tapi... ada pertanyaan yang sejak tadi menyelimuti pikiran saya, Pak.”
Kansa menoleh kepadanya.
“Tanyakan saja,” ucapnya tenang.
Raya menarik napas pelan sebelum mulai berbicara.
“Selama dua tahun saya menjadi karyawan biasa, kemudian tiga tahun bekerja sebagai asisten Anda setelah Anda mengangkat saya...” Raya berhenti sejenak. “Saya tidak pernah sekalipun melihat Syila di kantor. Bahkan, saya juga tidak pernah melihat Syila di rumah Anda.”
Kansa terdiam.
“Pertanyaan yang bagus,” jawabnya kemudian.
Raya tidak menyela. Ia hanya menunggu penjelasan dari atasannya.
“Saya sudah meminta suster yang merawat Syila untuk tidak membawanya keluar kamar ketika ada wanita lain yang datang ke kediaman saya,” jelas Kansa.
Raya mengerutkan kening. “Kenapa begitu, Pak?”
“Saya takut Syila mengira wanita lain yang baru pertama kali datang ke rumah sebagai mamanya.” Kansa menghela napas pelan. “Saya juga khawatir wanita itu yang memanfaatkan kondisi Syila.”
Raya terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia membuka suara. “Tapi saya juga wanita lain, Pak.”
Kansa menatapnya.
“Kamu memang wanita lain. Namun, kamu sudah sering datang ke rumah saya. Selama ini saya juga melihat bagaimana sikapmu.”
Raya mengerjapkan mata.
“Saya tahu kamu orang yang baik. Karena itu, saya akhirnya memutuskan untuk mempertemukan kamu dengan Syila.”
Raya kembali menatap anak perempuan yang masih terlelap itu.
‘Jadi selama ini Syila sengaja disembunyikan setiap kali aku datang ke rumah Pak Kansa?’
Ada sedikit rasa bersalah yang muncul di dalam hatinya. Selama lima tahun bekerja bersama Kansa, ia tidak pernah menyadari bahwa atasannya memiliki seorang anak.
Raya kemudian kembali menatap Kansa.
“Lalu, kenapa saya yang dipilih untuk berpura-pura menjadi mamanya, Pak?”
Kansa terdiam beberapa saat.
“Saya hanya ingin Syila merasakan kehadiran seorang ibu yang tulus, meskipun untuk sementara.”
Hati Raya terasa sedikit tersentuh.
Ia melirik kembali kepada Syila. Anak itu bahkan masih mengenakan kalung yang baru saja ia berikan.
Kansa kemudian melanjutkan, “Dan setelah ini, saya mohon jangan beri tahu siapa pun tentang Syila.”
Raya mengalihkan pandangan kepadanya.
“Saya ingin menjauhkannya dari sorotan publik,” ujar Kansa. “Meskipun beberapa orang sudah mengetahui keberadaan Syila, saya tetap tidak ingin kehidupan pribadinya menjadi konsumsi banyak orang.”
Raya mengangguk pelan. “Saya paham, Pak.”
Ia kembali menatap Syila.
‘Ternyata selama ini ada alasan kenapa aku tidak pernah melihat anak ini.’
Raya mengusap jemarinya sendiri, lalu menarik napas panjang.
.
Sementara itu, di rumah yang ditinggalkan Raya, suasana terasa jauh lebih sunyi.
Rara kini duduk seorang diri di sofa ruang tamu. Ponsel berada di tangannya, sementara tatapannya tidak beralih dari layar yang menampilkan ruang percakapannya dengan Raya.
Pesan yang ia kirim beberapa waktu lalu masih belum mendapatkan balasan.
Rara menggigit bibir bawah.
“Mbak Raya kenapa nggak balas, ya?” gumamnya.
Ia kembali memperhatikan layar, lalu menyegarkan percakapan tersebut. Tidak ada perubahan.
Rara mengembuskan napas pelan.
Pandangannya perlahan turun ke perutnya yang mulai terlihat menonjol. Telapak tangannya bergerak mengusap perut tersebut dengan lembut.
“Sabar, ya, Nak,” bisiknya. “Mamah sudah berusaha mengirim pesan ke Mamah Raya, tapi nggak dibalas.”
Tangannya berhenti sejenak.
Rara menundukkan wajah.
‘Apa Mbak Raya masih marah?’
Ia kembali menghela napas, lalu menggeser layar ponselnya menuju percakapan lain.
Nama yang muncul membuat jemarinya berhenti.
Mas Zevan.
Rara membuka ruang percakapan itu. Ia mulai mengetik pesan.
{Mas, aku ngidam mangga. Boleh beliin nggak? Aku sudah chat Mbak Raya, tapi nggak dilihat, apalagi dibalas.}
Rara membaca kembali pesan tersebut sebelum akhirnya menekan tombol kirim.
Pesan terkirim.
Ia meletakkan ponsel di atas paha dan menunggu.
Beberapa detik kemudian, layar kembali menyala.
Pesan baru masuk.
{Sabar, Mas sebentar lagi pulang. Mas lapar. Tolong masakin, ya, Ra? Biasanya Raya selalu nyempetin buatin bekal buat Mas.}
Rara terdiam membaca pesan itu. Jemarinya perlahan mencengkeram sisi ponsel.
Nama Raya kembali disebut. Padahal, sejak pagi Mbaknya itu sudah tidak berada di rumah.
‘Bahkan saat meminta sesuatu kepada Mas, aku tetap harus mendengar nama Mbak Raya.’
Ia tidak membalas pesan tersebut. Rara hanya mengunci layar ponselnya, lalu meletakkannya di atas sofa.
Tubuhnya kemudian bangkit. Ia mengusap perutnya sekali lagi sebelum berjalan menuju dapur.
“Ya sudah,” gumamnya pelan. “Aku masakin saja.”
Langkah Rara menghilang ke arah dapur, meninggalkan ruang tamu yang kembali sunyi.