Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:626
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. Surat Dari Langit

..."perintah dari langit bisa memaksa kaki untuk berjalan, tapi hanya hati yang bisa membuat langkah itu berarti"...

Pagi di Gunung Emei datang dengan warna yang berbeda dari biasanya, karena kabut yang turun hari itu bukan putih bersih melainkan abu-abu berat yang menggantung di antara pohon dan anak tangga seakan ikut menahan napas bersama semua orang yang berdiri di halaman Balai Cahaya Bodhi.

Di gerbang paling bawah terlihat bendera kuning berkibar pelan, dan di atas kain sutra itu ada sulaman naga emas yang hanya dipakai oleh satu pihak di dunia ini, yaitu Istana Kekaisaran, sehingga sejak bendera itu muncul tidak ada satu murid pun yang berani bersuara keras.

Jing yue sedang menyiram tanaman obat di belakang Balai ketika lonceng peringatan dipukul dua kali, dan suara lonceng itu membuat gayung di tangannya berhenti di tengah udara karena dia tahu dua kali berarti utusan kerajaan, bukan pedagang, bukan murid, bukan tamu biasa.

Bai Ling datang berlari dari arah tangga dengan napas tersengal dan wajah yang lebih pucat dari biasanya, lalu dia berbisik bahwa rombongan sudah sampai di pertengahan jalan dan isinya empat orang pengawal dengan tombak serta satu orang kasim tua berjubah sutra biru tua.

Jing yue meletakkan gayung, mencuci tangannya di bak batu, merapikan jubah biru Emei yang sudah mulai pudar, dan memastikan lencana mount hua masih tersemat di dada, tasbih Shaolin masih melingkar di leher, serta giok Kunlun masih tergantung di pinggangnya, karena hari ini dia tidak boleh terlihat goyah sedikit pun.

Ketika dia tiba di halaman depan, enam Tetua sudah berdiri berjajar dengan wajah tegang dan seratus murid inti sudah berbaris rapi dengan pedang di dada, namun tidak ada satu pun yang mengucapkan salam karena semua orang tahu bahwa surat dari langit jarang sekali membawa kabar yang menyenangkan.

Langkah kaki teratur terdengar naik dari tangga batu, lalu muncul empat pengawal bertubuh besar dengan baju zirah hitam dan tombak yang ujungnya mengkilap, dan di belakang mereka berjalan seorang kasim tua dengan janggut tipis dan tangan yang memegang erat gulungan kuning ber pita merah yang diatasnya ada segel naga kaisar.

Kasim itu berhenti tepat di tengah aula, matanya menyapu seluruh ruangan tanpa menunduk sedikit pun, lalu dengan suara serak dia bertanya "siapa yang sekarang menjabat sebagai Penjaga Gerbang Emei", dan Jing yue segera melangkah maju, berlutut, dan menyentuhkan dahinya ke lantai batu tiga kali dengan gerakan yang tidak tergesa-gesa.

"Hamba Jing yue, Penjaga Gerbang Emei," jawabnya pelan namun jelas, dan kasim itu mengangguk kecil sebelum membuka gulungan kuning itu dengan hati-hati seolah kertas itu lebih berat daripada batu.

Dengan suara yang dibaca keras-keras agar semua orang di aula bisa mendengar, kasim itu menyampaikan bahwa Kaisar telah memerintahkan Sekte Emei untuk turun gunung selama tiga bulan karena banjir besar di Sungai Min telah menenggelamkan tiga kota, membuat rakyat mengungsi tanpa arah, dan menyebabkan para perampok berkeliaran di jalanan sehingga pengadilan daerah tidak mampu lagi menjaga ketertiban.

Surat itu juga menyatakan bahwa Emei harus membantu membagi makanan, merawat orang sakit, dan menjaga keamanan, dan apabila dalam waktu tiga bulan Emei gagal menjalankan perintah maka nama sekte ini akan dicoret dari daftar sekte resmi dan tidak akan mendapat perlindungan istana lagi.

Setelah selesai membaca, kasim itu menggulung kembali surat itu dan menyerahkannya langsung ke tangan Jing yue dengan dua tangan, dan ketika kertas itu berpindah Jing yue bisa merasakan dinginnya segel lilin merah yang masih menempel di ujungnya.

"Tidak ada pertanyaan?" tanya kasim itu sambil menatap lurus ke mata Jing yue, dan beberapa Tetua tampak ingin protes namun Jing yue lebih dulu menggeleng dan menjawab bahwa Emei menerima perintah dengan hormat tanpa syarat apa pun.

Kasim itu menyipitkan mata, menilai gadis tujuh belas tahun yang berdiri di depannya, lalu dia berkata dengan nada meremehkan bahwa tugas ini berat dan mungkin di luar kemampuan anak sekecil Jing yue, tetapi Jing yue hanya menjawab bahwa tanah tetap harus dipijak meskipun hujan turun dan lumpur menghalangi jalan.

Mendengar jawaban itu kasim hanya tersenyum tipis yang tidak jelas artinya, lalu dia berbalik dan pergi bersama empat pengawalnya tanpa pamit lagi, dan suara langkah mereka memudar di tikungan tangga sampai akhirnya tidak terdengar sama sekali.

Begitu pintu besar tertutup, Tetua Kedua langsung membanting tangannya ke meja dan berkata bahwa ini jelas-jelas jebakan karena menyuruh sekte turun ke daerah banjir sama saja menyuruh mereka mati, sementara Tetua Ketiga menghitung bahwa persediaan makanan Emei hanya cukup untuk satu bulan padahal perintahnya tiga bulan.

Bisik-bisik mulai terdengar dari barisan murid, ada yang takut, ada yang marah, ada yang menatap Jing yue seakan menunggu keputusan yang akan menentukan hidup mati mereka semua, dan di tengah keributan kecil itu Jing yue masih berdiri diam dengan surat di tangannya yang belum dia buka lagi.

Dia membuka lipatan kertas itu perlahan, membaca setiap huruf dengan teliti, lalu melipatnya kembali dan menyimpannya di dalam lipatan jubah tepat di atas lencana Hua Shan seakan ingin memastikan bahwa perintah itu menempel di dekat jantungnya.

Setelah itu dia naik ke tiga anak tangga di depan Balai agar suaranya bisa menjangkau semua orang, dan ketika dia mulai bicara seluruh aula yang tadinya gaduh perlahan menjadi hening karena semua orang ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Penjaga Gerbang yang baru dilantik tujuh hari lalu.

Jing yue mengingatkan bahwa tujuh belas hari lalu mereka semua berjalan ke empat gunung besar untuk belajar, bahwa di Hua Shan mereka belajar menjadi tulang agar tidak mudah roboh, di Wudang belajar menjadi air agar bisa masuk ke tempat yang sempit, di Kunlun belajar menjadi es agar tetap bersih, dan di Shaolin belajar menjadi tanah agar mau merendah.

Dia berkata bahwa hari ini langit sedang menguji mereka bukan dengan pedang atau dengan adu jurus, melainkan dengan lumpur, dengan kelaparan, dan dengan tangis rakyat yang sedang tenggelam, dan dia bertanya apakah mereka mau menolak dan membiarkan nama Emei dihapus dari sejarah atau mereka mau turun dan membuktikan bahwa Emei bukan sekte perempuan lemah.

Bai Ling adalah orang pertama yang melangkah maju dan berkata bahwa dia akan ikut, lalu disusul Tetua Pertama yang awalnya paling keras menentang namun akhirnya menghela napas dan mengatakan bahwa kalau memang harus mati maka matilah bersama-sama di bawah bendera Emei.

Satu per satu Tetua dan murid berdiri, tidak ada yang berteriak, tidak ada yang memukul dada, hanya ada anggukan dan kepalan tangan yang menunjukkan bahwa mereka sudah siap, dan Jing yue melihat semua itu dengan dada yang terasa sesak sekaligus hangat.

Dia lalu mengumumkan bahwa mereka punya waktu tiga hari untuk bersiap, bahwa malam ini tidak ada yang boleh tidur sebelum semua rencana selesai, dan bahwa tugas dibagi mulai dari siapa yang mengurus beras, siapa yang membawa obat, siapa yang menyiapkan perahu, dan siapa yang akan bertugas menenangkan para pengungsi.

Malam itu Balai Cahaya Bodhi tidak pernah padam, lilin menyala sampai ke sumbunya habis, peta besar dibentangkan di atas meja, nama-nama desa yang terkena banjir ditandai dengan tinta merah, dan jalur-jalur yang mungkin bisa dilewati ditulis ulang berkali-kali sampai kertasnya hampir sobek.

Jing yue tidak duduk barang sedetik pun, dia berjalan dari satu kelompok ke kelompok lain, mendengarkan laporan, mencatat di buku, bertanya tentang jumlah karung, tentang stok obat luka, tentang berapa banyak tali yang bisa dipakai untuk membuat rakit, dan tangannya yang diperban mulai terasa sakit lagi karena terlalu banyak menulis.

Menjelang subuh ketika ayam mulai berkokok, dia keluar ke halaman dan mengambil sapu bambu dari Shaolin, lalu dia menyapu daun-daun basah dan juga menyapu rasa takut yang mengendap di dalam dadanya sendiri, karena dia tahu seorang pemimpin tidak boleh menunjukkan ragu di depan orang banyak.

Saat matahari pertama muncul dan menembus kabut, di gerbang bawah sudah menunggu belasan gerobak yang ditarik murid, ada karung beras, ada peti berisi ramuan, ada gulungan tali, ada perahu lipat dari bambu, dan seratus murid sudah berdiri dengan bekal di punggung dan wajah yang masih mengantuk tapi tegas.

Jing yue berdiri di anak tangga paling atas, menatap ke bawah ke jalan panjang yang menurun ke kaki gunung, jalan yang becek dan licin dan tidak ada yang tahu pasti apa yang menunggu di ujungnya, lalu dia menggenggam surat di dadanya sekali lagi dan mulai melangkah turun satu per satu.

Seratus murid mengikutinya tanpa suara, tanpa genderang, tanpa sorak-sorai, hanya suara langkah kaki di batu dan sesekali suara sapu yang diseret karena Jing yue tetap membawanya, dan di tengah jalan dia sempat berhenti dan menoleh ke belakang ke arah puncak Emei yang mulai tertutup kabut lagi.

Dengan suara yang hanya cukup dia dengar sendiri dia berbisik bahwa mereka turun bukan demi nama baik, bukan demi perintah kaisar, melainkan demi orang-orang yang sekarang sedang berdiri di atas atap rumah sambil menunggu air naik lebih tinggi.

Malam pertama mereka berkemah di kaki gunung, hujan turun deras dan membasahi tenda, api unggun hampir padam beberapa kali tapi tetap dijaga agar tetap menyala, dan Jing yue duduk di dekat api dengan surat kaisar diletakkan di atas batu yang dialasi daun pisang agar tidak basah.

Dia membuka bukunya, menulis dengan tulisan yang sedikit bergetar karena dingin, dan dia menulis bahwa "hari ini langit telah mengirim surat, hari ini mereka telah menerima, dan hari ini mereka telah turun", serta dia tidak tahu apakah mereka semua akan kembali ke puncak dengan selamat.

Namun dia juga menulis bahwa "kalau mereka tidak turun sekarang maka mereka tidak pantas disebut Penjaga Gerbang, karena gerbang bukan hanya untuk menjaga orang agar tidak masuk, tetapi juga untuk menjaga orang agar bisa keluar saat dalam bahaya".

Bai Ling datang membawa semangkuk bubur hangat dan duduk di sampingnya tanpa banyak bicara, dan mereka berdua makan dalam diam sambil mendengarkan suara air Sungai Min yang menderu dari kejauhan seperti binatang besar yang sedang marah.

Jing yue menutup bukunya, menatap nyala api yang memantul di mata murid-murid yang tertidur di sekitar tenda, dan di dalam hatinya dia berjanji bahwa selama dia masih memegang sapu dan tasbih ini maka Emei tidak akan membiarkan satu orang pun tenggelam tanpa ada tangan yang menolong.

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!