Indonesia
NovelToon NovelToon
SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Omni Tales

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saksi yang Terfragmentasi

Dengung mesin pendingin skala besar mendadak melonjak, mengembuskan uap nitrogen yang membekukan lantai baja.

"Tidaaak! MILOOO!!" jerit Nora seraya memeluk adiknya yang terbaring kaku di atas kursi medis.

"Nora! Kabel pemancar di pelipisnya masih aktif! Jangan dicabut paksa!!" bentak Nio melompat maju merenggut pergelangan tangan Nora.

Dari pengeras suara di langit-langit, tawa Zero menggema kencang memecah senyap yang mencekam.

"Kalian terlambat, Nio. Kesadaran Milo sudah dicuci menjadi tabula rasa yang sempurna!" seru Zero penuh kemenangan.

'Dia sengaja mengunci ruangan ini untuk menguji daya tahan kognitif gue,' batin Nio seraya meraba tekstur keras kertas kosong di sakunya.

Tanpa membuang sekon, Nio menusukkan paku diagnostik tabletnya ke panel bypass darurat di bawah kursi medis.

SPARK!

Tembakan arus listrik balik memicu ledakan kecil pada konsol utama, membuat pintu baja kedap udara terbuka otomatis.

"BOOM! Katakan pada Zeromu bahwa kodenya selalu punya celah!" teriak Nio seraya memanggul tubuh kaku Milo di pundaknya.

"LARI, NORA!! SEKARANG!!" seru Nio menerobos jelut asap nitrogen yang membubung tinggi.

Nora berlari sekuat tenaga mengikuti bayangan Nio, menembus lorong pelarian sebelum pasukan eksekutor Tinta Mati mengepung mereka.

Tiga jam kemudian, di sebuah gubuk kumuh beratap seng di pinggiran Sektor Terluar yang terasing dari hiruk-pikuk kota.

Pendar redup dari lampu gantung tua menerangi sosok pria paruh baya berkacamata tebal yang gemetar di pojok ruangan.

"J-jangan bunuh aku... aku sudah keluar dari Tinta Mati sejak tiga tahun lalu!" rintih pria tua itu seraya menutupi mukanya.

"Elias... kami tidak datang untuk membunuhmu," ujar Nio tenang seraya meletakkan Milo yang terlelap di atas dipan kayu.

Nora berlutut di samping dipan, menggenggam jemari adiknya yang dingin dengan pendar harapan yang meredup.

Pria bernama Elias itu menurunkan tangannya lambat-lambat, menatap Nio dengan pandangan penuh kecurigaan.

"Kamu... pakar data tanpa nama yang dicari Zero selama ini?" bisik Elias dengan vokal bergetar tegang.

"Elias adalah mantan analis data tingkat atas Tinta Mati yang membelot," pangkas Nio menjelaskan status pria itu pada Nora.

"Aku bukan membelot! Aku melarikan diri karena sadar betapa mengerikannya monster yang diciptakan Zero!!" potong Elias histeris.

"Bagaimana Zero bisa menghapus seseorang hingga orang-orang terdekatnya lupa?!" cecar Nora mendesak dengan vokal tertahan.

Elias meneguk air dari gelas kalengnya, napasnya terdengar terengah-engah dalam kepanikan batin yang membayang.

"Zero tidak sekadar menghapus berkas di satu server, Mbak..." sahut Elias seraya menggelengkan kepala.

"Dia menggunakan algoritma pembuangan memori berbasis neural-sync bernama 'Erebus'," pangkas Elias.

Nio melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Elias yang makin menyusut di kursi.

"Erebus... algoritma anomali yang mampu memanipulasi catatan digital hingga ke tingkat penyedia layanan publik?" tebak Nio dingin.

Elias tersentak kaget, menatap Nio seolah melihat hantu dari masa lalu.

"Bagaimana... bagaimana kamu tahu nama algoritma itu?!" seru Elias dengan mata membelalak lebar.

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata," bisik Nio menyuarakan monolog batinnya.

"Karena arsitektur dasar Erebus dibangun di atas pola manipulasi data milik gue sepuluh tahun lalu," pangkas Nio tegas.

Nora berdiri perlahan, menatap Nio dan Elias bergantian dengan keterkejutan yang nyata.

"Maksudmu... algoritma yang menghapus adikku diciptakan dari caramu bekerja, Nio?" tanya Nora lirih.

"Zero mencuri cetak biruku, lalu menyempurnakannya jadi senjata pencabut sejarah," sahut Nio tanpa penyangkalan.

"Bukan cuma itu!" sela Elias seraya memajukan tubuhnya ke arah meja kayu.

"Erebus menyusup ke server Dukcapil, rumah sakit, hingga infrastruktur perbankan secara simultan!" seru Elias.

"Begitu target ditandai, algoritma itu menyebarkan residu kode yang meretas ingatan digital kolektif masyarakat," lanjut Elias.

"Catatan kelahiran, foto keluarga, hingga sertifikat tanah... semuanya tereliminasi tanpa menyisakan preseden," pangkas Elias tegang.

Nora memegang dadanya yang sesak, air mata menetes perlahan membasahi pipinya yang kotor.

"Itu sebabnya... tetanggaku dan teman-teman Milo mendadak menganggap Milo tidak pernah ada?" bisik Nora pilu.

"Presensi manusia digantikan oleh data amorf yang membuat pikiran orang awam mengalami amnesia selektif," jawab Elias.

"Bagi sistem publik, korban hanyalah sosok nirnama yang tidak punya hak eksistensi lagi di bumi," pangkas Elias.

Nio mengetuk meja kayu dengan ujung jarinya, melakukan rekonstruksi logika dari penjelasan saksi kunci itu.

'Jadi ini alasan kenapa Zero begitu terobsesi pada gue,' batin Nio seraya meremas kertas kosong di sakunya.

"Kertas kosong ini tidak bicara, tetapi dialah satu-satunya hal yang tidak pernah berbohong padaku," bisik Nio dalam batin.

"Pasti ada kunci pemulihan yang disembunyikan Zero di dalam core algoritma Erebus," tegur Nio memutus ketakutan Elias.

Elias terdiam sejenak, menatap Nio dengan tatapan penuh kepasrahan yang pekat.

"Ada... sebuah dekoder fisik bernama 'Kunci Tabula Rasa'," ungkap Elias memelankan suaranya.

"Di mana Zero menyimpan Kunci Tabula Rasa itu?!" tuntut Nora penuh desakan emosional.

"Kunci itu tidak disimpan di peladen digital mana pun, Mbak," jawab Elias seraya menunjuk kepala Nio.

"Zero menanamkan enkripsi utama Kunci Tabula Rasa di dalam memori tertanam milik Nio sendiri!" pangkas Elias gempak.

Seketika itu juga, ruangan gubuk tua itu jatuh ke dalam hening yang teramat pekat.

Nora menoleh lambat ke arah Nio dengan tatapan tidak percaya yang membeku di udara.

"Di dalam memori... milik Nio?" ulang Nora dengan nada suara yang hampir hilang.

"Sepuluh tahun lalu, sebelum ingatan Nio dihapus, dia mengunci master dekoder Erebus di otak fisiknya," terang Elias.

"Itu sebabnya Zero tidak membunuhmu, Nio! Dia membencimu sekaligus membutuhkan kepalamu!!" seru Elias menegaskan.

Nio berdiri mematung, meraba lembaran kertas polos di dalam sakunya dengan jemari yang mendadak dingin.

'Masa lalu gue... bukan cuma hilang, tapi dijadikan gembok untuk penderitaan ribuan korban,' batin Nio terguncang.

"Berarti untuk menyelamatkan Milo dan mengembalikan identitas para korban..." gumam Nora melangkah mendekati Nio.

"...kamu harus membuka kembali seluruh ingatan masa lalumu yang kelam itu, Nio?" lanjut Nora lembut.

"Gue harus menghadapi Zero di titik awal semuanya dimulai," pangkas Nio seraya menatap lurus keluar jendela.

CRASHHH!

Tiba-tiba, atap seng gubuk tua itu jebol dihantam oleh bom asap merah yang menyemburkan gas beracun.

"UHUUK! UHUUK! GAS BERACUN!!" jerit Elias panik seraya jatuh tersungkur dari kursinya.

Dari balik kepulan asap merah yang memutar, tiga sosok berarmor berat dari faksi elit Tinta Mati melompat turun.

"Zero menyampaikan salam terakhirnya... Pakar Data Mati," seru pimpinan prajurit elit itu seraya mengarahkan senapan laser.

Nio menarik pistolnya dengan refleks kilat, pasrah melemparkan tubuhnya untuk melindungi Nora dan Milo.

"JANGANN BUKA TEMBAKAN!! DIA HARUS DIBAWA HIDUP-HIDUP!!" teriakan suara asing lain mendadak terdengar dari luar palka.

Sesosok pria berjas hitam rapi dengan pin emas Sektor Satu melangkah masuk menembus asap merah tanpa rasa takut.

"Kalian prajurit Tinta Mati... berhentilah bersikap liar," pangkas pria berjas itu dengan suara dingin yang amat berkuasa.

Nio membelalakkan matanya saat mengenali lambang pangkas emas di dada pria misterius tersebut.

"Pejabat Tinggi Sektor Satu... pendorong utama di balik faksi Tinta Mati," desis Nio menahan napasnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!