Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11.
Pembicaraan mengenai persiapan akad nikah masih berlangsung di ruang tamu. Mulai dari tempat akad, penghulu, administrasi, hingga perlengkapan penunjang lainnya.
Sementara itu, Kahiyang lebih banyak diam. Ia hanya sesekali mengangguk atau menjawab singkat ketika ada yang bertanya kepadanya.
Kenyataan bahwa dalam waktu dekat akan resmi menjadi istri Sultan, pemuda yang selama ini ia kenal sebagai Rafa, memenuhi pikirannya. Tanpa sadar, jemarinya saling meremas di atas pangkuan. Kebiasaan yang selalu muncul setiap kali dirinya merasa gugup.
Dari tempat duduknya, Sultan diam-diam memperhatikan Kahiyang. Dengan jelas dilihatnya kegelisahan di wajah gadis itu. Sebenarnya ia ingin mendekat dan menenangkannya, tetapi banyaknya anggota keluarga yang berada di ruang tamu membuatnya menahan diri.
Hingga akhirnya, pandangan mereka bertemu. Dia memberikan senyum kecil seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Setelah itu, dirinya berdiri lalu berjalan santai menuju pintu depan.
Kahiyang yang memahami maksudnya segera meminta izin untuk keluar sebentar. Ia kemudian menyusul Sultan.
Kepergian mereka rupanya menarik perhatian Ningrum, salah seorang kerabat dari Pak Andika yang sejak tadi memang memperhatikan keduanya. Ia mendekatkan wajah kepada seseorang yang duduk di sebelahnya, lalu berbisik,
"Eh, Yan. Kamu merasa ada yang aneh nggak, sih? Kenapa pernikahan mereka kesannya buru-buru begitu? Apa jangan-jangan Kahiyang sudah...." Ia sengaja menggantung ucapannya sambil melirik ke arah pintu.
Wanita bernama Yanti langsung menyikut lengan Ningrum pelan. "Hus! Jangan asal bicara kamu, Ning. Kalau sampai terdengar orang lain, bisa jadi masalah."
"Aku cuma heran, Yan. Selama ini kan, Kahiyang sudah menjaga dirinya sampai usia segitu. Kalau akhirnya malah hamil sebelum menikah... kan, sayang banget. Berarti semua yang dia pertahankan selama ini sia-sia, dong," jawab Ningrum pelan.
Seorang tetangga dekat yang mendengar obrolan tersebut lantas menyela. "Ah, masa sih Mbak? Calon suaminya kelihatan sopan dan lugu gitu. Rasanya nggak mungkin kalau mereka berani berbuat macam-macam sebelum menikah."
"Jangan menilai seseorang hanya dari tampilannya. Namanya juga lelaki, biar tampang culun tetap saja punya hasrat," balas Yanti.
"Iya juga, sih. Tapi aku tetap nggak percaya Kahiyang bisa melakukan hal seperti itu," sanggah Ningrum.
Rupanya rasa penasaran wanita itu semakin besar. "Daripada terus menebak-nebak, lebih baik aku tanya langsung."
Ia hendak berdiri, tetapi Yanti segera menahannya. "Jangan cari masalah, Ning! Nggak sopan kalau bertanya seperti itu."
Namun, tekad Ningrum sudah bulat. Ia merasa lebih baik mengetahui kebenarannya dari orang yang bersangkutan langsung, daripada terus menduga-duga yang belum tentu benar. Akhirnya, ia pun berjalan keluar menuju teras.
Di depan rumah, Sultan dan Kahiyang sedang duduk di bangku taman. Kahiyang masih terlihat gugup. Sultan hendak mencoba berbicara, tetapi belum sempat mengatakan sesuatu, ketika terdengar langkah kaki mendekat. Keduanya lantas menoleh.
Di hadapan mereka Ningrum berdiri. Meski wajahnya tampak ragu, tetapi rasa penasaran dalam hatinya meminta segera dituntaskan.
"Maaf, kalau saya mengganggu, kalian berdua," ucapnya hati-hati. "Saya hanya mau bertanya sedikit soal pernikahan kalian yang dipercepat..." Ia berhenti sesaat, lalu menatap Kahiyang.
"Kamu lagi nggak sedang... itu, kan, Ay?"
Kahiyang mengernyitkan dahi. "Maksud Mbak Ning, apa? Aku nggak paham."
Ningrum menarik napas panjang. Setelah ragu beberapa saat, akhirnya ia mengucapkan apa yang sejak tadi ada di pikirannya. "Maksud aku... kamu nggak sedang mengandung, kan, Ay?"
Kahiyang langsung terdiam seakan kehilangan kata-kata, spontan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Wajahnya memucat, tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari keluarganya sendiri.
Suasana di sana mendadak hening. Di sampingnya, raut wajah Sultan berubah serius. Sorot matanya begitu dingin ketika menatap Ningrum. Dia tahu maksud ucapan wanita tersebut.
"Jadi maksud Mbak, saya dan Kahiyang sudah melakukan perbuatan terlarang itu, sehingga kami minta cepat-cepat dinikahkan? Apa serendah dan sehina itu pandangan kalian terhadap kami?" tanya Sultan dengan suara tenang, tetapi jelas terdengar menahan emosi.
Dia berdiri dan tanpa sadar sedikit bergeser ke depan Kahiyang, seolah ingin melindungi gadis itu.
Ningrum tampak gugup melihat perubahan sikap Sultan. "Saya cuma bertanya, Mas. Soalnya, orang-orang biasanya berpikir begitu kalau ada pernikahan yang terkesan buru-buru."
Kahiyang akhirnya ikut berdiri. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha tetap tenang lalu mencoba menjelaskan,
"Mbak, kalau kamu pengin tahu, awalnya aku dan Rafa hanya menjadi kekasih pura-pura di ulangtahun Eyang, tapi siapa sangka eyang justru meminta Rafa menikahiku. Jadi, mana mungkin aku sama dia melakukan perbuatan yang dilarang agama? Bahkan terpikirkan saja nggak, karena selama ini aku selalu menjaga dan menghargai diriku sendiri."
"Keputusan untuk mempercepat akad ini karena kedua keluarga sudah sepakat dan kami tak ingin menunda sesuatu yang baik. Jadi, nggak ada alasan lain apalagi seperti yang Mbak Ning tuduhkan."
Suara Kahiyang sedikit bergetar menahan sesak di dada membuat Ningrum seketika menundukkan kepala merasa bersalah.
Sultan menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. "Kami mengerti kalau ada yang merasa penasaran. Tapi sebaiknya jangan membuat asumsi yang bisa merusak nama baik orang lain," timpalnya.
Sekilas Sultan melirik Kahiyang, lalu kembali menatap Ningrum. "Kahiyang adalah gadis terhormat dan saya lelaki yang sangat beruntung terpilih untuk menjadi pendampingnya."
Nada suara Sultan tetap tenang, tetapi penuh keyakinan, membuat Ningrum semakin didera rasa bersalah.
"Maafkan aku, Ay. Maaf juga, Mas Rafa. Saya hanya terlalu penasaran karena mendengar omongan orang lain. Saya benar-benar tidak bermaksud menghina atau menuduh kalian," ucap wanita itu dengan suara rendah.
Sultan mengangguk pelan. "Baik, kami menerima permintaan maaf Mbak Ning. Tapi saya minta supaya Mbak juga mau bertanggungjawab meluruskan hal ini kepada yang lain. Jangan sampai dugaan kalian berubah menjadi gosip yang tidak benar."
Ningrum mengangguk cepat. "Iya, Mas. Saya akan melakukannya. Kalau begitu saya permisi, sekali lagi maafkan saya." Kemudian ia kembali masuk ke dalam rumah dengan wajah tertunduk.
Setelah kepergian Ningrum, Sultan segera berbalik ke arah Kahiyang. Airmata gadis itu akhirnya jatuh. Sultan meraih tangan Kahiyang dan menggenggamnya dengan lembut. "Jangan dipikirkan ucapannya tadi, ya. Dia hanya nggak tahu apa-apa tentang kita."
Kahiyang menunduk sambil menghapus airmatanya. "Bagaimana mungkin nggak kepikiran, Raf? Aku malu dan sakit hati mendengarnya."
Sultan mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. Ditatapnya Kahiyang dengan penuh keyakinan. "Aku tahu dan kita nggak perlu membuktikan apa pun kepada mereka."
Kahiyang perlahan mengangkat wajahnya. "Makasih, sudah membelaku, Raf," ucapnya lirih.
Sultan tersenyum tipis. "Kamu calon istriku. Akan aku lakukan apapun untuk melindungimu."
Ucapan itu membuat hati Kahiyang menghangat, meski matanya masih menyisakan titik airmata.
"Sudah, jangan menangis lagi. Lebih baik kita masuk sekarang. Jangan sampai mereka bertanya-tanya kenapa kita lama di luar," ucapnya seraya melepaskan genggaman tangannya lalu mengusap titik airmata pada kelopak mata Kahiyang.
Gadis itu mengangguk kecil dan tersenyum lalu menarik napas panjang. Kemudian keduanya kembali masuk ke ruang tamu.
Meski kejadian tadi sempat membuat hatinya terluka, tetapi keyakinan Sultan justru semakin kuat untuk tetap mempercepat pernikahan. Dia tidak ingin membiarkan praduga orang lain mengganggu keputusan yang sudah disepakati bersama.
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭