Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
— RENCANA YANG TERTUNDA
Hari yang ditunggu Nadira akhirnya semakin dekat.
Rumah baru mereka hampir selesai disiapkan. Dindingnya sudah dicat dengan warna pilihan Nadira, tirai-tirai baru pun telah terpasang. Bahkan halaman kecil di depan rumah mulai ditanami beberapa bunga yang dibeli Arga bersama Nadira.
Arga bahkan sudah mulai memindahkan beberapa barang secara perlahan.
“Sebentar lagi kita benar-benar punya rumah sendiri,” kata Arga sambil tersenyum.
Nadira ikut tersenyum.
“Iya. Rasanya seperti tidak percaya.”
“Kenapa?”
“Selama ini kita selalu membicarakannya. Sekarang tinggal menunggu waktu.”
Arga mendekat lalu merapikan rambut Nadira yang tertiup angin.
“Kamu sudah membayangkan akan melakukan apa di sana?”
“Banyak. Aku ingin memasak untukmu, menata ruang tamu, lalu membuat taman kecil.”
“Kalau begitu, aku akan membuatkan rak buku untukmu.”
Nadira tertawa kecil.
“Jangan sampai raknya miring seperti meja yang pernah kamu buat.”
“Itu bukan miring. Itu desain khusus.”
Keduanya tertawa. Untuk sesaat, Nadira merasa semua masalah yang pernah mereka hadapi telah berlalu. Mereka akhirnya memiliki kesempatan untuk memulai kehidupan baru tanpa terlalu banyak campur tangan orang lain.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Pagi itu, suara Rani terdengar panik dari lantai bawah.
“Kak Arga!”
Arga yang sedang bersiap langsung keluar kamar.
“Ada apa?”
“Ibu!”
Arga segera turun.
Nadira menyusul di belakangnya.
Bu Ratih terlihat duduk lemas di sofa. Wajahnya pucat dan tangannya memegang dada. Napasnya terdengar pendek, membuat Rani semakin panik.
“Ibu kenapa?”
“Aku pusing,” jawab Bu Ratih pelan.
“Dada Ibu sakit?” tanya Nadira.
Bu Ratih hanya mengangguk lemah.
Arga langsung berjongkok di depannya.
“Kita ke dokter.”
“Tidak perlu.”
“Bu.”
Nada suara Arga tegas.
“Jangan keras kepala. Kalau Ibu merasa tidak enak badan, kita harus memastikan semuanya baik-baik saja.”
Rani segera mengambil tas milik ibunya, sementara Nadira mengambilkan air minum.
“Bu, minum dulu.”
Bu Ratih menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Arga kemudian membantu ibunya berdiri. Meski Bu Ratih terus mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, wajahnya terlihat semakin pucat.
Beberapa saat kemudian, mereka membawanya ke dokter.
Setelah diperiksa, dokter mengatakan Bu Ratih hanya perlu banyak beristirahat dan menjaga pola makan.
“Tidak ada yang terlalu mengkhawatirkan,” jelas dokter. “Kemungkinan tubuhnya kelelahan. Tetapi jangan terlalu banyak pikiran dan hindari aktivitas berat.”
Arga menghela napas lega.
“Syukurlah.”
Nadira juga merasa sedikit tenang. Sejak melihat Bu Ratih jatuh lemas, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
“Untuk sementara, Ibu harus benar-benar beristirahat,” kata dokter lagi.
Bu Ratih mengangguk.
“Iya, Dok.”
Namun ketika mereka sampai di rumah, Arga terlihat berpikir. Ia membantu ibunya berbaring di kamar, memastikan obat-obatan diletakkan di meja, lalu berdiri cukup lama di dekat jendela.
Nadira memperhatikannya.
“Kamu kenapa?”
Arga menatap ibunya yang sedang berbaring.
“Kita tunda pindah.”
Nadira terdiam.
“Arga…”
“Aku tidak tega meninggalkan Ibu dalam kondisi seperti ini.”
“Tapi dokter bilang Ibu hanya perlu istirahat.”
“Aku tahu. Tapi tetap saja, aku ingin memastikan Ibu benar-benar pulih. Kalau kita pindah sekarang, siapa yang akan menjaganya?”
Nadira tidak langsung menjawab. Ia tahu Arga sedang berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka telah menyiapkan rumah baru dengan penuh harapan. Di sisi lain, Bu Ratih adalah ibunya, dan Arga tidak mungkin mengabaikannya.
“Aku mengerti,” kata Nadira akhirnya.
Rani yang mendengar percakapan itu terlihat lega.
“Kakak tidak jadi pindah?”
“Untuk sementara.”
Rani tersenyum.
“Syukurlah. Aku juga bisa membantu merawat Ibu.”
Nadira menatap Rani sejenak. Biasanya gadis itu akan mengeluh jika harus mengurus ibunya. Namun kali ini, Rani justru terlihat terlalu cepat menyetujui keputusan tersebut.
“Benarkah kamu mau membantu?” tanya Nadira.
“Tentu saja. Ibu juga ibuku.”
Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa membuat Nadira merasa tidak nyaman.
Nadira kemudian menatap Bu Ratih.
Perempuan itu memejamkan mata seolah sedang tidur.
Nadira tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya membantu mengambilkan obat, menyiapkan makanan, lalu memastikan Bu Ratih meminumnya tepat waktu.
Hari-hari berikutnya, rencana pindah benar-benar dihentikan. Arga lebih sering berada di rumah untuk menjaga ibunya. Barang-barang yang sebelumnya hendak dipindahkan dibiarkan tetap berada di rumah baru.
Nadira berusaha tidak mengeluh. Ia bahkan ikut mengatur jadwal obat Bu Ratih dan menyiapkan makanan sesuai anjuran dokter.
Namun semakin lama, ia mulai memperhatikan sesuatu.
Setiap kali Arga membicarakan rumah baru, Bu Ratih selalu terlihat murung. Kadang-kadang ia menghela napas panjang, seolah keputusan itu membuatnya lega. Rani pun mulai sering berada di dekat Arga dan mengingatkan bahwa ibunya belum benar-benar pulih.
“Kak, sebaiknya jangan terlalu memikirkan pindah dulu,” kata Rani suatu sore.
“Aku tahu.”
“Rumah itu bisa menunggu. Ibu tidak.”
Arga mengangguk.
Nadira yang mendengar dari dapur hanya diam. Ia tidak menyukai cara Rani berbicara, seolah-olah Nadira dan Arga hendak meninggalkan Bu Ratih begitu saja.
Malamnya, Nadira duduk bersama Arga di kamar.
“Maaf,” kata Arga.
“Untuk apa?”
“Padahal aku tahu kamu sudah ingin punya rumah sendiri.”
Nadira tersenyum.
“Ibu sedang sakit. Aku tidak mungkin memintamu pindah sekarang.”
Arga menggenggam tangannya.
“Terima kasih sudah mengerti.”
“Aku juga anaknya sekarang.”
Arga tersenyum.
“Aku beruntung memilikimu.”
Nadira menyandarkan kepala di bahunya.
“Kalau Ibu sudah sehat, kita bisa pindah.”
“Iya.”
Mereka kemudian berpelukan.
Namun di balik pelukan itu, Nadira masih menyimpan kegelisahan. Ia tidak ingin menuduh siapa pun, tetapi ada sesuatu yang terasa janggal. Kondisi Bu Ratih memang terlihat lemah, tetapi setiap kali mendengar rencana pindah dibatalkan, wajahnya justru tampak lebih tenang.
Di luar kamar, Rani berdiri sambil tersenyum.
Namun bukan karena sedih.
Ia merasa rencana pindah itu akhirnya tertunda.
Sementara di kamar Bu Ratih, perempuan itu membuka matanya.
Ia mendengar semuanya.
Bu Ratih menatap langit-langit kamar.
“Setidaknya untuk sementara…”
Ia tersenyum tipis.
“…mereka masih di sini.”
Namun tanpa mereka sadari, keputusan untuk tetap tinggal justru akan membuat masalah baru.
Karena Nadira mulai menyadari satu hal.
Sejak Bu Ratih sakit…
sikap Rani dan ibunya terasa sedikit berbeda.
Dan ia belum tahu apakah perubahan itu benar-benar karena keadaan…
atau ada sesuatu yang sedang mereka rencanakan.