Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — RAHASIA LUKA SHEN YUE
Api unggun menyala kecil di tengah kegelapan malam. Kayu-kayu di Lembah Kabut Hitam sangat sulit dibakar karena semuanya telah basah oleh Qi iblis yang pekat. Hanya berkat sedikit aliran energi dewa dari Shen Yue sajalah api kecil itu mau hidup.
Malam pertama setelah pelarian yang melelahkan itu terasa begitu sunyi. Lu Chen duduk bersila di seberang sang Dewi dengan tangan yang masih gemetar. Di pangkuannya terbentang sehelai kain putih bersih yang akan digunakannya untuk merawat luka di punggung Shen Yue.
Wanita itu bersandar pada permukaan batu yang dingin. Jubah putihnya telah diganti dengan jubah abu-abu sederhana, namun bagian punggungnya sengaja dibiarkan terbuka. Luka cambuk petir akibat serangan Penegak Hukum itu membentang panjang dari bahu hingga ke pinggang, dengan kulit di sekitarnya yang menghitam legam. Itu bukanlah luka fisik biasa; sambaran petir dari Istana Langit membawa serta beban Hukum Langit, membuat luka tersebut menolak untuk menutup dan sembuh secara alami.
"Jangan dilihat," kata Shen Yue pelan tanpa menoleh. "Ini memalukan."
"Yang memalukan adalah jika aku hanya duduk diam setelah kau mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkanku," jawab Lu Chen dengan suara rendah yang sarat akan rasa bersalah.
Ia mencelupkan kain ke dalam air obat. Air di dalam mangkuk itu mendidih dengan sendirinya akibat paparan Qi iblis yang meresap dari tanah lembah. Dengan sangat hati-hati, Lu Chen mulai mengusapkan kain basah itu ke punggung ibunya.
Shen Yue mendesis pelan menahan perih, namun ia tidak sedikit pun menghindar. Keheningan malam kembali turun, hanya menyisakan suara kayu yang terbakar. Kresek... kresek...
"Kenapa?" tanya Lu Chen akhirnya memecah sunyi. "Kenapa kau melakukan itu? Kau bisa saja menghindar. Gerakanmu jauh lebih cepat daripada sambaran cambuk petir tadi."
Shen Yue menatap lurus ke arah kobaran api kecil di depannya sebelum menjawab. "Karena aku pernah berada di posisimu... delapan belas tahun yang lalu."
Lu Chen menghentikan gerakan tangannya sesaat. "Maksudmu?"
Bagian 1: Pengakuan Sang Dewi
Shen Yue memejamkan matanya rapat-rapat. "Tiga ribu tahun lamanya aku hidup. Tiga ribu tahun aku menjadi pedang eksekusi paling patuh bagi Istana Langit. Aku membunuh tanpa keraguan. Aku menghukum siapa pun yang melanggar batas. Aku tidak pernah sekalipun mempertanyakan perintah."
"Delapan belas tahun lalu, aku mendapat titah untuk memusnahkan sebuah desa kecil di perbatasan Alam Manusia. Alasannya klise: desa itu dituduh menyembunyikan benih keturunan iblis."
Suaranya terdengar datar, namun tangan di balik jubahnya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Ketika aku tiba di sana, yang kutemukan bukanlah monster haus darah, melainkan seorang anak kecil berusia sekitar delapan tahun yang sedang meringkuk demam tinggi. Di lehernya, ada tanda lahir aneh yang sangat mirip dengan rajah siluman."
"Para Penegak Hukum lain sudah mengepung lokasi. Perintahnya mutlak: Bunuh. Bakar. Jangan sisakan satu debu pun."
Lu Chen menahan napasnya. Firasatnya mulai menangkap kebenaran pahit di balik cerita itu.
"Aku mengangkat pedangku," lanjut Shen Yue. "Tapi anak itu membuka mata dan menatapku. Ia tidak menangis, tidak pula memohon ampun. Ia hanya berbisik... 'Kak, aku sakit.'"
Setetes air mata jatuh meluncur membasahi pipi sang Dewi—satu-satunya air mata yang pernah ia tumpahkan selama ribuan tahun.
"Aku tidak sanggup melakukannya," bisik Shen Yue terbata. "Jadi aku memilih untuk berbohong kepada Istana Langit. Aku melaporkan bahwa aku telah membakar habis desa itu tanpa sisa. Dan aku... menyembunyikan anak tersebut."
"Anak itu... siapa?" tanya Lu Chen dengan suara yang sangat parau.
"Chen Bo."
Nama itu menghantam Lu Chen telak bagaikan sambaran petir di siang bolong. "Ayah angkatku...?"
Shen Yue mengangguk pelan. "Aku menitipkannya kepada sepasang suami istri petani yang baik hati di Desa Qingfu. Aku menghapus sebagian ingatannya dan memasang segel palsu agar ia bisa tumbuh selayaknya manusia biasa. Kupikir dengan cara itu, ia akan aman dari kejaran hukum kahyangan."
Ia tertawa getir. "Tapi darah dan takdir tidak pernah bisa dibohongi. Sepuluh tahun kemudian, Chen Bo tumbuh dewasa dan jatuh cinta pada seorang wanita fana. Wanita itu mengandung... dan dari sanalah kau lahir, Lu Chen."
Lu Chen terdiam kaku. Otaknya menolak untuk memproses kenyataan yang teramat besar ini. "Jadi... kau..."
"Ya," potong Shen Yue sambil menoleh, menatap putranya dengan mata yang menyala merah penuh penyesalan. "Akulah ibu kandungmu."
Dunia di sekitar Lu Chen seolah runtuh seketika. Selama delapan belas tahun lamanya, ia hidup dalam penderitaan, mengira dirinya hanyalah anak pungut malang yang dibuang oleh orang tua kandungnya karena kutukan yang ia bawa. Ternyata, wanita agung yang berdiri di hadapannya—wanita yang rela menanggung luka parah demi melindunginya—adalah darah dagingnya sendiri.
"Tidak..." Lu Chen menggeleng pelan sambil memundurkan langkahnya. "Tidak mungkin. Kau pasti berbohong."
"Aku sangat berharap aku sedang berbohong," lirih Shen Yue sambil menunduk. "Hukum langit mengharamkan para dewa dan siluman untuk saling mencintai, apalagi memiliki keturunan. Jika para petinggi Istana Langit mengetahui hal ini, mereka tidak hanya akan mengeksekusi kita berdua, tetapi juga memburu Chen Bo karena dianggap melindungi darah terlarang."
"Lalu kenapa kau meninggalkanku?!" teriak Lu Chen, emosinya akhirnya tumpah ruah.
"Karena aku tidak punya pilihan lain!" bentak Shen Yue balik, air matanya kini mengalir deras. "Jika aku tinggal bersamaku, para pemburu surgawi akan langsung menemukan kita dalam hitungan hari! Jika aku mengaku, kepalaku akan dipenggal di Gerbang Langit!"
Ia menarik napas panjang untuk meredam isak tangisnya. "Jadi aku memilih jalan yang paling menyiksa batin: meninggalkanmu, lalu mengawasimu secara diam-diam dari kejauhan. Setiap sepuluh tahun sekali, aku menyamar menjadi pedagang obat keliling yang datang ke Desa Qingfu, hanya untuk memastikan kau tumbuh dengan baik."
Ingatan Lu Chen langsung berkelebat pada sosok pedagang obat misterius yang pernah singgah di desanya bertahun-tahun lalu.
"Dan ketika segel kutukanmu mulai retak beberapa hari yang lalu," sambung Shen Yue, "aku tahu waktuku telah habis. Aku harus segera muncul ke permukaan, atau para eksekutor Istana Langit akan datang merenggut nyawamu lebih dulu."
Bagian 2: Luka yang Mengikis Ingatan
Lu Chen terdiam seribu bahasa; amarah, rasa sedih, kebencian, dan rasa kasih sayang kini bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Tanpa pikir panjang lagi, ia maju menerjang dan memeluk erat tubuh ibunya dari belakang, sangat berhati-hati agar tidak menyentuh luka bakar di punggungnya.
"Aku tidak peduli lagi siapa dirimu," bisik Lu Chen di dekat telinga Shen Yue. "Kau dewa, penjahat, atau ibu kandungku... aku hanya tahu satu hal. Kau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang memilih untuk tidak membunuhku."
Tubuh Shen Yue sempat menegang kaget mendapat pelukan hangat itu. Namun perlahan-lahan, ia mengangkat tangannya yang lembut untuk mengelus kepala putranya dengan penuh kasih sayang.
"Anak bodoh..." bisiknya serak. "Seharusnya kau membenciku atas semua penderitaan ini."
"Aku tidak bisa melakukannya," balas Lu Chen erat. "Karena kau adalah ibuku."
Bagian 3: Keputusan Menuju Kuil Terlarang
Kobaran api unggun perlahan mulai meredup, menyisakan bara merah yang berpendar di tanah gelap. Shen Yue melepaskan pelukan itu secara perlahan dan menatap Lu Chen dengan pandangan serius.
"Dengarkan aku baik-baik, Lu Chen. Waktu kita tidak banyak," ujar Shen Yue dengan nada mendesak. "Luka cambuk petir ini akan membuat energiku terkuras dan tubuhku sangat lemah selama tujuh hari ke depan. Dalam rentang waktu sempit itu, para Penegak Hukum pasti akan melacak dan datang kembali."
"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menghindarinya?"
"Kita harus turun lebih dalam ke jantung Lembah Kabut Hitam," jawab Shen Yue tegas. "Di dasar lembah ini, terdapat sisa-sisa reruntuhan kuno yang dikenal sebagai Kuil Iblis yang Disegel. Di dalam kuil itu, tersimpan sebuah artefak pusaka peninggalan purbakala... Cermin Nirwana."
"Cermin Nirwana? Untuk apa benda itu?"
"Untuk memisahkan elemen yang tidak seimbang," jelas Shen Yue. "Tiga bagian esensi yang bersatu di dalam tubuhmu—manusia, dewa, dan siluman. Jika kita bisa menggunakan kekuatan cermin itu untuk memisahkannya sementara waktu, Hukum Langit tidak akan lagi mendeteksimu sebagai sebuah anomali atau 'kesalahan kosmik'. Kau akan terlihat sepenuhnya sebagai manusia biasa."
Lu Chen mengerti besarnya taruhan yang harus mereka ambil. Tempat itu sangat berbahaya, namun itu adalah satu-satunya jalan keluar agar ia bisa bertahan hidup.
"Baiklah, aku ikut denganmu," kata Lu Chen tanpa ragu.
Shen Yue mengangguk. Dengan bersandar pada dinding batu, ia memaksakan diri untuk bangkit berdiri meskipun wajahnya tampak sangat pucat pasi. "Satu hal lagi, Lu Chen..."
"Ada apa, Ibu?"
"Mulai detik ini, jangan pernah panggil aku dengan nama Shen Yue lagi."
"Lalu... aku harus memanggilmu apa?"
"Panggil aku... Ibu."
Kata tunggal itu terdengar berat, menyayat hati, namun juga menghadirkan kehangatan yang belum pernah dirasakan oleh Lu Chen seumur hidupnya.
Lu Chen menelan ludah dengan susah payah. "Ibu..."
Shen Yue memejamkan matanya rapat-rapat. Untuk pertama kalinya dalam tiga ribu tahun masa hidupnya sebagai mesin pembunuh kahyangan, ia merasa menemukan ketenangan sejati di dalam jiwanya.
Namun di luar sana, angin malam Lembah Kabut Hitam bertiup semakin kencang, membawa serta bisikan-bisikan aneh dari kedalaman reruntuhan. Sesuatu yang telah tertidur lelap selama sepuluh ribu tahun kini mulai terbangun dari keabadiannya—dan ia sedang menunggu mangsa yang datang menghampiri.