Update tiap hari dijam 12.00 WIB.
Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.
Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.
Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.
Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reruntuhan Lembah Tengkorak
Debu hitam sisa kehancuran pasukan Aliansi Kegelapan perlahan berterbangan dihembus angin perbukitan batu yang sunyi. Tidak ada lagi suara genderang perang, tidak ada lagi teriakan arogansi para kultivator haus kekuasaan. Yang tersisa hanyalah hamparan tanah tandus yang retak-retak, saksi bisu dari kekuatan mutlak syair kematian yang baru saja meluluhlantakkan salah satu faksi pembunuh paling ditakuti di Tiga Benua.
Ji Mo-Xian berdiri seorang diri di atas reruntuhan batu karang tempat Gu Tian-Xing tadi berdiri. Jubah putihnya tetap bersih tanpa ternoda setitik debu pun. Kain sutra hitam yang melilit matanya terikat erat, menyembunyikan pusaran energi dewa naga air yang kini perlahan kembali tenang setelah sempat bergolak hebat.
Ia menarik napas panjang, meresapi udara perbukitan yang terasa jauh lebih lengang. Pertarungan berturut-turut melawan ribuan elit Aliansi Kegelapan dan ketua agung mereka tentu saja menguras tenaga dalam di dalam meridiannya. Meskipun ia berhasil melenyapkan mereka dalam sekejap, tetesan darah kebiruan yang kembali merembes tipis dari balik kain hitam menandakan bahwa tubuh fisiknya masih harus beradaptasi dengan beban energi dewa tersebut.
"Satu per satu faksi ambisius merobohkan diri mereka sendiri di hadapanku," gumam Ji Mo-Xian lirih, suaranya begitu datar dan tenang, menyatu dengan desau angin perbukitan.
Ia tahu, kematian Gu Tian-Xing dan kehancuran total markas Aliansi Kegelapan akan menjadi gempa besar yang mengguncang seluruh Tiga Benua. Faksi-faksi raksasa yang tersisa—terutama sekte-sekte ortodoks yang selama ini bersembunyi di balik topeng kebaikan—pasti akan mulai merasa terancam oleh keberadaannya. Namun, Mo-Xian sama sekali tidak peduli pada rasa takut atau rencana busuk para penguasa dunia kultivasi. Tujuannya jelas: berjalan di atas garis takdirnya sendiri hingga akhir hayat.
Tanpa membuang waktu lebih lama di tempat tandus itu, Ji Mo-Xian membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya.
Tujuannya berikutnya adalah Lembah Tengkorak—markas utama Aliansi Kegelapan yang terletak di ujung barat perbatasan benua. Meskipun ketua agungnya telah tewas di perbukitan, tempat penyimpanan rahasia dan artefak-artefak kuno yang mereka jarah dari berbagai sekte selama ratusan tahun tersimpan di sana. Mo-Xian membutuhkan sumber energi spiritual murni dari tempat-tempat terlarang seperti itu untuk mempercepat pemulihan total meridian di tubuhnya.
Perjalanan menuju Lembah Tengkorak memakan waktu beberapa hari. Selama perjalanan itu, Ji Mo-Xian melintasi hutan belantara, ngarai curam, dan sungai-sungai berarus deras. Kehadirannya tidak lagi menarik perhatian para bandit atau hewan buas spiritual; aura penekanan dari mata dewa naga air yang secara pasif terpancar dari tubuhnya membuat makhluk apa pun memilih untuk menghindar jauh-jauh daripada mencari maut.
Hingga akhirnya, pada hari keempat, di hadapannya bentang sebuah lembah raksasa yang dikelilingi oleh tebing-tebing batu hitam legam yang menjulang tinggi menembus awan.
Itulah Lembah Tengkorak. Suasana di sekitar lembah tersebut terasa sangat mencekam. Kabut ungu beracun mengepul tebal di sepanjang jalan masuk, dan reruntuhan gerbang batu raksasa yang diukir dengan bentuk tengkorak manusia menyambut siapa pun yang berani melangkah masuk.
Ji Mo-Xian tidak ragu sedikit pun. Ia melangkah melewati kabut beracun itu. Begitu uap ungu tersebut mendekati tubuhnya, energi pelindung alami dari mata dewa naga air langsung menguapkannya seketika, membuat jalur bersih di hadapannya.
Ia menyusuri jalan setapak batu yang curam hingga tiba di aula utama Lembah Tengkorak—sebuah gua raksasa buatan tangan yang di dalamnya dipenuhi oleh pilar-pilar batu berukir tengkorak dan tumpukan harta karun jarahan dari berbagai sekte.
Di tengah-tengah aula utama tersebut, terdapat sebuah kolam pusaran air spiritual berwarna kebiruan yang memancarkan aura energi kuno yang sangat pekat. Itu adalah Kolam Jiwa Naga, sumber kekuatan rahasia yang digunakan oleh para pemimpin Aliansi Kegelapan untuk meningkatkan kultivasi mereka secara instan.
Ji Mo-Xian mendekati tepi kolam tersebut. Ia bisa merasakan denyut energi spiritual yang luar biasa besar terpancar dari air kolam itu, sangat cocok untuk menyembuhkan sisa-sisa keretakan di meridian tubuhnya.
Ia melepaskan jubah luarnya sedikit, lalu duduk bersila di atas batu datar di tepi kolam pusaran air spiritual tersebut. Tanpa membuang waktu, ia memejamkan mata di balik kain sutra hitamnya, mulai menjalankan teknik pernapasan penyucian jiwa untuk menyerap energi dari Kolam Jiwa Naga ke dalam tubuhnya.
BZZZRT!
Begitu energi spiritual murni itu mulai mengalir masuk melalui pori-pori kulitnya, reaksi berantai yang luar biasa dahsyat terjadi di dalam tubuh Mo-Xian. Luka-luka di meridiannya direkatkan kembali dengan kecepatan sepuluh kali lipat lebih cepat. Suara gemuruh air kolam berputar kencang, menyerap seluruh esensi alam di sekitar Lembah Tengkorak untuk melayani sang pendekar buta.
Namun, di saat Ji Mo-Xian sedang khusyuk menyerap energi pemulihan di dalam aula utama yang terisolasi, di luar lembah, riak gelombang ruang mendadak bergetar hebat.
Dari balik celah langit yang terbuka secara paksa, sesosok bayangan berjubah emas murni dengan mahkota giok putih melayang turun secara perlahan. Ia mendarat di atas gerbang tengkorak dengan pijakan ringan yang menciptakan gelombang kejut dahsyat ke seluruh sudut lembah.
Dia adalah Xiao Tian-Jian, Master Tertinggi dari Sekte Langit Abadi—faksi ortodoks terkuat nomor satu di Tiga Benua, yang selama ini mengamati dari jauh dan kini datang sendiri untuk merebut mata dewa naga air dari tangan Ji Mo-Xian.