~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28 BAYANGAN DI ATAS KOTA
***
Fajar baru saja merangkak dari balik pegunungan ketika Iris berdiri di ambang balkon kamar Darian—tempat yang selama sebulan terakhir menjadi tempatnya tidur dan bernaung. Udara dingin pagi menusuk lembut, dan di kejauhan, sisa-sisa asap masih mengepul dari area pemukiman yang semalam dilalap api.
Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Matanya yang biasanya tajam kini dikelilingi lingkaran gelap akibat malam tanpa tidur. Rambut peraknya disisir rapi ke belakang dan disematkan dengan jepit sederhana. Ia mengenakan jubah wol panjang berwarna biru gelap, tapi bagian depan dibiarkan terbuka karena perutnya yang kini membulat besar tak memungkinkan untuk dikancingkan. Gerakan di perutnya kerap terasa seperti ombak kecil yang tak pernah benar-benar tenang.
Lisa berdiri di sisinya, tangan gadis muda itu menggenggam lengan Iris dengan cemas. “Grand Duchess, Anda tidak harus pergi sendiri ke sana. Biarkan orang-orang yang melapor saja…”
“Aku harus melihatnya sendiri,” jawab Iris pelan, namun mantap. “Kastil ini milik kami, benar. Tapi tanah di luar tembok itu... adalah jiwa Ravengard. Kalau aku hanya diam, aku tak layak menyebut diriku pemiliknya.”
Kapten Arven muncul dari belakang. Ia telah menunggu di lorong sejak pagi, mengenakan mantel kulit dan sabuk pedang. “Kereta kecil sudah disiapkan, Yang Mulia. Dan pengawalan lengkap. Tapi... saya tetap menyarankan Anda untuk tidak berjalan terlalu jauh.”
Iris meliriknya. “Bawa aku ke tempat yang paling parah terbakar.”
“Baik, Yang Mulia,” sahut Arven, lalu menunduk dan memberi isyarat jalan.
Ketika kereta kecil itu tiba di sisi barat pemukiman, bau hangus langsung menyambut mereka. Asap masih tipis-tipis mengepul dari reruntuhan kayu dan batu. Beberapa rumah tak lagi memiliki atap. Warga mulai membersihkan puing-puing. Beberapa anak kecil duduk di dekat sumur sambil memegangi selimut, sementara para wanita membagikan air hangat.
Iris turun perlahan, dibantu Lisa dan Arven. Ia menatap lurus ke arah reruntuhan, dan langkahnya tertatih saat melewati batu-batu yang masih hangat.
“Api terlalu cepat menyebar semalam,” gumam Arven.
Seorang penjaga datang tergesa-gesa. Ia adalah salah satu dari pasukan utama Darian—tinggi, dengan mata tajam dan bahu tegap.
“Yang Mulia Grand Duchess,” ucapnya dengan hormat sambil menunduk. “Laporan terakhir telah kami kumpulkan.”
Iris menghentikan langkahnya dan menatapnya langsung. “Katakan.”
“Tidak ada korban jiwa,” jawab penjaga itu. “Tapi... ada yang aneh.”
“Anomali seperti apa?” tanya Arven cepat.
“Api sangat sulit dipadamkan. Air dari kanal utama tidak cukup. Bahkan dengan penyebaran pasir dan penutup, kobaran tak kunjung melemah... sampai fajar hampir tiba.”
“Fajar?” ulang Iris, alisnya menaut.
Penjaga itu mengnoduk. “Dan saat langit mulai berubah warna... hujan tiba-tiba turun dari arah utara. Deras. Hanya berlangsung singkat. Tapi cukup untuk memadamkan titik-titik api terakhir.”
Iris terdiam.
Pikirannya seketika melayang kembali ke malam sebelumnya saat ia tak bisa tidur dan duduk sendirian di tempat tidur Darian. Udara malam terasa berat, dan perutnya terus menegang. Bayinya tak berhenti bergerak, membuatnya berulang kali berganti posisi. Lisa sudah tertidur di kursi pojok ruangan, kepalanya menyandar ke bantal kecil.
Dalam kesunyian itu, Iris menatap langit-langit kamar dan berbisik, “Kau mendengarku, bukan?”
Tangannya terulur, mengelus perutnya yang bergelora. “Ibu tidak bisa tidur... dan kau juga. Kita berdua tahu bahwa tanah ini sedang terluka. Kalau bisa... bantu ibu.”
Beberapa menit setelah bisikan itu, angin mulai bergerak dari arah timur.
Dan... hujan jatuh.
Lamunan Iris pecah ketika seseorang menarik bajunya pelan.
Seorang wanita tua berkulit keriput dengan selendang tebal menutupi kepala menunduk di hadapannya. Ia menggenggam tangan Iris erat.
“Yang Mulia... terima kasih,” ucapnya dengan suara parau.
Iris terkejut. “Tidak perlu berterima kasih, Nyonya. Itu tugasku sebagai penjaga rumah ini.”
“Bukan hanya rumah... Anda menjaga hati kami,” gumam wanita tua itu sambil menahan air mata. “Malam tadi, saya melihat... penjaga datang membawa air, makanan, dan tenda. Anda yang memerintahkan itu, bukan?”
Iris tersenyum lembut,. “Tidak akan kubiarkan siapa pun merasa sendirian di tengah api.”
Lisa mengusap air matanya diam-diam. Arven berdiri kaku, menahan rasa bangga.
“Maukah Anda datang ke penampungan utama?” tanya Arven kemudian. “Beberapa warga luka ringan masih dirawat di sana.”
Iris mengnoduk. “Tentu. Kita harus tahu kondisi mereka... dan pastikan para tabib bekerja dengan cukup perbekalan.”
Di tenda penampungan utama, suasana lebih tenang. Beberapa wanita menyeka luka anak-anak mereka. Beberapa pria dengan tangan diperban sedang berbagi bubur hangat.
Saat Iris masuk, semua orang berdiri.
“Tidak perlu semua berdiri. Duduklah,” ucapnya cepat.
Ia berjalan perlahan, menyapa beberapa ibu, menanyakan kondisi anak-anak mereka. Ia berhenti sejenak di sisi seorang anak lelaki kecil yang lengan kanannya terbakar ringan.
“Siapa namamu?” tanya Iris lembut.
“...Roul, Yang Mulia.”
Iris tersenyum. “Roul yang kuat, ya? Lenganmu baik-baik saja?”
Anak itu mengnoduk cepat, lalu menatap perut Iris. “Itu... adikmu, ya?”
“Bukan,” jawab Iris pelan. “Itu anakku. Tapi mungkin... dia akan sangat suka bermain denganmu nanti.”
Anak itu tertawa kecil. “Aku bisa tunjukkan tempat rahasia buat sembunyi dari api.”
Iris ikut tertawa, tapi wajahnya kembali serius saat ia menatap para tabib. “Pastikan mereka semua mendapat air bersih dan makanan hangat. Jika perlu, kirimkan pesan ke gudang herbal utama di kastil. Jangan ragu.”
“Ya, Yang Mulia!” seru kepala tabib.
Setelah memastikan semuanya, Iris melangkah keluar tenda, menghela napas panjang.
Perutnya masih terasa berat, tapi gerak bayinya kini mulai melambat seolah ikut menenangkan ibunya.
“Apa kita sudah melakukan yang benar?” bisiknya pelan.
Angin pagi berhembus lembut, menyibakkan helaian rambut peraknya. Langit mulai membuka awan gelapnya, membiarkan cahaya mentari jatuh di reruntuhan yang mulai dibersihkan.
Iris tersenyum tipis.
“Ayahmu sedang bertarung di perbatasan. Tapi di sini... kita juga sedang bertarung.”
Tangannya mengusap lembut perutnya. “Kau akan tetap jadi cahaya, bahkan ketika rumah ini terbakar.”
Lisa mendekat dengan cemas. “Nyonya, kita harus kembali. Anda sudah berdiri terlalu lama.”
Iris mengnoduk pelan. “Ayo kita pulang... ke Kastil Ravengard. Masih banyak yang harus dijaga.”
Dan mereka pun kembali, diiringi angin pagi dan suara derak api yang perlahan padam. Tapi tekad di hati sang Duchess... justru semakin menyala.
Ruang kerja Darian masih terasa sama seperti saat ditinggalkan suaminya—tertata rapi, temaram dengan cahaya lilin-lilin panjang di dinding batu, dan wangi kulit tua dari peta-peta yang masih terbentang di meja utamanya. Iris duduk di balik meja besar itu, mengenakan jubah malam berwarna kelabu tua, selendang tipis menutupi bahunya yang mungil.
Tangannya mengelus lembut perutnya yang tampak tegang malam ini. Bayi di dalamnya bergerak gelisah, mungkin merasakan kecemasan ibunya yang tak kunjung padam.
Ketukan terdengar di pintu.
"Masuk," ucap Iris pelan.
Pintu terbuka, memperlihatkan Kapten Arven dengan seragam malamnya—mantel panjang berwarna gelap, pedang di pinggang, dan mata tajam yang sudah tak asing dengan medan perang maupun laporan penting.
"Yang Mulia memanggil saya?" Ia memberi hormat.
"Ya, Arven. Duduklah."
Kapten itu menurut, duduk di kursi seberang meja Darian. Ia tampak ragu sejenak, menanti instruksi lebih lanjut.
Iris memandangnya dengan tajam, menyandarkan tubuh sedikit ke depan.
"Aku ingin kau ceritakan seluruh hasil investigasi kebakaran. Tanpa penyaringan. Aku ingin kebenaran."
Arven mengnoduk. "Baik, Yang Mulia."
Ia menarik secarik laporan dari kantong dalam jubahnya, lalu mulai berbicara.
"Secara teknis, tidak ada pemicu yang jelas. Tidak ada dapur besar yang meledak. Tidak ada tumpahan minyak yang meluber atau api lilin yang tersenggol. Padahal... musim panas di Ravengard biasanya tidak pernah memicu kobaran seperti itu."
Iris mengnoduk perlahan. "Itu yang aku pikirkan juga. Kita punya kanal air yang luas, sistem alir yang tertata, dan rakyat yang terbiasa dengan penanganan api. Lalu... kenapa ini bisa terjadi?"
Arven melanjutkan dengan nada berat.
"Itulah kejanggalan pertama. Tapi ada satu hal lagi, Yang Mulia... yang lebih mengganggu."
Ia menghela napas, lalu menatap langsung ke mata violet Iris.
"Beberapa warga di sisi timur kota... bersaksi melihat bayangan hitam berlalu lalang. Tepat sebelum api muncul."
Iris menegang. "Bayangan... seperti apa?"
"Tak bisa dipastikan. Mereka tidak terlihat jelas. Tapi beberapa mengatakan makhluk itu tinggi, berkabut, dan tidak berjalan seperti manusia. Beberapa melayang... beberapa lain bergerak cepat seperti kabut yang hidup."
Iris bergumam lirih. "Pasukan bayangan..."
Arven mencondongkan tubuh. "Anda tahu sesuatu tentang itu?"
Iris bangkit perlahan dari kursinya, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap ke taman dalam istana. Cahaya lilin memantul di kaca, membuat bayangannya sendiri terlihat samar.
"Aku menerima surat," katanya pelan. "Dari sepupuku yang ikut dalam barisan Darian. Ia menyebutkan bahwa mereka mengalami serangan mendadak di utara... dari pasukan yang tidak pernah dikenali sebelumnya. Ia menyebut mereka sebagai 'bayangan hidup'."
Ia berbalik. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya seperti baja.
"Aku pikir itu hanya kelelahan dan ilusi medan perang. Tapi sekarang..."
Kapten Arven berdiri. "Kalau benar itu makhluk yang sama, maka mereka bukan sekadar pasukan asing. Mereka adalah... ancaman yang tak terlihat. Dan bisa menembus batas wilayah kita tanpa terdeteksi."
Iris memegang sisi meja, napasnya sedikit berat.
"Aku harus tahu apakah ada lubang dalam sistem pertahanan kita. Apakah mereka menyusup lewat portal sihir? Terowongan? Aku butuh laporan dari penjaga gerbang, dari master sihir pertahanan, dari semua titik kanal."
"Akan saya kerjakan orang untuk itu malam ini juga," jawab Arven mantap.
"Dan satu lagi," ucap Iris, matanya tak berkedip. "Tutup rapat informasi ini. Jangan biarkan rakyat panik. Jika mereka tahu makhluk tak dikenal bisa menyusup dan membakar rumah mereka... Ravengard akan kehilangan stabilitas."
"Dimengerti, Yang Mulia."
Iris kembali duduk, pelan dan hati-hati. Bayinya menendang sekali, kuat. Ia mengusap perutnya perlahan.
"Ia ikut gelisah," katanya pelan. "Seperti tahu ibunya tengah duduk di tengah badai."
Kapten Arven berdiri dengan sikap siaga. “Saya tidak akan biarkan satu bayangan pun menyentuh istana ini, apalagi menyentuh Anda.”
Iris menatapnya sejenak, lalu mengnoduk.
“Arven, mulai malam ini... kau bukan hanya kepala pengawal. Kau jadi mata dan telinga untuk seluruh istana. Aku ingin tahu siapa yang masuk, siapa yang keluar, bahkan siapa yang bernapas terlalu berat di malam hari.”
“Saya akan siapkan tim pengintai istana dan luar tembok.”
“Dan satu hal terakhir,” bisik Iris, suaranya sangat lembut. “Jika sesuatu terjadi padaku... keselamatan bayi ini adalah prioritasmu.”
Arven mengepal tangan di dada. “Saya bersumpah atas nama Ravengard, Yang Mulia.”
Iris tersenyum tipis, penuh kekuatan yang tak terlihat.
“Pergilah. Malam ini... kita berjaga bukan hanya demi kastil, tapi demi seluruh garis masa depan yang kita perjuangkan.”
Kapten Arven memberi hormat terakhir, lalu melangkah keluar, meninggalkan ruangan kerja Darian yang kini kembali sunyi. Tapi dalam kesunyian itu, Iris tidak sendiri.
Tangannya menempel di perutnya yang bergerak lembut.
“Kita akan baik-baik saja, Nak... Tapi mulai malam ini, kita harus lebih dari sekadar kuat. Kita harus jadi legenda.”
Bersambung