Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The dawn grudge and the leopard-print house dress
Suasana hening seketika. Anak-anak Black Tigger melongo tidak percaya. Sementara Leo, Zayyan, dan Wain langsung bersorak gembira, melompat-lompat kegirangan seperti baru saja memenangkan piala dunia.
Davin mencoba mengerem motornya, tapi karena remnya blong, dia baru bisa berhenti setelah menabrak tumpukan ban bekas di pinggir jalan dengan estetis.
Leo berjalan menghampiri Alfino yang mukanya sudah pucat pasi. Leo menepuk bahu Alfino dengan gaya seorang pemenang yang bijaksana.
"Kemenangan adalah milik Alaxtar, Fin. Jangan lupa besok pagi, ukuran daster buat anggota lo cari yang agak longgar ya, biar gak sobek pas joget."
Alfino hanya bisa menelan ludah, meratapi nasib harga diri gengnya yang hancur di tangan geng motor berkedok pelawak. Malam itu, empat sekawan Alaxtar kembali ke basecamp hitam-putih mereka dengan tawa yang menggema di sepanjang jalan. Mereka mungkin bukan geng motor paling ditakuti di kota, tapi satu hal yang pasti tidak ada yang bisa menandingi kegilaan dan solidaritas mereka di bawah langit malam.
...----------------...
Matahari belum sepenuhnya terbit di ufuk timur, namun hawa dingin kota sudah dipaksa mengalah oleh pemandangan paling absurd abad ini. Di bawah lampu merah perempatan utama kota, lima orang anggota Geng Black Tigger berdiri berbaris dengan wajah sekuyu ayam sayur yang kehujanan. Sesuai perjanjian taruhan malam tadi, mereka tidak lagi memakai jaket kulit sangar berlogo ular berbisa. Sebagai gantinya, mereka mengenakan daster longgar bermotif macan tutul dan bunga-bunga, lengkap dengan lipstik merah merona yang diaplikasikan secara asal-asalan oleh tangan mereka yang gemetar.
"Ayo dong, goyangnya yang ikhlas! Mana ini Black Tigger sang penguasa jalanan? Kok lemes kayak kerupuk disiram kuah soto?" teriak Zayyan dari atas trotoar menggunakan corong pengeras suara plastik yang biasanya dipakai tukang tahu bulat.
Davin, yang kepalanya masih agak diperban karena insiden menabrak tumpukan ban bekas semalam, duduk di atas kap mesin mobil rongsokan sambil memegang ember plastik. "Yak, yang mau lewat silakan sawerannya! Setor ke ember! Buat modal beli bensin motor matic emaknya Wain!"
Alfino, sang ketua Black Tigger yang untungnya selamat dari taruhan karena tidak ikut balapan langsung, berdiri di seberang jalan dengan kacamata hitam, berusaha pura-pura tidak mengenal anak buahnya sendiri. Wajahnya merah padam menahan malu.
Setiap kali ada angkot yang lewat dan sopirnya bersiul menggoda anggotanya, harga diri Geng Black Tigger rasanya makin tenggelam ke dasar selokan.
Leo mematikan rokoknya, berjalan mendekati Alfino yang sedang cemberut. "Gimana, Fin? Gentle, kan? Anak-anak lo ternyata punya bakat terpendam jadi penari latar. Besok-besok kalau ada hajatan khitanan, kabari gue. Nanti gue promosikan."
Alfino menoleh tajam, giginya bergemeletuk. "Lo boleh menang semalam, Leo. Tapi jangan pikir urusan kita selesai sampai di sini. Black Tigger gak bakal lupa sama penghinaan ini!"
"Penghinaan apa? Itu namanya menepati janji pria sejati," sahut Leo santai sambil menepuk pundak Alfino, membuat ketua Black Tigger itu makin dongkol.
Dua hari setelah insiden daster macan tutul yang viral di grup WhatsApp pemuda setempat, suasana di basecamp Alaxtar kembali normal—artinya kembali acak-acakan. Kamar yang awalnya dicat rapi hitam putih berdasarkan ide Leo kini mulai dihiasi oleh jemuran kaus kaki Davin yang baunya bisa dipakai sebagai senjata kimia pemusnah massal.
Leo sedang sibuk mengelap tangki motornya saat Wain tiba-tiba mendobrak pintu basecamp dengan wajah pucat pasi. Langkah kakinya yang tergesa-gesa sampai membuat ia tersandung kabel kipas angin dan hampir menubruk Davin yang lagi asyik rebahan.
"Bos! Gawat, Bos! Ini benar-benar gawat!" seru Wain megap-megap seperti ikan kekurangan oksigen.
Davin yang kaget sampai tersedak es teh manisnya. "Uhuk! Apaan sih lo, Wain? Datang-datang kayak dikejar penagih bank keliling. Santai kenapa."
"Viper... Viper gabung sama Geng Black Tigger dari wilayah selatan!" kata Wain setelah berhasil mengatur napasnya. "Gue tadi lewat bengkel Cak Met, dan gue lihat Alfino lagi ngobrol sama si Guntur. Lo tahu kan siapa Guntur?!"
Mendengar nama itu, Zayyan yang tadi sedang asyik main game di pojokan langsung melempar ponselnya ke kasur. Wajahnya mendadak serius, kehilangan jiwa lawaknya dalam sedetik.
"Guntur? Si Tangan Beton yang pernah meruntuhkan pagar beton kelurahan gara-gara kesenggol motornya?"
"Iya, si Guntur yang itu!" tegas Wain. "Geng Black Tigger gak terima diketawain satu kota karena dasteran. Mereka ngerencanain buat ngeratain basecamp kita malam ini!"
Leo terdiam. Dia tahu Geng Viper bukan tandingan sembarangan. Berbeda dengan Black Tigger yang modal gaya, Viper terkenal berisi anak-anak motor yang doyan adu jotos dan punya fisik seperti kuli bangunan. Kalau mereka sampai datang menyerang dengan jumlah personel gabungan, markas Alaxtar yang dibangun dengan modal air mata negosiasi bersama bapaknya Leo bisa berubah menjadi puing-puing dalam sekejap.
"Gimana ini, Bos? Kita musti kabur? Atau kita kunci pintunya terus pura-pura gak ada orang di dalam?" usul Davin mulai panik, tangannya sudah gemetaran memegang bungkus kuaci.
Leo berjalan ke tengah ruangan, menatap tiga anggotanya satu per satu. "Kabur? Sejak kapan Alaxtar punya kamus kata kabur? Ini markas kita. Rumah kita. Kalau mereka mau perang, kita kasih perang."
"Tapi Bos, mereka punya Guntur si Tangan Beton. Kita cuma punya Davin si Tangan Gemetar!" protes Wain jujur.
"Tenang," Leo tersenyum misterius, sebuah senyuman yang membuat anggotanya merinding karena biasanya kalau Leo sudah tersenyum seperti itu, tandanya dia punya rencana yang super aneh. "Kita gak bakal ngelawan mereka pakai otot. Kita lawan mereka pakai otak... dan sedikit kreativitas seni pertunjukan."
...----------------...
Malam Jumat kliwon dipilih oleh aliansi Viper dan Black Tigger untuk melancarkan serangan balasan. Tepat pukul 23.30 WIB, suara deru puluhan mesin motor terdengar mendekati kawasan basecamp Alaxtar. Suasana jalanan sangat sepi, ditambah angin malam yang berhembus kencang membuat bulu kuduk merinding.
Alfino dan Guntur memimpin di depan. Guntur, seorang cowok berbadan tegap dengan tinggi hampir dua meter dan jaket jeans belel tanpa lengan, membawa sebuah balok kayu besar di pundaknya.
"Itu tempatnya?" tanya Guntur dengan suara berat yang bergetar, menunjuk bangunan monokrom di ujung jalan.
"Iya, Tur. Itu markas Alaxtar. Hancurin aja sampai rata sama tanah!" sahut Alfino penuh dendam membara.
Namun, begitu mereka berjarak sekitar 50 meter dari basecamp, langkah puluhan anak motor itu mendadak terhenti. Suasana di sekitar markas Alaxtar terasa sangat janggal. Lampu halaman mati total, namun dari dalam ruangan memancarkan cahaya merah temaram yang berkedip-kedip tidak beraturan.
Lebih anehnya lagi, tidak ada suara knalpot atau teriakan tantangan perang. Yang terdengar justru adalah suara musik gamelan Jawa kuno yang mengalun lambat dari pengeras suara, diselingi suara tawa cekikikan perempuan yang melengking tinggi.
Hihihihihi...
"Tur... kok suasananya jadi gini ya?" bisik Alfino mendadak merapatkan badannya ke lengan kekar Guntur.
"Halah! Paling itu cuma trik mereka buat nakut-nakutin kita!" bentak Guntur, meski dalam hati dia juga mulai menelan ludah melihat kabut putih buatan (yang sebenarnya berasal dari asap fogging nyamuk yang sengaja dinyalakan oleh Wain) mulai keluar dari celah-celah pintu markas.
Tiba-tiba, pintu triplek basecamp terbuka perlahan dengan suara derit yang sengaja dibuat dramatis. dari dalam kabut asap, muncullah sesosok makhluk tinggi besar yang mengenakan kain kafan putih yang dekil. Wajahnya hitam legam dipenuhi coretan arang, matanya melotot merah menyala berkat lampu LED mainan yang ditempel di kelopak mata.
"SIAPAAA YAAANG BERANIII MENGGANGGU TIDUUUR KAMI?!" raung makhluk itu dengan suara yang sengaja digemakan lewat mikrofon yang disembunyikan di balik kain kafannya. Itu adalah Zayyan yang terpaksa jadi pocong dadakan karena kalah taruhan main kartu sore tadi.
"P-Poconggg!!" teriak salah satu anggota Viper di barisan belakang, langsung memutar balik motornya dan tancap gas tanpa memedulikan ketuanya.
"Jangan takut! Itu cuma orang nyamar!" teriak Guntur berusaha menenangkan anak buahnya, meskipun lututnya sendiri mulai terasa lemas saat dari atas atap markas, muncul sesosok makhluk berambut panjang acak-acakan mengenakan daster putih (kali ini daster beneran milik emaknya Davin) yang terbang berayun-ayun menggunakan tali jemuran baja yang diikat ke pohon mangga.
Makhluk di atas atap itu tidak lain adalah Davin. Sambil bergelantungan maju mundur, Davin melemparkan tepung terigu ke arah gerombolan anak geng Viper.
Puk! Puf!
Hujan tepung terigu itu sukses mendarat tepat di wajah dan jaket kebanggaan geng Viper. Dalam sekejap, wajah garang mereka memutih, berubah wujud menyerupai adonan mendoan yang siap digoreng.
"Woi, apaan nih?! Uhuk! Uhuk! Mata gue perih!" umpat Guntur sambil mengucek-ngucek matanya yang kelilipan, wibawanya sebagai ketua geng langsung runtuh tak bersisa.
Melihat bos mereka sibuk mengurus mata, ditambah Davin yang tiba-tiba mengeluarkan suara tawa melengking yang sengaja dibuat-buat agar mirip kuntilanak—sisa anggota Black Tigger yang masih bertahan akhirnya menyerah.
Persetan dengan gengsi dan solidaritas, teror hantu jadi-jadian ini jauh lebih menakutkan! Tanpa menunggu aba-aba lagi, mesin-mesin motor meraung bersahutan. Mereka tancap gas berhamburan pergi, meninggalkan kepulan asap knalpot dan sisa-sisa tepung yang beterbangan di udara.
Guntur yang ditinggalkan sendirian akhirnya panik. Dengan pandangan yang masih buram akibat tepung, ia terpaksa berlari tunggang-langgang menyusul anak buahnya sambil terus terbatuk-batuk. Setelah dipastikan gerombolan itu benar-benar pergi dan keadaan markas aman, Davin menghentikan ayunannya. Ia menghela napas lega, namun sedetik kemudian masalah baru menyapanya.
"Woi! Keluar lo pada!" teriak Davin ke arah markas. "Bantuin gue turun cepetan! Ini daster emak gue nyangkut di ranting mangga! Kalau sampai sobek, bisa beneran dicoret dari KK gue!"
Dari balik pintu markas, teman-temannya akhirnya keluar satu per satu, tak lagi bisa menahan diri dan tertawa terbahak-bahak sampai perut mereka kram melihat pahlawan mereka tersangkut di atas pohon.
Dari atas pohon mangga, Davin hanya bisa mendengus kesal melihat teman-temannya yang malah sibuk memegangi perut sambil tertawa terpingkal-pingkal. Tepung terigu sisa amunisi tadi masih menempel di rambut palsunya yang acak-acakan, membuatnya terlihat lebih mirip badut gagal daripada hantu yang menakutkan.
"Woi! Malah pada pingsan ketawa! Ini tali jemurannya makin kencang melilit perut gue, tahu!" teriak Davin lagi, kakinya berayun-ayun frustrasi di udara. Daster putih bermotif bunga-bunga kecil milik ibunya—yang kini sudah berubah warna menjadi abu-abu karena debu dan tepung—tertarik ke atas, tersangkut pada salah satu dahan pohon yang cukup besar.
Wain, yang sejak tadi berjongkok di dekat teras markas sambil memegangi lututnya yang lemas karena terlalu banyak tertawa, akhirnya berdiri. Ia menyeka air mata di sudut matanya. "Bentar, Vin, bentar! Sumpah, muka Guntur pas kena tepung tadi epik banget! Kaya pisang goreng gagal matang!"
"Epik mata lo peyang! Cepetan ambil tangga di belakang, sebelum emak gue pulang dari arisan!" balas Davin panik.
Melihat Davin yang mulai benar-benar cemas—terutama karena ketakutannya pada sang ibu jauh lebih besar daripada ketakutannya pada geng Viper dan Black Tigger — Leo akhirnya memberi kode kepada anak-anak yang lain. Zayyan dan Wain segera berlari ke samping markas untuk mengambil tangga bambu yang biasa digunakan untuk membetulkan genting.
Setelah perjuangan sekitar lima menit yang diwarnai dengan aksi daster tersangkut dan bunyi Kreeek yang sempat membuat jantung Davin copot (untungnya bukan dasternya yang robek, melainkan ranting kecil yang patah), Davin akhirnya berhasil menapakkan kakinya kembali ke tanah. Hal pertama yang ia lakukan adalah melepaskan tali jemuran baja yang melilit pinggangnya, lalu melemparkan rambut palsu hitam panjang itu ke lantai dengan gusar.
"Gila, pengorbanan gue gede banget malam ini," gerutu Davin sambil mengibas-ngibaskan dasternya, membuat debu tepung kembali beterbangan di teras markas. "Kalau sampai daster ini bau sangit atau kotor permanen, gue beneran disuruh tidur di pos ronda sama Bokap."
"Tapi taktik lo jenius, Vin," puji Wain sambil menepuk pundak Davin, yang langsung membuat kepulan tepung baru keluar dari kaos di balik dasternya.
"Geng Viper yang katanya sangar dan gapernah takut mati itu, langsung lari tunggang-langgang cuma gara-gara kuntilanak dasteran bawa terigu. Malu-maluin nama geng motor aja."
"Gue rasa malam ini bakal jadi sejarah baru di tongkrongan kita," sahut Zayyan yang baru kembali setelah menyimpan tangga. Ia duduk di kursi plastik teras, mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya. "Guntur pasti besok-besok mikir dua kali kalau mau nyerang markas kita lagi. Lagian, siapa yang bakal percaya kalau mereka kalah bukan karena adu jotos, tapi karena diteror adonan bakwan terbang?"
Gelak tawa kembali pecah di markas kecil mereka.
Namun, di tengah keriuhan itu, Davin tiba-tiba terdiam. Tatapannya beralih ke ujung jalan gang yang gelap, tempat di mana gerombolan Viper tadi melarikan diri. Senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan tipis di dahi.
"Kenapa ? Muka lo langsung berubah horor gitu. Jangan bilang kuntilanak yang asli beneran datang karena merasa lo saingan?" goda Wain.
Davin menggeleng pelan. "Bukan itu. Gue cuma kepikiran... Guntur itu tipe orang yang dendaman. Dia emang lari malam ini karena panik dan kaget. Tapi besok atau lusa, setelah dia sadar kalau dia cuma dikerjain pakai tepung terigu dan daster emak-emak, dia pasti bakal nyari tahu siapa dalangnya."
Mendengar ucapan Davin, suasana di teras markas mendadak menjadi agak sunyi. Tawa Zayyan pun terhenti. Apa yang dikatakan Davin ada benarnya. Guntur bukan ketua geng biasa yang akan membiarkan harga dirinya diinjak-injak begitu saja. Begitu tepung di wajahnya dibersihkan dan logikanya kembali berjalan, dia akan sadar bahwa hantu tidak menggunakan tali jemuran baja untuk terbang.
"Davin benar. Tadi pas gue lempar tepung, si Guntur sempat dengar suara gue pas teriak Jangan takut. Meskipun gue udah coba samarkan pakai suara kuntilanak, insting sialan dia itu tajam. Dia pasti tahu ada yang gak beres."
"Terus kita harus gimana?" tanya Zayyan, mulai tampak cemas. "Jumlah mereka tiga kali lipat dari kita. Kalau mereka balik lagi dengan persiapan penuh dan bawa senjata, taktik hantu-hantuan gak bakal mempan lagi."
Leo berjalan mendekati meja kayu di tengah ruangan, mengambil botol air mineral lalu meminumnya seteguk. "Ya mau gimana lagi? Kita gak bisa terus-terusan sembunyi. Kalau mereka datang lagi buat ribut, ya kita layani. Yang penting sekarang, kita harus tetap waspada. Jangan ada yang pulang sendirian lewat jalur biasa."
Davin terdiam, menatap daster di tangannya yang kini penuh noda abu-abu. Pikirannya melayang. Dia tahu betul risiko yang mereka hadapi sejak memutuskan untuk mendirikan kelompok kecil ini demi melindungi lingkungan mereka dari pemerasan yang sering dilakukan geng Black Tigger.
Kejadian malam ini hanyalah satu babak kecil dari perseteruan yang lebih besar.
"Gini aja," Davin akhirnya membuka suara, memecah ketegangan. "Untuk beberapa hari ke depan, kita jangan kumpul di markas dulu setelah magrib. Kosongkan tempat ini sementara waktu. Kalau Guntur mau balas dendam, hal pertama yang dia cari pasti markas ini. Kalau tempat ini kosong, dia bakal frustrasi sendiri."
"Setuju," sahut Wain. "Dan lo, Vin... bersihin dulu tuh daster sebelum nyokap lo bangun besok pagi. Itu tugas paling kritis lo sekarang."
Davin langsung menepuk dahinya. "Astaga, bener! Gue lupa!"
Tanpa membuang waktu lagi, Davin segera berlari ke kamar mandi kecil di sudut markas, berusaha membilas daster tersebut dengan air seadanya sebelum membawanya pulang untuk dicuci bersih. Teman-temannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sang kuntilanak pelontar tepung yang kini bertransformasi menjadi anak berbakti yang takut pamali.
Sementara itu, di luar markas, angin malam berembus semakin dingin, menggoyangkan dedaunan pohon mangga yang menjadi saksi bisu kemenangan konyol mereka malam itu. Di kejauhan kota, raungan mesin motor geng Viper dan Black Tigger mungkin telah mereda untuk sementara, namun semua orang di markas tahu, ketenangan ini hanyalah jeda sebelum badai yang sesungguhnya datang menghampiri mereka.