Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Pengacara itu hanya menatap Fitria dengan pandangan dingin sebelum merapikan kembali tas dokumennya.

"Penyesalan atau kemarahan Anda tidak akan mengubah fakta hukum," ucap pengacara itu tanpa emosi.

"Pak Adrian telah menyerahkan seluruh barang bukti kejaksaan. Ancaman hukuman Anda dan Hendrik minimal belasan tahun penjara. Saya sarankan Anda fokus pada persidangan minggu depan."

Tanpa menunggu balasan dari Fitria, pengacara itu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan suara helatan sepatu yang bergaung keras di sepanjang lorong tahanan.

"PENGACARA SIALAN! KEMBALI KAU!" jerit Fitria histeris seraya memukuli besi sel tahanan hingga tangannya memar.

"SASIII! ADRIAN! AKU TIDAK AKAN BIARKAN KALIAN BAHAGIA! AKU SUMPAH KALIAN!"

Jeritan melengking itu menggema memantul di dinding-dinding semen yang basah, namun tidak ada satu pun sipir atau tahanan lain yang peduli.

Di sel sebelah, Hendrik bahkan hanya duduk meringkuk membelakangi dinding, meratapi nasibnya sendiri tanpa mau lagi memandang wanita yang telah menyeretnya ke jurang kehancuran.

Berbanding terbalik dengan kegelapan di balik jeruji besi, penerangan sore di Maldives memancarkan kehangatan yang tiada tara.

Speedboat pribadi yang membawa Adrian dan Sasi membelah ombak jernih hingga akhirnya merapat mulus di dermaga water villa privat mereka.

Staf resort menyambut kedatangan mereka dengan ramah, memberikan sajian kelapa muda segar dan kalungan bunga aromatik.

Adrian menggandeng lembut tangan Sasi melintasi jembatan kayu di atas air laut yang bening bagai kaca.

Begitu pintu villa dibuka, Sasi tak sanggup menahan decak kagumnya.

Kamar mewah berdinding kaca transparan itu menyajikan pemandangan samudera tanpa batas.

Di teras luar, terdapat kolam renang pribadi yang seolah menyatu langsung dengan lautan lepas.

Di atas ranjang besar berhiaskan kelambu putih, terhampar susunan kelopak bunga mawar merah yang membentuk ucapan selamat datang.

Sasi melangkah perlahan menuju teras luar, menghirup dalam-dalam aroma laut segar yang menenangkan jiwa.

Rasa sesak dan ketakutan yang bertahun-tahun membelenggunya kini benar-benar lenyap tanpa sisa.

Adrian berjalan mendekat dari belakang. Pria itu menyandarkan dada bidangnya di punggung Sasi, merengkuh pinggang istrinya dengan begitu lembut namun penuh rasa kepemilikan yang hangat.

Ia mengecup leher Sasi perlahan, membiarkan helaan napasnya menyatu dengan embusan angin sore Maldives.

"Suka tempatnya, sayang?" bisik Adrian mesra di dekat telinga Sasi.

Sasi menyandarkan kepalanya di dada Adrian, mengelus jemari suaminya yang melingkar di perutnya.

"Suka sekali, Mas. Terima kasih banyak."

"Mulai hari ini, tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi masa lalu yang kelam," tutur Adrian tulus, membalikkan tubuh Sasi agar menatap lurus ke dalam matanya.

"Hanya ada kita berdua, Sasi. Selamanya." ucap Adrian.

Sasi mengulas senyum paling manis dalam hidupnya, mengangguk mantap seraya menyusupkan diri ke dalam pelukan hangat Adrian—menikmati awal baru perjalanan cinta mereka yang utuh di bawah naungan langit Maldives.

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat Maldives, memancarkan warna jingga keemasan yang memantul di atas permukaan air laut.

Suasana di sekitar water villa mendadak begitu romantis dan tenang.

Adrian menuntun Sasi menuju teras luar tempat sebuah meja makan mini telah ditata rapi oleh pihak resort.

Di atas meja kayu itu, lilin-lilin kecil menyala lembut, berdampingan dengan sajian seafood segar dan dua gelas minuman dingin.

"Mas, sudah siapkan romantic dinner khusus untuk kita malam ini," ujar Adrian lembut seraya menarikkan kursi untuk Sasi.

Sasi duduk dengan binar mata yang berbinar bahagia.

"Mas Adrian perhatian sekali..Aku sampai bingung harus bilang terima kasih seperti apa lagi." ucap Sasi.

Adrian menyunggingkan senyum hangat, lalu duduk di hadapan istrinya.

Ia meraih telapak tangan Sasi di atas meja, mengusap punggung tangan itu dengan ibu jarinya.

"Kamu tidak perlu berterima kasih, sayang. Justru Mas yang berutang banyak padamu. Membahagiakanmu adalah tugas Mas seumur hidup," tutur Adrian penuh kesungguhan.

Mereka menikmati makan malam diiringi suara deburan ombak pelan yang menenangkan.

Perbincangan hangat dan tawa kecil mengalir tanpa henti, menggantikan setiap duka yang pernah ada di masa lalu.

Selesai makan malam, angin malam pantai mulai berembus agak kencang. Adrian berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Sasi.

"Yuk masuk, di luar mulai dingin. Kamu tidak boleh sampai sakit," ajak Adrian.

Sasi menyambut uluran tangan suaminya dan melangkah masuk ke dalam kamar.

Pencahayaan di dalam kamar kini telah meredup, menyisakan lampu tidur bersinar hangat yang menciptakan suasana begitu intim.

Adrian menutup pintu kaca teras, lalu berbalik menatap Sasi yang berdiri di samping ranjang.

Tatapan mata pria itu begitu dalam, sarat akan rasa cinta, ketulusan, dan rasa kepemilikan yang murni tanpa jeda.

Adrian melangkah mendekat, merengkuh pinggang Sasi dan menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan erat.

"Mas mencintaimu, Sasi. Sangat mencintaimu," bisik Adrian parau di dekat telinga Sasi, sebelum perlahan mendaratkan ciuman lembut di bibir istrinya.

Sentuhan itu terasa begitu hangat dan mengalun tenang.

Sasi memejamkan mata, membiarkan jemarinya terangkat perlahan melingkari leher Adrian, membalas kehangatan pria yang kini menjadi pelindung hidupnya.

Tidak ada lagi rasa takut, cemas, atau bayang-bayang trauma masa lalu; yang tersisa hanyalah kepasrahan dan rasa percaya yang utuh.

Adrian melonggarkan ciumannya sebentar, menatap paras Sasi yang merona di bawah pendar lampu remang.

Dengan kelembutan yang terukur, ia membimbing Sasi untuk berbaring di atas ranjang empuk berhiaskan kain linen halus.

Adrian menyusul di sampingnya, menyangga tubuhnya seraya menatap manik mata Sasi penuh kelembutan.

"Terima kasih sudah menerimaku kembali, Sasi," bisik Adrian tulus, mengusap lembut helatan rambut yang menutupi pipi istrinya.

Sasi tersenyum tipis, menggenggam telapak tangan Adrian yang ada di pipinya.

"Aku milikmu, Mas."

Kalimat singkat itu seolah menjadi kunci penyatu dua hati yang sempat retak.

Adrian mendaratkan kecupan hangat di dahi, kedua mata, hingga bermuara kembali di bibir Sasi dengan penuh kasih sayang.

Malam itu, di tengah heningnya laut Maldives dan deburan ombak yang membisikkan ketenangan, Adrian dan Sasi menyatukan cinta serta jiwa mereka secara utuh sebagai pasangan suami istri yang sah, mengukir lembaran baru hidup mereka yang murni dan tak terpisahkan lagi.

Keheningan malam di water villa terasa begitu syahdu.

Suara gesekan lembut kain kelambu dan riak air laut di bawah pondok kayu menjadi satu-satunya melodi yang menemani penyatuan cinta mereka.

Di dalam remangnya kamar, Adrian berbaring miring seraya menyanggah kepalanya dengan satu tangan.

Lengannya yang satu lagi melingkar erat di pinggang Sasi, menarik tubuh polos sang istri merapat tanpa jarak ke dalam dada bidangnya.

Selimut tebal berwarna putih membalut tubuh mereka berdua, memberikan kehangatan sempurna di tengah dinginnya angin malam pantai.

Sasi menyandarkan kepalanya di dada Adrian, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan.

Jemari lentiknya bergerak pelan, mengusap garis dada dan rahang tegas Adrian yang kini tampak begitu rileks, bebas dari segala beban penyesalan.

Adrian menunduk, mendaratkan ciuman lembut bertubi-tubi di puncak kepala Sasi, membiarkan aroma wangi rambut istrinya memenuhi inderanya.

"Masih terasa seperti mimpi, sayang." bisik Adrian parau, suaranya bergetar rendah di kegelapan kamar.

"Memilikimu kembali secara utuh, menjadi satu-satunya pria yang berhak menjagamu."

Sasi mendongak sedikit, menatap manik mata Adrian yang berbinar hangat di balik remang lampu tidur.

Rona merah di pipinya masih tersisa, namun tak ada lagi rasa canggung.

Ia mengulurkan tangannya, mengusap pipi Adrian dengan ketulusan yang membuncah.

"Ini bukan mimpi, Mas," sahut Sasi lirih namun pasti.

"Aku di sini, sepenuhnya milik Mas Adrian."

Sentuhan halus itu membuat Adrian memejamkan mata sejenak, menikmati rasa syukur yang amat dalam.

Ia lalu mempererat pelukannya, membawa Sasi kian menyusup ke dalam dekapannya, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun celah yang bisa memisahkan mereka lagi.

"Tidurlah, sayang. Mas akan terus menjaga tidurmu sepanjang malam ini," gumam Adrian seraya mengecup lembut kelopak mata Sasi.

Sasi tersenyum lega, menganggukkan kepalanya pelan.

Dalam kehangatan dekapan suaminya, ia memejamkan mata dengan hati yang sepenuhnya tenang, menyambut malam paling indah dalam hidupnya tanpa sedikit pun bayang-bayang ketakutan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!