Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Ditipu
Setelah makan siang Biyakta berganti memeriksa saluran irigasi bersama beberapa pekerja. Sesekali dia membuka pintu air untuk memastikan aliran menuju petak-petak sawah tetap lancar.
Tak jauh dari sana, Diyah ikut menemani. Dia mengenakan caping dan menggulung celananya hingga betis.
"Mas, aku ke sana sebentar," ujar Diyah sambil mengeluarkan plastik yang dia simpan di kantong.
Biyakta menoleh. "Mau ke mana?"
"Cari keong."
"Keong?" ulang Biyakta, merasa heran kenapa istrinya malah mau mencari hewan hama itu. "Buat apa? Keong kan hama."
Diyah tertawa kecil melihat wajah heran suaminya.
"Bisa dimasak, Mas. Enak, lho."
Biyakta langsung menggeleng keras, seumur-umur dia baru tahu kalau keong di sawah bisa dikonsumsi. Dia pikir hanya untuk pakan ternak.
"Tidak, nanti kamu keracunan. Lagi pula sawah di sini sudah banyak mengandung pestisida!"
Mendengar itu Diyah langsung menghela napas. "Mas, aku tahu cara mengolahnya. Lagi pula aku cuma cari di bagian irigasi saja. Boleh ya." ujarnya mencoba merayu.
Sialnya Biyakta tak bisa berkata tidak. Dia berdecak, dan akhirnya membiarkan Diyah turun perlahan ke saluran irigasi yang airnya hanya setinggi mata kaki.
Tangannya lincah menyibakkan rumput liar di pinggir pematang. Tak lama kemudian plastiknya mulai diisi dengan keong-keong hasil tangkapan.
"Wah lumayan banyak, bisa buat lauk besok," ujar Diyah, merasa sedang bernostalgia. Biyakta yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala, ternyata begini kehidupan Diyah sebelum bertemu dengannya. Wanita sederhana yang selalu mengikuti apa kata hatinya.
Biyakta yang semula mengawasi para pekerja akhirnya penasaran. Dia menghampiri Diyah.
"Sudah dapat banyak?" tanyanya. Diyah mendongak dan langsung mengangguk.
"Kalau sabar mencarinya, banyak."
Biyakta ikut berjongkok di tepi irigasi. Mengambil satu keong yang sedang berjalan, lalu menyerahkannya pada Diyah dan membuat wanita itu sedikit terkejut.
"Mas, mau ikut nyari?" tanya Diyah.
"Itu keahlianku!" jawab Biyakta sambil menepuk dadanya sombong. Wajahnya terlihat puas seperti anak kecil yang baru menemukan mainan.
Diyah tersenyum geli.
"Mas serius?"
"Kamu meremehkanku? Kamu ambil ember saja sana," titah Biyakta. Diyah menurut dan segera naik untuk mengambil ember.
Saat dia kembali, dalam sekejap Biyakta sudah mengumpulkan cukup banyak. Mata Diyah langsung berbinar-binar.
"Wah ternyata Mas Biya hebat juga," puji Diyah yang membuat suaminya langsung besar kepala.
"Siapa dulu?" cetus Biyakta, namun tanpa sadar tangannya meleset hingga tergores cangkang keong. Semula tak berarti apa-apa, tapi tiba-tiba jari Biyakta merasa perih.
"Mas, tanganmu berdaarah!" seru Diyah, segera melepas ember, beralih untuk meraih tangan Biyakta. Tanpa pikir panjang Diyah langsung menghisapnya.
"Hei, tanganku kotor," ujar Biyakta mengingatkan, tetapi Diyah tak mau dengar, yang penting sekarang daraah itu berhenti keluar.
"Ayo ke gubuk saja, biar aku obati," ucap Diyah, belum sempat menjawab tangan Biyakta sudah ditarik. Di gubuk tersebut Diyah mengobati tangan suaminya dengan cara tradisional, yaitu menggunakan getah pisang untuk menghentikan pendarahaan.
Biyakta tak banyak protes, karena kini yang dia lihat hanya sebuah ketulusan—sebuah harga yang tak pernah bisa dibayar.
Beberapa pekerja yang melihat mereka hanya saling tersenyum.
Jarang sekali mereka melihat Biyakta banyak tersenyum, apalagi menurut seperti itu.
****
Menjelang sore, pekerjaan selesai. Biyakta memilih pulang menggunakan sepeda yang dipakai Diyah, sementara motor dia titipkan kepada Firman.
Biyakta mengayuh dari depan. Sementara Diyah duduk di boncengan belakang sambil memegang ember berisi keong sawah.
Angin sore berembus lembut. Membawa aroma padi yang mulai tumbuh.
"Capek?" tanya Biyakta di sela perjalanan.
"Sedikit," jawab Diyah, karena dia memang tidak banyak membantu. Dia hanya mencari kesenangannya sendiri.
"Menyesal ikut ke sawah?"
Diyah menggeleng. "Justru seneng."
"Kenapa?"
"Baru tahu aku pekerjaan Mas ternyata nggak cuma duduk di kantor. Biasanya kan rapih, bersih, wangi, pake kemeja atau baju dinas KUA, eh sekarang malah kotor sama lumpur," jelas Diyah berceloteh.
"Kalau aku cuma duduk, padi mana mungkin bisa panen sendiri," celetuk Biyakta.
"Bisa lah, kan Mas punya anak buah," kekeh Diyah yang membuat Biyakta jadi ikut tertawa. Iya juga ya, kan aslinya dia memang tinggal suruh orang saja.
Beberapa saat kemudian, tanpa sadar tangan Diyah melingkar di perut Biyakta agar tidak kehilangan keseimbangan saat sepeda melewati jalan berbatu.
Biyakta menyadari itu. Namun, dia tidak berkata apa-apa. Senyumnya justru semakin lebar.
Sementara itu di sebuah kota yang jauh dari desa. Sarmila dan rombongan yang dijemput pagi ini, berdiri kebingungan di depan sebuah bangunan tua.
Tak ada studio. Tak ada proses syuting. Tak ada agensi, yang dijanjikan oleh Andre untuk menunjang mereka sebagai calon artis.
Sarmila mulai berpikiran jelek, apalagi dia tidak berpamitan dengan baik pada keluarganya, terutama Diyah—orang yang berusaha mencegahnya untuk berangkat.
"Kenapa aku malah dibawa ke sini? Bukannya tempat artis itu bagus-bagus ya, seperti hotel yang ada di film-film," gumamnya sambil memegang tas yang isinya pakaian dan uang saku.
Dia pikir dia akan dibawa ke tempat yang mewah. Namun, nyatanya kini dia dihadapkan di sebuah mes sempit dengan kamar-kamar yang dihuni banyak wanita.
Dindingnya lembap, kasurnya yang tipis. Kamar mandinya pun harus dipakai bergantian. Sangat jauh dengan kehidupannya di desa yang bebas.
"Kalian mulai kerja besok!"
Seorang mandor menyerahkan seragam kepada para wanita yang baru datang.
"Kerja apa?" tanya Sarmila dengan reflek.
"Pabrik."
Sarmila tertegun.
"Tapi aku dijanjikan jadi artis. Bukan pekerja pabrik!" serunya tak terima. Namun, yang dia dapatkan justru sebuah tamparan keras.
"Kalau mau jadi artis tempatmu bukan di sini!" sentak sang mandor.
Semua wanita yang ada di ruangan itu hanya saling berpandangan. Termasuk teman-teman Sarmila yang dari desa.
Salah seorang dari mereka berbisik pelan, "Dulu aku juga dijanjikan seperti itu."
Jantung Sarmila berdegup kencang. Dia baru menyadari bahwa dirinya telah ditipu.
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh