Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
...
Pintu mobil tertutup pelan.
Malam di luar jendela tampak tenang. Lampu-lampu kota berkilauan memanjang seperti garis cahaya yang samar, namun suasana di dalam mobil justru terasa berat.
Evelyn menyandarkan kepalanya ke jok. Rasanya seperti baru saja keluar dari ruang interogasi. Bukan karena Kael mengancamnya. Bukan juga karena pria itu meninggikan suara.
Justru sebaliknya. Kael terlalu tenang. Terlalu masuk akal. Dan itu yang membuatnya sulit membantah.
"Kalau dipikir-pikir..." gumam Evelyn pelan sambil memijat pelipisnya. "Bos mereka sadis juga, ya."
Reon yang duduk di kursi pengemudi melirik sekilas.
"Nona?"
Evelyn menghela napas panjang. "Loren Holdings atau Aurelius. Pilih salah satu.
Emangnya aku lagi milih menu paket ayam?"
Reon terdiam. Lalu menghela napas juga. "...Saya paham perasaan Nona."
"Paham?" Evelyn menoleh. "Aku barusan dipaksa memilih antara tenggelam di laut atau jatuh dari tebing."
Reon tidak bisa membantah.
Karena memang seperti itulah kenyataannya. Kerja sama dengan Loren memang menguntungkan. Tetapi proyek bersama Aurelius jauh lebih besar.
Jauh lebih strategis. Dan yang paling penting... Danesha sudah menanam investasi cukup banyak untuk proyek tersebut. Jika proyek gagal sekarang, kerugiannya bukan sekadar miliaran.
Bisa merusak reputasi perusahaan yang baru saja mulai dibangun Evelyn. Mobil melaju beberapa meter sebelum akhirnya Reon berkata pelan.
"Kita harus menghubungi pihak Loren."
Evelyn menutup matanya. "Ya." Suaranya terdengar pasrah. "Telepon mereka."
Beberapa menit kemudian. Mobil berhenti di pinggir jalan yang cukup sepi. Reon langsung menghubungi nomor sekretaris Loren Holdings. Nada sambung terdengar. Satu kali. Dua kali. Lalu tersambung.
["Selamat malam pak..."] Suara pria itu terdengar profesional.
Reon menjelaskan situasi secara singkat. Kemudian menyerahkan ponselnya kepada Evelyn.
"Nona."
Evelyn menelan ludah. Jujur saja. Ia lebih takut menghadapi panggilan ini dibanding saat menghadapi Kael tadi. Karena kali ini... Dialah pihak yang salah.
Dengan ragu ia mendekatkan ponsel ke telinga.
"Halo..." ucap Evelyn.
Beberapa detik hening. Lalu suara lain terdengar. Bukan Hans. Suara itu lebih rendah. Lebih tenang. Lebih dewasa.
["Malam, Nona Evelyn."]
Tubuh Evelyn langsung menegang.
"P-Pak Loren?"
["Ya."]
Senyum pahit langsung muncul di wajah Evelyn.
'Sial.
'Kenapa langsung bos besarnya yang jawab?'
'Bukannya sekretaris dulu?'
Ini seperti mau bolos sekolah lalu yang mengangkat telepon malah kepala sekolah.
"Maaf mengganggu malam-malam begini, Pak."
["Tidak masalah."]
Evelyn menarik napas panjang. Kemudian mulai menjelaskan. Tentang kondisi perusahaan. Tentang perubahan situasi proyek. Tentang keputusan Danesha yang terpaksa membatalkan kerja sama yang baru saja mereka sepakati.
Tentu saja ia tidak mengatakan alasan sebenarnya. Ia tidak mungkin bilang:
"Maaf Pak, saya dipaksa memilih sama rival Bapak."
Bisa-bisa situasinya makin kacau. Setelah selesai berbicara... Hening. Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Membuat jantung Evelyn berdebar makin kencang. Lalu akhirnya Loren berbicara.
["Saya mengerti."]
Evelyn berkedip. "...Eh?"
["Saya mengerti keputusan Anda."] Jawaban itu terlalu tenang. Terlalu mudah. Malah membuat Evelyn semakin tidak nyaman.
["Tapi..."] Suara Loren kembali terdengar. ["Karena pembatalan dilakukan sepihak, Danesha harus siap menerima konsekuensi sesuai klausul kontrak."]
Evelyn memejamkan mata. Sudah diduga.
"Ya." Ia mengangguk meski lawan bicaranya tidak bisa melihat. "Saya mengerti. Saya harap kerja sama kita bisa terjadi di lain kesempatan."
Kali ini Evelyn benar-benar merasa bersalah. Karena sejujurnya... Loren memperlakukannya dengan cukup baik. Jauh lebih baik dibanding sebagian besar pebisnis yang pernah ia temui.
["Maaf, Pak."] Tidak ada alasan lain yang bisa ia berikan.
Loren hanya tertawa kecil.
["Tidak perlu meminta maaf terlalu banyak, Nona Evelyn."]
"..."
itu."] ["Bisnis memang seperti
Setelah beberapa kalimat formal lainnya, panggilan berakhir. Evelyn menatap layar ponsel yang sudah gelap.
Kemudian menyandarkan kepalanya ke jok. "Kenapa rasanya aku kayak habis mutusin orang baik-baik?"
Reon menghela napas.
"Nona..."
"Tapi serius." Evelyn menatap langit-langit mobil.
"Rasanya bersalah banget."
-----
Di sisi lain kota. Di lantai paling atas gedung Loren Holdings. Lampu ruang kerja masih menyala. Loren duduk santai di balik meja kerjanya.
Ponsel yang tadi digunakan menelepon Evelyn kini tergeletak di samping laptop.
Hans berdiri tak jauh dari sana.
"Tuan."
Loren tersenyum tipis.
"Seperti dugaanku."
Hans mengangguk.
"Aurelius?"
"Tentu saja." Loren bersandar ke kursinya.
Tatapannya mengarah ke jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota malam. "Dari awal aku sudah curiga."
Tidak mungkin perusahaan seperti Danesha tiba-tiba membatalkan kerja sama tanpa alasan kuat.
Apalagi setelah proses negosiasi berjalan sangat lancar.
Dan hanya ada satu pihak yang memiliki kekuatan untuk memaksa keputusan seperti itu.
Aurelius Consortium.
Sudut bibir Loren perlahan terangkat. Namun senyumnya kali ini tidak mengandung kehangatan. Melainkan ketertarikan.
Hans menatap atasannya. "Tuan?"
Loren menyilangkan kedua tangannya. "Sepertinya..." Matanya sedikit menyipit. "... yang diincar Aurelius bukan perusahaan Danesha."
Ruangan menjadi sunyi. Beberapa detik berlalu. Lalu Loren tertawa kecil. Pelan.
Namun penuh arti.
"Permainan yang bagus."
Tatapannya mengarah ke layar ponsel. Ke nama yang baru saja meneleponnya beberapa menit lalu.
________
Pukul 10 pagi.
Langit di luar jendela kelas tampak cerah, namun kondisi Evelyn justru kebalikannya.
Gadis itu duduk di kursinya dengan tubuh sedikit membungkuk. Matanya sayu, rambutnya masih rapi memang, tapi wajahnya jelas
menunjukkan satu hal. Kurang tidur.
Sudah tiga puluh menit
berlalu sejak jam kuliah dimulai.
Dan dosennya... Belum
datang. Evelyn menatap kosong papan tulis di depan. Lalu menatap jam. Lalu papan tulis lagi.
Lalu jam lagi.
"..."
"Hidup gue kenapa begini sih..." gumamnya lirih.
Di sebelahnya, Celine yang sedang sibuk membenarkan alis menggunakan pensil alis langsung melirik. "Kok kayak orang habis ditinggal tujuh kali berturut-turut?"
Evelyn menoleh pelan.
Dengan ekspresi datar. "Aku lebih milih ditinggal pacar daripada disuruh baca kontrak lima ratus halaman."
Celine langsung tertawa."Hahaha! Segitunya?"
"Lo nggak ngerti penderitaan gue." Keluh evelyn.
"Yaudah jelasin."
Evelyn langsung mengangkat satu jari. "Siang kuliah." Jari kedua. "Sore rapat." Jari ketiga. "Malam negosiasi." Jari keempat. "Pagi baca dokumen." Jari kelima. "Belum lagi ada orang-orang yang hobinya bikin hidup gue susah."
Celine menyipitkan mata. "Orang-orang?"
Evelyn langsung teringat seseorang. Seorang pria yang duduk santai semalam sambil menyuruhnya memilih antara Aurelius atau Loren. Seseorang yang bahkan masih bisa tersenyum saat melihatnya hampir stres.
Kael.
Muka Evelyn langsung makin kusut. Celine menangkap perubahan itu.
"Hmmm..." Celine tampak berpikir.
"Apa?"
"Hmmm..."
"Apa sih?"
"Hmmm..."
"Celine."
Temannya itu menyeringai.
"Kok pas gue nyebut orang-orang, yang muncul di kepala lo malah Kael?"
Evelyn hampir tersedak ludahnya sendiri. "NGGAK ADA!"
"Boong."
"Serius!"
"Boong."
"Cel!"
Celine tertawa puas melihat reaksi sahabatnya. Kemudian ia mendekat. Dan tanpa izin mulai membenarkan riasan tipis di wajah Evelyn.
"Heh."
"Diam, gue benerin sebentar."
Evelyn pasrah.Celine membuka pouch make-up miliknya. Sedikit concealer.
Sedikit bedak. Sedikit perbaikan di bawah mata. Dan beberapa menit kemudian... "Udah."
Evelyn melihat dirinya melalui kamera ponsel Celine.
"..."
"Loh."
"Nah kan."
"Kok gue hidup lagi?"
Celine membusungkan dada bangga. "Karena gue berbakat."
"Lo penyelamat bangsa."
"Tau dong."
Mereka tertawa kecil. Untuk sesaat Evelyn merasa jauh lebih ringan. Setidaknya sampai ponselnya bergetar.
Buzz.
Buzz.
Buzz.
Evelyn melirik layar. Nama pengirimnya membuat senyumnya perlahan menghilang.
Reon Hartmann.
Tiga pesan. Dan satu file dokumen baru.
"..."
"Kenapa?" tanya Celine.
Evelyn membuka pesan itu.
Lalu membaca perlahan.
Wajahnya langsung kosong.
"Kenapa?" ulang Celine.
Evelyn menunjukkan layar ponselnya. Celine membaca.
---
[Nona Evelyn.]
[Pihak Loren Holdings telah mengirim surat resmi terkait pembatalan kerja sama.]
[Walaupun mereka tidak mengambil langkah hukum, terdapat beberapa konsekuensi finansial yang tetap harus kita tanggung sesuai klausul pembatalan.]
[Selain itu, pihak Aurelius meminta revisi jadwal proyek utama dan rapat lanjutan minggu depan.]
[Mohon luangkan waktu setelah kuliah untuk membahasnya.]
---
"..."
"..."
Celine perlahan menatap Evelyn. Evelyn perlahan menatap langit-langit.
Kemudian... "Gue pensiun aja kali ya."
"Jangan."
"Gue buka warung mie instan aja."
"Jangan."
"Gue ternak lele."
"Jangan."
"Gue kabur ke gunung."
"JANGAN."
Evelyn menjatuhkan kepalanya ke meja.
Buk.
"Aku capek..."
Celine menahan tawa. Namun matanya sedikit melunak. Ia tahu Evelyn memang sedang berusaha keras. Bahkan lebih keras dari yang orang lain lihat. Dari luar, Evelyn tetap terlihat ceria, suka bercanda, dan sering bertingkah aneh.
Tapi beberapa minggu terakhir... Gadis itu benar-benar sedang memikul terlalu banyak hal sekaligus Kuliah.
Perusahaan. Kasus pembunuhan. Dan entah kenapa selalu terlibat dengan orang-orang aneh.
Celine menghela napas. Lalu menepuk kepala Evelyn pelan "Semangat."
Evelyn mendengus. "Kalau gue mati nanti."
"Lo nggak mati."
"Kalau gue mati nanti."
ulang Evelyn.
"Gue siram."
Evelyn langsung tegak.
"Jahat."
"Nah hidup lagi kan."
"Dasar setan."
"Tapi setan yang peduli."
Evelyn terdiam sesaat.
Kemudian tersenyum kecil. "Iya juga."
Tepat saat itu pintu kelas
akhirnya terbuka. Seorang dosen masuk sambil membawa tumpukan buku.
"Maaf terlambat."
Seluruh mahasiswa
langsung menghela napas lega.
Dan Evelyn...Langsung menyandarkan kepalanya ke meja lagi. "Belum mulai aja gue udah pengen lulus..."
Sementara di kursi
belakang, beberapa mahasiswa tertawa mendengar keluhannya.
Dan Celine? Dia hanya menggelengkan kepala. Sahabatnya itu memang aneh.
Tapi entah kenapa, melihat Evelyn mengeluh seperti biasa justru membuatnya merasa tenang.bKarena selama Evelyn masih bisa bercanda... Berarti gadis itu masih baik-baik saja.
curang tauuu😒😒