Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Merancang Pernikahan Impian
Hari itu, Raka dan Kania kembali bertemu di wedding organizer yang telah mereka sepakati untuk menangani seluruh persiapan pernikahan mereka. Hari bahagia yang semula terasa masih jauh, kini perlahan semakin nyata. Satu demi satu persiapan mulai mereka jalani bersama.
Begitu melihat Kania datang, Raka langsung tersenyum. Ada perasaan berbeda setiap kali melihat perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu. Rasanya masih sedikit sulit dipercaya bahwa tidak lama lagi, Kania akan benar-benar berdiri di sampingnya sebagai seorang istri.
"Hai, Ni. Apa kabar Om Riza?”
Kania tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Ayah baik. Beliau titip salam buat calon menantu kesayangannya.”
"Wa'alaikumsalam.” Raka terkekeh. "Senang juga dibilang calon menantu kesayangan.”
"Iya dong.” Kania menahan tawanya. "Soalnya nanti lama nggak ada saingan. Marina kan masih lama rencana nikahnya. Orang, dia baru mau lepas seragam putih biru." "Kania terkekeh mengingat adiknya yang masih jauh dari urusan pernikahan.
Raka ikut tertawa. “Iya, ya. Berarti untuk sementara aku masih jadi satu-satunya calon menantu kesayangan Om Riza.”
"Jangan senang dulu,” goda Kania. “Nanti kalau Marina sudah besar, belum tentu posisi itu masih aman.”
"Kalau begitu, aku harus cepat-cepat resmi jadi menantu.”
Raka mengucapkannya sambil tersenyum, membuat Kania spontan menatapnya. Ada sesuatu dalam tatapan Raka yang membuat candaan itu terdengar lebih serius daripada sekadar gurauan.
Kania kemudian tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan rona bahagia yang mulai muncul di wajahnya.
"Ya sudah, makanya jangan banyak protes kalau nanti disuruh ikut ini-itu sama calon mertua.”
"Siap. Kalau demi calon istri, saya mah nurut.”
Kania menggeleng sambil terkekeh. “Ih, mulai gombal.”
"Biarin. Kan sebentar lagi punya istri.”
Kania hanya tersenyum. Entah kenapa, mendengar kata *istri* yang ditujukan kepadanya selalu membuat hatinya menghangat.
Mereka kemudian berjalan mendekati pintu kantor WO.
"Yuk ah, kita masuk. Sepertinya sudah ditungguin Mas Andri!”
"Ayo!”
Raka mempersilakan Kania berjalan lebih dahulu, lalu mengikutinya. Mereka masuk ke dalam kantor WO itu secara beriringan, membawa serta semangat dan kebahagiaan yang sama.
Di antara berbagai daftar persiapan pernikahan yang menunggu untuk dibahas, ada satu hal yang terasa semakin nyata bagi keduanya: mereka bukan lagi sekadar sedang merencanakan sebuah pesta.
Mereka sedang mempersiapkan awal dari kehidupan baru yang akan mereka jalani bersama.
Raka dan Kania duduk berdampingan di hadapan Andri, perwakilan dari wedding organizer yang mereka pilih. Di atas meja sudah terbentang beberapa lembar contoh konsep dekorasi, susunan acara, pilihan bunga, hingga referensi tata letak untuk pesta pernikahan outdoor.
Andri membuka catatannya. "Baik, sebelum kita masuk ke detail teknis, saya ingin tahu dulu seperti apa gambaran pernikahan yang kalian impikan. Nanti dari situ kami bantu menerjemahkannya menjadi konsep yang lebih matang.”
Kania menatap beberapa lembar referensi di atas meja. Matanya tampak berbinar ketika membayangkan hari yang selama ini hanya ada dalam angannya.
"Pokoknya pas akad, aku mau memakai kebaya putih.”
"Oke.” Andri langsung mencatat keinginannya. "Kebaya putih untuk akad. Ada model tertentu yang sudah Kania bayangkan?”
"Belum terlalu spesifik. Aku maunya yang anggun, sederhana, tapi tetap kelihatan mewah. Jangan terlalu ramai.”
Andri mengangguk sambil menuliskan beberapa catatan. "Kemudian untuk konsep akadnya?”
"Kania melirik Raka sebelum menjawab.
"Pokoknya pas akad pakai adat Sunda. Tapi kalau pas resepsi pakai internasional aja deh. Gak apa-apa kan, Ka?”
Raka tersenyum. "Gak apa-apa. Yang penting kamu suka.”
Kania tersenyum lega. Namun sesaat kemudian dia kembali teringat sesuatu. "Kira-kira Mami dan Papimu gak akan keberatan?”
"Insya Allah nggak. Mami pasti senang kalau kamu nyaman dengan konsep yang kamu mau.”
Andri kembali mencatat. "Berarti akad dengan sentuhan adat Sunda, sementara resepsi bergaya internasional. Karena acaranya outdoor, kita bisa buat dua suasana yang berbeda tetapi tetap menyatu.”
Kania mengangguk antusias. "Aku maunya akadnya terasa khidmat dan hangat. Jangan terlalu ramai. Aku ingin keluarga dekat benar-benar bisa merasakan suasananya.”
"Bisa,” jawab Andri. “Untuk akad, kita bisa menempatkan pelaminan atau area akad dengan latar dekorasi bernuansa Sunda yang elegan. Tidak harus penuh ornamen. Bisa menggunakan unsur kayu, kain putih, bunga-bunga putih dan sedikit sentuhan tradisional supaya tetap terlihat sakral.”
"Bunga putih aku suka,” sahut Kania cepat.
"Jenisnya bisa nanti kita pilih bersama. Untuk keseluruhan warna, Kania ingin warna apa?”
Kania berpikir sejenak. "Putih. Terus mungkin ada warna hijau lembut. Aku gak mau terlalu banyak warna.”
Raka ikut menimpali, “Aku setuju. Yang simpel tapi elegan.”
Andri tersenyum. “Berarti kita ambil konsep natural elegant. Outdoor, banyak unsur hijau, bunga putih, dan dekorasi yang tidak terlalu berat.”
Ia kemudian memperlihatkan beberapa referensi tata ruang. "Untuk resepsi, karena konsepnya internasional, kita bisa membuat area makan dan meja tamu yang lebih modern. Ada round table untuk keluarga dan tamu, kemudian area buffet. Di bagian tengah bisa dibuat dance floor atau open space untuk acara dan hiburan.”
Kania memperhatikan gambar tersebut dengan serius. "Kalau bisa, aku ingin suasananya seperti garden party. Tapi tetap kelihatan formal karena ini kan resepsi pernikahan.”
"Bisa sekali. Jadi bukan garden party yang terlalu santai, melainkan elegant garden wedding.”
"Ya, itu!” Kania langsung tersenyum.
Raka terkekeh melihat antusiasme calon istrinya.
Andri melanjutkan penjelasannya.
"Untuk area pengantin, saya sarankan jangan dibuat terlalu tinggi atau terlalu berat. Karena konsepnya outdoor, lebih bagus kalau pelaminannya menyatu dengan alam. Misalnya menggunakan backdrop bunga putih dan dedaunan hijau, dengan kursi pengantin yang elegan.”
Kania mengangguk. "Dan aku ingin ada banyak ruang untuk foto. Aku mau nanti bisa foto sama keluarga tanpa kelihatan terlalu ramai.”
"Bisa kami siapkan beberapa photo spot. Salah satunya bisa dibuat di area taman dengan dekorasi bunga, satu lagi di dekat venue utama.”
Raka kemudian ikut bertanya. "Untuk tamu, kira-kira alurnya bagaimana, Mas?”
Andri menjelaskan dengan lebih terperinci.
"Begitu datang, tamu diarahkan ke meja registrasi. Setelah itu mereka masuk ke area resepsi. Kecuali untuk yang datang pas akad, kita arahkan ke area akad dulu.”
Kania kembali melihat catatan Andri. "Terus untuk baju ganti?”
"Setelah akad dengan kebaya putih dan adat Sunda, Kania bisa berganti busana untuk resepsi. Karena konsep resepsi internasional, gaunnya bisa dibuat lebih modern.”
Kania tersenyum kecil. "Pokoknya aku ingin dua-duanya terasa berbeda.”
"Justru itu yang menarik,” kata Andri. “Akad akan terasa lebih intim, sakral, dan kental dengan adat. Setelah itu suasananya berubah menjadi resepsi outdoor yang lebih modern, elegan, dan meriah.”
Raka mengangguk setuju.
"Kalau untuk musik?”
"Kita bisa sesuaikan dengan dua suasana tadi. Saat akad, musik dibuat lebih lembut dan tradisional. Setelah resepsi dimulai, musik bisa berubah menjadi lebih modern. Kalau Raka dan Kania ingin, kita juga bisa siapkan live music.”
Kania langsung menoleh kepada Raka. "Live music boleh tuh.”
"Boleh. Tapi jangan sampai kamu malah sibuk nyanyi dan lupa sama suamimu.”
Kania tertawa kecil. "Justru kamu yang jangan lupa sama istrimu!”
Andri ikut tertawa melihat keduanya. "Baik. Jadi sejauh ini saya simpulkan: pernikahan outdoor dengan konsep elegant garden wedding. Akad menggunakan adat Sunda dengan kebaya putih yang anggun dan sederhana. Setelah akad, resepsi berganti menjadi konsep internasional yang modern dan elegan. Warna dominan putih dengan sentuhan hijau, dekorasi bunga putih, banyak unsur natural, pencahayaan romantis untuk malam hari, serta area foto yang cukup luas.”
Ia berhenti sejenak, kemudian menatap keduanya.
"Untuk hal-hal lain seperti jenis bunga, desain kebaya, gaun resepsi, undangan, menu, entertainment, sampai susunan acara, nanti kita bahas satu per satu. Hari ini kita sudah mendapatkan gambaran besarnya dulu.”
Kania mengangguk puas. "Yang penting aku ingin hari itu terasa seperti pernikahan kami. Bukan cuma bagus di foto, tapi ketika mengingatnya nanti, kami benar-benar merasa bahagia.”
Raka menatap Kania beberapa detik sebelum tersenyum. "Kalau itu yang kamu mau, aku akan pastikan kita sama-sama bahagia di hari itu.”
Andri kembali menunduk, menyelesaikan catatannya. Di atas kertas itu, satu demi satu impian mereka mulai berubah menjadi sebuah rencana nyata—sebuah pernikahan yang bukan sekadar pesta, melainkan awal dari kehidupan baru yang akan mereka jalani bersama.