Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Gerbang Akademi yang Menghakimi
Malam itu berakhir dengan penuh kebahagiaan dan harapan. Keesokan harinya, saat fajar baru saja menyingsing dan kabut tipis masih menyelimuti lembah, mereka bertiga sudah bangun dan bersiap-siap. Rebeca mengenakan pakaian terbaiknya yang sederhana namun rapi, Kael tampil bersih dan tegap, sementara Angel bersemangat menuntun mereka bergegas menuju Akademi Langit, sekolah yang paling terkenal di seluruh negeri. Konon di sana berkumpul anak-anak paling berbakat, paling kuat, dan paling cerdas. Namun seiring dengan kehebatannya, akademi itu juga memiliki nama yang kurang baik: para pengajar dan murid-muridnya sangat mementingkan pangkat dan keturunan. Orang-orang dari kalangan rendahan sering dianggap tidak pantas berada di sana, seolah-olah kecerdasan dan kekuatan hanya milik mereka yang lahir dari keluarga terhormat.
Perjalanan memakan waktu cukup lama, namun akhirnya mereka berdiri di depan gerbang akademi yang megah. Dua menara tinggi menjulang ke langit, dindingnya terbuat dari batu putih yang berkilau di bawah sinar matahari, dan di gerbang utama berdiri penjaga yang tegap dengan seragam berwarna emas. Tempat itu tampak luar biasa indah, namun juga terasa dingin dan angkuh.
Dengan napas tertahan, Angel menggenggam tangan ibunya. Rebeca berjalan di sebelahnya, tetap berusaha tampil lemah namun tenang, sementara Kael berjalan di sisi lain sebagai pelindung mereka.
Sesampainya di ruang pendaftaran, suasana di sana penuh dengan orang-orang yang berpakaian mewah dan berbicara dengan nada tinggi. Mereka menatap ke sekeliling dengan pandangan merendahkan, seolah menilai siapa yang pantas dan siapa yang tidak. Saat giliran mereka tiba, petugas pendaftaran yang duduk di balik meja besar itu menatap mereka sekilas — melihat pakaian sederhana Rebeca, tangan Kael yang kasar karena jaring ikan, dan penampilan Angel yang polos — lalu bertanya dengan nada dingin:
"Nama dan asal keluarga?"
"Angel," jawab Rebeca lembut namun tegas. "Ayahnya seorang ksatria yang sedang bertugas jauh. Ibunya aku, Rebeca. Dan pamannya, Kael."
Petugas itu mengangkat alis, matanya menyapu mereka dari atas ke bawah seolah tidak percaya. "Ksatria? Kalau begitu mana tanda pangkatnya? Mana surat rekomendasi dari bangsawan? Kalian tahu sendiri aturan di sini — Akademi Langit bukan tempat untuk sembarang orang. Kami hanya menerima mereka yang berasal dari keluarga dengan kedudukan dan kekuatan yang terbukti."
Angel menatap petugas itu dengan bingung. Ia tidak mengerti kenapa seseorang harus berasal dari keluarga tertentu agar bisa belajar. "Tapi... kami sudah membawa uang pendaftaran," katanya dengan suara kecil namun berani. "Dan Angel ingin belajar."
Petugas itu tertawa sinis. "Uang tidak segalanya di sini, gadis kecil. Banyak orang kaya yang tetap tidak diterima karena keturunannya tidak cukup baik. Kalian... terlihat seperti orang rendahan. Apakah kalian benar-benar berpikir pantas berada di sini bersama anak-anak orang hebat?"
Wajah Angel berubah sedih. Rebeca merasakan genggaman tangan putrinya mengerat. Di dalam dadanya, sesuatu bergejolak — keinginan untuk berdiri tegak dan menunjukkan siapa mereka sebenarnya, untuk membuat orang itu tunduk. Namun ia menahannya. Ia tidak boleh mengungkapkan identitas mereka. Bukan sekarang.
Di samping mereka, Kael melangkah maju sedikit, menatap petugas itu dengan tatapan yang tenang namun entah mengapa membuat orang itu merasa tidak nyaman. "Kami membawa biaya pendaftaran penuh, dan Angel adalah anak yang berbakat. Bukankah akademi ini seharusnya melihat potensi muridnya, bukan dari mana mereka berasal?"
Petugas itu mendengus kesal, namun melihat uang yang mereka serahkan — jumlah yang persis sesuai yang diminta — ia terdiam sejenak. Uang itu asli, dan jumlahnya cukup besar. Dengan wajah tidak rela, ia akhirnya mengambil pena.
"Baiklah... untuk kali ini," katanya dengan nada meremehkan. "Tapi jangan harap dia akan diperlakukan sama dengan yang lain. Jika dia tidak mampu atau tidak berbakat, kami akan mengusirnya tanpa ragu. Ingat — di sini, pangkat dan asal-usul tetap menjadi yang utama."
Saat petugas itu menuliskan nama Angel di buku besar, Rebeca merasakan ketegangan yang berat. Mereka berhasil mendaftarkan putrinya — tapi sekarang, langkah berikutnya belum selesai. Petugas itu mendorong selembar kertas ke arah mereka dan berkata dengan nada datar: "Pendaftaran belum selesai. Selanjutnya adalah sesi wawancara dengan Dewan Pengajar. Ikuti lorong di ujung sana, ruang nomor tujuh. Mereka sedang menunggu."
Rebeca, Kael, dan Angel saling berpandangan. Mereka belum diberitahu ada tahap wawancara ini, namun tidak ada pilihan selain menurut. Dengan hati-hati, mereka melangkah menyusuri lorong yang panjang dan dingin, dindingnya dihiasi lukisan-lukisan tokoh-tokoh bersejarah yang memandang ke bawah seolah sedang menilai siapa yang lewat.
Sesampainya di ruang nomor tujuh, pintu kayu besar itu terbuka sendiri begitu mereka mendekat. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang tinggi dan luas, di seberang ruangan berdiri meja panjang di belakangnya duduk lima orang yang mengenakan jubah berwarna perak — para pengajar senior Akademi Langit. Di tengah-tengah mereka duduk Kepala Sekolah, seorang pria berwajah keras dengan mata yang tajam menatap siapa pun yang masuk.
"Masuk," suaranya terdengar rendah namun bergema di seluruh ruangan.
Ketiganya melangkah maju, dan Angel menggenggam erat tangan ibunya. Begitu mereka berdiri di depan meja, pengajar yang duduk di sebelah kiri — seorang wanita dengan rambut keperakan yang terikat rapi — mulai berbicara sambil menatap berkas kertas di tangannya.
"Angel, usia lima tahun," bacanya pelan. "Ayah seorang ksatria yang bertugas jauh. Ibu seorang pembantu rumah tangga. Paman seorang nelayan." Ia mendongak, menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang penuh keraguan. "Kalian harus paham: Akademi Langit bukan tempat biasa. Di sini kami tidak hanya mengajar membaca dan berhitung. Kami melatih mereka yang memiliki benih kekuatan sejati. Anak-anak yang lahir dengan darah bangsawan atau keturunan para ksatria agung — itulah yang biasanya datang ke sini."
Pria di sebelah kanan menyela dengan nada tajam: "Kami ingin tahu dengan jujur. Apakah ada leluhur di keluarga kalian yang pernah dikenal memiliki kekuatan langit? Apakah ada yang pernah memegang senjata suci? Atau mungkin saja kalian hanya mengandalkan uang untuk masuk ke sini, berharap putri kalian bisa naik pangkat dengan cara yang tidak wajar?"
Rebeca merasakan amarahnya mendidih, namun ia menekan perasaannya sedalam mungkin. Ia menundukkan pandangan, berusaha tampil sebagai ibu yang sederhana dan lemah. "Kami tidak memiliki gelar apa pun, Yang Mulia. Namun Angel adalah anak yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Ia cepat belajar dan tidak pernah takut bekerja keras. Bukankah hal-hal itu juga yang penting?"
Kepala Sekolah menggeleng pelan. "Kerja keras saja tidak cukup di sini. Banyak yang bekerja keras seumur hidup namun tidak pernah mencapai apa pun, karena mereka tidak memiliki apa yang diperlukan sejak lahir." Lalu ia menatap langsung ke arah Angel. "Kau, gadis kecil. Katakan padaku — apa yang bisa kau lakukan? Apa yang membuatmu pantas duduk di antara anak-anak dari keluarga terhebat di negeri ini?"
Angel menelan ludah. Ia merasakan semua mata tertuju padanya — mata yang penuh keraguan, bahkan sedikit meremehkan. Namun di sampingnya, ia merasakan genggaman tangan ibunya menguat pelan, dan di sebelah lain, Kael berdiri tegak dengan tenang. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan suara yang kecil namun jelas:
"Angel belum bisa melakukan hal-hal hebat, Yang Mulia. Tapi Angel mau belajar. Kalau Angel diberi kesempatan, Angel akan belajar lebih rajin dari siapa pun. Angel ingin menjadi kuat, supaya suatu hari nanti Angel bisa melindungi Ibu dan Paman... dan juga Ayah, saat Ayah pulang nanti."
Salah satu pengajar tertawa pendek. "Melindungi? Dengan apa? Tangan kecil itu?"
Belum selesai kata-kata itu terucap, tiba-tiba sesuatu terjadi. Tanpa disadari Angel, saat ia merasa sedih dan diperlakukan tidak adil, sesuatu bergetar di dalam dirinya. Aura gelap yang samar namun berat perlahan muncul dari tubuhnya, menyebar ke seluruh ruangan. Udara tiba-tiba menjadi dingin dan menyesakkan, seolah cahaya di ruangan itu ikut meredup. Gelas berisi air yang ada di meja depan para pengajar bergetar hebat, lalu dengan suara yang tajam — krak! — pecah berkeping-keping tanpa disentuh siapa pun.
Semua orang terdiam. Para pengajar duduk tegak, mata mereka membelalak melihat pecahan kaca yang berhamburan. Kepala Sekolah berdiri perlahan, menatap Angel dengan tatapan yang berubah — bukan lagi meremehkan, melainkan penuh keterkejutan dan ketakutan yang samar. Aura itu terasa begitu asing, begitu kuno, dan sama sekali bukan kekuatan langit yang biasa mereka kenal.
"Itu... apa yang baru saja terjadi?" tanyanya dengan suara yang sedikit berubah.
Rebeca segera melangkah maju, menutupi Angel sedikit di belakang tubuhnya, dan tersenyum paksa. "Maafkan putri saya. Mungkin ada getaran dari lantai, atau kaca itu memang sudah lama retak dan tiba-tiba pecah sendiri. Dia tidak bermaksud apa-apa."
Kael ikut maju selangkah, menatap para pengajar dengan tatapan yang tenang namun membuat mereka enggan bertanya lebih jauh. "Kesederhanaan kami mungkin membuat kalian ragu," katanya dengan suara yang rendah namun berwibawa. "Tapi kalian sendiri yang melihat — ada sesuatu pada gadis ini. Bukankah tugas kalian adalah menemukan dan melatih mereka yang memiliki potensi, meskipun mereka tidak berasal dari keluarga yang dikenal?"
Para pengajar saling berpandangan. Mereka merasakan aura itu sendiri, namun tidak mau mengakuinya secara terbuka — apalagi aura itu terasa kelam, bukan kekuatan suci yang biasa mereka banggakan. Setelah berbisik-bisik sebentar, Kepala Sekolah akhirnya duduk kembali dan menghela napas panjang.
"Baiklah," katanya dengan wajah masam dan pandangan yang masih tidak lepas dari Angel. "Wawancara selesai. Dia boleh masuk. Tapi ingat — kami akan mengawasinya dengan ketat. Jika ternyata tidak ada apa-apa padanya dan dia hanya anak biasa yang kebetulan membuat keajaiban sesaat, kami akan mengusirnya tanpa ampun. Dan kalian... jangan pernah berharap perlakuan istimewa."
Rebeca mengangguk dengan senyum lega yang dibuat-buat. "Terima kasih, Yang Mulia. Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Hanya kesempatan."
Mereka berbalik dan keluar dari ruangan itu secepat mungkin. Begitu pintu tertutup di belakang mereka, langkah kaki mereka mempercepat — menjauh dari ruangan itu, menjauh dari tatapan para pengajar yang kini mulai curiga. Rebeca merasakan jantungnya berdebar kencang. Itu baru permulaan. Kekuatan sejati Angel mulai menunjukkan tanda-tandanya — dan itu bukan kekuatan langit, melainkan warisan dari sosok yang paling ditakuti di seluruh alam semesta. Semakin lama, semakin sulit untuk menyembunyikannya.
Angel menatap ibunya dengan bingung. "Ibu... tadi apa yang terjadi? Kenapa gelas itu pecah sendiri? Dan kenapa udara tiba-tiba menjadi dingin sekali?"
Rebeca berlutut, menatap mata putrinya dengan lembut namun serius. "Itu... adalah tanda bahwa kau istimewa, Nak. Tapi untuk saat ini, simpan hal itu rapat-rapat. Jangan tunjukkan pada siapa pun di akademi, ya? Belum semua orang menginginkan hal baik untuk mereka yang istimewa. Dan terutama... jangan pernah sengaja membiarkan kekuatan itu keluar lagi."
Angel mengangguk meski tidak sepenuhnya mengerti. "Baik, Ibu. Angel janji."
Kael meletakkan tangan di bahu keponakannya. "Ayo kita pulang. Besok hari pertamamu bersekolah. Dan bersiaplah — di sana, setiap langkahmu akan diperhatikan dengan mata yang penuh curiga."