Indonesia
NovelToon NovelToon
Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Dosen
Popularitas:48.7k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.

Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.

Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.

"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”

Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"

“Mas, panggil saya mas Bara.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Sakit

Bab 24

Saat dessert terhidang, Husnah mengajak Adly dan Jelita pindah ke meja sofa ditemani juga dengan Bu Siti dan Mama Ruby ikut bergabung. Karena pembicaraan berikutnya lebih berat. Rencana resepsi dan hal lain antara Ruby dan Bara. Husnah semakin lega karena sikap Ruby saat makan tadi begitu hangat dan peduli pada Jelita juga Adly, sikap yang alami dan bukan dibuat-buat karena mencari perhatian.

“Mau pesan yang lain, es krim atau milkshake?” usul Mama Ruby, tapi Adly dan Jelita menolak dengan halus. “Kalau libur sekolah main ke rumah oma ya, liburan di sana. Ajak juga bunda kalian.”

“Boleh oma?” tanya Jelita.

“Boleh, tentu saja boleh.” Mama Ruby tersenyum mengusap kepala Jelita.

“Besan saya, belum cocok dipanggil oma. Masih muda,” seru Husnah.

“Masa sih, bisa aja Bu Husnah.”

“Iya, oma cantik sama seperti bunda. Cantik banget. Aku nggak mau banyak makan yang manis nanti, gendut dan gak cantik lagi. Kata Bunda, harus jaga badan nanti kalau gak cantik papi ketempelan setan, namanya valakor,” tutur Jelita.

Husnah dan Mama Ruby saling tatap lalu menoleh ke arah Ruby yang meringis karena ucapan Jelita jelas didengar oleh yang lain.

“Ajaran kamu sesat,” bisik Bara.

“Ck, itu kenyataan. Meleng dikit, kamu bisa diambil si nila.”

Pertemuan itu memutuskan mempercepat resepsi dan publikasi pernikahan Bara dan Ruby demi kebaikan bersama.

“Kalau keduluan Ruby hamil malah jadi gosip murahan,” ujar Rendra.

Ruby mencolek pinggang Bara, lalu berbisik. “Emang ciuman bisa bikin hamil.”

“Ck, nanti saya buat kamu hamil.”

“Ish, ish, tak patut.”

Kedua keluarga itu masih ingin berbincang, bahkan Rendra dan Papa Ruby berencana bertemu lagi. Karena membawa Jelita dan Adly, besok hari aktif sekolah akhirnya pertemuan pun diakhiri.

“Pamit sama opa dan oma,” titah Bara.

Jelita dan Adly pamit pada kedua pasangan orangtua itu.

“Yang rajin sekolahnya ya,” ucap Husnah.

“Nanti video call oma ya, pakai hp bunda kalian,” ujar mama Ruby.

“Iya, oma.”

Ruby juga pamit pada mertua dan orang tuanya. “Pah, mama anterin ya. Jam segini supirnya udah pulang, emang tega biarin mama naik taksi.”

“eh, nggak usah. Nggak pa-pa, gampang lah masih sore kok.”

“Nanti papa antar,” sahut Papa.

“Anterin sampai rumah, jangan diturunin di jalan.”

“Ruby,” tegur Bara.

“Didik dia Bara, kadang mulutnya memang tidak difilter.”

Sampai di rumah, Ruby mengantar Jelita dan Adly ke kamar masing-masing. Memastikan kedua bocah itu berganti pakaian lalu bersiap tidur. Saat memasuki kamar, Ruby memelankan langkah dan mengendap bagai pencuri.

“Kemana dia, ancamannya berbahaya.” Ruby bergegas ke toilet untuk bersih-bersih. Berniat duluan tidur sebelum keduluan Bara. Mungkin suaminya itu masih berada di ruang kerjanya. Keluar dari toilet hanya mengenakan bathrobe.

“Harus pakai baju panjang, takut mas bojo birahi,” gumam Ruby memasuki walk in closet.

“Siapa yang bir4hi?”

“Astaga! Mas Bara, ngagetin aja.”

Rupanya Bara sedang menyiapkan untuk besok keluar kota selama beberapa hari. Ruby mengeratkan tali bathrobe karena pandangan Bara menelisik ke arah tubuhnya.

“Jaga mata, mas.”

“Kenapa harus saya yang jaga mata, kamu yang mendekat.” Menutup koper dan mendorong ke arah pintu lalu Bara menghampiri Ruby memilih piyama. “Tidak usah pakai itu, sepertinya lebih menarik.”

“Jangan aneh-aneh, tadi mas janji mau sabar loh.”

“Saya sabar, tapi entah hasrat dan kebuasan saya. Kamu selalu menggoda harus dihukum.”

“Eh!”

Bara membalik tubuh Ruby menghadap ke arahnya. “Hukuman karena ulahmu tadi.”

“huku-man ….mphhh.” Bara membungkam mulut Ruby dengan pagutan.

***

Pagi ini Ruby kembali mengantar Adly dan Jelita. Bara sudah berangkat sejak subuh, mengejar penerbangan pertama menuju luar kota melanjutkan risetnya yang tertunda karena pernikahan mereka.

Sikap Bara mulai meresahkan, Berani menyentuh dan mencium, membuat Ruby kelimpungan. Pun saat hendak berangkat tadi, kembali meminta jatah dengan silaturahmi di bibir. Tampang Bara masih saja cuek dan dingin membuat Ruby geram.

“Semangat sekolahnya ya. Kalau cewek pick me itu dekati kamu, abaikan saja,” pesan Ruby membuat Adly menarik nafas.

“Aku masuk, bun.” Adly mencium tangan Ruby.

“Hm. Bye. Nanti siang dijemput Pak Budi, bunda hari ini mau ke kampus lalu lanjut kerja.”

“Iya.”

Begitu pun dengan Jelita, berpamitan dengan mencium tangan Ruby.

“Kalau ada yang mau ajak kamu pergi, jangan mau ya. Apalagi nggak kenal. Nanti kamu bilang aja, wani piro.”

“Wani piro itu apa Bun?”

“Ck, bukan apa-apa, nggak usah dipikiran. Sudah sana masuk!”

“Dadah bunda.”

“Dahhh, Jelita.”

Urusan di kampus tidak lama. Hanya menyerahkan berkas untuk mendaftar sidang. Dengan bangga, Ruby pamer pada Mely -- asistennya.

...Meldy...

^^^Foto (memegang lembar pendaftaran sidang yudisium)^^^

Udah beres beb, bentar lagi gue sarjana. Dapat ijazah sama buku nikah

Cepet ke lokasi, nggak pake lama!

^^^Iya, bawel^^^

Mengirimkan pula kabar itu pada suaminya

...Mas Bara Ganteng...

^^^Foto (lembar sidang dengan pose wajah genit)^^^

^^^Makasih mas Dosen, akhirnya ^^^

^^^bisa daftar sidang juga^^^

Hm, pulang nanti saya buat kamu nggak bisa nafas

^^^Siapa takut^^^

Menantang ya! Tunggu aku pulang

“Hih, mas Bara makin nyeremin, padahal gue cuma bercanda.”

***

Lampu flash kamera terus menyambar tanpa henti. Ruby berpose lincah di depan latar putih, berganti gaya mengikuti arahan fotografer. Di sudut ruangan, Meldy duduk memperhatikan sesi foto itu.

Ponsel milik Ruby yang berada di atas meja bergetar. Layarnya menyala, menampilkan deretan angka tanpa nama. Meldy melirik sebentar, menaikkan alisnya, lalu mengabaikannya. Diberi pesan kalau ada panggilan dari keluarga, suami atau anak-anaknya agar dijawab, khawatir penting.

"Oke, cut! Bagus banget, Ruby! Coba cek dulu hasilnya ke sini," seru fotografer sambil melambaikan tangan ke arah layar monitor.

Ruby menyapu keringat tipis di pelipisnya dengan tisu, berjalan mendekati meja operator. Saat itulah ponselnya bergetar lagi untuk kali kedua dari nomor yang sama. Kali ini Meldy menginterupsi.

“Beb, hape lo nih. Ada yang nelpon.”

"Siapa?" tanya Ruby sambil menerima ponsel dari Meldy.

"Nomor baru, tuh masih manggil.” Meldy juga menyodorkan botol air mineral pada Ruby.

Ruby menatap layar yang masih bergetar. Firasatnya mendadak tidak enak. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.

“Halo.”

"Halo, betul ini dengan Ibu Ruby?" suara seorang wanita di ujung telepon terdengar terburu-buru.

"Iya, betul. Ini siapa, ya?"

"Saya Meisya, wali kelas Adly dari sekolah. Mohon maaf mengganggu waktunya, Bu. Adly mendadak kolaps setelah praktik sains. Badannya demam dan sempat kejang, kami sudah panggil ambulance dan ini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.”

Brak!

Botol air mineral di tangan kiri Ruby terlepas, membasahi lantai studio. Wajahnya seketika pucat pasi.

"Rumah sakit mana, bu?" suara Ruby bergetar hebat, matanya membelalak menatap Meldy yang ikut terkejut.

“Kenapa, beb?” tanya Meldy.

"Sentra Medika, paling dekat dengan sekolah. Sebaiknya ibu segera kesini, kita bertemu di rumah sakit.”

"Baik, saya kesana sekarang! Tolong jaga Adly.”

Ruby mematikan sambungan telepon dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak peduli lagi dengan make-up atau pakaian pemotretan yang belum diganti.

"Kenapa? Adly siapa, laki lo?”  Meldy panik melihat perubahan drastis raut wajah artisnya.

“Anak gue. Mel, kunci mobil! Sekarang!" teriak Ruby, suaranya melengking menahan tangis. "Adly masuk rumah sakit, dia kolaps di sekolah! Bawa gue ke RS Sentra Medika sekarang, Mel. Cepat!"

“Hah, hamil belum, tapi punya anak. Keluar lewat mana, dia. Ayo, gue antar. Lo tenang, jangan panik gitu.” Meldy membereskan tas milik Ruby juga miliknya, sedang Ruby sudah meninggalkan tempat itu. “Heh, tunggu!”

 

 

1
Nur Wakidah
adik bayi segera otewe 🤭🤭🤭
sikepang
sabar y jelita bahan y masih baru di cek out dikerangjang kuning, ntar di adon adek baby y sama daddy dan bunda 🤣
tiara
hayo Ruby Jelita minta adik tuh
mery harwati
Meldy aq padamu 😛❤️
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
'Nchie
semoga ada ke ajaiban untuk adly😭😭
Melania Kiaa
ehh gak sooan🙄
'Nchie
awas aja kamu ruby kalo adly udah sembuh boleh pulang🤣🤣yg ada kamu yg di makan bara🤣🤣
'Nchie
spesial pake telor ya by🤣🤣🤣
'Nchie
🤣😀jaelangkung
Melania Kiaa
yang ada malah papamu yang ketuaan dek🤭
Anonim
Ruby .....emang sok berani
Anonim
Iih ada jaelsngkung keluyuran 🤭
Anonim
Jangan sampai kenapa "Adly
Anonim
Tuhkan Ruby....kamu sih ....sok"an tantang Mas Bara .....
Dozky 2 Crazy
mas duda bisa gak cara penyampaian jgn lempeng banget🥲🥲
Dozky 2 Crazy
jangan kan adly kita ajj yg baca selalu dibikin ketawa sama ruby😁😁😁
Anonim
Ruby ngapain kamu tantangin Bara
Awas ya kamu .....🤭
Dozky 2 Crazy
makasih bunda udh ada buat adly 🥲🩷🩷
Anonim
Benar .....Ipar adalah iblis
Iccha Risa
ngebangun rumahtangga bersama mas Bara apalagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!