Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
Zevanna masih kesal karena hampir terjatuh dan jadi tontonan wartawan.
Ravenzo sudah masuk private elevator lebih dulu.
Zevanna kembali ke area kerja sambil menggerutu sendiri.
"Nyebelin banget sumpah tuh cowok, malah bilang hampir, orang mah udah diem. Bikin gue tambah malu aja." Kesal Zevanna sambil berjalan.
Begitu sampai area kerja, beberapa karyawan masih membicarakan Zevanna yang datang bersama Ravenzo.
Zevanna mendengar sedikit dan langsung memasang wajah kesal.
Sumpah nih orang-orang kenapa sih? Pagi-pagi udah gosip aja.
Tisha menghampiri Zevanna. "Zev, lo kenapa bisa dateng sama Pak Ravenzo tadi?"
"Mobil gue ketinggalan di kantor jadi gue bareng dia," jawab Zevanna, bibirnya manyun.
Tisha mengangkat alisnya. "Masa sih? Gue nggak percaya," katanya. "Atau jangan-jangan lo sengaja mau bareng sama Pak Ravenzo, ya?"
Zevanna mendelik tajam. "Dih, apaan sih lo? Nggak jelas. Mobil gue beneran ketinggalan di sini karena tadi malem dia anterin gue pulang."
"Tuh kan bener, lo sengaja. Buktinya lo dianterin pulang sama Pak Ravenzo pas malem, cieeee." Goda Tisha.
"Diem atau gue lempar sesuatu ke muka lo, kalau terus ngomong?" Sentak Zevanna.
Tisha menyengir. "Jangan marah-marah dong, nanti Pak CEO dateng ke lo lagi."
"TISHA!" Zevanna memukul bahu sahabatnya karena kesabarannya sudah habis membuat beberapa karyawan menoleh ke arahnya.
"Mulut lo kayaknya harus dijahit biar nggak sembarangan ngomong." Sungut Zevanna menatap beberapa karyawan.
"APA LIHAT-LIHAT? MAU DICOLOK MATANYA?" teriak Zevanna membuat beberapa karyawan menggeleng dan berhamburan pergi takut diamuk Zevanna.
"Parah banget lo, Zev. Liat tuh karyawan lain pada lari dan takut sama lo," kata Tisha.
Zevanna mendengus sinis. "Bodo Amat, gara-gara lo sih."
Tisha melongo. "Hah? Kok gue sih? Kan lo yang teriak-teriak tadi."
"Aduh pusing, udah lah. Gue mau ke meja gue, ladenin lo bikin darah tinggi aja." Sungut Zevanna berjalan meninggalkan Tisha.
"Lah? Dia yang emosian, kenapa gue yang disalahin? Aneh tuh anak sinting!" Tisha kembali ke meja kerjanya.
Zevanna menuju meja kerjanya. Untuk pertama kalinya setelah malam yang penuh ketegangan, suasana kantor terasa lebih normal.
Zevanna melihat beberapa pekerjaan yang tertunda selama dirinya sibuk dengan kasus Zoyya. Ia mulai mengerjakan kembali tugas-tugasnya.
Zevanna mendengus kecil. "Ck, kenapa harus balik kerja lagi coba? Kan tadi malem gue hampir dibunuh sama dua orang gila itu." Gerutunya sambil menatap layar komputernya.
Langkah kaki Ravenzo bergema pelan saat ia keluar dari private elevator. Saat melewati area kerja karyawan, matanya sempat tertuju pada satu meja. Di sana, Zevanna terlihat fokus menatap layar komputer, tangannya lincah mengetik sesuatu.
Ravenzo hanya memperhatikan dari jauh selama beberapa detik, lalu lanjut berjalan menuju ruang kerjanya tanpa mau mengganggu.
Beberapa saat kemudian, Ravenzo sudah berada di ruangannya.
Baru saja ia duduk di kursinya, pintu ruangan diketuk. Arvin masuk dengan beberapa dokumen di tangannya.
"Rav," sapa Arvin sambil meletakkan dokumen di meja.
"Gimana perkembangan dari kepolisian?" tanya Ravenzo langsung tanpa basa-basi.
"Pemeriksaan terkait Bisma sama Hesa masih jalan. Polisi masih ngumpulin bukti tambahan," jelas Arvin santai sambil bersedekap. "Dari internal kita juga udah mulai jalanin pengecekan menyeluruh, biar ketahuan kalau misal ada orang lain yang ikut main."
Ravenzo mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya di kursi. "Pastiin pengecekan internal itu nggak ganggu kerjaan karyawan lain. Fokus operasional harus tetep jalan."
"Aman, nanti gue koordinasiin lagi sama tim HR," jawab Arvin. Ia lalu jeda sejenak, menatap Ravenzo dengan raut lebih serius. "Satu lagi... nama Verion Group makin rame diberitain dari tadi pagi, Rav."
Ravenzo hanya mengembuskan napas pendek, tatapannya tetap tenang. "Biarin aja dulu. Selama tim hukum kita yang pegang kendali, berita luar nggak usah terlalu ditanggapi."
Arvin mengangguk. "Oke, gue keluar dulu."
Sepeninggal Arvin, Ravenzo memutar kursinya ke arah jendela kaca besar di belakang meja kerja. Matanya menatap deretan gedung tinggi di luar, memikirkan kelanjutan dari masalah yang sedang dihadapi perusahaannya.
Sementara itu di luar, suasana area kerja lumayan riuh. Zevanna yang sedang fokus di depan komputernya tanpa sengaja mendengar percakapan beberapa karyawan yang berdiri tak jauh dari mejanya.
"Seriusan, Bisma sama Hesa nggak bakal balik kerja lagi?" bisik seorang staf wanita dengan raut muka masih syok.
"Iya, denger-denger sih gitu. Kasusnya udah ditangani polisi langsung," timpal rekannya pelan. "Gue masih nggak nyangka aja, ternyata masalahnya gede banget. Padahal keliatannya mereka biasa aja selama ini."
"Makanya... pantesan dari kemarin suasana kantor tegang banget."
Zevanna hanya mendengarkan sambil terus memegangi tetikus-nya. Bisik-bisik itu otomatis membuat pikirannya melayang kembali pada almarhumah kakaknya. Dadanya sempat terasa agak sesak, tapi kali ini perasaannya jauh lebih tenang. Ketakutan dan kebingungan yang selama ini membayangi perlahan menguap, karena sekarang ia sudah tahu pasti siapa orang yang harus bertanggung jawab atas semua kejadian ini.
Tisha menghampiri meja Zevanna dan menatap temannya yang mendadak diam itu. "Zev, lo baik-baik aja, kan?"
Zevanna mendongak, mencoba tersenyum tipis. "Gue cuma inget sesuatu aja, Tis."
"Zev, gue ngerti perasaan lo," kata Tisha pelan, menepuk bahu Zevanna pelan. "Gue juga masih nggak nyangka kalau mereka berdua pelakunya. Tapi setidaknya, sekarang lo udah dapet jawabannya, kan?"
Zevanna mengangguk. "Iya, Tis," jawabnya singkat. Meski begitu, masih ada sedikit rasa ganjal dan berat yang tersisa di pikirannya.
Tak lama setelah suasana kantor kembali tenang dan semua orang mulai fokus bekerja lagi, sosok Andrew dan Gista tampak berjalan masuk ke area kantor. Masa penonaktifan sementara mereka akhirnya resmi selesai hari ini.
Zevanna langsung kaget melihat kehadiran mereka berdua.
"Hai, Zevanna. Tisha," sapa Andrew dan Gista hampir bersamaan.
"Lho, kok kalian udah balik kerja lagi?" tanya Zevanna heran.
"Iya, kita berdua udah dibolehin masuk lagi hari ini," kata Andrew sambil tersenyum kecil.
"Iya dong, kan status kita cuma dinonaktifkan sementara, bukan dipecat," timpal Gista santai.
"Hai, Mas Andrew, Mbak Gista! Selamat datang kembali di Verion Group!" seru Tisha heboh. "Akhirnya kalian balik juga, jadi Zevanna nggak kesepian lagi deh."
Zevanna langsung mendelik tajam ke arah Tisha. "Berisik lo, kampret!" gerutunya sebal.
Andrew tertawa pelan mendengar reaksi Zevanna, lalu membalas ucapan Tisha. "Bisa aja kamu, Tis. Tapi bener juga sih, keliatan banget dari mukanya kalau Zevanna kangen berat sama kita," canda Andrew sambil terkekeh, sementara Gista di sebelahnya cuma tertawa melihat interaksi mereka.
Zevanna langsung menoleh ke arah Andrew. "Dih, siapa juga yang kangen kalian berdua?"
"Iya deh, terserah kamu," kata Andrew pelan sambil tersenyum geli.
"Oh ya, Mas Andrew sama Mbak Gista, selama dinonaktifkan kemarin gimana?" tanya Tisha penasaran.
"Ya gitu, kita kudu ngejalani pemeriksaan internal," jelas Andrew. "Selama proses itu, kita emang diminta buat nggak datang ke kantor dulu sampai situasinya bener-bener jelas dan beres."
Zevanna yang mendengarnya mendadak merasa sedikit tidak enak hati. Ia teringat kalau sebelumnya Andrew dan Gista sempat ikut terseret dalam daftar kecurigaan gara-gara kejadian yang menimpa Tisha.
"Mas Andrew, Mbak Gista... maaf ya," ucap Zevanna pelan, menatap keduanya merasa bersalah. "Gara-gara aku kemarin sibuk nyari tahu ke sana-sini, kalian berdua jadi ikut kena imbasnya."
Andrew menggeleng pelan, mengibaskan tangannya santai. "Nggak apa-apa, Zev. Kamu nggak usah merasa nggak enak gitu. Kita berdua paham kok kenapa kamu nekat nyari tahu semuanya. Kalau ada di posisi kamu, mungkin kita juga bakal ngelakuin hal yang sama."
Gista ikut mengangguk setuju. "Iya, Zev. Yang penting sekarang semuanya udah terang benderang dan pelakunya emang udah ketangkep, kan?"
Zevanna mengangguk. "Iya, Mbak. Udah ketangkep tadi malem."
Melihat suasana yang mendadak serius, Andrew langsung berusaha mencairkan suasana lagi.
"Tapi jujur ya, libur paksa kemarin ada enaknya juga sih. Aku jadi punya alasan buat tidur seharian tanpa kepikiran laporan," ujar Andrew sambil terkekeh pelan.
Tisha langsung menimpali, "Yah, Mas Andrew mah seneng! Lah kita di sini yang senut-senut nahan tegang!"
"Lagian muka kamu tegang banget dari tadi, Zev. Udah kayak mau maju ujian skripsi dua kali," tambah Andrew melirik Zevanna.
Zevanna tak bisa menahan senyumnya lagi, hingga akhirnya tawa pelannya pecah mendengar celotehan Andrew dan Tisha.
Di saat yang sama, Ravenzo sedang berjalan bersama Arvin melewati area tersebut. Langkah kakinya sempat tertahan sebentar saat matanya menangkap sosok Zevanna yang sedang tertawa lepas bersama kawan-kawannya—terutama di sebelah Andrew.
Arvin yang berjalan di sampingnya sempat memperhatikan perubahan ekspresi Ravenzo yang mendadak makin dingin dan datar. Namun, Arvin memilih diam dan tidak berkomentar apa-apa.
***
Waktu makan siang pun tiba. Zevanna, Tisha, Andrew, dan Gista memutuskan buat makan bareng di pantry.
Zevanna duduk di samping Tisha, sementara Andrew mengambil posisi duduk di sebelah kanan Zevanna.
"Zevanna, ini buat kamu," kata Andrew sambil menyerahkan sebuah kotak makanan ke arahnya.
Zevanna mengerutkan kening, menatap Andrew dengan pandangan curiga. "Ini beneran buat aku, Mas Andrew? Nanti ada racunnya lagi."
Andrew terkekeh kecil mendengar tuduhan itu. "Nggak ada, Zevanna. Aku kan waktu itu udah bilang sama kamu kalau aku nggak nyelakain kamu. Tapi kamunya aja yang nggak percayaan."
Zevanna terdiam sejenak, sedikit salah tingkah. "Y-ya... Aku nggak tau. Waktu itu orang lagi sakit, terus aku emosi aja pas liat muka Mas Andrew," jawabnya asal.
Andrew tertawa pelan. "Lucu juga kamu ya. Iya, aku tau kamu emosi. Udah dimakan, nanti keburu dingin itu."
Tisha dan Gista yang duduk di depan mereka cuma bisa saling lirik sambil tersenyum-senyum melihat interaksi itu.
Tisha lalu menoleh ke arah Zevanna. "Oh ya, lo tadi pagi mau ceritain soal yang semalem kan?"
Zevanna mengernyitkan dahi. "Hah? Soal semalem apa?"
Tisha berdecak gemas. "Ck, pura-pura lupa lo! Itu, semalem katanya lo disekap sama Mas Bisma dan Mbak Hesa. Gimana cerita lengkapnya?"
"Oh, itu..." Zevanna membenarkan posisi duduknya. "Jadi gini, tadi malem pas beberapa karyawan udah pulang, gue pergi ke storage B buat cari video potongan."
"Video potongan apa?" tanya Gista penasaran.
"Video potongan rekaman Bisma dan Hesa. Tapi pas gue baru buka pintu, tiba-tiba punggung gue dipukul sama seseorang sampai pingsan. Pas sadar, gue udah ada di gudang dan terikat. Pas gue liat, ternyata ada Bisma." Zevanna menarik napas sejenak. "Dia nyuruh gue buat tutup mulut. Terus dia ngaku kalau emang dia yang dorong Kak Zoyya dari lantai enam."
Andrew, Gista, dan Tisha seketika tersentak kaget mendengar penuturan Zevanna.
"Serius lo, Zev?!" potong Tisha dengan mata membelalak.
Zevanna mengangguk pelan. "Iya. Terus tiba-tiba Hesa dateng. Dia yang bantuin Bisma buat nutupin kasus Kak Zoyya selama ini. Mereka berdua bahkan niat mau racunin gue. Gue usahain lepasin ikatan tangan dan ngelawan mereka berdua. Pas gue berhasil keluar dari gudang, untungnya Pak Ravenzo sama Mas Arvin ada di sana. Gue langsung minta bantuan mereka buat nelpon polisi," jelas Zevanna panjang lebar.
Ketiganya terdiam seribu bahasa, merinding mendengar cerita Zevanna yang nyaris kehilangan nyawa di tangan Bisma dan Hesa.
Andrew menatap Zevanna dengan tatapan yang sangat intens. "Yang penting kamu selamat, Zev."
Zevanna menoleh, membalas tatapan Andrew. "Iya... Semalem aku bener-bener deg-degan banget, tapi untungnya aku masih bisa selamat dari mereka berdua."
"Gila sih mereka berdua! Udah bunuh Kak Zoyya, terus sekarang mau bunuh lo juga! Biadab banget, rasanya gue mau bales bunuh mereka deh!" cerocos Tisha emosi.
"Udah lah, Tis. Sekarang mereka berdua udah ketangkep dan bakal dipenjara juga. Kita tinggal tunggu aja proses sidangnya," kata Gista menenangkan, lalu menatap Zevanna lembut. "Zevanna, kamu yang tabah ya. Maaf aku nggak bisa bantu apa-apa kemarin."
Zevanna menggeleng cepat. "Nggak apa-apa, Mbak. Yang penting semua udah selesai."
Gista tersenyum kecil menanggapi kelegaan Zevanna. Setelah perbincangan berat itu, mereka mulai beralih membahas pekerjaan dan suasana kantor pasca kejadian semalam.
Sementara itu, di ruangan CEO, Zevanna, Andrew, Tisha, dan Gista baru saja kembali ke area meja kerja usai makan siang.
Di saat yang bersamaan, Arvin masuk ke dalam ruangan Ravenzo untuk memberikan laporan terbaru.
"Rav," sapa Arvin sambil berjalan mendekat ke meja kerja Ravenzo.
Ravenzo yang sedang menatap dokumen mendongak pelan. "Gimana?"
"Pihak kepolisian baru aja ngabarin. Jadwal buat proses hukum lanjutan kasus Bisma sama Hesa udah keluar," terang Arvin santai.
“Pemeriksaan tambahan dan proses pelimpahan berkas ke kejaksaan bakal mulai jalan minggu depan.”
Ravenzo mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Bagus. Kawal terus sama tim hukum kita, pastikan nggak ada celah buat mereka lolos."
"Aman, bakal gue pantau terus," balas Arvin mantap sambil keluar.
Tak lama setelah Arvin keluar, Ravenzo memanggil Zevanna untuk masuk ke ruangannya sebentar.
Zevanna berjalan mendekat ke meja kerja Ravenzo. "Bapak manggil saya?"
Ravenzo menatap Zevanna tenang. "Saya cuma mau kasih tahu, kasus Kakak kamu sudah mau masuk ke tahap persidangan."
Zevanna seketika terdiam. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Mendengar kalimat itu keluar langsung dari mulut Ravenzo membuat dadanya berdesir hebat—akhirnya proses hukum yang selama ini ia harapkan benar-benar berjalan.
"Saya... apa saya boleh ikut memantau perkembangannya, Pak?" tanya Zevanna pelan, menatap Ravenzo penuh harap.
Ravenzo menyandarkan punggungnya, menatap Zevanna datar namun penuh penekanan. "Semua informasi resmi nanti bakal disampaikan langsung sama pihak yang menangani kasus. Kamu nggak perlu cemas atau nekat cari tahu sendiri lagi seperti kemarin."
Zevanna mengangguk pelan. "Baik, Pak. Terima kasih banyak."
Setelah Ravenzo keluar ruangan untuk mengurus urusan lain, Zevanna masih berdiri mematung selama beberapa saat.
Pikirannya melayang membayangkan perjuangannya selama ini. Usahanya mengejar kebenaran tentang Zoyya yang penuh ancaman dan bahaya, akhirnya membuahkan hasil. Kasus itu kini benar-benar menuju pintu pengadilan.
***
Menjelang sore hari, area kantor perlahan mulai sepi karena beberapa karyawan sudah bersiap-siap untuk pulang. Zevanna berjalan kembali ke mejanya, menatap layar komputer yang masih menyala.
Ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, menyisakan sebuah senyum tipis di bibirnya.
Akhirnya satu hal udah selesai, batinnya lega.
Namun Zevanna tahu betul, ini baru awal. Langkahnya untuk mendapatkan keadilan yang seutuhnya bagi Zoyya baru saja dimulai.
Bersambung…
udah nanye kpn pulang bae sampean iku...hadeeeeehhhhh🤣🤣🤣🤣🤣