"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______
"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______
Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.
Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.
Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.
Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Langkah kaki Arthur terasa teramat berat saat menyusuri lorong Sayap Barat. Pertemuannya dengan Ratu Baxeena baru saja usai. Di dalam ruangan megah Kediaman Utama, sang ibu memberikan petuah demi petuah, meminta Arthur untuk lebih lembut dan bersabar menghadapi Savea.
Ibunya berprasangka bahwa temperamen Savea yang memburuk belakangan ini dipicu oleh tekanan pasca-melahirkan dan rasa kurangnya kasih sayang. Arthur hanya bisa mendengarkan dalam diam, menelan bulat-bulat kepahitan yang membakar tenggorokannya tanpa sanggup membocorkan kebenaran yang sesungguhnya.
Namun, kedamaian se sekejap yang dicari Arthur langsung buyar ketika ia melangkah masuk ke dalam ruang tamu pribadinya.
Di sana, Savea sudah berdiri menyambutnya. Wajah wanita itu pucat dengan kantung mata yang menghitam, matanya menyala-nyala oleh paranoia yang makin merusak akal sehatnya.
"Kau menemui simpananmu lagi, kan?!" jerit Savea tanpa basa-basi, melangkah cepat menghampiri Arthur dengan napas memburu. "Katakan padaku, Arthur! Katakan di mana kau menyembunyikan wanita murahan itu!"
Arthur terdiam. Pria tegap itu menatap Savea dengan pandangan yang teramat dingin, hampa, dan dipenuhi muak yang telah mencapai puncaknya. Tidak ada lagi rasa bersalah, tidak ada lagi toleransi. Topeng kesabaran yang digunakannya selama tiga tahun terakhir hancur berkeping-keping.
"Besok..." suara Arthur menggelegar pelan namun sanggup menghentikan napas Savea seketika. "...aku lebih baik menyerahkan diri ke kepolisian dan mengaku soal kasus tabrakan empat tahun lalu."
Savea membelalakkan mata. Tubuhnya membeku. "A-apa... apa yang kau katakan?"
"Aku benar-benar tidak tahan lagi dengan semua kegilaanmu, Savea. Aku muak!" sergah Arthur dengan nada rendah yang tajam bagaikan sembilu. "Kau ingin tahu kebenarannya? Ya, aku memang menemui kekasihku. Kekasihku... bukan simpanan!"
"Arthur!" jerit Savea histeris, air mata kemarahan mendadak meleleh membasahi pipinya.
"Dan jangan pernah coba-coba menyelidiki siapa dia!" potong Arthur tegas, menunjuk lurus ke wajah Savea. "Karena jika kau semakin nekat menyelidikinya, aku khawatir kau akan makin berantakan. Lihat!!!"
Arthur menghentakkan tangannya, menunjuk kasar ke arah laci meja rias yang ternganga tipis, memperlihatkan beberapa botol obat penenang yang berserakan di dalamnya.
"Kau akan terus mengonsumsi pil-pil gila itu dalam jangka panjang jika kau terus memaksakan diri menjadikan aku milikmu!" desis Arthur penuh penekanan. "Padahal sejak awal, sebelum kita mengikat janji di altar pernikahan, sudah berkali-kali kuberi tahu soal perasaanku! Perasaanku tidak bisa dipaksakan untuk mencintaimu! Tapi kau tidak pernah mau mengerti!"
Napas Savea memburu, dadanya naik turun dengan hebat saat mendengarkan kalimat kejam suaminya.
"Maka terimalah pernikahan ini seperti janji kita sejak awal!" lanjut Arthur tanpa ampun. "Tidak ada sentuhan intim, tidak ada cinta... hanya pernikahan formalitas di atas kertas!"
Tanpa sudi mendengar balasan atau tangisan histeris Savea lagi, Arthur membalikkan badan secara tegas dan melangkah keluar menuju balkon Sayap Barat, membiarkan Savea berlutut di lantai sembari menjerit memanggil namanya.
Udara sore yang sejuk menyapa wajah Arthur saat ia berdiri mengikis tepi pagar pembatas balkon. Pria itu memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam-dalam untuk menetralkan gemuruh amarah dan rasa sesak yang merajut dadanya.
Namun, saat pandangan matanya bergulir turun menatap halaman taman bawah di dekat area dapur khusus pelayan, kening Arthur berkerut tipis.
Di bawah sana, tersembunyi di balik naungan pohon maple yang rindang, tampak sosok Snow yang sedang duduk sendirian di bangku kayu.
Wanita itu terlihat sangat menikmati sepotong kue bolu kecil di tangannya. Namun, secara tak sengaja, kejahatan jemarinya membuat potongan kue terakhir itu terlepas dan jatuh menimpa rumput bersih di bawahnya.
Arthur menahan napas, memperhatikan gerak-gerik wanita yang sangat dicintainya itu.
Snow tampak mematung sejenak menatap potongan kue di atas rumput. Dengan tingkah yang teramat konyol dan menggemaskan, Snow dengan cepat menoleh ke kiri dan ke kanan, memutar kepalanya secara dramatis untuk memastikan tidak ada pelayan lain yang mengawasinya.
Setelah merasa situasi 'aman', dengan gerakan secepat kilat Snow memungut kembali potongan kue tersebut, mengibaskan sedikit debu imajiner, lalu melahapnya santai.
"Belum lima menit..." gumam Snow amat pelan di bawah sana, menyunggingkan senyum polos tanpa dosa.
PFFTH...
Pertahanan ketat seorang Duke Blackwood yang dingin runtuh total dalam satu detik.
Arthur reflek tertawa lepas. Suara tawa renyah yang sangat jarang—bahkan tak pernah terdengar selama bertahun-tahun di Istana Blackwood—keluar begitu saja dari tenggorokannya.
Arthur tertawa begitu gigih hingga sudut matanya berair, mengeluarkan air mata murni akibat tingkah konyol dan menggemaskan dari wanita pujaannya.
Memori masa lalu mendadak menyengat benaknya; Snow memang tidak pernah berubah. Gadis itu selalu memiliki kebiasaan konyol memakan makanan yang jatuh sebelum lima menit sejak mereka masih bersama di rumah kayu dulu.
Tawa nyaring di atas balkon itu rupanya memecah keheningan taman.
Snow yang berada di bawah tersentak kaget. Ia mendongak cepat, dan sepasang mata beningnya langsung terkunci pada sosok Arthur yang sedang tertawa memegang perut di atas balkon.
Kepanikan seketika melanda raut wajah Snow. Merasa kedapatan melakukan aksi 'mencuri' makanan jatuh dengan cara yang tidak elegan, rona merah langsung membakar pipinya.
Tanpa berpikir panjang, Snow reflek mengacungkan jari tengahnya ke arah Arthur di atas balkon, lalu membalikkan badan dan berlari kencang menghilang di balik belokan koridor pelayan.
Arthur semakin tak sanggup menahan tawanya melihat respon menggemaskan dan ucapan jari tengah dari Snow. Dikeluarkannya saputangan dari saku untuk menyapu air mata bahagianya. Di tengah badai dan kegelapan istana ini, Snow adalah satu-satunya pendar cahaya yang sanggup mengembalikan jiwanya.
Namun, pemandangan indah itu adalah neraka mutlak bagi sosok lain.
Di balik tirai jendela kamar yang temaram, Savea berdiri menyaksikan seluruh kejadian tersebut dari kejauhan. Ia melihat bagaimana suaminya—pria yang selama tiga tahun tak pernah tersenyum padanya, pria yang selalu bersikap dingin bagaikan es—tertawa lepas hingga mengeluarkan air mata hanya karena memandangi halaman bawah tempat ibu susu itu berlari.
Mata Savea membelalak lebar, urat-urat di lehernya menegang rapat. Kegilaan dan kecemburuan di dalam darahnya meledak ke tingkat yang paling mematikan.
"Kau tertawa untuk wanita itu, Arthur...?" bisik Savea dengan suara tercekik yang amat mengerikan, jemarinya meremas kain tirai hingga robek. "Kau tertawa... sementara aku mati secara perlahan di sini?!"
Gejolak amarah yang mendidih membakar habis sisa rasa kemanusiaan di dalam diri Savea. Ia meraba dadanya yang naik turun secara liar, merasakan detak jantungnya bergemuruh hebat akibat kombinasi kecemburuan gila dan efek obat penenang yang mulai mengikis kestabilan otaknya.
Pandangannya tertuju lurus pada koridor taman di mana Snow baru saja berlari. Potongan puzzle di kepalanya yang tadinya berantakan mendadak terpasang sempurna dengan cara yang teramat pahit.
"Bukan Ava..." desis Savea dengan senyum miring yang bergetar. "Bukan pengasuh bodoh itu... tapi kau, ibu susu miskin yang bersikap seolah tak berdosa di wilayaku!"
Memori pertemuannya dengan Snow belakangan ini berputar cepat di benaknya. Sikap Snow yang selalu tenang, tatapan matanya yang tak pernah menunjukkan rasa takut sedikit pun di hadapannya, hingga keintiman misterius saat menyusui Ocean—semuanya kini terasa bagaikan ejekan langsung untuk dirinya.
Wanita yang disangkanya hanyalah pelayan penyedia asi biasa ternyata adalah racun utama yang telah menyusup ke jantung kehidupan rumah tangga nya.
Savea berbalik dengan cepat, mengabaikan botol-botol pil yang berserakan di atas karpet. Langkah kakinya menerjang masuk ke dalam ruang kerjanya. Dengan jemari yang gemetaran hebat akibat kejang emosi, ia meraba telepon kabel berlapis emas di atas meja dan menekan sederet nomor pribadi.
"Cari tahu seluruh latar belakang wanita bernama Snow itu!" jerit Savea begitu sambungan telepon terhubung di seberang sana. Suaranya serak, sarat akan tekanan dendam yang tak tertahankan. "Mulai dari keluarga asalnya, di mana dia tinggal, tanpa Syarat! Aku mau semua datanya sudah selasai sebelum matahari terbenam esok hari!"
"Baik, Nyonya Savea," jawab suara pria di seberang dengan nada dingin dan profesional.
"Dan ingat," lanjut Savea dengan mata melotot tajam menatap dinding kosong, "jika ada hal mencurigakan sekecil apa pun... ratakan tempat itu. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan!"
Brak!
Savea membanting gagang telepon hingga retak. Ia menyapu napas beratnya, menyugar rambutnya yang kusut dengan kedua tangan. Rasa terhina sebagai seorang istri memukul harga dirinya hingga hancur berkeping-keping.
Pria yang ia kejar sejak usia tiga belas tahun, pria yang dibelanya bahkan sampai harus menutupi kasus kecelakaan maut Empat tahun lalu, justru memberikan tawa paling bahagianya untuk seorang wanita rendahan di pelataran pelayan.
"Kau bilang kau mau menyerahkan diri ke polisi, Arthur?" gumam Savea dengan tawa pelan yang terdengar makin mengerikan. "Kau pikir aku akan membiarkanmu dipenjara dan bebas dari genggamanku? Tidak akan pernah... Jika kita harus hancur, maka kita akan hancur bersama di dalam istana ini!"
°°°
Sementara itu, di sudut lain Sayap Barat, Snow yang baru saja tiba di ruang istirahat pelayan bersandar pada pintu kayu yang tertutup. Dadanya berdegup amat kencang. Rona merah di pipinya belum sepenuhnya surut akibat kejadian di bawah balkon tadi.
Ia memegangi dadanya, merutuki kebodohannya sendiri yang reflek mengacungkan jari tengah kepada seorang Pangeran Blackwood hanya karena rasa malu yang mendadak. Namun, di balik rasa hangat yang sempat menyentuh hatinya saat mendengar tawa renyah Arthur, insting kewaspadaan Snow kembali menyala.
Tawa Arthur tadi terlalu nyaring, terlalu lepas untuk ukuran sebuah istana yang dipenuhi oleh telinga-telinga musuh.
Snow berjalan pelan menuju cermin kecil di sudut ruangan, memandangi pantulan dirinya. Ia tahu, dengan tingkah konyolnya tadi dan respon bahagia Arthur di atas balkon, posisi penyamarannya kini berada di batas paling rawan.
Savea yang rapuh dan dipenuhi paranoia tidak akan tinggal diam jika sedikit saja mencium kebenaran di balik tawa suaminya.
"Permainan ini makin berbahaya, Arthur..." bisik Snow amat lirih pada pantulan dirinya di cermin, matanya berkilat oleh ketegangan yang makin pekat. "Tapi aku tidak akan mundur. Tidak sebelum Savea membayar semua air mata dan nyawa yang telah ia renggut dariku."