"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 29
Guys, sebelum lanjut, aku boleh curhat dulu nggak bentar hehehe
Begini, karya ini gagal k0ntrak, dit0lak. Alasannya karena katanya mungkin pake AI, padahal nggak sama sekali. Terus katanya, narasi dan tokohnya kurang kemistri. Terus katanya narasinya terlalu berulang-ulang.
Jujur aku sedih banget. Sesorean itu aku nangis banget. Sampe nyesek dada ku rasanya, karena apa ya, karya yang aku kerjain dengan sungguh-sungguh di tolak begitu aja dengan alasan yang yaah sangat nggak aku duga.
Selama 50 lebih karya ku baru kali ini aku ditolak kontrak. Ya udah ya, aku juga gak bisa apa-apa selain pasrah. Akhirnya aku putuskan, buat nggak kontrak karya ini padahal retensinya gede banget man teman hahah 86, dari batas 65. Retensi paling gede sepanjang aku membuat karya.
Tapi temen-temen nggak perlu khawatir, karya ini tetep aku selesaikan. Aku bakalan tulis sampai akhir dan nggak akan ku tamatkan paksa kok. Akan sesuai rencana ku sebelumnya.
Maaf ya kalau aku masih ngeluh, maaf juga kalau kalian ngerasa aku terlalu mendramatisir, hanya saja rasanya tetep sakit hehehe. Apalagi aku sering banget dapat retensi rendah, yang mana akhirnya ga dapet reward apapun.
Ya udah lanjut ya, SIlakan lanjut membaca. Terimakasih sudah menyempatkan untuk melihat keluhanku barang sejenak.
Terimakasih
...****************...
Nayaka tidak peduli dengan tatapan Tono. Dia tahu bahwa tangan kanannya itu kesal sekali terhadapnya atas apa yang baru saja dilakukannya terhadap Rhea.
Selama ini Nayaka hanya menduga, namun sekarang dia bisa mengetahui dengan pasti bahwa Rhea adalah mantan kekasih Oza. Dari data yang disampaikan Anita, Trisna berasal dari sekolah dan universitas yang sama dengan Rhea.
Dari semua clue tersebut, Nayaka menarik sebuah kesimpulan bahwa ketiganya memiliki hubungan yang erat.
Beberapa kali Nayaka juga melihat tatapan Oza yang tidak biasa terhadap Rhea. Tatapan lekat, dan juga rasa kesal yang muncul setiap Rhea berbincang santai dan akrab dengan lawan jenis.
"Dasar brengsek, sudah ninggalin tapi kok masih peduli," gumam Nayaka lirih, dimana Tono bisa mendengarnya jelas.
"Maksudnya?"
Nayaka membuang wajahnya, dia tak menggubris tatapan penuh tanya dari Tono.
"Booooos," ucap Tono lagi. Dia bahkan menarik kursi Nayaka. Hal yang belum pernah dilakukannya selama menjadi asisten pribadi.
Mata Nayaka membelalak, menatap tajam ke arah Tono. Tapi Tono tidak ciut, dia tetap memegang kursi tuannya tersebut. Buset, takut banget sama tatapannya. Tapi aku harus dapat jawaban. Aku nggak mau penasaran, ucap Tono dalam hati. Dia benar-benar melawan ketakutannya.
"Berani kamu ya?"
"B-bukannya berani, cuman Bos, aku juga pengen tahu."
Wajah Tono memelas, dia melepaskan tangannya lalu menundukkan wajahnya.
"Aish dasar anak ini. Haaah. Rhea itu temenan sama wanita yang itu. Dan si cowok itu adalah tunangannya Rhea. Tapi malah nikah sama temennya."
What?
Mata Tono membulat sempurna mendengar penjelasan Nayaka. Tubuhnya limbung dan hampir membentur meja.
"Jadi bukan sekedar pacar, tapi tunangan alias calon suami?"
Tono mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka bahwa hubungan Rhea dan Oza lebih dari sekedar pacar.
"Berarti ucapan Haidar yang katanya melihat Rhea di pantai itu, mungkin dia melihat Rhea pas sama Oza?"
Ton mengingat kembali perkataan Haidar. Haidar sudah lebih dulu mengenal Oza ketimbang Rhea, dan saat dia bercerita tentang Rhea yang pernah dilihatnya, pasti itu bersama Oza karena ekspresi wajah Haidar menunjukkan sesuatu yang lain. Bukan hanya sekedar dia melihat Rhea.
Tono bergegas pergi meninggalkan ruangan Nayaka. Bahkan ia sama sekali tidak pamit kepada tuannya tersebut.
"Mau kemana tuh bocah?"
Nayaka menggelengkan kepalanya pelan, ia hanya menatap ke arah pergi Tono sekilas lalu kembali kepada pekerjaannya. Namun tangan Nayaka yang tengah berada di atas tablet berhenti saat mengingat kembali sebuah hal.
"Apa kiranya yang akan terjadi pada mereka bertiga? Rhea ... ."
Di tempat lain, Tono sudah berada di depan sebuah ruangan. Ia mengetuk pintu, namun tanpa izin Tono langsung masuk begitu saja.
"Pak Tono?"
Haidar bangkit dari kursinya, ia langsung menghampiri Tono yang wajahnya sangat tidak baik.
"Ada apa ini?" batin Haidar. Belum pernah dia melihat wajah Tono seperti ini sebelumnya. Keningnya berkerut dan ia juga mengeratkan gigi atas dan gigi bawahnya.
"Rhea, dimana kamu pernah melihat dia?"
"Eh, Bu Rhea?"
Haidar mengedipkan matanya berkali-kali. Dia berpikir kedatangan Tono karena urusan pekerjaan, ia sudah bersiap jika harus lembur malam ini. Tapi ternyata tidak demikian.
"Iya Rhea, katanya kamu pernah lihat dia kan? Apa kamu melihat dia saat bernama dengan Oza, Kabag Pemasaran?"
"Oh Bu Rhea, iya benar. Saya melihat Bu Rhea waktu itu di pantai. Dan benar, dia bersama Oza waktu itu. Dalam penglihatan saya, Oza seperti sedang melamar. Soalnya Oza berlutut sambil membuka ktak cincin."
Haaah
Tono menghembuskan nafasnya kasar. Ternyata spekulasi Nayaka benar adanya. Tono juga menekan lehernya yang terasa kaku sekarang.
Ada rasa bersalah dalam dirinya karena pernah mengungkit Trisna dan Oza di depan Rhea. Ia pikir mereka hanya sekedar berpacaran, tapi ternyata lebih dari itu.
"Ya udah makasih ya."
Tono meninggalkan ruangan Haidar begitu saja, membuat Haidar kebingungan. Pria itu lantas hanya menggaruk kepalanya yang tidak gata.
Tono berjalan cepat, tempat tujuannya adalah bagian pemasaran. Ia mengepalkan tangannya, perasaan cemas memenuhi dirinya sekarang ini.
Eh?
Namun semua rasa itu hilang saat dia melihat sosok yang sebelumnya tak pernah dipikirkan akan berada di sana.
"Bos?"
Nayaka hanya diam, matanya lurus menatap ke dalam ruangan tertutup dimana hanya ada tiga orang di sana. Sedangkan karyawan bagian pemasaran yang lain, mereka diam mengerjakan pekerjaan mereka tanpa berani bersua meski kepala mereka penuh tanda tanya tentang kedatangan bos besar yang tiba-tiba di bagian mereka.
"Khawatir?"
Satu kata itu berhasil membuat Nayaka mengalihkan wajahnya. Meski hanya beberapa detik karena ia kembali lagi melihat ke dalam sana.
Tono tersenyum tipis. Meski atasannya tersebut cukup dingin dan tak suka ikut campur dengan urusan orang lain, namun dia cukup peduli dengan orang terdekatnya. Tono bisa berkesimpulan demikian karena ia pun mendapat perhatian dari Nayaka, meski tak nampak jelas.
Tono akhirnya juga berada di sana. Dia melihat satu persatu kepada karyawan bagian pemasaran lalu meletakkan telunjuknya di bibir. Tak lupa kedipan satu mata juga diberikan.
Semuanya mengangguk, mereka paham bahwa itu adalah kode untuk mereka agar diam.
Brak!
Tono mendekatkan tubuhnya ke pintu tapi oleh Nayaka dihadang dengan tangan. Nayaka juga menggelengkan kepalanya.
"Tapi?"
"Diam."
Tono mengangguk, dia memundurkan tubuhnya satu langkah dan tetap berada di sana. Meski tak tahu apa yang mereka bicarakan karena cukup pelan, tapi ekspresi Oza dan Trisna cukup bisa dimengerti. Dan hebatnya, Rhea sangat-sangat tenang.
"Bagus."
Ekor mata Tono bisa menangkap seutas senyum dari tuannya, dan telinganya juga bisa mendengar dengan jelas perkataan yang baru saja terlontar.
TBC
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭