Lantunan ayat suci dan isak haru mengiringi momen Nabila Azra Humaira menyematkan mahkota kehormatan di kepala ibunya. Hari itu, ia resmi diwisuda sebagai Hafizhah 30 Juz di Pesantren Nurul Hasanah. Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap.
Sore harinya, kabar kecelakaan tragis orang tuanya membuat Nabila panik dan tergesa-gesa mengendarai motor. Naas, nasib buruk beruntun menimpanya. Nabila mengalami kecelakaan hebat yang merenggut penglihatannya secara permanen, bersamaan dengan kabar duka bahwa kedua orang tuanya telah berpulang.
Satu bulan Nabila mengurung diri dalam duka. Di tengah sunyinya masa keputusasaan itu. Seorang pria datang membawa pengakuan yang menghentakkan jiwanya. Pria itu menyebut dirinya Hafiz Habib Zafar, dan yang paling mengejutkan pengakuannya bahwa ia adalah suami sah Nabila.
Dibalik kegelapan yang menyelimuti hidupnya, Nabila terus bertanya-tanya. Siapakah sosok Hafiz Habib Zafar sebenarnya? Mengapa seorang pria asing tiba-tiba mengaku sebagai suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIRAI YANG TERBUKA
Pagi itu, mentari memancarkan pendar keemasan melalui sela-sela tirai ruang rawat VIP Rumah Sakit Umum Daerah Yogyakarta. Namun, kehangatan cahaya di luar tak mampu mengusir ketegangan yang merayap pekat di dalam ruangan. Hari ini adalah hari penentuan, momen di mana masa depan penglihatan Nabila akan terkuak.
Sebelum Dokter Irfan dan tim medis masuk untuk memulai proses pembukaan perban, Hafiz melangkah ke luar ruangan sejenak. Pria itu menyandarkan punggungnya pada dinding dingin koridor, mengambil ponsel dari saku jasnya. Ada satu sosok penting yang tak boleh absen di momen krusial ini, satu-satunya keluarga kandung yang tersisa dan sangat dicintai oleh Nabila.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Hafiz mendial nomor tersebut. Tak butuh waktu lama hingga suara di ujung telepon menyapa.
"Assalamu'alaikum, Mas Ardhana..." ujar Hafiz, berusaha menahan getar di suaranya.
"Wa'alaikumus salam, Hafiz. Bagaimana keadaan Billa? Ada perkembangan apa pagi ini?" sahut Ardhana di balik telepon, nadanya terdengar sarat akan kecemasan seorang kakak.
"Mas... Kemarin Nabilla oprasi mata dan pagi ini perban mata Billa akan dibuka oleh Dokter Irfan," tutur Hafiz pelan namun mantap. "Saya sangat berharap Mas Ardhana bisa hadir di sini sekarang. Billa hanya memiliki Mas sebagai satu-satunya saudara kandung. Saya ingin saat mata Billa terbuka nanti, jika Allah mengizinkan dia melihat lagi, wajah orang-orang yang paling dia cintai, termasuk Mas Ardhana, adalah yang pertama kali menyambutnya."
Di balik sambungan telepon, hening sejenak. Terdengar hembusan napas berat Ardhana yang emosional. "Saya langsung berangkat sekarang, Fiz. Tolong tunggu saya."
Satu jam setengah kemudian, Ardhana tiba dengan napas memburu. Kemejanya sedikit kusut, mencerminkan betapa tergesa-gesanya ia memacu kendaraan demi sang adik. Begitu memasuki ruangan, pandangannya langsung tertuju pada Nabila yang terbaring anggun di atas ranjang dengan kepala masih terbalut perban putih tebal.
Hafiz menyambut kakak iparnya dengan dekapan hangat dan tepukan pelan di punggung, memberikan kekuatan tak terucap. Sesuai kesepakatan, Ardhana memilih untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia tidak ingin membuat rasa cemas Nabila kian membuncah. Pria itu melangkah perlahan menuju sisi kanan ranjang, berdiri persis di samping Hafiz dengan napas yang tertahan di dada.
Matanya berkaca-kaca menatap adik kecilnya yang telah melewati begitu banyak penderitaan sejak peristiwa naas beberapa bulan yang lalu. Dalam keheningan yang mencekam itu, Ardhana meremas jemarinya sendiri. Air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya ia tahan setengah mati agar tidak menetes. Ya Allah... Sang Pemilik Mata, hamba mohon dengan sangat... kembalikanlah cahaya penglihatan untuk adik hamba. Biarkan dia melihat indahnya dunia ini lagi... ratap Ardhana dalam batinnya yang paling dalam.
Di sisi lain ranjang, mulut Hafiz tak pernah berhenti bergerak. Tanpa suara, bibirnya terus-menerus mengagungkan asma Allah, memanjatkan zikir dan selawat penuh kerendahan hati. Hatinya bersujud, mengetuk pintu langit tanpa henti agar keajaiban mendatangi istrinya. Kyai Yahya dan Umi Salamah berdiri anggun di ujung ranjang bagian kaki, tangan mereka menyatu dalam sikap berdoa yang khusyuk, menyalurkan energi spiritual dan kasih sayang yang membenteng ruangan tersebut.
Dokter Irfan melangkah mendekati ranjang, membawa peralatan medis steril. Ia menatap Nabila lembut, lalu memegang pinggiran perban yang menempel di dahi pasiennya.
"Apakah Ukhty Nabila sudah siap?" tanya Dokter Irfan ramah, memecah kesunyian yang amat mencekam.
Bukannya langsung menjawab pertanyaan sang dokter, jemari Nabila yang gemetar justru bergerak meraba-raba udara di atas selimut, mencari sesuatu dengan raut wajah panik.
Melihat reaksi istrinya, Hafiz dengan sigap meraih dan menyambut jemari dingin itu, menggenggamnya dengan sangat erat dan menyalurkan seluruh kehangatan jiwanya.
"Mas di sini, Billa... Mas selalu di sisimu, Sayang," bisik Hafiz lembut, menundukkan kepala sejajar dengan telinga istrinya.
Nabila menghela napas lega saat merasakan kehangatan genggaman tangan suaminya. Ia mempererat cengkeramannya pada jemari Hafiz, seolah-olah genggaman itulah satu-satunya tali pengikat yang menahannya dari jurang ketakutan.
Nabila mengangguk perlahan. "Saya siap, Dokter..."
Dokter Irfan tersenyum, lalu dengan perlahan mulai menggunting kain kasa dan melepas perekat medis di samping telinga Nabila. Suara gesekan kain yang terlepas dari kulit terdengar sangat jelas di tengah ruangan yang sunyi senyap. Lapisan demi lapisan perban mulai terangkat.
Namun, tepat saat lapisan kasa terakhir yang menutupi kelopak matanya hendak ditarik...
"Tunggu, Dokter!" potong Nabila tiba-tiba dengan nada panik. Dada wanita itu kembang kempis, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa ingin melompat keluar.
Tangan Dokter Irfan terhenti di udara. Ia tertawa kecil, merasa geli sekaligus tersentuh melihat ketegangan luar biasa yang melanda istri sahabatnya itu. "Tentu saja, Ukhty. Ada apa? Silakan."
Hafiz mengusap lembut punggung tangan Nabila yang gemetar. "Ada apa, Billa? Kenapa, Sayang?"
Nabila menelan ludahnya yang terasa kesat. Dengan suara bergetar dan bibir yang agak pucat, ia berbisik ragu, "Mas... seandainya... seandainya Billa tetap tidak bisa melihat..."
Belum sempat Nabila menyelesaikan kalimat kekhawatirannya, suara lembut namun tegas milik Umi Salamah menyela dari sisi ruangan.
"Ssshh... Jangan berkata yang mendahului takdir Allah, Sayang," potong Umi Salamah seraya melangkah mendekat dan mengelus lembut puncak kepala Nabila yang tertutup jilbab instan. "Ingat, Nak... kata-kata adalah doa. Jadi, berucaplah yang baik-baik saja, ya? Yakinkan hatimu. Bismillah... insyaallah Billa bisa melihat lagi."
Kyai Yahya ikut menyambung dengan suara beratnya yang menenangkan, memberikan nasehat berharga. "Iya, Nak Nabila. Kamu insyaallah bisa melihat. Abi dan Umi selalu ikut mendoakanmu di setiap helak napas. Jangan berkata 'seandainya' lagi, ya? Berpikiran buruk dan berandai-andai itu sama saja mendahului takdir Sang Pencipta."
Mendengar petuah tulus dari kedua orang tua suaminya, rasa penyesalan merayap di dada Nabila. Ia menarik napas dalam-dalam, menetapkan hatinya kembali pada ketawakalan yang sempurna.
"Baiklah... Abi, Umi... Bismillah, insyaallah Billa bisa melihat lagi ya Allah..." tutur Nabila pasrah dan ikhlas.
"Aamiin ya Rabbal 'aalamiin..." sahut seluruh orang di ruangan itu secara serentak. Suara gema 'Aamiin' dari Hafiz, Ardhana, Umi, Abi, bahkan tim medis menggetarkan sudut-sudut kamar rawat tersebut.
Nabila mengangguk mantap. "Dokter... sekarang silakan lanjutkan."
"Baiklah, Ukhty. Bismillah..." jawab Dokter Irfan.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan presisi, Dokter Irfan mengangkat kain kasa steril terakhir yang menutupi kedua mata Nabila. Udara ruangan terasa mendingin seketika. Seluruh mata yang hadir tertuju lurus pada paras Nabila yang kini tak lagi tertutup kain perban.
Kelopak mata Nabila masih terpejam rapat. Bulu matanya yang lentik bergetar halus akibat dorongan rasa gugup. Di ruangan itu, tak ada seorang pun yang berani bernapas keras. Ardhana menahan tangisnya dengan meremas bahu Hafiz, sementara Hafiz memejamkan mata sejenak seraya meremas genggaman tangan istrinya, menyalurkan seluruh sisa kekuatannya.
Dokter Irfan mengarahkan sebuah penlight kecil di tangannya, siap melakukan tes respons pupil. Ia kemudian berbisik dengan nada pelan dan sangat tenang.
"Sekarang... perlahan-lahan, bukalah matamu, Ukhty..."
Nabila menarik napas panjang. Kelopak matanya yang sudah berbulan-bulan terkunci rapat dari cahaya dunia, perlahan-lahan mulai bergerak memisah...
(ENG ING ENG... BERSAMBUNG)
Pasti pada penasarankan? Si terus dukung Author ya guys, dan mohon jangan timbun Bab. Agar novel ini terus berlanjut hingga tamat. Dan berikan komentar penyemangatnya. Biar Author nggak melempem oke terimakasih 🙏🏻.
cus lanjut kak author semangat 💪💪💪
lanjut kak