Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Kaki Damian melangkah masuk, sedangkan pintu di belakangnya tertutup pelan oleh angin dan terkunci sendiri. Seolah-olah ada kekuatan yang tidak biasa yang membuat pintu itu tertutup rapat dan terkunci.
Langkah Damian membuat kaki Cindy ikut melangkah mundur mengikuti kemana pria itu akan membawanya sambil ia terus melumat bibir Cindy yang terasa manis di indera pengecap nya.
“Engghh..“ Lenguhan manis Cindy terdengar pasrah, mengalun rendah di antara keheningan koridor rumah kolonial yang remang. Ciuman Damian tidak lagi lambat namun kini ketukan bibirnya terasa lebih menuntut, seolah pria itu sedang menyesap habis setiap jengkal kehangatan yang tersisa di dalam tubuh manusia Cindy.
Langkah kaki Damian yang tak bersuara terus mendesak maju, sementara Cindy terpaksa melangkah mundur dengan ritme yang limbung. Sandal berbulu berbentuk beruang yang dikenakannya sesekali bergesit pelan di atas ubin tegel kuno, menjadi satu-satunya suara konkrit di tengah keheningan mistis malam itu.
Tangan besar Damian yang sedingin es merayap dari pinggang naik ke punggung Cindy, menekan tubuh mungil itu agar tetap melekat sempurna pada dada bidangnya. Ketika punggung Cindy akhirnya membentur daun pintu kamarnya yang setengah terbuka, Damian menjeda ciumannya sejenak. Napas Cindy memburu, memapar dagu pucat Damian dengan uap hangat yang kontras.
“Damian… kita di depan kamarku,” bisik Cindy dengan suara parau. Matanya yang sayu menatap manik biru Damian yang kini tampak sepenuhnya menggelap, menyisakan riak obsesi yang begitu pekat.
Damian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah kurva samar yang sarat akan kepemilikan mutlak. Dengan satu dorongan lembut, ia membawa Cindy masuk ke dalam kamar tidur yang bernuansa hangat dengan lampu tidur kekuningan. Pintu kamar di belakang mereka berayun menutup perlahan, lalu terdengar bunyi klik halus saat selotnya mengunci sendiri, mengurung mereka berdua dari dunia luar.
Damian menuntun Cindy menuju tepi ranjang berseprai katun lembut. Begitu lutut Cindy menyentuh pinggiran kasur, tubuhnya perlahan ambles ke atas kasur empuk, dengan Damian yang ikut merendahkan tubuhnya, mengungkung Cindy di bawah bayangan tubuh besarnya yang tegap.
“Kamar ini… sangat mencerminkan dirimu, Cindy. Hangat dan harum,” gumam Damian rendah. Suara seraknya bergema begitu dekat di ceruk leher Cindy, mengirimkan sensasi merinding yang membuat jemari tangan Cindy refleks meremas bahu kaku pria itu.
“Kamu… harum bunga kenanganya kuat banget malam ini, Damian,” lirih Cindy, kepalanya mendadak terasa sedikit pening namun memabukkan akibat aroma mint dan bunga mati yang menguar pekat dari balik nafas dan kemeja biru dongker Damian. “Apakah tanaman di halaman belakangmu sedang mekar semua?”
Damian terkekeh rendah, suara tawa dari dalam sumur tua yang dingin itu kembali terdengar, namun kali ini terasa begitu int**. Ia mengelus rahang Cindy dengan punggung jarinya yang sekeras porselen. “Bunga-bunga itu selalu mekar lebih pekat saat saya merasakan g*ir*h yang besar, Cindy. Dan malam ini, seluruh isi rumah ini bereaksi pada apa yang saya rasakan kepadamu.”
Cindy menelan ludah, menatap wajah tampan klise Eropa abad ke-19 yang kini berada hanya beberapa sentimeter di atas wajahnya. “Kamu… benar-benar tidak akan meninggalkanku, kan? Janji?”
“Saya sudah bersumpah, mijn liefde,” bisik Damian, wajahnya kembali miring, bersiap untuk mengunci bibir manis Cindy sekali lagi. “Jangankan seminggu, bahkan jika ratusan tahun berlalu dan seluruh manusia di luar sana melupakanmu, saya akan tetap berada di kamar ini. Menjagamu di dalam keabadian yang saya miliki.”
Cindy memejamkan matanya pasrah, membiarkan bibir dingin Damian kembali menjajahnya, menenggelamkan seluruh logika manusianya ke dalam dekapan sang Iblis Belanda yang kini telah mengklaim jiwa dan raganya seutuhnya.
»»»»
Di bawah temaram lampu tidur yang kekuningan, Damian perlahan menjauhkan wajahnya dari bibir Cindy. Jemari panjangnya yang sedingin es bergerak lambat, menanggalkan kemeja rajut luar yang Cindy kenakan hingga terjatuh ke lantai kayu tanpa suara. Kini, yang tersisa hanyalah sebuah dress tidur tipis bertali spaghetti berwarna biru muda yang membungkus tubuh mungil gadis itu.
Jari telunjuk Damian merayap di atas bahu hangat Cindy, mengait tali tipis itu dengan gerakan yang teramat pelan. Ia menatap manik mata rubah Cindy yang tampak sayu, seolah tatapan mata birunya yang dalam sedang meminta izin untuk melangkah lebih jauh ke dalam wilayah yang paling intim.
“Cindy…” bisik Damian, suaranya terdengar lebih parau dan berat dari biasanya. “Apakah kamu benar-benar yakin dengan pria dingin seperti saya?”
Bukannya menjawab dengan ragu, Cindy justru menatap Damian dengan binar asmara yang penuh damba. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang memabukkan. Dengan gerakan perlahan namun pasti, tangan hangat Cindy naik ke bahunya sendiri, lalu menarik simpul kecil pada tali dressnya hingga melorot jatuh ke sisi lengan.
Kulit bahu dan tulang selangka Cindy yang putih bersih, kini tampak merona kemerahan akibat terpaan hawa dingin dari tubuh Damian. Pemandangan itu menjadi jawaban paling mutlak bagi Damian bahwa gadis di bawah kungkungannya ini juga sangat menginginkan dirinya seutuhnya.
Mata biru Damian seketika menggelap sepenuhnya, kehilangan seluruh binar manusianya digantikan oleh kabut obsesi yang pekat. “Kamu begitu mematikan, mijn lifde,” geram Damian rendah.
Tanpa menunggu lebih lama, Damian kembali melumat bibir Cindy dengan intensitas yang jauh lebih menuntut dan panas. Cindy melenguh pasrah, mengalungkan kedua lengannya di leher kokoh Damian sembari membiarkan pria itu menjelajahi setiap jengkal kulit hangatnya yang kontras dengan sentuhan sedingin es tersebut.
“Ahhh… D-Damian… dingin,” rintih Cindy di sela-sela cium*n mereka, tubuhnya menggeliat kecil saat telapak tangan besar Damian merayap di pinggangnya, mengirimkan sensasi menggelitik yang membakar g*ir*hnya.
“Sssttt… rasakan saya, Cindy. Hanya saya,” bisik Damian, memindahkan kecupannya ke sepanjang garis rahang hingga turun ke tulang selangka Cindy, menggigit kecil kulit sensitif di sana hingga membuat Cindy memekik tertahan.
“Nggghhh! Damian… ahhh, leherku… emmhh,” desah Cindy dengan kepala yang mendongak pasrah. Jari-jarinya meremas rambut hitam lebat Damian, tenggelam dalam perpaduan rasa mint yang tajam dan hawa dingin yang justru terasa membakar di dalam dadanya.
Ruangan kamar itu mendadak dipenuhi oleh hawa magis yang pekat. Menguar bersamaan dengan hawa g*ir*h yang ikut bangkit di kedua insan beda alam itu.
Damian melepaskan seluruh pakaian Cindy lalu menatap Cindy Yeng tidur terlentang di bawahnya. Menatap pada keindahan tubuh Cindy yang begitu ia damba. Lekukan tubuh Cindy yang pas membuat Damian terlena.
“Kenapa berhenti sayang? Ku mohon lakukan sesuatu untuk ku…”
tiba-tiba suara Cindy yang halus dan sedang menahan h*sr*t g*ir*h membuat Damian menatap tepat pada mata Cindy yang matanya di penuhi kabut g*ir*h.
“Saya sedang memandangi mahakarya ini Cindy.. kamu sangat indah hingga membuat saya terlena..“
Damian melepaskan kemeja dan celana panjangnya secepat kilat memperlihatkan kej*n-t*n*n nya yang besar, berwarna putih pucat dengan ujungnya sedikitpun berwarna kemerah-hitaman.
Di bawah temaram lampu kamar yang kekuningan, Damian perlahan mensejajarkan tubuhnya di atas tubuh Cindy. Hawa dingin dari kulitnya yang sekeras porselen bersentuhan langsung dengan kulit hangat Cindy yang merona kemerahan, menciptakan sens*si kontras yang membuat Cindy refleks melenguh panjang.
"Ahhh... D-Damian... tubuhmu dingin sekali, nggghhh..." rintih Cindy, jemarinya mencengkeram sprei katun di bawahnya dengan erat saat merasakan bobot tubuh pria itu yang menimpanya.
Damian menunduk, mengunci kedua tangan Cindy di atas kepala dengan jemarinya yang panjang. Mata birunya yang pekat menatap lekat-lekat wajah Cindy yang sudah dipenuhi keringat tipis. "Dingin ini yang akan mengikatmu selamanya dengan saya, Cindy. Rasakan saya... masuk lebih dalam ke hidupmu."
"Nggghhh... i-iya... cepat, Damian... emmmhh, aku gak tahan lagi..." desah Cindy pasrah, matanya terpejam sayu seiring dengan pusing yang memabukkan akibat aroma mint dan bunga kenanga yang semakin mencekik ruangan.
Saat penyatuan itu terjadi, Cindy memekik tertahan, mendongakkan kepalanya dengan napas yang memburu cepat. Rasa dingin yang menjalar di bagian int*mnya terasa begitu asing namun memberikan seng*t*n g*ir*h yang membakar hingga ke ulu hati.
"Ahhhh! D-Damian... nggghhh, s-sakit tapi... ahhh, enak... emmhh!" seru Cindy di sela-sela desahannya, tubuh mungilnya bergetar hebat mengikuti ritme pergerakan Damian yang lambat namun menuntut dan bertenaga.
Damian menggeram rendah, sebuah suara serak yang maskulin dan penuh kepuasan gaib. Ia melepaskan kuncian tangannya, beralih menangkup wajah Cindy dan melum*t bibirnya dengan kasar, menyerap setiap des*h*n dan lenguh*n manis yang keluar dari mulut gadis itu.
"Nggghhh... kamu milik saya, Cindy... seutuhnya," bisik Damian di sela cium*n mereka, gerakannya semakin cepat dan dalam, membuat ranjang kayu kuno itu berderit ritmis di dalam keheningan malam. "Katakan... siapa yang memilikimu sekarang?"
"A-Ahhh! K-Kamu... Damian... nggghhh, emmmhh! Cuma kamu... ahhh, lebih cepat, sayang... ahhh!" rintih Cindy pasrah, menyerahkan seluruh jiwa dan raganya pada sang Iblis Belanda yang terus membawanya melayang dalam g*ir*h yang memabukkan hingga larut malam.