kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.
pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.
setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.
yuk simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sebuah penjelasan
Dikta tak lagi mendengarkan Delara dan langsung meninggalkan perempuan itu yang berteriak memanggil namanya dari belakang, lalu melangkah lebar mengejar sosok Sera yang semakin menjauh di lorong hotel yang panjang dan sepi.
"Sera! Tunggu dulu!" serunya, suaranya memecah keheningan.
Langkah Sera sempat terhenti sesaat, tapi ia tak berbalik.
Justru sebaliknya, ia malah mempercepat langkahnya menuju pintu keluar utama.
Dadanya masih berdebar kencang, bukan karena marah semata, tapi karena rasa sakit yang tiba-tiba menyergap saat melihat kedekatan itu tadi. Bagaimanapun juga, masa lalu Dikta dengan Delara bukan sekadar cerita lama, ia pernah menjadi alasan utama rumah tangga mereka hancur.
Dikta akhirnya berhasil meraih pergelangan tangan Sera tepat di dekat pintu putar. Perlahan perempuan itu berbalik, matanya menatap kosong ke arah lantai, tak berani bertatapan langsung.
"Jangan pergi dulu, Sera. Biar aku jelaskan," mohon Dikta, napasnya sedikit memburu karena berlari. "Itu hanya urusan pekerjaan. Delara datang mewakili klien, kita sedang membahas kontrak peluncuran parfum. Tidak ada yang lain, aku berkata jujur. Tolong percayalah padaku" suaranya rendah dan terasa putus asa.
Sera menarik pelan tangannya dari genggaman Dikta. Senyumnya tipis, penuh kepahitan yang tak bisa disembunyikan.
"Pekerjaan? Pekerjaan sampai harus menyentuh lenganmu begitu? Sampai harus bicara dengan nada yang seolah-olah tidak ada jarak di antara kalian?" tanyanya pelan, namun setiap kata terasa berat. "Aku tidak melarangmu bekerja sama dengannya. Tapi bisakah kau mengerti perasaanku? Setiap kali melihatnya bersamamu, rasanya seperti aku kembali diingatkan pada alasan kenapa kita dulu berakhir berpisah."
Dikta terdiam.
Ia tak bisa membantah.
Ia tahu Delara memang sengaja menciptakan kedekatan itu, dan ia sendiri memang belum mampu menutup jalan bagi perempuan itu untuk terus menyisipkan diri.
"Aku tahu ini sulit... aku tahu aku salah karena belum bisa menegaskan batasan dengannya," akui Dikta dengan tulus. "Tapi percayalah, tidak ada perasaan apa pun di antara kami sekarang. Satu-satunya orang yang aku inginkan adalah kau. Tolong beri aku kesempatan untuk membuktikannya."
Sera menghela napas panjang, menatap lurus ke mata Dikta yang terlihat penuh penyesalan.
"Seraphina, aku mohon. Percayalah padaku. Kali ini aku bersungguh-sungguh. Aku ingin memperbaiki semuanya denganmu..."
...****************...
Hujan di luar masih merintik, menciptakan irama yang bertentangan dengan detak jantung Dikta yang tak menentu.
Di hadapannya, Sera berdiri memunggunginya, pandangan mata tertuju ke jendela kaca yang memantulkan bayangan kota Jakarta yang buram. Bahunya sedikit menegang, tanda yang Dikta hafal betul.
Sera kini sedang berada di ruang tamu apartemen Dikta setelah beberapa kali paksaan laki-laki itu dan akhirnya Sera menyetujuinya.
Bukan tanpa alasan Sera mau ikut Dikta ke apartemennya. Dia hanya ingin semuanya jelas dan jika memang harus berakhir, maka mereka bisa mengakhirinya dengan baik seperti waktu ketukan palu hakim beberapa tahun lalu.
"Sera..." panggil Dikta pelan, melangkah mendekat, namun ia berhenti saat Sera berbalik perlahan. Matanya yang bening kini berkabut, menahan perih yang tak diucapkan.
"Tak perlu penjelasan apapun lagi Dikta" ucap Sera lembut namun tegas. "Aku sudah melihatnya sendiri. Di ballroom tadi... Delara memeluk lenganmu, berbisik di telingamu, dan kau tak menolaknya. Apa lagi yang perlu dijelaskan?"
Dikta menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri agar tidak terdengar emosi. Ia tahu, dari sudut pandang Sera, pemandangan tadi memang terlihat menyakitkan.
"Kau tidak mengerti, Sayang"
"Jangan panggil aku begitu!" potong Sera, suaranya sedikit bergetar. "Rasanya aneh mendengarmu mengucapkan kata itu. Lagipula, kita ini sudah berpisah. Dan jika kau masih dekat dengan Delara... mungkin memang benar, aku yang tak seharusnya kembali ke dalam hidupmu."
Dikta melangkah lebih dekat, kali ini ia tak peduli jika Sera hendak menjauh. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu perempuan itu, memandang lekat-lekat ke dalam manik mata yang dulu pernah menjadi dunianya.
"Dengar aku, Sera. Tolong, dengarkan aku dulu," pintanya dengan nada yang melembut. "Delara datang sebagai perwakilan klien. Pertemuan itu urusan bisnis. Sebenarnya aku datang bersama Gavin dan dua staf lainnya. Tapi mereka masih didalam ruangan. Dan aku kebetulan sedang pamit ke toilet, dan dia muncul lalu tiba-tiba melakukannya. Tapi aku langsung menepisnya. Hanya saja... mungkin dari tempatmu berdiri, gerakanku tak terlihat jelas."
Sera menunduk, menatap lantai marmer yang mengkilap. "Kenapa harus dia? Dari semua orang, kenapa dia yang selalu ada di dekatmu?" suaranya terdengar lemah.
Pertanyaan itu menyayat hati Dikta. Ia mengangkat jari, menyentuh perlahan dagu Sera agar mendongak kembali.
"Aku tak memilihnya. Dia yang datang. Tapi aku ingin kau tahu, tidak ada satu pun ruang di hatiku yang masih untuknya. Semua yang terjadi dulu... perceraian kita, kebohongannya... itu sudah menjadi penyesalan terbesarku seumur hidup."
Suara Dikta bergetar pelan.
"Selama lima tahun ini, aku tidak pernah berhenti menyesal. Tidak pernah berhenti berharap bisa memperbaiki semuanya. Aku bahkan berusaha mencari keberadaanmu dan Ayah, tapi aku tak menemukan kalian dimanapun. Gavin lah saksi betapa hidupku hancur setelah kepergianmu. Dan sekarang... saat kau kembali... saat aku mulai berharap ada jalan untuk kita... aku tak ingin hal buruk di masa lalu menghancurkan apa yang baru saja mulai tumbuh di antara kita."
Sera menatapnya lama, seakan mencari kebenaran di kedalaman matanya. Perlahan, ketegangan di wajahnya mereda, meski ragu masih tertinggal di sana.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu?" tanyanya lirih. "Bagaimana jika dia kembali mengulang kisah kalian dan lebih menyakiti ku... Jujur, aku takkan sanggup Dikta.... Dua tahun pernikahan kita dan kau selalu mengabaikanku. Kau lebih mementingkan dia. Semuanya tentang dia dan aku hanya jadi pajangan didalam rumahmu itu. Rumah yang sebenarnya sejak awal bukanlah untukku...."
Airmata Sera jatuh dipipi tanpa bisa dia cegah dan Sera mengutuk dirinya yang terlihat lemah dihadapan laki-laki ini.
Dikta mengusap pipi Sera dengan lembut.
"Aku tidak bisa memaksamu untuk percaya. Tapi kali ini aku berjanji... aku akan membuktikannya. Aku akan menjaga kepercayaanmu sebaik mungkin. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Delara merusak apa yang sedang kita bangun. Asalkan... asalkan kau juga memberiku kesempatan."
Hening sejenak.
Hanya suara hujan dan napas mereka yang beradu pelan.
Sera menghela napas panjang, lalu tangannya perlahan menyentuh pergelangan tangan Dikta yang masih berada di bahunya.
"Aku tidak menjanjikan apa-apa," ucapnya pelan. "Tapi... aku akan mendengarkan. Dan memberi waktu... untuk membuktikan kata-katamu itu benar."
Dikta tersenyum tipis, penuh rasa syukur. Ia mendekap Sera perlahan, seakan takut ia akan lenyap jika terlalu erat.
Di ruang itu, di antara hujan dan keraguan, mereka mulai menapakkan langkah kembali, pelan-pelan, berusaha melewati dinding masa lalu yang masih menyisakan luka.
Entah siapa yang memulai, bibir keduanya kini menyatu.
Rasa sakit dan cemburu yang sempat membakar Sera meluap entah kemana.
Dikta menahan tengkuk Sera agar dia lebih leluasa menjelajah kedalam mulut perempuan itu.
Dikta melepas bibirnya dan mengusap bibir Sera dengan jempolnya.
"Bibirmu jadi bengkak" bisiknya menggoda.
Sera refleks memukul dada bidang Dikta hingga laki-laki itu tergelak.
"Simpan tenaga mu untuk malam pertama kita sayang...." Dikta mengaduh dan menahan tangan Sera. Lagi laki-laki itu menggodanya hingga membuat pipi Sera merona.
Sera menatap wajah Dikta yang serius.
"Kau tak berniat melakukannya kan?" ada ketakutan didalam suara Sera.
"Menurut mu? Jika laki-laki dan perempuan berada diruangan yang sama apa yang bisa mereka lakukan?" Dikta memainkan kedua alisnya.
Sera berusaha melepaskan belitan lengan Dikta dari badannya.
"Jangan macam-macam Dikta! Kita bukan pasangan suami istri lagi... Belum halal"
Dikta melipat kedua bibirnya. Menahan tawanya yang hampir saja meledak.
Senang sekali rasanya melihat wajah panik Sera.
"Kalau aku tetap melakukannya dan kita menikah setelah itu bagaimana? Apa kau bersedia, sayang?"
"Kau jangan gila Dikta...! Jika kau nekad, maka Ayah akan menghajarmu dengan pentungan!" suara Sera terdengar bergetar.
Dan akhirnya tawa Dikta pecah seketika.
"Jangan tertawa, ini tidak lucu!" ngambek Sera.
"Sini... Mendekatlah... Jangan jauh-jauh... Aku masih rindu..."
Sera menurut dan Dikta langsung memeluknya kembali.
"Mana mungkin aku akan tega menyakitimu Sera... Aku akan secepatnya menemui Ayah untuk meminta restu beliau... Kali ini, aku akan melakukannya sendiri bukan diwakili oleh papa atau mama lagi... Aku akan melamarmu untuk jadi istri ku lagi. Dan kali ini untuk selamanya... Apa kau bersedia Seraphina Anastasya?" ucap Dikta bersungguh-sungguh.
bersambung....
Ditunggu crazy up nya💪