[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Memasuki Dimensi Alfheim
"Tempat suci apa sebenarnya yang bersemayam di dalam lemari dapur milik Tuan Cedric ini?" gumam Elisa parau.
Rasa penasaran yang teramat kuat mendadak bangkit, mengubur perlahan rasa ketakutan psikologis yang sedari tadi merantai kewarasannya. Ia memiringkan kepala manusianya, mencoba memeras logika sehat demi mencerna panorama alam yang mustahil di hadapannya.
"Apakah Tuan Cedric mengetahui perihal rahasia ganjil ini? Apakah dia juga bisa melihat dimensi luar biasa ini dari dapurnya? Ataukah... bos restoranku itu sebenarnya adalah seorang pesulap andal?"
Elisa melepaskan seulas tawa kecil yang canggung seraya mengucek kedua matanya berulang kali menggunakan punggung tangan. Ia sangat berharap bahwa visualisasi hutan raksasa berkilau di hadapannya saat ini tak lebih dari sekadar ilusi optik atau efek kelelahan saraf matanya semata.
Namun, begitu ia kembali membuka mata, pilar-pilar cahaya keemasan yang magis dan jajaran pepohonan purba raksasa itu tetap berdiri kokoh di sana, daun-daun zamrudnya bergoyang pelan ditiup embusan angin alami yang berembus lembut, terasa teramat nyata menyentuh permukaan kulit manusianya.
Sebaris tawa hambar nan getir akhirnya lolos dari belahan bibir Elisa. "Tidak, ini bukan ilusi. Ini nyata. Apakah aku benar-benar sudah gila? Apakah gara-gara gigitan sepasang taring vampir sialan di hutan cemara tadi otakkku mendadak rusak dan berhalusinasi ekstrem?"
Elisa berusaha keras memaksakan otaknya untuk berpikir logis, memilih melemparkan seluruh kesalahan takdir ini pada sosok pemuda bermata safir yang telah lancang menghisap darah di lehernya.
"Jika memang begitu, mari kita buktikan bersama-sama apakah tempat ini benar-benar nyata ataukah aku hanya sedang terjebak di dalam bunga tidur belaka."
Tanpa berpikir panjang lagi, didorong oleh sebaris insting purba tersembunyi yang tidak mampu ia pahami, Elisa memantapkan langkahnya. Ia melangkahkan sepasang kaki telanjangnya melewati batas bingkai kayu lemari dapur Cedric.
Namun, tepat setelah kedua telapak kaki manusianya menapak kokoh di atas hamparan rumput hijau Alfheim yang rasanya sehalus kain beledu, sebuah suara derit kayu di belakang tubuhnya mendadak bergaung memecah keheningan.
Krieeet... Brak!
Daun pintu lemari antik itu mendadak tertutup dengan sendirinya oleh kekuatan tak kasat mata yang masif. Elisa tersentak hebat, bulu kuduknya meremang. Ia bergegas memutar tubuhnya menoleh ke belakang, bermaksud untuk kembali mencengkeram gagang kayu dan membuka pintu lemari tersebut demi jalan pulang.
Namun, detak jantung manusianya seolah dipaksa berhenti berputar seketika saat sepasang matanya menatap apa yang tersisa di belakang punggungnya. Kosong.
Sama sekali tidak ada struktur lemari kayu antik, tidak ada area dapur minimalis milik Tuan Cedric, ataupun dinding rumah modern yang elegan.
Yang terhampar nyata di belakang tubuhnya saat ini hanyalah untaian labirin tanaman merambat berwarna keperakan yang melilit kokoh pada batang pohon purba raksasa. Gerbang gaib yang menghubungkannya dengan dunia manusia fana kini telah melenyap total tanpa menyisakan bekas sedikit pun.
"Tidaaak!"
Jerit Elisa histeris, gelombang kepanikan setengah mati seketika menyerang seluruh isi kepalanya.
Ia berlari kalap ke sana kemari, kedua telapak tangannya meraba-raba udara kosong di titik tempat seharusnya pintu lemari itu berada.
Dengan kuku-kuku manusianya, ia mencakar kulit batang pohon purba dan menyibak dedaunan lebar dengan brutal, berharap bisa menemukan celah serat kayu lemari yang sanggup membawanya pulang ke dunia fana.
"Bagaimana bisa jadi begini?! Aku harus keluar lewat mana?!"
Suara lengkingannya bergetar hebat dilingkupi keputusasaan, menggema konstan di tengah keheningan dimensi Alfheim yang teramat luas.
Di tengah puncak keputusasaannya, Elisa mendadak menyadari satu keanehan fisik; pasokan udara di dalam dimensi ini terasa ratusan kali lipat jauh lebih murni dan menyegarkan, bahkan rasa pening ekstrem yang sedari pagi menghantam pelipis otaknya kini telah menghilang sepenuhnya tanpa sisa.
Namun, rasa tenang biologis itu segera tertutup kembali oleh gelombang ketakutan psikologis yang mencekam akan takdir tersesat di dalam dimensi supranatural yang bukan miliknya.
"Kenapa garis hidupku harus dipenuhi oleh untaian kesialan yang bertubi-tubi seperti ini?! Argh!" teriak Elisa frustrasi, melepaskan seluruh emosi jiwanya.
Suara teriakannya memantul keras di antara pilar-pilar batang pohon raksasa yang seolah-olah sedang ikut menertawakan kemalangan nasib manusianya.
Tubuh Elisa mendadak lemas, ia merosot jatuh terduduk di atas hamparan lumut hijau zamrud yang tebal, jemari tangannya meremas gumpalan dedaunan kering dengan kalut.
"Aku harus bagaimana sekarang? Tamat sudah riwayat hidupku seumur hidup," Elisa berbisik getir, merasa takdir kuno sedang mempermainkan seluruh eksistensi kehidupannya habis-habisan.
Ia mengutuk bahwa seluruh kutukan nasib buruk ini bermula sejak sepasang matanya tidak sengaja bertemu dengan ketiga pangeran kegelapan bersaudara dari keluarga Salvatore itu.
Namun, pada detik berikutnya, seulas senyuman pahit terukir di bibirnya; ia mendadak teringat kembali pada masa lalunya. Ia lupa bahwa dirinya memang sudah dikutuk sial sejak kecil, jauh sebelum ia mengenal monster-monster berjaket kulit itu. Alur kehidupannya hanyalah sebuah proses perpindahan melelahkan dari satu kemalangan menuju kemalangan baru lainnya.
Sementara itu, tepat di atas dahan pohon cemara tertinggi yang posisinya tak akan pernah mampu dijangkau oleh batas penglihatan ras manusia fana, sesosok anak laki-laki kecil misterius bertinta perak tampak kembali memunculkan eksistensi wujudnya.
Ia duduk dengan tenang bersandarkan angin, seolah-olah hukum gravitasi alam fana sama sekali tidak berlaku bagi tubuh gaibnya. Tangan mungilnya kembali membuka lembaran buku usang berselimut sihir abadi, lalu menggoreskan pena peraknya dengan konstan.
"Sang Dewi kini telah resmi terdampar di atas tanah suci milik peradaban bangsa Elf Hutan dan para Dryad. Selamat datang kembali di dimensi kuno Alfheim."
Anak laki-laki misterius itu lantas menutup kembali buku tebalnya dengan sebuah bunyi dentum pelan yang getaran gelombangnya hanya mampu didengar oleh embusan angin malam, sebelum akhirnya tubuh mungilnya kembali menghilang secara misterius, melebur masuk ke dalam bayangan kanopi hutan.
Di bawah sana, Elisa terpaksa memaksakan tubuh manusianya untuk kembali bangkit berdiri. Ia mulai melangkahkan kakinya berjalan menyusuri jalanan setapak hutan meski tanpa arah tujuan yang jelas.
Ia sadar ia tidak bisa hanya diam meratapi nasib buruknya di bawah pohon. Isi pikirannya saat ini dipenuhi oleh bauran visualisasi mengerikan tentang eksistensi binatang buas mistis atau makhluk malam kelam yang mungkin saja saat ini sedang mengincar leher manusianya dari balik rimbunnya semak-semak bercahaya.
Ia terus melangkah maju tanpa menggunakan alas kaki apa pun. Gaun hijau daun elegan pemberian Cedric yang membungkus tubuhnya beberapa kali sempat tersangkut pada ranting-ranting pohon yang tajam, membuat helaian kain sutra mahalnya mulai tercabik di beberapa sisi.
Sepasang kaki mungil manusianya yang polos kini mulai terluka dan lecet di sana-sini akibat gesekan tanah berbatu. Kulit betisnya pun tak luput dari goresan duri tanaman liar, meninggalkan jejak-jejak guratan kemerahan yang terasa teramat perih menyengat.
"Tuhan... kumohon, kali ini saja dalam hidupku, aku ingin pulang. Tolong berikan aku seberkas bantuan, siapa pun itu..."