Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Keesokan paginya, Tiyas terbangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang.
Hari ini adalah hari penting, hari di mana ia akan melangkah menuju Pengadilan Agama untuk menyelesaikan berkas perceraiannya dengan Gio secara resmi.
Saat ia sedang merapikan tempat tidur, ponselnya berdering di atas meja rias.
Nama 'Narendra' tertera di layarnya. Tiyas menghirup napas dalam-dalam sebelum menggeser tombol hijau.
"Iya, Naren?"
"Pagi, Tiyas. Hari ini kita ke Pengadilan Agama. Aku jemput, ya?" suara Naren dari seberang telepon terdengar begitu hangat dan penuh perhatian, seolah menyalurkan energi positif untuk Tiyas.
"I-iya, Naren," jawab Tiyas sedikit gugup namun tersenyum tipis.
"Aku jalan ke rumah kamu sekarang. Jangan buru-buru, bersiap-siaplah dengan tenang."
Setelah menutup telepon, Tiyas segera bersiap-siap menuju ke kamar mandi.
Gemericik air dingin menyegarkan tubuh dan pikirannya, membuang sisa-sisa trauma yang pernah menancap erat dalam hatinya.
Setelah selesai, ia berdiri di depan lemari pakaian. Jemarinya memilih sebuah gaun yang sopan—gaun midi berwarna krem lembut dengan potongan elegan namun sederhana, dipadukan dengan blazer tipis senada.
Ia memoles wajahnya dengan riasan tipis alami, memancarkan kembali aura keanggunan seorang wanita tangguh yang sempat redup.
Tak lama kemudian, suara mobil Narendra yang berhenti di depan pagar rumahnya terdengar. Tiyas mengambil tas tangannya, mengembuskan napas lega, dan melangkah keluar menyambut masa depannya yang baru.
Narendra keluar dari mobil dengan senyum hangat yang langsung menyapu wajahnya begitu melihat Tiyas berjalan mendekat.
Pria itu tampak sangat rapi mengenakan kemeja putih yang digulung rapi hingga siku, memancarkan kesan gagah sekaligus tenang.
Di tangannya, Naren membawa sebuah kotak bekal berwarna pastel yang diserahkannya pada Tiyas.
"Ini bekal untuk kamu makan di jalan," ujar Naren pelan.
"Aku tahu kamu pasti nggak sempat sarapan karena kepikiran sidang hari ini."
Tiyas menerima kotak bekal itu dengan perasaan membuncah. Perhatian-perhatian kecil Naren selalu berhasil menyentuh bagian terdalam hatinya.
"Terima kasih, Naren," ucap Tiyas tulus.
"Sama-sama. Ayo kita berangkat," sahut Naren seraya membukakan pintu mobil untuk Tiyas.
Setelah mobil melaju perlahan membelah jalanan pagi, Tiyas memangku kotak bekal pemberian Naren.
Rasa penasaran membuatnya perlahan melepaskan pengait wadah tersebut.
Di dalam mobil, Tiyas membuka bekal buatan Narendra.
Matanya berbinar melihat kerapian isi di dalamnya.
Naren menata dua potong sandwich roti gandum tebal berisi daging asap, keju lumer, telur mata sapi setengah matang, serta irisan selada dan tomat yang masih sangat segar.
Di sudut wadah lainnya, terdapat potongan buah strawberry dan anggur manis sebagai pencuci mulut, lengkap dengan sebuah botol kecil berisi teh chamomile hangat untuk menenangkan lambung Tiyas.
Aroma gurih roti panggang dan keju langsung menyeruak lembut di dalam kabin mobil.
"Kamu, bikin ini semua sendiri?" tanya Tiyas menoleh pada Naren dengan raut tak percaya.
Naren melirik Tiyas sekilas dari balik kemudi lalu terkekeh pelan.
"Iya. Aku bangun agak pagi buat masak. Dimakan ya, Tiyas, harus habis."
"Kamu sudah sarapan?" tanya Tiyas memperhatikan kotak bekal tebal yang kini terpangku di lututnya.
Narendra menganggukkan kepalanya santai tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan pagi yang mulai padat.
"Sudah kok tadi sebelum berangkat."
Naren melirik sekilas ke arah Tiyas dengan sudut bibir yang terangkat jahil.
"Tapi kalau kamu mau nyuapin aku, aku nggak nolak kok."
Pipi Tiyas langsung memerah padam begitu mendengar ledekan bernada manja itu.
Jantungnya berdesir hebat, membuat jemarinya mendadak kaku saat memegang tepi kotak bekal. Untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya, ia cepat-cepat mengambil sepotong sandwich dan memakannya.
Rasa gurih daging asap dan lembutnya telur bercampur sempurna, menenangkan perutnya yang sejak pagi terasa tegang.
Setelah mengunyah gigitan pertamanya, Tiyas menatap Naren yang kembali fokus pada jalanan di depan.
Mengumpulkan keberanian yang tersisa, Tiyas mengambil potongan sandwich yang sama, lalu mendekatkannya perlahan ke arah mulut Naren.
"Nih, buka mulutnya," bisik Tiyas malu-malu.
Naren melirik ke samping, terkejut melihat kehendak Tiyas yang benar-benar menuruti kata-katanya.
Sebuah senyum kemenangan terukir manis di wajah pria itu sebelum ia menerima suapan dari jemari Tiyas dengan gembira.
"Enak banget," gumam Naren seraya mengunyah, tak bisa menyembunyikan pendar bahagia di matanya.
"Serasa tambah enak kalau disuapin kamu."
Tiyas menunduk dalam-dalam, menahan senyum yang terus-terusan mengembang di bibirnya.
Di dalam kabin mobil yang hangat itu, ketakutan menghadapi sidang perceraian mendadak meluap begitu saja, digantikan oleh rasa nyaman yang tiada tara.
Sesampainya di Pengadilan Agama, Narendra memarkirkan mobilnya dengan rapi.
Pria itu dengan sigap turun lebih dulu dan memutari kap mobil untuk membukakan pintu untuk Tiyas.
Namun, saat pintu terbuka dan Naren mengulurkan tangannya, Tiyas masih bergeming di kursi penumpang.
Tangannya meremas pelan tali tasnya, memandang Naren dengan tatapan dalam.
"Naren, tunggu," panggil Tiyas lirih.
Raut wajah Naren seketika berubah cemas. Pria itu menundukkan badannya, menatap Tiyas dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
"Ada apa, Tiyas? Kamu sakit lagi? Atau, mau apa? Ada yang ketinggalan?"
"S-soal pertanyaan di pantai kemarin," Tiyas menyela dengan suara bergetar pelan.
Naren menghela napas panjang, mengira Tiyas merasa terbebani dan canggung karena desakannya waktu itu.
Ia menyunggingkan senyum menenangkan seraya mengusap lembut punggung tangan Tiyas.
"Tiyas, sudah, jangan bahas itu dulu. Aku bisa menunggunya. Aku nggak mau bikin kamu makin stres di hari sidang kamu ini. Aku,"
"Aku mau menikah sama kamu, Naren," potong Tiyas mantap, menatap lurus ke dalam mata Naren tanpa ada sedikit pun keraguan lagi.
Kalimat sederhana itu meluncur bebas, memotong ucapan Naren dan seketika menghentikan aliran udara di sekitar mereka.
Naren langsung terkejut ketika mendengar perkataan dari Tiyas.
Matanya membelalak lebar, badannya mendadak membeku bak patung.
Selama beberapa detik, pria gagah itu hanya bisa menatap Tiyas dengan mulut sedikit terbuka, seolah otaknya butuh waktu untuk memproses ucapan yang baru saja menghantam dadanya.
"K-kamu, bilang apa tadi?" bisik Naren gagap, suaranya naik satu oktav.
"Aku mau, Naren. Aku mau menikah sama kamu," ulang Tiyas seraya menyunggingkan senyum paling manis yang pernah Naren lihat.
Mata Naren seketika memerah dan berkaca-kaca. Tanpa sadar, dua bulir air mata kebahagiaan menetes melewati pipinya.
Namun, di saat yang bersamaan, sudut bibirnya tertarik lebar hingga menampilkan deretan giginya yang rapi—menciptakan ekspresi yang sangat lucu antara menangis terharu dan tertawa kegirangan.
"Demi apa, Tiyas?! Kamu nggak lagi ngigau, kan?!" seru Naren setengah berteriak, mengusap air matanya dengan lengan kemeja secara ceroboh bak anak kecil yang baru mendapat hadiah impiannya.
Naren langsung meloncat kecil di tempat, melakukan tarian kemenangan singkat yang terkesan sangat konyol untuk pria dewasa bersetelan rapi.
Beberapa orang yang lalu-lalang di halaman pengadilan bahkan sampai menoleh ke arah mereka, tetapi Naren sama sekali tak peduli.
Ia kembali mendekat, menggenggam kedua tangan Tiyas dengan erat, lalu mencium punggung tangan wanita itu berkali-kali dengan tawa renyah yang membuncah dari dadanya.
"Terima kasih, Tiyas! Terima kasih banyak! Aku janji, aku sumpah demi apa pun, aku bakal bikin kamu jadi wanita paling bahagia di dunia!" pekik Naren girang dengan mata berbinar-binar penuh cinta, menghapus total seluruh duka yang pernah bersarang di antara mereka.
Tiyas menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lembut, membiarkan kehangatan rasa bahagia dari luapan emosi Narendra memeluk hatinya.
"Ayo, sekarang kita urus perceraian kita," ajak Tiyas pelan namun mantap, menepuk jemari Naren agar pria itu kembali tenang.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam gedung Pengadilan Agama.
Petugas mengarahkan mereka ke ruang mediasi terpisah yang sudah dijadwalkan.
Suasana lorong gedung yang dingin dan beraroma kertas arsip tua seolah mempertegas takdir yang harus dituntaskan hari itu.
Di ruangan pertama, Tiyas duduk berhadapan langsung dengan Gio.
Keheningan yang menyelimuti kubikel mediasi itu terasa begitu mencekam dan sarat ketegangan.
Gio duduk membungkuk dengan wajah tirus yang kusam.
Matanya yang merah menatap Tiyas penuh amarah, dendam, sekaligus keputusasaan yang tertahan.
Tangannya mengepal erat di atas meja, memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih.
Dulu, pria di depannya ini adalah sosok yang dipuja dan dilayani Tiyas sepenuh hati, namun kini yang tersisa hanyalah seorang pria asing yang asing dan menyedihkan.
"Kamu puas, Tiyas?" desis Gio dengan suara parau yang tertahan, memecah hening dengan nada penuh racun.
"Kamu hancurkan aku sampai sejauh ini cuma buat buktikan kalau kamu bisa berdiri tanpa aku?!"
Tiyas menatap Gio datar. Tidak ada lagi gurat ketakutan, air mata, atau keraguan di matanya.
"Aku tidak menghancurkanmu, Gio. Kamu sendiri yang memilih untuk hancur bersama kesombongan dan pengkhianatanmu. Hari ini aku cuma mengambil kembali kehidupanku yang pernah kamu rampas."
Suara Tiyas begitu dingin dan tenang, sebuah ketenangan yang justru membuat Gio merasa kian kerdil dan terpojok di kursi plastiknya.
Sementara itu di ruang mediasi lainnya, ketegangan dengan tensi berbeda meledak antara Narendra dan Mia.
Mia duduk meremas ujung gaunnya yang mulai kusam.
Wajahnya yang biasa dipoles Riasan mahal kini tampak pucat, sembap, dan berantakan.
Ia memandang Narendra dengan tatapan memohon, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan dari pria yang dulu begitu mendewakannya.
"Naren, tolong, Naren." bisik Mia terisak, suaranya gemetar hebat.
"Aku tahu aku salah. Aku khilaf, Naren! Gio nggak ada apa-apanya dibanding kamu. Kehidupanku sama dia kayak neraka! Tolong beri aku kesempatan kedua... aku janji bakal berubah!"
Narendra duduk tegap di kursi berhadapan. Pandangannya lurus, tajam, dan sama sekali tak tersentuh oleh aura keputusasaan Mia.
Tidak ada lagi sorot pria lembut yang bisa dimanfaatkan; yang ada hanyalah dinding batu tebal yang tak tergoyahkan.
"Kesempatan kedua kamu sudah habis waktu kamu memilih berlutut di tempat tidur pria lain, Mia," potong Narendra dengan suara rendah, dalam, dan teramat dingin.
"Jangan sebut namaku seolah kita masih punya hubungan. Hari ini, garis batas di antara kita dibuat resmi secara hukum. Kamu pilih jalanmu sendiri, jadi nikmati hasilnya."
Mia terperanjat, dadanya naik turun menahan rasa malu dan penyesalan yang membakar jiwa.
Di dua ruangan berbeda itu, takdir sedang menggariskan pembalasan yang mutlak: Tiyas dan Narendra melangkah keluar menuju kebebasan, meninggalkan Gio dan Mia yang terperangkap dalam kehancuran buatan mereka sendiri.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘