Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5.
Elang memasuki gedung Daneswara Crisis Management dengan kemeja biru muda dan map berisi beberapa dokumen pribadinya di tangan seperti yang diminta Keira di hari sebelumnya. Begitu ia berdiri di depan meja, resepsionis yang kemarin sempat berbicara dengannya segera menyambutnya.
“Saudara Elang Mahesa?”
“Iya.”
“Bu Keira sudah memberi instruksi. Silakan langsung ke ruang seleksi di lantai enam,” ujarnya sopan. "Anda bisa ke lift di sebelah sana." sambungnya dengan tangan menunjuk ke satu arah.
Elang mengangguk, membawa langkahnya menuju lift setelah mengucapkan terima kasih, lalu menekan tombol sesuai lantai yang disebutkan resepsionis. Denting lift terdengar saat pintu terbuka di lantai enam. Di hadapannya, berjajar beberapa ruangan dengan pintu tertutup, sesaat kemudian seorang wanita berusia tiga puluhan keluar dari salah satu ruangan tepat ketika pintu lift menutup di belakangnya.
Wanita itu tersenyum, melangkah mendekat dengan satu tangan terulur. “Saya Nadia, kepala tim analisis."
“Elang Mahesa,” sambutnya.
"Ikut saya." ujar Nadia menurunkan tangannya, kemudian membalikkan badan.
Elang mengikuti langkah wanita di depannya memasuki salah satu ruangan. Di dalamnya, terdapat satu meja besar yang dikelilingi beberapa kursi, tumpukan dokumen, laptop dalam keadaan terbuka bersama lembaran laporan di sekelilingnya, dan tiga lemari dokumen di sisi ruangan.
“Bu Keira meminta saya memberikan tes yang biasa kami gunakan untuk calon analis,” ujar Nadia setelah ia duduk di salah satu kursi dan mempersilakan Elang duduk.
Elang mengangguk.
"Kita langsung saja." Nadia mendorong tumpukan dokumen pada Elang. “Cari semua hal yang menurutmu tidak wajar. Jelaskan alasannya dan apa yang perlu diperiksa lebih lanjut. Kamu bisa menggunakan laptop jika diperlukan.”
"Baik." Elang menarik dokumen pertama mendekat.
Ruangan berubah hening. Elang membaca setiap laporan tanpa terburu-buru. Beberapa angka diberi tanda, beberapa lainnya ia pindahkan ke tabel yang dibuat sendiri di laptop. Ia bahkan membuat catatan sendiri dalam selembar kertas.
Empat puluh lima menit berlalu. Elang memindahkan laporan terakhir ke sisi kanan tepat ketika pintu ruangan terbuka diikuti sosok Keira yang melangkah masuk.
“Bagaimana?”
Nadia belum sempat menjawab ketika Elang menjawab lebih cepat. “Sudah selesai.”
Pandangan Keira segera beralih pada Elang, satu tangannya menarik kursi. “Jelaskan.”
Elang menyerahkan catatan yang ia buat dan beberapa lembar laporan yang sudah ia beri tanda pada Keira. “Biaya penyimpanan naik empat belas persen sementara rata-rata stok turun.”
Keira membaca, membiarkan Elang menjelaskan tanpa menyela.
“Ada dua vendor bahan baku menggunakan rekening pembayaran atas nama pihak berbeda.” Halaman berikutnya dibalik. “Tingkat kerusakan barang meningkat hanya untuk pengiriman malam. Tapi tidak ada perubahan prosedur pengemasan.”
Nadia mengambil salinan laporan. Elang melanjutkan tanpa banyak jeda.
“Tiga pembelian darurat juga dilakukan divisi yang sama dengan nominal tepat di bawah batas persetujuan direktur.”
Wajah Keira terangkat. “Kesimpulan?”
“Belum ada,” Elang menjawab lugas, yang membuat dahi Nadia mengernyit tipis.
Elang menunjuk dokumen. “Ini hanya laporan. Saya bisa menunjukkan kejanggalan, tapi belum bisa menyebut siapa yang melakukan pelanggaran sebelum melihat kondisi sebenarnya.”
Keira terdiam beberapa saat. “Apa saja yang kamu butuhkan?”
“Data vendor asli, catatan keluar masuk gudang, akses pembelian, dan pemeriksaan langsung,” jawab Elang tanpa ragu.
Sudut bibir Keira nyaris terangkat. Ia beranjak dari duduknya, menatap wajah Elang beberapa saat sebelum berbalik.
"Ikut aku."
.
.
.
Keira kini duduk di ruang kerjanya, sementara Elang duduk di hadapannya dengan pembatas meja di antara mereka.
“Aku tidak suka membuang waktu, jadi kita langsung ke intinya.”
Elang mengangguk tanpa suara.
“Aku menawarkan kontrak percobaan tiga bulan sebagai analis lapangan junior.” Keira mengambil map dari laci meja. “Evaluasi dilakukan setiap bulan. Kalau kinerjamu buruk, kontrak berhenti. Dan begitu pula sebaliknya.”
Keira mempertahankan wajah datarnya saat menyebutkan nominal gaji dan fasilitas yang akan Elang dapatkan. Menerima CV, memberikan tes, dan menawarkan kontrak dalam waktu sesingkat tidak pernah ia lakukan sejak ia mendirikan Daneswara Crisis Management. Namun, hasil tes Elang cukup membuat ia mengambil keputusan itu, dan ia membutuhkan seseorang yang memiliki pengamatan tajam seperti Elang.
Elang mengangguk setelah mendengarnya. “Saya terima.”
“Bagus.” Keira menyodorkan map yang baru saja ia ambil. “Karena kamu bekerja mulai hari ini.”
Elang menerimanya, kemudian membukanya. Logo perusahaan besar langsung terlihat pada halaman pertama.
ARKATAMA GROUP
Dahi Elang berkerut tipis. Nama itu terasa tidak asing, namun ia tidak ingin berspekulasi terlalu cepat. Keira yang sedang mengambil dokumen lain tidak melihat perubahan kecil pada wajahnya.
“Itu klien pertama kita.”
Elang membalik halaman. Kali ini gerakan tangannya benar-benar berhenti. Ia segera mengenali nama perusahaan yang tertulis di sana, perusahaan tempat ayahnya bekerja selama puluhan tahun. Namun, ayahnya selalu melarang dirinya setiap kali ia ingin melamar kerja di tempat yang sama dengan sang ayah.
ARKATAMA INDUSTRIAL COMPONENTS.
“Ada masalah?” tanya Keira saat menyadari perubahan wajah Elang.
Wajah Elang terangkat cepat, kemudian menggeleng. "Tidak ada."
Dalam benaknya, ia tidak ingin mencampuradukkan pekerjaan dengan masalah pribadi.
Keira mengangguk, lalu menyandarkan punggungnya. "Tugas kita adalah mencari sumber masalah. Tiga bulan terakhir, biaya distribusi Arkatama Industrial Components meningkat hampir dua puluh persen sementara volume pengiriman turun."
"Audit sudah dilakukan dua kali, tapi direktur utama Arkatama Group tidak mempercayai hasil audit tersebut."
Pandangan Elang turun sesaat ke halaman yang masih terbuka di tangannya, nama Damar Arkatama tertera di bagian bawah surat penugasan.
Keira melanjutkan. "Secara resmi, kita melakukan evaluasi efisiensi operasional. Fokus sebenarnya adalah mencari penyebab ketidaksesuaian laporan distribusi."
"Itu artinya, tidak semua orang di pabrik mengetahui tujuan pemeriksaan?" tanya Elang.
Keira mengangguk. "Benar."
"Saya mengerti." Elang menutup map di tangannya.
Keira tersenyum tipis, menegakkan punggungnya, lalu mengulurkan tangan. "Selamat bergabung, Elang Mahesa."
Bibir Elang membentuk sebuah senyuman, tubuhnya refleks berdiri dan segera menyambut tangan wanita di hadapannya. "Terima kasih, Bu Keira."
Tiga bulan. Waktu yang akan Elang gunakan untuk membuktikan diri. Dan entah bagaimana, di hari ia memperoleh pekerjaan setelah sang ayah mengusir dirinya, ia justru mendapatkan perusahaan tempat ayahnya bekerja sebagai klien pertamanya.
Dan ia yakin, ayahnya tidak akan menyukai ini.
.
.
.
Menjelang sore, Bram baru saja keluar dari gudang ketika Robin menghampirinya.
“Pak.”
“Apa?”
“Sudah ada pemberitahuan mengenai tim evaluasi.”
Bram menghentikan langkah.
“Dari kantor pusat?”
“Bukan.” Robin menyerahkan surat elektronik yang telah ia cetak. “Pemeriksaan diserahkan kepada konsultan eksternal. Mereka akan datang besok pagi.”
Bram menerima surat elektronik yang disodorkan, dan tatapannya langsung tertahan pada nama perusahaan yang tercetak jelas di bagian atas.
DANESWARA CRISIS MANAGEMENT.
Di saat bersamaan, ponsel di saku jasnya bergetar. Ia mengeluarkan ponsel, menyentuh layarnya, hanya untuk mendapatkan pesan dari istrinya yang meminta dirinya untuk membujuk putra mereka agar pulang.
"Cih... Bocah itu akan pulang cepat atau lambat. Dia tidak akan bisa bertahan lama di luar sana."
. . . .
. . . .
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????