Di Tanah Soul Martial, hukum rimba adalah segalanya — hanya kekuatan yang menentukan hidup dan mati. Para kultivator menembus langit, para raksasa mengguncang bumi, dan setiap jiwa bermimpi meraih matahari serta bintang.
Namun, takdir berputar.Qin Yuchen, Raja Dewa yang pernah menguasai Alam Atas, jatuh ke jurang kehancuran. Dari abu kehancuran itu, ia bangkit kembali dalam tubuh seorang pemuda biasa di perbatasan barat, membawa rahasia terlarang: Seni Dewa Naga Kekacauan
Dengan seni ilahi itu, ia menapaki jalan berdarah — menantang langit, menundukkan bumi, dan menyingkirkan segala jenius yang berani menghalangi. Perjalanan menuju takhta tertinggi pun dimulai, sebuah kisah tentang kebangkitan yang akan mengguncang seluruh jagat raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Niat Pedang Membelah Langit
Pedang berharga itu berkilauan saat tangan kiri Lu Chen mengayunkannya ringan.
*TRANG!*
Suara nyaring menggema, pedang bergetar memancarkan lingkaran cahaya biru sejernih air danau, menyilaukan mata.
Ekspresi kejam terpancar di wajah Lu Chen. "Qin, baik kultivasi maupun senjatamu, tak ada yang bisa menandingi ku. Apa yang kau punya untuk melawanku? Membunuh sampah sepertimu, satu tebasan saja sudah cukup. Tapi aku tidak akan membiarkanmu mati semudah itu. Aku sudah menyiapkan cara khusus untukmu—akan ku potong semua anggota tubuhmu, kukurung kau dalam guci, jadi 'Babi Manusia'."
Sebelumnya, saat melihat pedang di tangan Lu Chen, mata Qin Yuchen sempat berbinar. Pedang bagus, jelas pusaka kelas atas untuk tahap Pemurnian Tubuh. Ia bahkan sudah berencana merampas pedang itu nanti.
Tapi begitu mendengar kata "Babi Manusia dalam guci"—
Kebencian macam apa yang bisa melahirkan niat sekejam itu?
Niat membunuh yang tajam langsung terpancar dari matanya. "Babi Manusia. Cuma dengan dua kata itu saja, Lu Chen, kau pantas mati."
Wajah Qin Yuchen menggelap. Sebuah pedang pendek muncul di tangannya—Senjata Jiwa Pedang Awan Mengalir yang sebelumnya ia minta dibelikan Tan Jinyu. Kini senjata jiwa itu ia gunakan seolah hanya pedang biasa.
Begitu pedang itu di tangannya, seluruh sikapnya berubah drastis.
Sebuah Niat Pedang yang tajam melesat ke langit.
Ia menggetarkan pedang pendek itu dengan lembut. Cahaya pedang samar berayun ke atas, disusul dengungan pedang yang jernih meledak di udara, menyebarkan aura tajam yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
Apa ini?
Hampir semua yang hadir terkejut. Lalu—setiap pedang panjang di arena itu, baik yang digenggam, dipikul di bahu, atau tergantung di pinggang, mendadak berdengung serentak seolah menerima panggilan misterius, seakan ingin melompat keluar dari sarungnya sendiri.
Niat Pedang!
Ya ampun, itu benar-benar Niat Pedang!
Konsep yang selama ini nyaris hanya ada dalam legenda, kini muncul nyata—dan muncul pada seorang murid luar biasa. Ini peristiwa besar yang belum pernah terjadi di Sekte Pedang Bintang selama lebih dari seribu tahun.
*Wusss, wusss, wusss!*
Di beberapa puncak Sekte Dalam, sosok-sosok tokoh besar melesat ke langit, tatapan mereka serentak tertuju pada aura Niat Pedang yang masih membayangi udara arena.
Memang benar, meski masih tahap paling awal, itu tetap Niat Pedang sejati—dan sekalipun hanya sebagian kecil, pencapaian ini tetap luar biasa. Dari tiga ribu murid dalam dan seratus murid inti elit Sekte Pedang Bintang, hanya tiga orang yang pernah memahami Niat Pedang. Namun ketiganya mencapainya setelah menjadi murid dalam—sementara pencapaian ini justru muncul dari seorang murid luar. Sejarah baru bagi sekte.
Beberapa tokoh besar itu berubah menjadi kilatan cahaya, melesat mendekat.
---
Saat aura Niat Pedang Qin Yuchen memuncak, pedang Azure Edge di tangan Lu Chen ikut bergetar hebat, hampir lepas dari genggamannya.
Di bawah arena, wajah Wei Shan berubah pucat. "Gawat, Niat Pedang! Ini sungguh Niat Pedang! Hentikan! Qin Yuchen, aku perintahkan kau berhenti sekarang juga!"
Namun bersamaan dengan teriakan itu, Pedang Awan Mengalir di tangan Qin Yuchen sudah menebas ringan. Cahaya pedang samar melesat seperti kilat, menyapu tubuh Lu Chen.
*CRAK!*
Sebuah kepala terlempar ke udara.
Satu tebasan, satu kepala terpenggal.
"QIN YUCHEN, KAU MENCARI MATI!"
Raungan dahsyat menggema. Sesosok tubuh melompat ke arena—Wei Shan. Wajahnya yang panjang seperti kuda dipenuhi niat membunuh, matanya menyala amarah.
"Sudah kubilang berhenti, kau tidak dengar?! Beraninya kau membunuh Tuan Muda Lu, hari ini kau akan mati!"
Sebenarnya, kematian Lu Chen memang membuat Wei Shan marah, tapi yang benar-benar membakar amarahnya adalah fakta bahwa perintahnya untuk berhenti diabaikan begitu saja di depan hampir seribu murid luar. Itu tamparan telak di depan umum.
"Bodoh," ucap Qin Yuchen datar, hanya melirik sekilas.
"A-apa katamu barusan?"
"Kau tidak dengar? Kubilang kau idiot. Dalam pertarungan hidup mati, pihak yang kalah memang harus siap dibunuh siapa saja. Kau bilang berhenti, lalu aku harus berhenti? Memangnya kau siapa?"
Lima kata terakhir itu bagai lima tamparan keras ke wajah Wei Shan. Ekspresinya berubah drastis. Di sekte luar, bahkan jenius berperingkat lebih tinggi darinya pun tak berani menginjaknya seperti ini—dan kini si sampah terkenal itu justru menantangnya terang-terangan.
"Bagus, bagus sekali! Kalau aku, Wei Shan, tidak mencabikmu jadi sepuluh ribu keping hari ini, biar namaku kubalik!"
Ia meraung, mengeluarkan seluruh kekuatan Puncak Alam Kesembilan Pemurnian Tubuhnya. Aura dahsyat meledak keluar. Ia menghunus Pedang Pemotong Gunung dari punggungnya.
Namun Qin Yuchen justru mendongak ke langit, mengabaikan serangan yang akan datang. Ia menoleh ke Wasit Eksekutif di sampingnya. "Aku bisa menolak tantangan si idiot ini, kan?"
"Bisa!"
Hampir bersamaan dengan jawaban itu, Qin Yuchen melompat keluar dari arena. Ia menoleh sekilas ke Wei Shan yang masih berdiri kaku di panggung. "Mulai sekarang kau kupanggil Sapi Gila. Sebenarnya 'kotoran mengalir' terlalu menjijikkan untuk dipakai sebagai nama. Jadi, para senior dan junior, panggil saja si wajah kuda idiot ini 'Sapi Gila' mulai hari ini."
"AKAN KUBUNUH KAU!"
Wei Shan meledak murka. Ia melangkah panjang, pedangnya menebas ganas ke arah Qin Yuchen.
"Beraninya kau! Kau melanggar aturan arena!"
Sebuah suara dingin menggema. Sesosok bayangan hitam melesat, muncul tepat di antara Qin Yuchen dan Wei Shan, menyerang dengan telapak tangan.
*BUAGH!*
Wei Shan beserta pedangnya terhuyung mundur. Seorang pelayan berjubah hitam berdiri tegak di depan Qin Yuchen dengan wajah datar—ternyata Wasit Eksekutif yang sama.
"Kau... apa maksudmu?" Wei Shan mundur tiga langkah, ekspresinya berubah.
"Aturan sekte tidak boleh dilanggar," ucap sang pengurus tegas.
Wei Shan hampir ingin mengumpat. Sialan, jadi kalian cuma peduli pada bakat Niat Pedang si Qin ini!
"Pelayan, anak ini baru saja membunuh Tuan Muda Lu. Anda yakin mau melindunginya?"
"Seorang jenius yang sudah memahami Niat Pedang, tentu wajib dilindungi. Keluarga Lu? Heh." Pelayan berjubah hitam itu tertawa sinis dua kali, lalu menoleh ke Qin Yuchen dengan senyum tipis. "Tidak kusangka seorang murid luar bisa memahami Niat Pedang. Tidak buruk, kau hebat."
Kata "Niat Pedang" yang diucapkan langsung oleh Wasit Eksekutif membuat seluruh penonton bersorak riuh. Sebelumnya mereka hanya menduga-duga, masih ragu. Tapi kini, dengan konfirmasi resmi—
Qin Yuchen benar-benar telah memahami Niat Pedang yang nyaris legendaris itu!
Dari tiga puluh ribu murid luar dan tiga ribu murid dalam Sekte Pedang Bintang, hanya tiga orang yang pernah mencapai tingkat itu—dan ketiganya kini menjadi jenius papan atas di antara murid inti elit sekte dalam.
Dengan pencapaian ini, sudah pasti Qin Yuchen akan diterima sebagai murid dalam.
"Pantas saja dia berani menantang Lu Chen. Ternyata dia sudah memahami setengah langkah Niat Pedang!"
"Begitu dia membangkitkan Jiwa Wu dan jadi Prajurit Jiwa, masuk sekte dalam, jalannya sebagai murid inti sudah pasti terbuka. Masa depannya tak terbatas. Lu Chen benar-benar sial—mati konyol, dan Keluarga Lu akan sulit membalas dendam untuk ini."