Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Alvarez berdiri tegak di samping ranjang, berusaha mempertahankan ekspresi datarnya meskipun hatinya sedikit gelagapan dituduh mesum. Pria yang biasanya mampu menegosiasikan proyek triliunan rupiah dengan para konglomerat dunia ini mendadak kehilangan kosa kata di depan seorang mahasiswi yang sedang bergulung selimut.
Alvarez berdehem pelan, memundurkan langkahnya satu jengkal untuk memberikan ruang aman bagi Raelyn.
"Bangun, sudah pagi. Kamu gak ke kampus?" tanya Alvarez, suaranya terdengar kaku seperti membaca teks proklamasi.
"Enggak!" jawab Raelyn ketus.
Ia makin menenggelamkan separuh wajahnya di balik selimut, hanya menyisakan sepasang mata indahnya yang menatap Alvarez dengan pandangan bermusuhan.
Alvarez mengerutkan kening. Pria itu melirik jam tangan pintarnya yang menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit.
"Kamu itu sudah mau lulus. Skripsi kamu kapan mau kamu selesain kalau jam segini masih tidur?"
Mendengar kata 'skripsi' disebut oleh pria yang semalam menjebaknya ke kantor polisi, emosi Raelyn langsung tersulut lagi. Sifat ngeyel dan keras kepalanya langsung keluar tanpa saringan.
"Bukan urusan lo! Udah deh, keluar dari kamar gue!" sentak Raelyn, nadanya naik satu oktav sembari menunjuk pintu kamar dengan dagunya.
Alvarez terdiam. Jika ini adalah bawahannya di kantor yang berani berteriak seperti itu, sudah dipastikan surat pemecatan akan keluar detik itu juga.
Namun, melihat hidung Raelyn yang memerah karena kesal dan rambutnya yang mencuat acak-acakan seperti sarang burung, Alvarez justru merasa gadis di depannya ini tidak menakutkan sama sekali. Malah... terlihat menggemaskan.
Alvarez menghela napas pendek. Dia ingat nasihat sekretaris pribadinya tadi pagi lewat telepon: "Pak, kalau wanita sedang merajuk, jangan dilawan dengan logika. Turunkan ego Bapak, atau Anda akan tidur di sofa seumur hidup."
Maka, sang monster bisnis memutuskan untuk mencoba cara barunya. Cara kaku yang dia pelajari dari artikel internet.
"Aku tidak akan keluar sebelum kamu mandi dan makan," ucap Alvarez datar, namun ada nada tegas yang tidak bisa dibantah.
Pria itu kemudian berbalik, melangkah keluar kamar, namun tidak menutup pintunya dengan rapat.
Dua puluh menit kemudian, Raelyn akhirnya keluar dari kamar dengan langkah diseret. Perutnya yang kelaparan mengalahkan rasa gengsinya. Dia sudah berganti pakaian dengan kaos santai, rambutnya dicepol asal-asalan ke atas.
Begitu sampai di area meja makan bersih, Raelyn menghentikan langkahnya. Dia mengucek matanya, mengira dia masih bermimpi.
Di atas meja makan, sudah tersaji satu porsi besar bubur ayam komplit dengan kerupuk yang melimpah, sate usus, dan sate telur puyuh makanan kaki lima favorit Raelyn yang biasa dia beli setelah pulang balapan subuh.
Dan yang paling mengejutkan, Alvarez sedang berdiri di sana, memegang sebuah lap bersih, sibuk mengelap bagian luar mangkuk bubur dengan sangat teliti seolah sedang membersihkan kristal mahal.
Pria itu masih memakai kemeja kerja yang lengannya sudah digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat tangannya yang kokoh.
"Lo... lo yang beli ini?" tanya Raelyn, suaranya sedikit melunak karena aroma kaldu bubur yang begitu menggoda imannya.
Alvarez menoleh.
"Aku menyuruh supirku membelinya di tempat biasa kamu nongkrong setelah balapan. Kata temanmu... siapa namanya? Tisha? Kamu suka makan ini kalau sedang kesal."
Raelyn terpaku di tempatnya. Jantungnya mendadak melewatkan satu detakan.
Pria kaku ini... sampai menelepon Tisha cuma buat cari tahu makanan kesukaan gue? batin Raelyn.
Ada perasaan hangat yang mendadak menyusup ke hatinya, membuat rasa kesal semalam perlahan menguap tanpa permisi.
"Duduk dan makanlah," ucap Alvarez, menarikkan kursi bar untuk Raelyn.
Raelyn duduk dengan canggung. Dia mengambil sendok, lalu melirik Alvarez yang kini duduk di kursi sebelahnya. Pria itu tidak kembali sibuk dengan iPad kerjanya seperti biasa. Dia justru duduk tegak, melipat kedua tangannya di dada, dan memperhatikan Raelyn yang mulai menyuap bubur.
"Mengenai kejadian semalam..." Alvarez membuka suara, memecah keheningan.
Nada bicaranya terdengar sangat hati-hati, sebuah pemandangan yang sangat langka dari seorang Alvarez Arran Danadiaksa. "Aku minta maaf."
Uhuk!
Raelyn langsung tersedak. Dia terbatuk-batuk kecil, terkejut mendengar kata maaf keluar dari mulut pria sekaku Alvarez.
Dengan sigap, Alvarez langsung menyodorkan segelas air putih hangat yang sudah dia siapkan di dekat mangkuk Raelyn.
Tangan kirinya bergerak refleks mengusap punggung Raelyn dengan lembut untuk meredakan rasa tersedaknya.
"Pelan-pelan," ucap Alvarez pelan, tatapan matanya dipenuhi rasa khawatir yang tulus.
Sentuhan tangan Alvarez di punggungnya, dikombinasikan dengan jarak mereka yang sangat dekat hingga Raelyn bisa mencium aroma parfum maskulin khas suaminya, mendadak memicu reaksi aneh di dalam tubuh Raelyn.
Dada gadis itu bergemuruh hebat. Ada debaran aneh, cepat, dan begitu bising yang belum pernah dia rasakan sebelumnya bahkan saat dia memacu motornya dalam kecepatan seratus kilometer per jam di arena balap.
Raelyn buru-buru meminum airnya, mencoba meredakan kegugupan yang mendadak menyerang sistem sarafnya yang cerdas. Wajahnya mendadak terasa sangat panas.
"G-gue gak apa-apa!" ujar Raelyn gagap, buru-buru menjauhkan punggungnya dari tangan Alvarez.
Dia menunduk dalam-dalam, berpura-pura sangat sibuk mengaduk buburnya agar Alvarez tidak melihat semburat merah di pipinya.
Alvarez menarik kembali tangannya, lalu berdehem pelan untuk mencairkan suasana.
"Aku sengaja menelepon polisi semalam karena aku tidak mau kamu terluka di jalanan. Tapi... aku mengaku salah karena membiarkanmu menunggu terlalu lama di kantor polisi sebagai hukuman. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Raelyn masih menunduk, namun sudut bibirnya tanpa sadar melengkung membentuk senyuman tipis yang manis. Sifat tegas dan pembangkangnya mendadak luntur total oleh perhatian kaku namun tulus dari sang suami.
"I-iya... gue juga minta maaf karena udah ngomong kasar semalam," cicit Raelyn pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara kerupuk yang dia remas ke dalam mangkuk.
Alvarez menatap gadis di sampingnya itu lekat-lekat. Melihat Raelyn yang biasanya garang kini mendadak bersikap malu-malu kucing dengan pipi merona, membuat sudut bibir sang pengusaha dingin itu ikut terangkat. Es di hatinya benar-benar telah mencair sepenuhnya.
"Jadi, setelah makan ini, mau aku bantu merevisi kodingan skripsimu yang eror kemarin?" tawar Alvarez hangat.
Raelyn mendongak, matanya berbinar cerah, mengabaikan gengsinya yang sudah runtuh.
"Serius? Janji ya, jangan galak-galak tapi!"
Alvarez terkekeh pelan sebuah suara tawa rendah yang begitu renyah dan seksi di telinga Raelyn, membuat debaran aneh di dada sang gadis makin menggila tanpa bisa dikendalikan lagi.