Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Apa Fadil baik-baik saja?

Malam semakin larut dalam keheningan yang dingin. Jarum jam dinding menunjukkan pukul 01.00 WIB, namun ketenangan tak kunjung mampir ke pikiran Fadil.

Pria itu berbaring terlentang di atas kasur empuk, sementara lengan kokohnya mendekap erat tubuh Aura yang bersandar di dadanya.

Napas Aura terdengar teratur, meski sesekali tubuh mungil wanita itu tersentak kecil diiringi gumaman halus dan sisa isak tangis yang belum sepenuhnya reda.

Rasa bersalah dan beban kebenaran tentang Keisya telah menguras seluruh tenaga Aura hingga ia akhirnya terlelap karena kelelahan emosional.

Fadil menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Pikirannya berkecamuk hebat, berayun di antara rasa syok atas kebenaran tragedi kelam yang menimpa Keisya dan ketidakpastian nasib mantan tunangannya itu saat ini.

"Keisya... bagaimana kamu bertahan sendirian dengan kondisi seperti itu di luar sana?" batin Fadil seraya memejamkan matanya rapat-rapat.

Rasa amarah yang selama ini mengendap di dadanya berganti menjadi rasa simpati yang mendalam, namun entah dalam wujud cinta romantis, atau rasa kemanusiaan dan kepedulian atas seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Di tengah lamunannya, Aura bergerak gelisah. "Mas... maafkan aku... Kak Keisya..." gumam Aura lirih dengan suara parau yang diselingi desah napas sesenggukan.

Fadil tersentak halus dari lamunannya. Ia pun menunduk, dan menatap wajah istrinya yang polos dalam tidurnya. Dengan penuh kelembutan, Fadil mengusap jejak air mata yang masih tersisa di pipi Aura, lalu jemarinya bergerak membelai rambut panjang yang terurai di bantal.

"Sudah, Aura... Tidurlah," bisik Fadil, lalu mendaratkan kecupan hangat di kening Aura.

Usapan lembut itu perlahan menenangkan gejolak di alam bawah sadar Aura. Hembusan napas wanita itu kembali teratur dan dengkur halusnya kembali terdengar.

Fadil menghela napas dengan cukup panjang, merapatkan selimut yang membalut tubuh mereka berdua, lalu perlahan memejamkan mata dan ikut menyusul sang istri ke alam mimpi.

Beberapa jam kemudian...

Fajar menyingsing di ufuk timur ketika bayang-bayang cahaya remang mulai menerobos masuk lewat celah tirai kamar. Suara adzan Subuh berkumandang merdu dari masjid tak jauh dari kediaman mereka.

Kelopak mata Aura perlahan terbuka. Pandangannya masih agak kabur saat ia berusaha mengumpulkan kesadaran.

Hal pertama yang ia rasakan adalah ruang kosong di sampingnya. Tempat yang semalam diisi oleh dekapan hangat Fadil tapi kini terasa dingin dan tak berpenghuni.

Aura seketika terduduk di atas tempat tidur. Matanya menyapu sekeliling kamar yang berukuran luas itu dan tampak sunyi, juga tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya.

Deg!

Rasa panik bergelayut di hati Aura. Bayangan percakapan berat tadi malam berputar kilat di dalam kepalanya, tentang buku harian, tentang surat Keisya, dan fakta bahwa Keisya melarikan diri bukan karena berniat jahat, melainkan karena tragedi yang memilukan.

Aura meremas seprai kasur dengan jemari yang mendadak gemetar. Wajahnya yang baru bangun tidur seketika memucat.

"Apa... apa Mas Fadil marah padaku?" gumam Aura.

Pikiran-pikiran buruk mulai menggerogoti jiwanya. Aura takut jika kenyataan ini menghancurkan kebahagiaan sejenak yang baru saja mereka raih, atau lebih buruk lagi, Fadil tidak bisa menerima kenyataan bahwa Aura telah menyembunyikan rahasia sebesar itu selama berbulan-bulan.

Tanpa membuang waktu, dan mengabaikan rasa lemas di persendiannya, Aura menyibakkan selimut dan bergegas turun dari tempat tidur.

Dengan langkah yang cukup tenang, ia melangkah menuju kamar mandi.

Usai membasuh wajah dan mengambil air wudhu yang menyejukkan kulitnya, Aura membentangkan sejadah di sudut kamar. Ia bersimpuh pasrah di hadapan Sang Pemilik Takdir, dan melunasi salat Subuh dengan khusyuk.

Di dalam sujudnya yang panjang, air mata mengalir perlahan menyusuri pipinya. Aura menyerahkan segala ketakutan, rasa bersalah, dan kemungkinan paling buruk yang harus dihadapinya setelah rahasia Keisya terkuak sepenuhnya.

Setelah melipat mukena dan meletakkannya kembali di atas meja rias, Aura merapikan penampilannya. Ia mengenakan gaun rumah sederhana berwarna krem lembut dan menata rambutnya dengan rapi.

Aura memutuskan untuk tidak mencari keberadaan Fadil. Apa pun yang dilakukan suaminya saat ini, entah merenung di ruang kerja atau bahkan memutuskan pergi, ia siap menerima konsekuensinya.

Dengan langkah yang tenang, Aura menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.

Kini, aroma minyak wijen dan rempah-rempah yang ditumis mulai memenuhi ruang dapur. Aura mengiris wortel dan daun bawang dengan telaten.

Namun, meskipun gerak tangannya nampak cekatan, tatapan matanya terlihat agak kosong, dan menerawang jauh menembus papan pemotong di hadapannya.

"Neng... Neng Aura?" panggil Mbok Nah yang berdiri di samping kompor seraya memperhatikan majikannya.

Tapi Aura tetap bergeming, pisau di tangannya terus bergerak, tanpa ritme yang jelas.

"Neng...!" panggil Mbok Nah dengan sedikit lebih keras sambil menyentuh lembut bahu Aura.

Aura pun tersentak kaget. Pisau di tangannya terhenti seketika, lalu menoleh ke arah Mbok Nah dengan raut bingung. "Eh, iya Mbok? Ada apa?"

Mbok Nah menghela napas prihatin melihat lingkaran hitam tipis di bawah mata Aura. "Neng mending istirahat saja di kamar, biar Mbok yang melanjutkan masaknya. Muka Neng Aura kelihatan pucat begitu, kayak kurang tidur."

Aura menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan, dan berusaha menutupi kelelahan batinnya. "Gak apa-apa, Mbok. Nyawa Aura cuma belum terkumpul sempurna saja dari tadi bangun tidur," balas Aura dengan nada bercanda.

Mbok Nah pun tertawa pelan mendengarnya, lalu menyenggol lengan Aura geli. "Bisa saja si Neng ini..."

"Ada apa nih? Kok ketawanya gak bagi-bagi?"

Suara bariton yang familier itu mendadak bergema dari arah lorong dapur. Hingga, Aura dan Mbok Nah pun kompak menoleh.

Fadil berdiri di sana dengan penampilan yang sudah rapi. Pria itu sudah mengenakan setelan kemeja kerja berwarna biru gelap yang terpasang sempurna di tubuh tegapnya, lengkap dengan jam tangan eksklusif yang melingkar elegan di pergelangan tangannya.

Tidak ada gurat kepedihan, amarah, ataupun jejak kesedihan dari semalam. Wajah tampannya justru tampak segar, tenang, dan dihiasi oleh ulas senyum hangat seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

"Mas..." panggil Aura pelan. Matanya membelalak kecil, saat menatap suaminya dengan raut tak percaya.

Fadil lalu melangkah mendekat, dan mengabaikan tatapan heran istrinya. Pria itu kemudian menyapu pandangannya ke arah deretan piring hidangan di atas meja dapur.

"Sarapannya sudah siap? Aku mesti ke kantor lebih pagi nih, ada rapat penyesuaian jadwal investasi jam delapan tepat," seru Fadil santai, lalu mengusap puncak kepala Aura sekilas seraya melangkah menuju meja makan utama.

"Oh... s-sudah, Mas. Sarapannya sudah siap," jawab Aura terbata-bata.

Ia pun bergegas merapikan piring Nasi Goreng Spesial dan Sup Sosis hangat ke atas nampan, lalu membawanya ke meja makan disusul oleh Mbok Nah yang menyajikan cangkir teh hangat.

Sementara Fadil langsung duduk di kursi utamanya. Ia menyambut piring yang disodorkan Aura dengan binar mata riang. "Wah, baunya enak sekali. Terima kasih ya, Sayang."

Sayang...?

Panggilan itu kembali meluncur alami dari bibir Fadil, hingga membuat hati Aura makin berdesir hebat oleh rasa bingung yang membakar.

Aura lalu duduk di kursi samping Fadil, dan mencoba menuangkan sedikit nasi goreng ke piringnya sendiri.

Fadil melahap sarapannya dengan sangat bernafsu dan menikmati setiap suapan tanpa beban. Ia sesekali bercerita tentang agenda kerjanya hari ini, lalu menyuruh Aura untuk tidak lupa meminum vitaminnya, dan memperingatkan agar istrinya itu tidak bekerja terlalu keras di rumah.

Sementara itu, Aura mengunyah makanannya dengan lambat. Setiap butir nasi terasa hambar di lidahnya. Perasaannya berkecamuk hebat di balik diamnya.

"Kenapa Mas Fadil bersikap seolah tidak ada hal besar yang terjadi semalam? Apa dia sengaja berpura-pura tenang di hadapanku? Atau... kenyataan tentang Kak Keisya justru membuat hatinya mati rasa?" batin Aura penuh tanya.

Selesai menghabiskan cangkir tehnya hingga kandas, Fadil berdiri seraya menyapu bibirnya dengan serbet kertas. Ia meraih tas kerjanya dari atas kursi kosong lalu pamit seraya memiringkan tubuhnya di hadapan Aura. "Aku berangkat dulu ya, Aura."

Aura menyambut uluran tangan suaminya, dan mencium punggung tangan Fadil dengan takzim. Namun sebelum Aura sempat menegakkan tubuhnya, Fadil meraih dagu mulus Aura dan mendaratkan kecupan hangat yang cukup lama di kening serta bibirnya.

"Jangan melamun terus. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku ya," bisik Fadil, lalu berbalik dan melangkah keluar menuju mobilnya.

Kim, Aura berdiri mematung di ambang pintu, sambil menatap kepergian mobil sedan hitam Fadil yang perlahan menyusuri jalanan kompleks hingga hilang di belokan.

"Apa Mas Fadil baik-baik saja?"

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga Keisya tau diri dan gak jahat ke Aura karena dapat perhatian dari Fadil 😏
Aurora: /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/ suka suka suka...
total 15 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan.. beneran mencari Keysha... jangan sampai kamu menyesal dengan keputusanmu itu.. meskipun Aura bahagia kakaknya ketemu, tapi sebagai seorang istri yg gak dikasih tau dlm mengambil keputusan pasti juga sakit hati😏
Aurora: udah up lagi tuh kak...🤗
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
kalau memang punya niatan untuk mencari Farah, diskusikan dulu dengan Aura ya.. supaya gak salah faham 😊
Aurora: Wkwkwk... sekangen itu juga sama cerita Aura ya 🤭🤗🤗😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya aura plong, sudah gak ada beban.. tinggal menata hatinya lagi, semoga Fadil tetap mempertahankan pernikahannya😊
Aurora: wkwkwkw...😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
katakanlah Aura, kebenaran yang terlalu lama kamu pendam sendiri akan membuat luka di kemudian hari...
Aurora: Betul betul betul...
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
nyamuknya besar banget Farah 🤣🤣🤣
Aurora: lah... kalau sampai di lahap habis dong Aura 🤣🤣🤣😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya bagus dan gak ngebosenin.. authornya juga asyik 🥰 semangat terus kak, jangan patah semangat untuk berkarya🤗 sukses slalu😊
𝐀⃝🥀Weny: sama² kak🥰🥰
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
orang tua kalau ngeliat keluarga anaknya bahagia jadi ikut senang.. gak seperti bayangannya karena sebelumnya Fadil sangat menolak pernikahan itu😊
Aurora: Makasihh kakak..🥰🥰🙏🙏
total 13 replies
sunaryati jarum
Tidak apa-apa Aura kamu bangun kesiangan kan sudah ada Mbok.Semoga bibit unggul Mas Fadil ada yang tumbuh,Ya.
Aurora: hehehe iya ya, semoga...🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Jadi candu dan move on dari Kesya ya Nak Fadil,semoga Kesya menemukan orang yg tulus mencintainya.Dan Ryan si pemerkosa dapat karmanya,siapun yang terlibat saat itu juga mendapat karmanya.Bahagia selalu Aura, Fadil,Kesya.dan Farhan mantan calon suami Aura.
sunaryati jarum
Pagi- pagi sudah sarapan Aura, mantaaap
𝐀⃝🥀Weny
walaah.. aku pikir kalau mau dikasih tiket untuk bulan madu🤦🤣🤣🤣🤣
Aurora: xixixixi... bulan madunya di rumah aja dulu, ydha cape itu juga 🫣🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
kasihan auranya samapi kecapean kyk gitu.. gara² si Fadil, kyk orng kesurupan 🤣🤣
Aurora: hmmm... perdebatan batin yang bergelora tuh 😅😅
total 7 replies
Aurora
wkwkwkk... jangan bikin Fadil malu dong kak..🤣🤣🤣🤭
𝐀⃝🥀Weny
ciiiee... mas Fadil, sudah tau rasanya minta lagi dan lagi 🤣 tadinya aja gak mau sekamar sama aura😜
sunaryati jarum
Akhirnya terjadi penyatuan juga, selamat kalian sudah jadi suami istri seutuhnya
sunaryati jarum
Nah jadilah suami istri sesungguhnya, semoga Kesya entar tidak ingin merebut suami kamu, karena selama ini kalian hidup rukun dan saling menyayangi
sunaryati jarum
Mungkin Fadil makin lama makin nyaman , apalagi Aura sabar,patuh ,dan lebih muda kan
Aurora: yes, betul bangetttt 😅🤗
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
waaah... si Fadil pagi² dh menang banyak lagi tuuuh🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: hadeeech🤦🤣🤣🤣
total 8 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya gol juga🤣🤣🤣
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣
Aurora: wkwkwk bahaya ta🤭🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!