Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM OF HER HEART

SISTEM OF HER HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Cintapertama
Popularitas:959
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Sakti Mengambil Sikap

​Suara lantang Sakti menghentikan seluruh bisik-bisik tamu yang sedang menatap Caremel dengan pandangan sinis.

​Volume suara pria itu tidak berupa sebuah teriakan, namun ketegasannya menggema memantul di dinding-dinding galeri seni. Aura kekuasaan yang memancar dari tubuh tegap Sakti seketika membekukan pergerakan setiap orang di ruangan itu, termasuk barisan jurnalis yang jarinya tertahan di atas tombol rana kamera.

​"Tutup seluruh akses keluar," perintah Sakti mutlak kepada Khan yang berdiri tak jauh di belakangnya. "Pastikan rekaman proyektor ini diamankan sebagai barang bukti."

​Khan mengangguk kaku. Kepala keamanan itu segera memberikan isyarat melalui alat komunikasi di telinganya. Beberapa pria berjas hitam langsung menyebar, menutup pintu utama galeri dan memblokir pergerakan siapa pun.

​Caremel merangkak mundur di atas lantai granit. Gaun emasnya yang mewah kini tampak berantakan. Wajahnya bersimbah keringat dingin. Riasan mahalnya luntur oleh kepanikan yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.

​"Sakti... kumohon," suara Caremel bergetar hebat. Wanita itu mendongak menatap Sakti dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tidak bermaksud melakukannya. Ini semua hanya kecelakaan. Wanita itu yang membuatku kehilangan keseimbangan!"

​Sakti menatap Caremel dengan raut wajah tanpa belas kasihan. Sorot mata di balik kacamata peraknya setajam belati yang siap mengoyak kebohongan.

​"Rekaman itu membuktikan sebaliknya," balas Sakti sangat dingin. "Kau dengan sengaja merusak artefak bersejarah hanya demi memuaskan ego dan kecemburuanmu yang tidak berdasar."

​[Memindai Status Fisiologis Subjek: Caremel.]

​[Tingkat Kepanikan: Maksimal. Detak Jantung: 140 BPM.]

​[Analisis Niat: Subjek akan mencari perlindungan dari figur otoritas tertinggi di ruangan ini.]

​Teks hijau neon dari sistem A.U.R.A melayang di sudut retinaku, memprediksi pergerakan wanita itu dengan akurasi seratus persen.

​Sesuai kalkulasi sistem, Caremel memutar tubuhnya dengan kasar. Ia mengabaikan Sakti dan beralih menatap Ajkaro yang duduk kaku di salah satu kursi kehormatan berbahan beludru di sudut area pameran.

​"Pak Ajkaro! Tolong saya!" jerit Caremel putus asa. "Keluarga kita sudah merencanakan pertunangan! Anda tidak bisa membiarkan media menghancurkan nama baik saya!"

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Ajkaro mengatupkan rahangnya sangat rapat. Pria paruh baya itu menatap berkeliling, melihat ratusan pasang mata dan puluhan lensa kamera yang kini menanti reaksinya.

​Sebagai seorang patriark yang sangat memuja nama baik dan kedudukan sosial, skandal publik ini adalah mimpi terburuknya.

​Ajkaro bangkit dari kursi kehormatannya dengan gerakan lambat namun penuh tekanan. Pria tua itu melangkah mendekati kami, menatap Caremel dengan kilat kekecewaan, lalu beralih menatap Sakti dengan tajam.

​"Sakti," panggil Ajkaro, suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar terlalu jelas oleh mikrofon jurnalis. "Hentikan tontonan ini sekarang juga."

​Sakti tidak mundur satu sentimeter pun. "Ini bukan tontonan, Ayah. Ini adalah konsekuensi hukum."

​"Caremel adalah calon tunangan pilihan keluarga kita," desis Ajkaro, menekankan setiap suku kata dengan ancaman. "Jika dia hancur, reputasi aliansi bisnis kita dengan keluarganya juga akan ikut terseret. Selesaikan masalah ini secara tertutup. Bayar ganti rugi mahkota itu dan tutup mulut pihak galeri."

​Aku berdiri diam di samping Sakti, mendengarkan negosiasi kotor itu dengan ekspresi sedingin es.

​Bagi Ajkaro, kebenaran dan keadilan tidak memiliki nilai. Semuanya bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan demi mempertahankan sebuah strata sosial.

​[Memindai Interaksi Subjek Ajkaro dan Subjek Sakti.]

​[Peringatan: Terdeteksi Benturan Otoritas Tingkat Tinggi.]

​Sakti menatap ayahnya dalam keheningan yang mencekam. Ketegangan di antara dua pemimpin beda generasi itu membuat udara di sekitar kami terasa sangat menekan, seolah oksigen disedot habis dari dalam ruangan.

​Perlahan, Sakti menggelengkan kepalanya. Sebuah senyum miring yang sangat meremehkan terbentuk di bibirnya.

​"Tidak ada yang akan ditutupi hari ini," ucap Sakti lantang, mengabaikan peringatan ayahnya secara mutlak.

​Ajkaro melebarkan matanya. Wajah pria tua itu memerah menahan murka akibat penolakan terbuka dari putranya sendiri.

​Sakti melangkah maju, melewati ayahnya, dan berdiri tepat di hadapan kerumunan jurnalis yang sejak tadi menunggu pernyataan resmi.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​"Hadirin sekalian, dan para perwakilan media yang hadir malam ini," suara Sakti menggelegar, mengambil alih kendali seluruh acara pameran kebudayaan.

​Cahaya kilatan blitz kamera meledak beruntun. Puluhan alat perekam diacungkan ke arahnya.

​"Saya mewakili Vanguard Corp mengklarifikasi insiden yang baru saja terjadi," lanjut Sakti dengan ketegasan seorang predator puncak. "Kami tidak memiliki keterlibatan apa pun dalam tindakan perusakan yang dilakukan oleh Nona Caremel."

​Caremel menjerit tertahan dari arah belakang. Wanita itu menangis histeris saat dua orang petugas keamanan galeri mulai memegang kedua lengannya untuk mengamankannya.

​"Dan untuk meluruskan rumor yang beredar di kalangan bisnis selama beberapa bulan terakhir," Sakti menghentikan kalimatnya sejenak.

​Pria itu menatap lurus ke arah lensa kamera utama, memastikan seluruh elit bisnis di negara ini mendengar keputusannya.

​"Saya, Sakti, Chief Executive Officer Vanguard Corp, secara resmi membatalkan seluruh rencana pertunangan dengan Nona Caremel."

​Pernyataan itu meledak seperti sebuah bom di tengah ruangan.

​Bisik-bisik seketika berubah menjadi keributan. Para tamu saling bertukar pandang dengan wajah penuh keterkejutan. Pemutusan aliansi antara dua keluarga raksasa secara sepihak dan di depan publik adalah sebuah skandal bersejarah.

​"Sakti! Apa yang kau lakukan?!" bentak Ajkaro dari belakang. Suara pria tua itu bergetar oleh amarah yang tak lagi bisa dibendung.

​Sakti sama sekali tidak memedulikan teriakan ayahnya. Ia terus berbicara di hadapan publik, menghancurkan seluruh rencana aliansi palsu yang dipaksakan kepadanya.

​"Keluarga saya tidak akan pernah mengikat hubungan dengan seseorang yang menggunakan fitnah murahan dan perusakan aset sejarah hanya untuk menyerang orang lain," tegas Sakti tanpa ampun. "Mulai detik ini, segala bentuk kerja sama personal dan korporat antara kami dan keluarga Caremel resmi dihentikan."

​[Analisis Dampak Sosial: Penghancuran Reputasi Subjek Caremel Mencapai 100%.]

​[Status Aliansi Bisnis: Terputus Permanen.]

​Aku menatap punggung Sakti dengan napas tertahan. Pria ini baru saja membakar jembatan kekuasaan yang telah dibangun ayahnya selama bertahun-tahun. Ia mempertaruhkan stabilitas politik perusahaannya tanpa ragu sedikit pun.

​Dan ia melakukan itu semua hanya untuk membelaku.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Sakti berbalik badan. Ia meninggalkan kerumunan jurnalis yang masih meneriakkan berbagai pertanyaan kepadanya.

​Langkah kaki pria itu mantap saat ia berjalan kembali ke arahku.

​Ajkaro berusaha mencegatnya, namun Khan dan beberapa pengawal pribadi Sakti dengan sangat halus membentuk barikade kecil, membiarkan atasan mereka melintas tanpa hambatan.

​Sakti berhenti tepat di depanku.

​Napas pria itu memburu pelan. Mata elangnya di balik kacamata perak tidak lagi memancarkan kedinginan atau kekejaman. Yang ada hanyalah sebuah tekad bulat yang tidak bisa digoyahkan oleh kekuatan apa pun di dunia ini.

​Sakti mengangkat tangan kanannya.

​Di hadapan ratusan pasang mata, di bawah sorotan lampu kristal dan kilatan kamera, pria itu meraih telapak tanganku.

​Genggamannya sangat kuat, menyalurkan kehangatan yang langsung menembus pori-pori kulitku. Ia menautkan jemarinya di sela-sela jemariku, mengunciku dalam sebuah pegangan yang sangat posesif dan protektif.

​[Peringatan Inang: Lonjakan Adrenalin Terdeteksi.]

​[Detak Jantung: 130 BPM. Suhu Tubuh: Meningkat Drastis.]

​Aku berusaha menekan seluruh peringatan sistem di kepalaku. Tanganku sedikit bergetar, namun Sakti menahannya, memberikan dukungan mutlak melalui sentuhannya.

​Sakti menarikku melangkah maju, memaksaku berdiri berdampingan dengannya menghadap ke arah seluruh tamu undangan.

​"Pak Sakti," bisikku pelan, mencoba mengingatkannya akan batas profesionalitas di tempat umum ini. "Anda tidak perlu bertindak sejauh ini."

​Sakti tidak menoleh kepadaku. Ia terus menatap ke depan, menantang setiap orang yang berani memandang remeh ke arah kami.

​"Aku sudah selesai bersembunyi di balik aturan kaku mereka, Tera," bisik Sakti, suaranya hanya bisa didengar oleh telingaku. "Malam ini, aku akan memastikan tidak ada satu pun orang yang berani menyentuhmu lagi."

​Sakti mengangkat tangan kami yang saling menggenggam erat ke udara.

​Keributan di dalam ruangan itu mendadak hening seketika. Seluruh kamera kembali diarahkan ke posisi kami.

​"Wanita di sebelah saya ini adalah Tera," suara Sakti memecah keheningan absolut. Nada baritonnya dipenuhi oleh kebanggaan yang sangat nyata.

​"Dia bukan sekadar asisten. Dia adalah penasihat terbaik yang pernah dimiliki perusahaan saya. Dia menyelamatkan Vanguard Corp dari berbagai kehancuran dengan ketajaman logikanya."

​Sakti menoleh kepadaku. Ia menatap mataku dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan seluruh sisa logikaku.

​"Dan lebih dari itu," lanjut Sakti, mengembalikan pandangannya kepada publik. "Dia adalah satu-satunya wanita yang saya inginkan. Akulah yang memilihnya. Akulah yang mencintainya."

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Kata 'mencintainya' berdengung keras di dalam telingaku, menghancurkan seluruh algoritma dan analisis data yang sedang berjalan di dalam sistem A.U.R.A.

​Pernyataan cinta secara publik dari seorang CEO paling berkuasa di negara ini meledakkan ruangan itu dengan hiruk-pikuk yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

​Lampu blitz kamera menyambar liar tanpa henti. Suara decak kagum, ketidakpercayaan, dan pertanyaan jurnalis bersahutan memenuhi udara.

​Aku membeku di tempatku. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari sisi wajah Sakti. Pria dingin ini baru saja memberikan seluruh hatinya di atas panggung paling terbuka, menghancurkan seluruh dinding pertahanan yang selalu ia bangun.

​Tanganku meremas genggamannya dengan erat, memberikan jawaban tanpa kata bahwa aku menerima perasaannya.

​Namun, kebahagiaan itu harus berhadapan dengan sebuah realitas yang sangat brutal.

​[Peringatan Kritis! Tingkat Ancaman: Maksimal.]

​[Arah Ancaman: Kuadran Belakang. Subjek Ajkaro.]

​Aku menoleh ke arah sudut ruangan.

​Ajkaro berdiri dari kursi kehormatannya dengan raut murka, menatapku dengan penolakan yang sangat tajam.

1
Lilik Sunaryo
TERA OH TERA
TERA itu ......

T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!