Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Nada

Aku sampai di rumah Nada. Yah, liburan kali ini aku ingin menginap di rumah Nada barang dua hari saja. Sudah cukup lama kami tidak berjumpa, jadi rasanya sayang kalau liburan ini tidak kami manfaatkan untuk menghabiskan waktu bersama.

“Bestieee...” teriak Nada dari teras rumah begitu melihatku turun dari kendaraan. Sebelumnya memang sudah kukabari kalau aku hampir sampai.

“Assalamu’alaikum, teman,” sapaku sambil tersenyum.

“Wa’alaikumussalam, calon pengantin!” jawabnya heboh, lalu langsung memelukku sambil terkekeh.

Otomatis langsung kucubit pinggangnya.

“Aah!” jeritnya seketika sambil melepaskan pelukannya.

Aku hanya terkekeh. Aku memang sudah banyak bercerita kepada Nada tentang Ustadz Alam. Termasuk tentang perasaanku yang akhir-akhir ini semakin sulit kusembunyikan.

“Masuk, sayang,” ajaknya sambil menarik tanganku.

Nada kemudian membantu membawakan barang bawaanku yang sebenarnya tidak seberapa.

“Wah, ini pasti rendang masakan ibu!” serunya begitu melihat plastik berisi kotak makanan. Bahkan sebelum membukanya, dia sudah mencium-cium aromanya.

Aku tertawa kecil.

“Baru lihat plastiknya saja sudah tahu.”

“Namanya juga sahabat. Hidungku sudah terlatih mencium aroma rendang,” jawabnya percaya diri.

Aku kembali terkekeh.

“Sudah, daripada cuma dicium, mending dimakan.”

“Nah, itu baru benar. Saatnya makan siang sekarang!” katanya penuh semangat.

Nada memang anak tunggal. Kebetulan orang tuanya sedang pergi dinas, sehingga rumahnya terasa cukup sepi. Hanya ada Nada dan seorang pembantu di rumah itu.

Aku kemudian naik ke kamar Nada untuk meletakkan tasku. Sementara itu, Nada langsung sibuk menyiapkan makan siang.

Dari lantai atas, sesekali kudengar suaranya yang masih saja berkomentar tentang rendang kiriman ibuku.

Aku tersenyum sendiri.

Rasanya menyenangkan bisa kembali seperti ini.

Tidak ada jadwal halaqah. Tidak ada rapat. Tidak ada urusan pondok yang harus segera diselesaikan.

Hanya ada aku, Nada, dan dua hari liburan yang sepertinya akan dipenuhi cerita.

Dan entah kenapa, aku sudah bisa membayangkan satu topik yang pasti tidak akan dilewatkan Nada.

Ustadz Alam.

Aku turun dari lantai dua menuju meja makan. Makanan sudah tersaji lengkap. Ada nasi liwet, ayam bakar madu, sayur asam, tahu tempe, dan tentu saja rendang yang tadi kubawa dari rumah.

Melihat semua menu itu, perutku langsung terasa meronta-ronta.

“Yuk, makan! Aku tuh senang banget kamu ke sini. Kalau nggak ada kamu, aku bakal kesepian. Makan sendiri, jajan sendiri, main sendirian,” ujar Nada sambil memasang mimik wajah sedih yang dibuat-buat.

Aku hanya terkekeh.

“Lebay banget sih.”

“Biar kamu kasihan.”

“Bukannya kasihan, aku malah pengen ketawa.”

“Dasar!”

Kami pun mulai makan dengan lahap. Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan di antara kami. Hanya terdengar suara denting sendok dan piring yang bersahutan. Sesekali aku dan Nada saling melirik, kemudian tersenyum sendiri karena sama-sama menikmati makanan.

Setelah makan, kami membawa piring dan peralatan makan ke dapur. Kami mencuci piring bersama, sementara Nada sesekali bersenandung kecil. Suasana rumah yang sepi justru terasa hangat dengan kehadiran kami berdua.

“Oh ya,” kata Nada tiba-tiba sambil membilas piring. “Nanti sore jalan-jalan ke mal, yuk. Aku ingin belanja nih, mumpung ada kamu.”

“Oke,” jawabku singkat.

Nada langsung tersenyum puas.

“Tapi...” Ia tiba-tiba menoleh kepadaku.

“Tapi apa?”

“Kamu utang cerita sama aku, lho.”

Aku mengernyitkan dahi.

“Cerita apa?” tanyaku. Aku benar-benar tidak merasa pernah menjanjikan sesuatu kepadanya.

Nada menatapku dengan senyum jahil.

“Tentang Ustadz Alam.”

Tangannya kemudian menyenggol lenganku pelan.

“Ih, aku nggak pernah janjiin kok. Lagi pula aku kan sudah cerita,” jawabku sekenanya.

“Yang dulu beda.”

“Bedanya apa?”

“Banyak!”

Aku hanya menggeleng sambil melanjutkan mencuci piring.

Nada ternyata belum menyerah.

“Pokoknya malam ini kamu harus cerita semuanya.”

“Semuanya apanya?”

“Ya... semuanya tentang Ustadz Alam.”

Nada menekankan kata terakhir sambil menyenggol bahuku lagi.

Aku tertawa kecil.

“Kenapa sih kamu penasaran banget?”

Nada berhenti mencuci piring, lalu menatapku dengan ekspresi penuh arti.

“Karena dari cara kamu cerita, aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan.”

Tanganku yang sedang membilas piring tiba-tiba terhenti.

Aku menoleh kepadanya.

“Apaan?”

Nada tersenyum lebar.

“Nah, kan. Baru ditanya sedikit saja sudah panik.”

“Aku nggak panik.”

“Iya, iya. Nanti malam kita lihat.”

Aku menghela napas panjang.

Sepertinya dua hari menginap di rumah Nada tidak akan sesantai yang kubayangkan.

Apalagi kalau malam nanti aku benar-benar harus menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Ustadz Alam.

1
ARDICK
semangat KA 👍 sukses selalu saling favorit 👍
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!