Indonesia
NovelToon NovelToon
Where Your Heart Stays

Where Your Heart Stays

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Kiara L

Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.

Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Pukul tujuh pagi tepat, Han Ji-eun sudah berdiri di ambang pintu apartemennya. Ia mengenakan mantel panjang berwarna krem lembut dengan rambut yang dibiarkan tergerai alami. Satu tangannya menenggang tas kecil, sementara jemari lainnya memegang ponsel yang mendadak bergetar.

Satu pesan singkat masuk,

Aku sudah di bawah.

Ji-eun mengembuskan napas pelan. Tak perlu lagi ia menanyakan siapa pengirimnya. Seo Tae-jun.

Semalam, pria itu bersikeras hendak mengantarnya ke Busan karena nenek Ji-eun harus menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit. Awalnya Ji-eun menolak tegas, meyakinkan bahwa ia sanggup pulang sendiri menggunakan KTX. Namun, Tae-jun hanya memotongnya dengan satu kalimat yang tak terbantahkan, Saya akan menjemputmu.

Dan pagi ini, pria itu benar-benar membuktikan ucapannya.

Ji-eun melangkah turun menggunakan lift. Begitu pintu lobi gedung terbuka, matanya langsung bertaut pada sedan hitam yang terparkir anggun di halaman depan.

Tae-jun berdiri di samping pintu penumpang. Ia mengenakan kemeja putih yang dipadu celana panjang hitam serta mantel gelap. Tatapannya langsung terkunci rapat pada Ji-eun begitu wanita itu mendekat.

"Kau membawa semua barangmu?" tanyanya.

Ji-eun mengangkat tas kecil di tangannya. "Hanya ini."

"Sudah sarapan?"

Ji-eun mendesah pasrah. "Belum."

Tae-jun membukakan pintu mobil untuknya. "Masuklah."

"Kenapa kau selalu menanyakan hal yang sama setiap hari?"

"Kau harus menghilangkan kebiasaan burukmu itu, Sarapan itu penting," sahut Tae-jun tenang.

Ji-eun tak bisa menahan tawa kecilnya. "Benar juga."

Ia melangkah masuk ke dalam mobil yang hangat, disusul Tae-jun yang mengambil alih kemudi dari sisi sebelah. Begitu kendaraan mulai bergerak membelah jalanan Seoul, Ji-eun menyandarkan kepalanya ke kursi.

"Makan ini." Tae-jun menyerahkan roti lapis buatanya kepada Ji-eun.

"Terima kasih," bisik Ji-eun tulus.

"Tidak perlu."

"Setidaknya biarkan aku mengucapkan terima kasih."

Tae-jun meliriknya sekilas dari balik kemudi. "Kalau begitu, simpan saja dulu ucapan terima kasihmu."

"Kenapa?"

"Sampaikan nanti setelah kita sampai di Busan."

Ji-eun mengerutkan kening. "Kau benar-benar pria yang aneh."

"Aku tahu."

Perjalanan panjang menuju Busan berlangsung relatif tenang. Setelah melintasi beberapa kilometer jalan tol, rasa lelah akhirnya menguasai Ji-eun yang sudah kenyang berkat roti lapis yang dibawa Tae-jun hingga ia tertidur lelap.

Tae-jun beberapa kali mencuri pandang ke arah wanita di sampingnya. Wajah Ji-eun saat tertidur tampak begitu berbeda, hilang sudah senyum formalitas yang kerap ia sunggingkan pada orang lain, hilang pula raut profesional seorang manajer hotel. Yang tersisa hanyalah seorang wanita yang tampak begitu lelah menanggung segalanya.

Dengan perlahan, Tae-jun meraih mantel tebal di kursi belakang, lalu menyelimutkannya ke tubuh Ji-eun.

Sentuhan halus itu membuat Ji-eun bergerak sedikit. Matanya menyipit perlahan. "Kita... sudah sampai?"

"Belum."

"Masih berapa lama lagi?"

"Masih sekitar dua jam."

Ji-eun mengangguk pelan, kembali memejamkan matanya. Namun, tanpa sadar, saat kantuk merebut kesadarannya lagi, kepalanya bergeser perlahan dan mendarat lembut di bahu Tae-jun.

Tubuh Tae-jun seketika menegang kaku. Ia menoleh kaget, menatap lekat wanita yang kini bersandar pasrah di bahunya. Ji-eun telah kembali tertidur lelap.

Tae-jun mengurungkan niat untuk membangunkan atau menggeser posisinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia membiarkan seseorang berada sedekat itu dengannya tanpa merasa terganggu.

Bahkan... jauh di lubuk hatinya, ia berharap perjalanan ini tak cepat usai agar wanita itu tak menjauh.

Kediaman nenek Ji-eun terletak di sebuah pemukiman tenang di sudut kota Busan. Begitu mobil berhenti sempurna di pelataran rumah, Ji-eun bergegas turun.

"Nenek!" panggilnya penuh kerinduan.

Seorang wanita tua bertubuh ringkih keluar dari pintu kayu rumah tersebut. "Ji-eun?"

Ji-eun merengkuh tubuh neneknya erat-erat. "Nenek, aku pulang."

"Sudah nenek bilang akan kerumah sakit sendiri. Kenapa kau harus datang jauh-jauh begini?"

"Tentu saja aku harus pulang!"

Nenek Ji-eun terkekeh geli, sebelum pandangannya teralih pada sesosok pria tinggi yang berdiri canggung di belakang cucunya. "Dia... siapa, Nak?"

Ji-eun tertegun sejenak. Ia menoleh ragu ke arah Tae-jun. "Dia..."

Tae-jun melangkah maju seraya membungkuk sopan. "Saya Seo Tae-jun."

Nenek Ji-eun menatapnya penuh selidik. "Teman Ji-eun?"

"Rekan kerja," potong Ji-eun cepat. Ia memberi isyarat mata penuh peringatan pada Tae-jun agar pria itu tak membeberkan status jabatannya.

Tae-jun menangkap isyarat tersebut, lalu mengangguk singkat pelan. "Ya, kami rekan kerja."

Nenek Ji-eun tersenyum hangat. "Kalau begitu masuklah dulu, Nak. Jangan berdiri di luar."

------

Proses pemeriksaan di rumah sakit memakan waktu hampir dua jam. Tae-jun menunggu di ruang tunggu tanpa mengeluh sedikit pun. Ia bahkan tak menyentuh ponselnya untuk urusan pekerjaan, hanya duduk tenang menunggu dengan sabar.

Saat Ji-eun keluar dari ruang dokter, Tae-jun langsung berdiri tegak. "Bagaimana?"

"Dokter bilang tidak ada masalah serius, hanya butuh istirahat," jawab Ji-eun dengan riak lega di matanya.

Tae-jun mengangguk puas. "Ayo makan."

Ji-eun tersenyum tipis. "Kau lapar?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Kau cuma makan sandwich di perjalanan."

Ji-eun tertawa renyah. "Lama-lama kau makin mirip nenekku."

Menjelang sore, mereka kembali ke rumah. Sang nenek sudah terlelap di kamar usai meminum obatnya.

Ji-eun melangkah keluar ke halaman rumah, menyusul Tae-jun yang berdiri di dekat mobilnya.

"Terima kasih banyak, ya," ujar Ji-eun tulus.

"Untuk apa?"

"Sudah bersedia menyetir jauh-jauh sampai ke sini."

"Aku memang ingin mengantarmu."

Ji-eun terdiam, mengulum bibirnya rapat. "Tae-jun-ssi..."

"Hm?"

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

Tae-jun membalikkan badan, menatap Ji-eun sepenuhnya.

"Mulai besok, saat kembali ke hotel..." Ji-eun jeda sejenak, mengumpulkan keberanian. "...tolong jangan terlalu sering menemuiku."

Raut wajah Tae-jun seketika berubah mengeras. "Kenapa?"

"Karena kita bekerja di perusahaan yang sama."

Tae-jun terdiam.

"Dan kau bukan karyawan biasa, Tae-jun-ssi," Ji-eun menatap matanya dalam-dalam. "Kau adalah salah satu figur paling krusial di Seo Group. Kalau kau terus menerus mendatangi hotel hanya untuk menemuiku, orang-orang akan mulai menyadarinya."

"Aku tidak peduli dengan omongan mereka."

"Tapi aku peduli!" potong Ji-eun tegas.

Tae-jun membisu.

Ji-eun melanjutkan dengan suara memelan namun berbobot, "Kalau gosip mulai beredar, yang dirugikan bukan cuma aku. Namamu juga akan terseret."

"Aku?"

Ji-eun mengangguk pelan. "Aku tidak ingin menjadi penghambat posisimu di perusahaan."

Tatapan Tae-jun meredup tajam. "Jadi kau takut gosip itu merusak reputasiku?"

"Iya. Aku tidak mau namamu tercoreng."

Tae-jun menatapnya lekat-lekat, mencoba mencari celah kebohongan. "Kenapa kau sampai sepeduli itu pada reputasiku?"

"Karena... aku peduli padamu," ceplos Ji-eun spontan.

Jawaban itu seketika membungkam Tae-jun. Ji-eun sendiri mendadak tersentak sadar akan ucapannya yang terlalu jujur.

Dengan gugup, Ji-eun menambahkan, "Maksudku... sebagai teman."

"Teman," ulang Tae-jun dengan nada dingin. Entah mengapa, kata itu terdengar amat menganggu di telinganya.

Ji-eun mengembuskan napas lega, berusaha memulihkan batas profesionalisme mereka. "Jadi di kantor nanti, tolong perlakukan aku murni sebagai manajer operasionalmu."

Tae-jun akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah."

Ji-eun menguraikan senyum lega. Namun tepat sebelum masuk ke dalam mobil, Tae-jun kembali menoleh.

"Kalau di luar kantor?"

Ji-eun tertegun. "Maksudmu?"

"Kalau di luar jam kerja... aku masih boleh menemuimu?"

Detak jantung Ji-eun mendadak berkejaran lebih cepat. Ia tak langsung menjawab, melainkan menatap pria itu sejenak sebelum berbisik pelan, "Kalau memang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan..."

Kurva senyum tipis terukir manis di bibir Tae-jun. "Baik."

Ia membukakan pintu mobilnya, namun sebelum masuk, Tae-jun kembali menatap Ji-eun. "Kalau begitu, besok aku tidak akan datang ke hotel."

Ji-eun mengangguk mantap. "Bagus."

Tae-jun masuk ke dalam mobil, lalu perlahan melajukan kendaraannya meninggalkan pelataran rumah.

Ji-eun berdiri bergeming menatap mobil hitam itu yang lambat laun menghilang di belokan jalan. Ia telah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Batas, jarak, dan batasan profesionalisme.

Namun entah mengapa, ketika mobil itu benar-benar lenyap dari pandangannya... ada bagian hampa di dalam dadanya yang mendadak merasa kehilangan.

...****************...

1
Bintang star_nurul22
Semangat author
Kiara L: terimakasih☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!