Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM GACHA RAJA KULINER

SISTEM GACHA RAJA KULINER

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Brak!

Sebuah tendangan keras menghantam gerobak kayu yang sudah reyot itu.

Kuah kaldu panas tumpah membasahi aspal jalanan yang dingin oleh air hujan.

"Ampun, Bang!" ucap Galang sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangan. "Beri saya waktu tiga hari lagi."

Preman bertubuh besar berseragam loreng hitam itu meludah ke tanah.

Cuih!

"Sudah sebulan kau bilang begitu terus, miskin!" teriak preman itu dengan mata melotot tajam.

"Dagangan saya sepi malam ini, Bang," balas Galang dengan suara bergetar menahan dingin dan takut.

"Hujan turun dari sore jadi tidak ada pelanggan yang mampir sama sekali."

Preman lainnya yang memegang tongkat besi maju selangkah mendekati Galang.

"Itu bukan urusan kami," kata preman kedua sambil tersenyum sinis.

"Bos marah besar karena kau selalu menunggak uang keamanan pasar ini."

Prang!

Tongkat besi itu menghantam etalase kaca gerobak Galang hingga hancur berkeping-keping.

Pecahan kaca berhamburan mengenai wajah dan lengan Galang hingga menggores kulitnya.

Galang hanya bisa menutup mata melihat satu-satunya sumber penghidupannya hancur di depan mata.

"Tolong jangan hancurkan kompornya, Bang!" seru Galang memohon.

"Hanya itu yang saya punya untuk mencari makan besok."

Bugh!

Sebuah tendangan mendarat telak di perut Galang.

Galang terbatuk sambil memegangi perutnya yang terasa sangat mual dan nyeri.

"Dengar baik-baik, anak muda," ucap preman pertama sambil menarik kerah baju Galang.

"Besok malam kalau kau tidak bayar dua juta, bukan gerobakmu yang hancur."

Preman itu menepuk-nepuk pipi Galang dengan kasar.

"Tapi tulang-tulangmu yang akan kami patahkan satu per satu," lanjutnya dengan nada mengancam.

"Paham kau?"

"Paham, Bang," jawab Galang dengan suara lirih. "Saya mengerti."

Kedua preman itu akhirnya berbalik dan berjalan pergi menembus derasnya hujan.

Galang terdiam di atas aspal yang basah sambil menatap nanar sisa-sisa gerobak mie ayam miliknya.

Hujan malam ini seolah ikut menangisi nasibnya yang selalu sial dan jalan di tempat.

"Kenapa hidupku selalu seperti ini?" batin Galang sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Setiap kali aku mencoba membuka usaha, selalu saja ada masalah."

"Dulu sewa tempat ditipu orang, modal pinjaman bank habis dibawa kabur teman."

"Sekarang jualan pakai gerobak malah dihancurkan lintah darat."

Galang menghela napas panjang yang terasa sangat berat di dadanya.

Ia mulai memunguti mangkuk-mangkuk plastik yang masih utuh di sela-sela pecahan kaca.

Air matanya perlahan menetes bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya.

Trrrt... Trrrt...

Suara getaran ponsel dari dalam saku celananya memecah keheningan malam.

Galang merogoh sakunya dan melihat nama "Pak Kos" tertera di layar ponsel yang layarnya sudah retak itu.

"Halo, Pak," sapa Galang dengan suara parau.

"Galang, kamu di mana?" terdengar suara kasar seorang pria paruh baya dari seberang telepon.

"Ini sudah tanggal lima, kapan kamu mau bayar tunggakan kos dua bulan?"

"Maaf, Pak," jawab Galang pelan.

"Malam ini gerobak saya baru saja dihancurkan preman pasar."

"Saya tidak mau tahu urusan premanmu itu!" bentak bapak kos dari telepon.

"Pokoknya kalau besok pagi uangnya belum ada, barang-barangmu saya keluarkan semua dari kamar!"

Tut. Tut. Tut.

Sambungan telepon diputus secara sepihak.

Galang memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dengan tangan gemetar.

Ia benar-benar sudah berada di titik terendah dalam hidupnya malam ini.

Uang tidak punya, tempat tinggal terancam hilang, dan nyawanya juga terancam oleh preman pasar.

Galang duduk bersandar pada roda gerobaknya yang sudah bengkok.

"Mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk sukses," gumam Galang pada dirinya sendiri.

"Pelanggan saja rasanya selalu menghindar setiap kali aku mulai berjualan."

"Apakah aku menyerah saja dan pulang ke kampung jadi buruh tani?"

"Tapi aku sudah bersumpah tidak akan pulang sebelum jadi orang sukses."

Galang memejamkan matanya sambil membiarkan hujan terus mengguyur tubuhnya yang mulai menggigil.

Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang sangat jernih terdengar langsung di dalam kepalanya.

[DING!]

Galang tersentak kaget dan langsung membuka matanya lebar-lebar.

"Suara apa itu?" ucap Galang sambil menengok ke kanan dan ke kiri.

Jalanan pasar malam itu sudah benar-benar sepi dan tidak ada siapa-siapa selain dirinya.

[Sistem Kuliner Acak berhasil diaktifkan!]

Sebuah layar transparan berwarna biru muda tiba-tiba muncul melayang di depan wajah Galang.

Galang mengucek matanya berkali-kali karena mengira dirinya sedang berhalusinasi akibat benturan.

"Aku pasti sudah gila," gumam Galang mundur perlahan.

"Atau aku sedang gegar otak karena tendangan preman tadi."

[Host terdeteksi memenuhi syarat keputusasaan tingkat maksimal.]

[Proses pengikatan jiwa dengan Host Galang Kurniawan telah selesai.]

[Selamat datang di Sistem Kuliner Acak, sistem yang akan mengubah takdirmu menjadi Dewa Kuliner!]

"Sistem?" tanya Galang dengan suara ragu.

"Kamu semacam hantu atau jin pesugihan?"

Layar biru itu tidak menjawab, melainkan memunculkan deretan teks baru yang bersinar terang.

[Misi Mingguan Pertama Tersedia!]

[Tugas: Berjualan makanan menggunakan sisa bahan yang Anda miliki saat ini.]

[Lokasi: Pelataran Parkir Rumah Sakit Harapan Kasih.]

[Batas Waktu: Malam ini hingga subuh.]

[Hadiah: Rp 2.000.000 dan Resep Nasi Goreng Pemulihan Tingkat Rendah.]

[Hukuman jika gagal: Kehilangan indera pengecap selama satu bulan.]

Galang membaca tulisan di layar itu dengan mulut sedikit terbuka.

"Rumah Sakit Harapan Kasih?" ucap Galang tidak percaya.

"Itu jaraknya lima kilometer dari sini dan ini sudah jam sebelas malam!"

"Siapa juga orang gila yang mau makan mie ayam di parkiran rumah sakit tengah malam begini?"

[Sistem menentukan lokasi berdasarkan probabilitas keberhasilan tertinggi bagi Host.]

[Silakan terima misi ini dalam waktu 60 detik.]

[60... 59... 58...]

Hitung mundur di layar biru itu membuat jantung Galang berdebar lebih kencang.

Ia melihat ke arah kompor gasnya yang masih utuh dan setengah panci mie mentah yang belum sempat dimasak.

Jika hadiah dua juta rupiah itu benar-benar nyata, ia bisa membayar tunggakan kos dan lolos dari ancaman preman besok malam.

"Bodo amat lah kalau aku memang sudah gila," teriak Galang memecah suara hujan.

"Daripada aku mati dipukuli preman besok, lebih baik aku coba jualan di rumah sakit!"

"Aku terima misinya!"

[Misi diterima.]

[Sistem memberikan buff sementara: Tenaga Ekstra Tingkat 1 selama 3 jam.]

Tiba-tiba, rasa sakit di perut Galang akibat tendangan preman tadi menghilang tak berbekas.

Tubuhnya yang tadinya kedinginan dan lemas mendadak dipenuhi oleh energi yang hangat.

Galang mengepalkan tangannya dan merasa tenaganya kembali penuh seperti baru bangun tidur.

"Wow," gumam Galang takjub menatap kedua tangannya. "Ini sungguhan."

Tanpa membuang waktu lagi, Galang segera mengumpulkan sisa barang-barangnya yang masih bisa diselamatkan.

Ia menyalakan mesin motor tuanya yang tersambung dengan bagian belakang gerobak.

Brum!

Mesin motor menyala dengan suara kasar yang khas.

Galang menarik gas dan melaju menembus hujan malam menuju Rumah Sakit Harapan Kasih.

Ia tidak tahu apa yang menunggunya di sana nanti.

Namun untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Galang merasakan secercah harapan.

Di sebuah gedung rumah sakit yang sepi, takdir baru Galang sebagai raja kuliner baru saja dimulai.

1
Dhewa Shaied
lanjut thor
Khalita Aazahra
lanjut
Wega Luna
perlu dicoba tuh ,,,aku suka daging bekicot yg disalah itu waktu hamil dulu bisa habis 10 tusuk langsung makan , berarti nasi goreng ala seafood yh
Nissa Safira: Bener juga sih... ayam lebih mahal dari bekicot 🤣 Oke deal, nanti kalau Galang bagi resep Nasi Goreng Bekicot aku share di sini. Mbak yang pertama cobain di rumah ya, kabarin kalau bocil-bocil pada ketagihan🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!