Indonesia
NovelToon NovelToon
Tujuh Kembaran

Tujuh Kembaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Seven Gu

⚠️ PERINGATAN

Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.

Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst



Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.

Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.

Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:

Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.

Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.

Ketika seseorang telah memiliki segala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gu Moyuan [FRAGMEN KEDUA: GU MOYUAN]

Di kedalaman Kota Xueyuan—kota yang tidak tercantum di peta mana pun karena peta membutuhkan orang yang mau mengakui keberadaannya—ada sebuah kios kecil yang menjual sesuatu yang tidak punya nama resmi.

Papan di depannya hanya bertuliskan satu kata, digambar dengan sesuatu yang lebih kental daripada tinta:

"SOLUSI."

Gu Moyuan duduk di baliknya, kaki disilangkan di atas meja kerja yang penuh botol-botol kaca berisi cairan dengan warna yang seharusnya tidak eksis di alam, sambil menggigit sebatang lidi dan bersenandung lagu yang tidak dikenal siapa pun kecuali dirinya sendiri—karena ia menciptakannya sendiri, tiga ratus tahun lalu, tentang seorang kaisar yang mati karena minum obat awet muda buatannya sendiri.

Lagu itu selalu membuatnya tertawa di bagian reff.

"Kau," katanya, tanpa menoleh, kepada bayangan yang baru saja masuk melalui pintu tirai, "terlambat tujuh menit."

 

Pria yang masuk itu mengenakan jubah Sekte Darah Sembilan Bulan, salah satu dari empat organisasi terbesar di Benua II, dengan wajah yang berusaha keras terlihat tidak takut dan gagal total.

"Aku butuh Pil Seribu Wajah," katanya. "Untuk misi rahasia sekte."

"Tentu saja untuk misi rahasia." Gu Moyuan akhirnya menoleh, tersenyum lebar—terlalu lebar untuk terasa nyaman. "Tidak ada yang pernah datang kemari untuk misi yang boleh diceritakan ke orang lain. Itu prinsip dasar ekonomi di kota ini. Rahasia adalah mata uang paling stabil."

Ia melompat turun dari meja, berjalan ke rak di belakangnya, jarinya menari di antara toples-toples—satu berisi sesuatu yang masih berdenyut pelan, satu lagi berisi kabut merah yang bergerak seperti punya pikiran sendiri.

"Masalahnya," Gu Moyuan melanjutkan, "Pil Seribu Wajah butuh bahan yang sedikit... sensitif."

"Aku sudah bawa bayarannya." Pria itu meletakkan kantong berat yang bergemericik di meja.

"Bukan itu masalahnya." Gu Moyuan mengangkat satu jari. "Masalahnya adalah bahan itu harus diambil dari seseorang yang masih hidup, dalam kondisi sadar, dan tanpa dibius. Kesadaran penuh mengubah struktur esensinya. Dan—" ia tersenyum lebih lebar lagi, "—kau tidak membawa 'donor' apa pun bersamamu. Yang berarti kau berharap aku menyediakannya."

Pria itu menelan ludah. "Bukankah itu... pekerjaanmu?"

"Pekerjaanku adalah membuat pil. Bukan menculik orang." Gu Moyuan duduk kembali di mejanya, mengangkat cangkir teh—atau sesuatu yang menyerupai teh, warnanya terlalu gelap untuk benar-benar teh—dan menyesapnya santai. "Ada perbedaan penting di sana."

 

Ini bukan pertama kalinya seseorang datang mengharapkan Gu Moyuan melakukan bagian kotor dari pekerjaan kotor mereka sendiri.

Reputasinya sudah tersebar di seluruh Benua II: alkemis yang bisa membuat apa pun dari darah—racun tanpa penawar, penawar tanpa racun, pil yang mengubah wajah, ramuan yang menghentikan waktu penuaan selama satu dekade dengan harga satu dekade dari orang lain. Orang-orang menyebutnya monster. Sebagian menyebutnya dewa kecil dari neraka kecil mereka sendiri.

Gu Moyuan tidak keberatan dengan sebutan mana pun. Ia lebih tertarik pada pertanyaan di baliknya.

Karena kebenarannya—yang tidak pernah ia jelaskan kepada siapa pun yang bertanya—adalah bahwa ia tidak pernah mengambil satu tetes darah pun dari seseorang yang tidak, dalam satu atau lain cara, sudah bersedia membayar harganya sendiri.

"Aku bisa membuatkanmu Pil Seribu Wajah," katanya akhirnya, "tapi bukan dari orang yang kau culik. Tapi dari dirimu sendiri."

Pria itu mengerjap. "Aku?"

"Kesadaran penuh, ingat? aku butuh seseorang yang sadar. Kau, misalnya, tampak cukup sadar—meski aku ragu untuk berapa lama lagi, mengingat pekerjaanmu." Gu Moyuan mengangkat jarum kecil dari laci, memutarnya di antara jari dengan gerakan yang sudah terlalu terlatih untuk terlihat santai. "Satu mangkuk kecil, tidak akan membunuhmu. Mungkin hanya membuatmu pusing selama tiga hari dan bermimpi buruk selama tiga bulan."

"Kenapa—" pria itu ragu, "—kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?"

"Karena aku ingin tahu apakah kau akan menawarkan orang lain terlebih dahulu." Gu Moyuan tersenyum, dan untuk sesaat, senyum itu tidak lagi terasa seperti lelucon. "Kau tidak menawarkannya. Itu informasi yang berguna. Tentang dirimu, bukan tentang pilnya."

 

Setelah pria itu pergi—lebih pucat, lebih pusing, tapi dengan pil di tangannya dan tanpa satu pun orang lain yang terluka karena keputusannya—Gu Moyuan duduk sendirian di kiosnya, memutar jarum kecil yang sama di antara jarinya.

Ia tidak menganggap dirinya baik hati. Ia sudah lama berhenti peduli pada kategori seperti itu.

Tapi ia punya satu aturan yang tidak pernah ia langgar, meski tidak pernah ia tuliskan di mana pun: ia tidak akan menjadi alasan seseorang menyakiti orang lain yang tidak bersalah—hanya alasan seseorang menyakiti diri mereka sendiri, jika mereka memang menginginkannya sedemikian rupa.

Bukan karena itu benar.

Karena ia belum tahu apa itu benar.

Tapi setidaknya, itu konsisten. Dan konsistensi adalah bentuk kejujuran yang paling bisa ia percaya saat ini.

 

Malam itu, jauh di ruang bawah tanah kiosnya, tempat tak seorang pun diizinkan masuk, Gu Moyuan bekerja di depan meja alkimia yang lebih besar—bukan untuk pelanggan kali ini, tapi untuk dirinya sendiri.

Di depannya, sebuah formula tergantung di udara, dirajut dari benang cahaya merah yang hanya bisa dilihat oleh mata yang sudah lama terlatih membaca esensi kehidupan. Ia sudah mengerjakannya selama dua tahun: sebuah pil yang, jika berhasil, bisa menyembuhkan penyakit yang selama ini dianggap kutukan—penyakit yang perlahan menghapus ingatan seseorang sampai mereka lupa nama anak mereka sendiri.

Bahan yang dibutuhkan sangat spesifik. Sangat langka. Dan, ia sudah tahu sejak awal, sangat mengerikan untuk didapatkan—melibatkan sesuatu yang harus diambil dari makhluk yang masih hidup, dengan cara yang tidak akan pernah ia ceritakan kepada siapa pun yang bertanya bagaimana cara kerjanya.

Ia sudah mencoba tiga puluh tujuh kali. Gagal tiga puluh tujuh kali.

Tiga puluh tujuh makhluk telah mati dalam prosesnya—bukan manusia, ia selalu memastikan itu, meski ia tahu batas itu sendiri mulai terasa lebih seperti pembenaran daripada prinsip setiap kali ia mengucapkannya dalam hati.

Jika ia berhasil di percobaan ke tiga puluh delapan, ribuan orang di seluruh Benua II—mungkin lebih—tidak akan lagi kehilangan diri mereka sendiri secara perlahan sebelum kehilangan nyawa mereka.

Ia menatap formula itu lama sekali.

"Kalau hasilnya menyelamatkan seribu orang," gumamnya, kepada laboratorium kosong yang tidak akan menjawab, "apakah cara yang mengerikan ini masih salah?"

Tidak ada yang menjawab.

Ia sudah lama berhenti mengharapkan jawaban dari luar dirinya sendiri.

 

Ia baru saja hendak melanjutkan pekerjaannya ketika sesuatu membuatnya berhenti—bukan suara, bukan gerakan, tapi sesuatu yang lebih aneh: perasaan sesaat bahwa ia sedang diperhatikan oleh sesuatu yang jauh, sangat jauh, dari tempat ia berdiri sekarang.

Ia menoleh ke sekeliling ruangan bawah tanahnya. Kosong, seperti biasa.

Tapi selama sepersekian detik, dalam benaknya, ia mendengar sesuatu yang bukan miliknya sendiri—bukan suara, lebih seperti gema dari sebuah kalimat, diucapkan dalam nada yang santai, hampir malas, seolah pemiliknya sedang berbaring di suatu tempat yang jauh lebih nyaman daripada ruang bawah tanah yang berbau logam dan ramuan:

Tunjukkan padaku sesuatu yang belum pernah kulihat.

Gu Moyuan mengerutkan kening.

Ia sudah mendengar banyak hal aneh sepanjang tiga ratus tahun hidupnya. Bisikan roh, kutukan kuno, jerit jiwa yang terjebak dalam ramuan yang gagal. Tapi kalimat ini terasa berbeda. Tidak mengerikan. Tidak menakutkan.

Hanya... familiar. Seperti sesuatu yang pernah ia katakan pada dirinya sendiri, di kehidupan yang bahkan ia sendiri tidak ingat pernah menjalaninya.

Ia menggeleng, tertawa pelan pada dirinya sendiri, dan kembali membungkuk ke atas formula yang menunggu di depannya.

"Hm... apa itu barusan," gumamnya, mengulangi kata yang sama tanpa tahu bahwa di suatu tempat, sangat jauh di atas semua langit yang ia kenal, seseorang pernah mengucapkan kata yang sama persis, dengan alasan yang sama persis. "Melihat apa yang belum pernah kulihat?"

"Apa aku kurang minum hari ini?"

Ia mencelupkan jarum ke dalam formula, dan di kejauhan Kota Xueyuan, sesuatu yang sudah lama tertidur di percobaan ketiga puluh delapan mulai, perlahan, berdenyut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!