Indonesia
NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Serangan Tombak Air

"Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa padanya, Scarlett manis. Aku hanya menyapanya dengan ramah. Tapi sepertinya pesona ketampananku terlalu 'berbahaya' untuk ukuran gadis panti sekecil dia."

"Dia makhluk yang sangat aneh," Jonas menimpali dengan suara beratnya yang sedingin es, sepasang matanya menatap lurus ke jalan depan.

"Aroma esensi tubuhnya sama sekali tidak seperti manusia fana biasa yang membosankan. Ada sesuatu yang terasa sangat 'kuno' dan purba bersemayam di dalam darahnya yang kotor itu."

Jonah hanya tersenyum tipis, membiarkan manik mata biru safirnya berkilat haus di balik poni hitamnya. "Dia memang sangat istimewa, Jonas. Aku sarankan kalian berdua untuk tidak mengganggunya. Gadis manis itu... adalah target buruanku."

Scarlett mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga mengeluarkan aura keperakan tipis. Ia tahu betul sepupu-sepupunya dari keluarga Salvatore ini bukanlah makhluk yang bisa dianggap remeh.

"Jangan pernah berani-berani menyentuh atau melukainya lagi, Jonah. Jika kalian bertiga berani berulah macam-macam di Kota Luminara, aku sendiri yang akan mengadukan tindakan kriminal ini pada Ayahku dan Paman Justin!"

"Kau benar-benar tidak seru, Scar. Padahal aku sangat ketagihan dengan rasa darah gadis itu. Darahnya... begitu menggoda, jauh lebih murni, manis, dan kuat dari darah makhluk apa pun yang pernah kurasakan seumur hidupku," ucap Jonah dengan nada santai, seolah-olah ia baru saja memuji kualitas rasa dari sebotol minuman anggur merah yang mahal.

Mendengar pengakuan blak-blakan itu, Scarlett, Jonas, dan Josiah sontak membelalakkan mata mereka secara serempak. Udara di sekitar halaman belakang kastil yang tadinya hangat mendadak terasa membeku seketika.

"Apa?!" teriak mereka bertiga bersamaan dengan nada syok.

"Sejak kapan kau berani menyerang dan menghisap darah manusia di distrik ini, Jonah?"

Josiah bertanya dengan raut wajah yang tak lagi jenaka, melainkan berubah menjadi sangat serius.

"Jika Ayah sampai mengetahui tindakan gilamu ini, kau akan tamat! Beliau melarang keras kaum kita untuk menyentuh manusia fana!"

Keluarga Salvatore, meskipun merupakan keturunan penguasa kegelapan tertua, memiliki hukum adat yang sangat ketat di bawah kepemimpinan mutlak Justin Salvatore.

Sang Raja Vampir itu melarang keras segala bentuk penyerangan fisik terhadap ras manusia demi menjaga eksistensi perdamaian rahasia di dunia modern. Jika rahasia kelam ini sampai terbongkar ke permukaan, bukan hanya klan mereka yang berada dalam bahaya, melainkan para Ghost Hunter (Pemburu) akan langsung mengepung Kota Luminara dan memburu seluruh kaum mereka hingga punah tanpa sisa.

"Aku benar-benar tidak bisa menahan hasratku saat mencium aromanya," Jonah membela diri, sepasang matanya kembali berkilat merah darah yang liar.

"Aromanya terlalu memabukkan, Scar. Aku bahkan bisa mencium jejak manis darahnya dari jarak satu kilometer. Insting predator dalam diriku menolak untuk berhenti."

"Kau benar-benar sudah gila, Jonah!" teriak Scarlett, wajah cantiknya memerah karena amarah yang memuncak. "Dia adalah temanku! Dan kau baru saja menghancurkan seluruh rantai kepercayaan yang telah lama dibangun susah payah oleh orang tuaku dengan populasi manusia di kota ini!"

Scarlett merasa ngeri yang teramat sangat. Baru kali ini selama berabad-abad hidup, ia melihat ekspresi Jonah yang begitu terobsesi pada satu entitas.

Biasanya, mereka bertiga sudah cukup puas dengan mengonsumsi darah hewan segar sebagai pengganti, tetapi saat ini Jonah tampak seperti pecandu akut yang baru saja menemukan harta karun abadi.

"Jangan berisik!" Jonas menyela perdebatan itu dengan suara baritonnya yang menggelegar dahsyat, membuat suasana halaman kastil langsung senyap seketika.

Si Sulung yang mewarisi darah Demon itu menatap Jonah dengan sepasang mata hitam pekat yang memancarkan kilat membunuh.

"Kau bertindak terlalu ceroboh, Jonah. Kau bukan hanya melanggar hukum mutlak Ayah, tapi kau juga membiarkan seorang saksi hidup lari begitu saja dari jangkauanmu," lanjut Jonas dingin tanpa ekspresi.

"Sekarang gadis manusia itu telah mengetahui siapa jati diri kita sebenarnya. Bahkan Evelyn—sahabat dekat Scarlett—bisa saja ikut menaruh curiga pada kita. Kau tahu apa artinya itu? Kau sedang menyeret seluruh eksistensi keluarga Salvatore ke dalam lubang kematian."

"Lalu aku harus bagaimana sekarang? Memburunya kembali dan membunuhnya agar mulutnya bungkam untuk selamanya?" tantang Jonah sinis dengan senyuman miring.

"Jangan berani-berani menyentuh seujung rambutnya lagi!" ancam Scarlett, jemari tangannya mulai mengeluarkan percikan cahaya keperakan kecil khas kekuatan sihir Elf-nya yang mematikan.

"Jika setetes saja darah Elisa kembali tumpah karena ulah rakusmu, aku sendiri yang akan maju untuk mematahkan sepasang taring vampirmu itu."

Jonas melangkah maju dengan tegap, memposisikan tubuh besarnya tepat berdiri di antara Scarlett dan Jonah untuk meredam konflik fisik.

"Cukup. Rahasia kelam ini tidak boleh sampai bocor ke telinga Ayah untuk saat ini. Tapi Jonah, kau harus bertanggung jawab penuh atas kekacauan ini. Josiah, ikuti arah mobil mereka sekarang juga. Pastikan mereka berdua tidak bicara pada siapa pun di kota, terutama pada jaringan para pemburu. Jika mereka mulai membuka mulut untuk menyebarkan rahasia kita... lakukan tindakan apa pun untuk menghapus ingatan mereka."

Josiah menyeringai tipis mendengarnya, meskipun ada secercah perasaan berat yang asing merayap di dalam hatinya.

"Menghapus ingatan manusia fana biasa seperti Evelyn itu perkara mudah, Kak. Tapi gadis bernama Elisa Morpheana itu... sepertinya dia memiliki benteng jiwa yang tidak akan semudah itu untuk dilupakan."

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Josiah menyambar jaket kulit hitamnya yang sempat tersampir di atas kursi malas. Tubuh jangkungnya mendadak melesat bagai kilat, berlari dengan kecepatan luar biasa tinggi menembus lebatnya vegetasi hutan yang membentang di belakang kediaman Pendragon.

Ia sengaja tidak ingin membuang waktu dengan menggunakan kendaraan bermotor, apalagi sampai terlihat mencolok oleh pandangan warga kota fana.

****

Josiah melompat tinggi dari satu dahan ke dahan pohon cemara tertinggi, berdiri dengan keseimbangan sempurna sembari menyipitkan sepasang mata hitamnya yang tajam. Pupil hitamnya bergerak dinamis, menangkap bayangan mobil sedan hitam milik keluarga Evelyn di kejauhan jalan aspal.

"Ketemu kau, Singa Kecil," gumam Josiah dengan seulas seringai tipis yang sarat akan rasa ketertarikan.

Ia melompat turun dari dahan pohon, kembali melesat cepat di balik bayangan pepohonan lebat yang letaknya sejajar dengan jalan raya utama kota.

Saat mobil sedan mewah itu berada tepat dalam jangkauan jarak tembak kekuatannya, Josiah mengangkat tangan kanannya ke udara. Kelembapan udara di sekitarnya mendadak meningkat drastis secara tidak wajar.

Butiran-butiran uap air di atmosfer berkumpul dengan cepat di atas telapak tangannya, memadat dan mengkristal menjadi sebuah tombak air padat yang luar biasa tajam—sebuah warisan kekuatan magis bangsa Mermaid (Putra Duyung) yang mengalir dari darah ibu kandungnya.

Wusshh!

Josiah melemparkan tombak air padat itu dengan tingkat akurasi yang sangat mematikan, mengarah tepat ke arah ban belakang sebelah kanan mobil sedan yang sedang melaju.

DUARR!

Karet ban mobil mewah itu meletus seketika dengan suara dentuman yang keras.

Elisa, Evelyn, dan sang sopir pribadi langsung terlonjak kaget di dalam kabin saat mobil mereka mendadak oleng dengan liar ke kanan dan kiri akibat kehilangan keseimbangan.

Beruntung, sang sopir merupakan pekerja yang cukup sigap dan berpengalaman; ia berhasil mengendalikan roda kemudi dengan kuat sembari menginjak pedal rem sedalam mungkin untuk menahan laju kendaraan.

CIIITTTT!

Asap putih pekat mengepul hebat akibat gesekan panas antara ban karet dan permukaan aspal. Mobil akhirnya berhasil terhenti dengan posisi miring yang canggung di pinggir jalan raya yang dikelilingi hutan sepi.

"Astaga! Ada apa ini?! Kenapa mobilnya mendadak berhenti secara ekstrem begini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!