Indonesia
NovelToon NovelToon
Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.

Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.

"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."

"Saya siap."

"Aku ingin kau menghamili istriku."

“….”

Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.

Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Perubahan Sikap Jenara

“Lalu kau akan membiarkan dia berada disisimu, setelah istrimu hamil anaknya?” tanya Rea kemudian.

“Menurutmu?” Bukannya menjawab Reval malah balik bertanya, “Haruskah aku membunuhnya atau mempertahankannya di sisiku?”

“Lebih baik kita mengawasinya sebentar lagi,” jawab Rea.

“Hmm, aku juga berpikir begitu.” Reval membenarkan.

Setelah itu, Rea meberikan laporan yang harus diperiksa oleh Reval. Sekaligus memberitahunya bahwa Vara, adiknya meminta ia menyampaikan kepada Reval bahwa pria itu harus menemuinya hari itu juga.

Beralih pada Dhana yang menyempatkan sarapan bersama dengan Fikri dan yang lainnya sebelum kembali ke Mansion untuk menjalankan tugasnya. Begitu memasuki Mansion Dhana langsung berpapasan dengan Jenara yang berjalan menuju ruang makan untuk sarapan.

Tidak ada sapaan, Jenara terlihat begitu dingin dan tak tersentuh. Namun, Dhana tetap memberitahu akan tugas barunya. “Nyonya, Tuan Reval memerintahkan saya untuk tetap melindungi anda di sini.”

Tidak ada jawaban sama sekali, bahkan Jenara terkesan mengabaikannya. Seolah ia tidak mendengar apa yang baru saja Dhana katakan. Dhana pun tidak begitu mempermasalahkannya, memaklumi bahwa wanita itu mungkin butuh waktu untuk menyesuaikan diri setelah kejadian semalam.

“Sudahlah, mungkin dia butuh waktu untuk kejadian semalam.” Batin Dhana, “Lebih baik aku fokus mencari informasi penting tentang Reval dan klan Black Gold yang tersimpan di Mansion ini.”

Namun, siapa sangka hari-hari setelah malam itu rupanya mengubah sikap Jenara. Terhitung sudah tiga hari sejak malam itu. Dan Jenara menjadi jauh lebih pendiam dan dingin dari sebelumnya. Tidak lagi membantah Reval seperti sebelumnya. Tidak pula menunjukkan kemarahan dengan terang-terangan. Ia hanya menjalani hari-harinya dengan wajah tenang yang sulit dibaca.

Dhana tentu menyadarinya lebih jelas dari siapapun. Sebab ia yang ditugaskan untuk berada disisinya sampai anak itu benar-benar tumbuh di dalam perut Jenara. Setiap kali mereka berpapasan di lorong, Jenara hanya memberikan tatapan singkat sebelum berlalu. Tidak pernah ada percakapan seperti malam ketika perempuan itu menawarkan kesepakatan kepadanya.

Namun Dhana juga tahu bahwa semua itu bukan berarti Jenara sudah menerima keadaan. Atau justru sebaliknya, ia sedang menyimpan sesuatu. Sesuatu yang bahkan Dhana tidak mampu membaca.

Sudah tiga hari… tiga hari sejak malam itu. Malam yang meninggalkan terlalu banyak hal untuk dilupakan, tetapi terlalu sedikit keberanian untuk dibicarakan. Sejak pagi setelahnya, Jenara seolah memutuskan bahwa Dhana tidak pernah ada.

Bukan sekadar menghindar. Ia menghapus keberadaan pria itu dari ruang-ruang yang mereka bagi. Jika Dhana duduk di ruang makan, Jenara akan memilih sarapan di taman. Jika Dhana berdiri di balkon, Jenara akan masuk ke kamar tanpa menoleh. Bahkan ketika mereka berpapasan di lorong, tatapan Jenara selalu lurus ke depan, seakan pria yang berdiri hanya beberapa langkah darinya hanyalah bayangan yang tidak pantas diperhatikan.

Dhana membiarkannya. Setidaknya, pada hari pertama. Ia duduk di ruang baca mansion sambil membuka sebuah buku tua yang bahkan tidak ia baca. Sesekali matanya terangkat, mengikuti bayangan Jenara yang lewat di balik pintu kaca.

Hari kedua, Dhana mulai membalas dengan sikap yang sama. Tidak peduli, tidak mengejar dan tidak bertanya. Ia bahkan sengaja menghabiskan lebih banyak waktu menjelajahi mansion. Bagaimanapun, ia memiliki alasan yang jauh lebih penting untuk berada di tempat ini.

Informasi penting tentang Reval. Nama itu terus berputar di kepalanya. Sebagai seorang jenderal yang sedang menyamar, Dhana tidak datang ke mansion itu hanya untuk menjadi suami bayangan bagi seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan dengan seorang pria seperti Reval.

Ia sedang mencari bukti, struktur jaringan, nama-nama anggota klan, Rute transaksi dan apa pun yang dapat membawanya lebih dekat kepada organisasi mafia yang selama bertahun-tahun berhasil menghilang dari radar pemerintah.

Mansion sebesar ini seharusnya menyimpan sesuatu. Dan Dhana tahu bagaimana mencari. Ia memeriksa ruang kerja Reval ketika pria itu tidak berada di sana. Membaca label-label pada dokumen yang terkunci di lemari. Menghafalkan nama pelayan yang datang dan pergi. Memperhatikan siapa yang membawa telepon khusus, siapa yang masuk ke garasi bawah tanah, bahkan kendaraan mana yang meninggalkan mansion setelah tengah malam.

Namun semuanya buntu. Tidak ada dokumen penting, tidak ada catatan transaksi, tidak ada nama anggota klan, tidak ada simbol atau kode yang bisa menghubungkan mansion ini dengan jaringan mafia Reval. Seolah-olah tempat itu memang sengaja dikosongkan dari segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai bukti.

Hari ketiga, kesabaran Dhana mulai habis. Bukan karena penyelidikannya gagal, melainkan karena Jenara.

Pagi itu, Dhana berdiri di ujung meja makan ketika Jenara masuk. Wanita itu berhenti sepersekian detik. Dhana menatapnya, tapi Jenara langsung memalingkan wajah. Ia berjalan ke kursinya.

Dhana mengembuskan napas panjang. “Nyonya.”

Tangan wanita itu yang sedang menuangkan teh berhenti. Hanya sesaat sampai kemudian bergerak kembali seolah tidak mendengar apapun. Dhana tertawa pendek tanpa humor. Entah menertawakan dirinya sendiri atau sikap Jenara, Dhana pun tidak tahu untuk apa tawanya itu.

Ia lalu berjalan mendekat. “Nyonya Jenara.”

Kali ini lebih tegas, hingga wanita itu akhirnya mengangkat wajah dan mata mereka bertemu. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Dhana melihat sesuatu yang nyata di mata Jenara. Bukan kebencian, bukan kemarahan melainkan luka yang berusaha keras disembunyikan.

Dhana terdiam sesaat. Ia mendadak menyadari bahwa selama tiga hari terakhir, ia terlalu sibuk berpura-pura tidak peduli sampai lupa bahwa wanita di hadapannya mungkin sedang berusaha bertahan dengan caranya sendiri.

“Apa?” tanya Jenara akhirnya, suaranya datar.

Dhana menarik kursi di hadapannya lalu duduk.

“Aku ingin bicara.”

“Aku tidak.”

“Kalau begitu, dengarkan saja.”

Jenara menatapnya tajam. “Kenapa aku harus mendengarkanmu?”

Dhana tidak langsung menjawab. Karena untuk pertama kalinya, ia tidak yakin harus mengatakan apa. Ia bisa menghadapi musuh bersenjata. Ia bisa menginterogasi seorang kriminal. Ia bahkan bisa berdiri di medan perang tanpa menunjukkan rasa takut. Namun menghadapi seorang wanita yang sengaja menutup hatinya ternyata jauh lebih sulit.

“Aku tahu kau sedang menghindariku,” katanya akhirnya.

“Bagus. Berarti kau tidak sebodoh kelihatannya.”

Alis Dhana terangkat. Ada sedikit kegetiran dalam kalimat itu. Namun ia tidak tersinggung. “Aku juga tahu alasannya.”

Jenara langsung menegang. “Tidak,” potongnya. “Kau tidak tahu.”

Dhana menatapnya lama. “Kalau begitu, beri tahu aku.”

Jenara seketika terdiam. Ia tidak menyangka bahwa Dhana sangat pintar menjebak dengan menggunakan kata-kata. Niat hati ingin menghindari pembicaraan, tapi Dhana malah berhasil menuntunnya untuk bicara.

Dhana sedikit mencondongkan tubuh. “Aku sudah membiarkanmu diam selama tiga hari.”

“Tiga hari?” Jenara tertawa kecil, pahit. “Kau menghitungnya?”

“Aku menghitung banyak hal.”

“Termasuk aku?” Pertanyaan itu membuat Dhana terdiam.

Bersambung….

1
InaraAp 09
Lanjut Thor semakin seru ceritanya
InaraAp 09
bagus dhana
InaraAp 09
hati2 dhana, jangan sampai kebongkat
InaraAp 09
lanjut thor
InaraAp 09
jujur pengin nampol Elena dan anaknya
InaraAp 09
gak bisa bayangkan di posisi jenara
InaraAp 09
benar dhana harus tepati janjimu
InaraAp 09
Jadi dhana pasti serba bingung🤔
Sri Yatun
apa sudah tau ke 4 orang itu tentang penyamaran dhana
Fahmi Ardiansyah
iya mungkin jenara gak ada yang bisa di katakan LG.krn dhanagak mau bekerja sama dgn dirinya.
Fahmi Ardiansyah
semoga Reval gak berbuat curang sama dhana.
Fahmi Ardiansyah
setelah tau markasnya kmu harus menyusun rencana sebaik mungkin dhana.biar Reval hancur sampai akarnya.
InaraAp 09
besok up yang banyak kak
InaraAp 09
pantas saja
InaraAp 09
semakin penasaran
InaraAp 09
semakin seru....
InaraAp 09
🤔
InaraAp 09
berharap beneran padahal
InaraAp 09
semangat lanjut up... seruuu
InaraAp 09
up lagi dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!