Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Wajah Mama Dania langsung memerah padam menahan amarah, "Kurang ajar! Beraninya kamu bicara seperti itu pada orang tua yang melahirkanmu! Sialan memang kamu, sejak kamu masuk ke keluarga kami, perusahaan Papamu langsung seret dan sekarang setelah kamu menjadi menantu keluarga Raymond, kamu lupa daratan!" teriak Mama Dania dan mengabaikan tatapan risih dari orang-orang sekitar.
Mendengar hinaan itu, alih-alih merasa tersinggung, Kyra justru tertawa kecil. Tawa renyah yang terdengar begitu merdu namun menusuk tajam ke ulu hati.
"Tentu saja, aku berhasil menjadi wanita paling beruntung karena masuk kedalam keluarga terpandang! Oh ya... seharusnya aku berterima kasih kepada sepupuku tercinta ini, karena kau hamil, jadi aku bisa menikah dengan Tuan Brian," ucap Kyra.
Sherly sontak maju selangkah, napasnya memburu akibat amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Wajahnya yang tadinya dipoles sempurna kini tampak memerah padam, kalah telak oleh rasa iri yang membakar habis sisa akal sehatnya.
"Jaga mulutmu, Kyra! Jangan besar kepala dulu! Kau pikir Tuan Brian benar-benar mencintaimu? Kau itu cuma perempuan malang yang dijadikan pelampiasan! Pernikahan kalian itu cuma lelucon dan sebentar lagi, saat Tuan Brian bosan padamu, dia akan membuangmu ke jalanan dengan lebih hina dari pengemis!" desis Sherly dengan suara bergetar penuh kebencian.
Kalimat penuh racun itu meluncur begitu saja di hadapan para pengunjung mal yang mulai melirik dan berbisik-bisik penasaran. Namun, alih-alih menciut atau menunduk malu seperti Kyra yang dulu, wanita itu justru menegakkan dagunya semakin tinggi. Auranya berubah menjadi begitu dominan, memancarkan ketenangan yang justru membuat Sherly terlihat seperti wanita bodoh yang sedang meratap di pinggir jalan.
Kyra melangkah maju perlahan dan memperpendek jarak di antara mereka hingga Sherly tanpa sadar refleks mundur selangkah karena terintimidasi oleh tatapan tajam mata Kyra.
"Pelampiasan, kau bilang?" Kyra tersenyum miring, senyuman paling mematikan yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya.
"Wah, rupa-rupanya ada orang yang sedang menghibur dirinya sendiri di tengah kehancuran. Asal kau tahu, Sherly... sekotor apapun masa laluku, setidaknya aku tidak perlu merusak hidupku sendiri dengan menyerahkan diri pada pria yang tidak jelas latar belakangnya, lalu berakhir hamil tanpa kejelasan status seperti dirimu," lanjut Kyra.
Skakmat!
Wajah Sherly langsung pias seketika, perkataan Kyra bagaikan belati tajam yang tepat menghujam ulu hatinya dan mengungkit aib terbesar yang selama ini mati-matian ditutupi oleh keluarganya dari sorotan publik sosialita keluarga Andreas.
"Kyra! Kamu benar-benar sudah tidak punya hati!" teriak Mama Dania histeris dan nyaris melompat maju untuk mencakar wajah anak kandungnya sendiri, namun urung saat melihat tatapan dingin membunuh yang dilemparkan Kyra.
"Hati?" Kyra terkekeh pelan, suaranya terdengar begitu dingin dan kosong.
"Hati itu sudah kalian cabut dan kubur dalam-dalam sejak kalian membuangku Paman Dian dan Bibi Lista, kalian membiarkan aku hidup susah dan seakan ingin mat*. Jadi, jangan pernah menuntut rasa kasihan dariku, karena di kamus hidupku, kalian hanyalah hama yang tidak sengaja terinjak," hina Kyra.
Suasana di depan butik mewah itu mendadak sunyi senyap. Beberapa petugas keamanan mal bahkan tampak ragu-ragu hendak mendekat, namun terhenti melihat kelas pakaian dan tas mewah yang menempel di tubuh Kyra, tanda bahwa wanita itu bukan lagi sosok gadis lemah yang bisa ditindas sembarangan.
Sherly menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, matanya berkaca-kaca bukan karena sedih, melainkan karena rasa malu dan frustrasi yang teramat sangat. Ia sadar, berdiri lebih lama di tempat ini hanya akan membuat harga diri mereka semakin hancur berkeping-keping di hadapan publik.
"Tante... ayo pergi, Tante. Jangan buang waktu meladeni wanita jal*ng ini!" bisik Sherly dengan suara gemetar dan menarik-narik lengan mantel Mama Dania dengan kasar.
Mama Dania menatap Kyra dengan kilatan mata penuh dendam kesumat. Namun, melihat punggung Kyra yang tetap tegak tanpa sedikit pun rasa gentar, nyali wanita paruh baya itu akhirnya ciut juga. Dengan napas memburu dan menahan malu yang luar biasa, Mama Dania membuang muka.
"Ingat pembalasan kami, Kyra! Karma itu ada!" cicit Mama Dania penuh keputusasaan sebelum akhirnya berbalik dan menyeret Sherly pergi dengan langkah tergesa-gesa dan kabur dari arena kekalahan telak yang mereka buat sendiri.
Kyra hanya berdiri diam, mengamati punggung dua wanita itu yang semakin menjauh dan menghilang di balik kerumunan pengunjung mal. Tidak ada rasa iba, tidak ada sisa air mata. Yang ada di dadanya hanyalah kepuasan yang mendalam, sebuah bukti nyata bahwa rantai ketakutan yang selama ini membelenggunya telah putus untuk selamanya.
Kyra bukan lagi Kyra yang dulu. Di bawah perlindungan bayangan sang suami dan tekad baja di dalam dirinya, ia kini berdiri sebagai ratu di atas reruntuhan musuh-musuhnya.
Kepergian Mama Dania dan Sherly yang bergegas menahan malu menyisakan keheningan sesaat di pelataran butik mewah tersebut. Kyra menarik napas panjang, membiarkan udara dingin di mall mengisi paru-parunya, menetralisir debar emosi yang sempat memuncak. Setelah kejadian kecil itu, sisa-sisa amarah dan bayang-bayang kelam masa lalu seolah lenyap tersapu angin.
Tidak ingin suasana hatinya yang sudah membaik kembali rusak, Kyra memutuskan untuk melanjutkan agendanya. Ia kembali melangkah menyusuri koridor mal yang megah, memasuki beberapa butik ternama dan membiarkan dirinya menikmati hak istimewa yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia rasakan.
Mulai dari gaun-gaun berdesain elegan, wewangian eksklusif, hingga beberapa aksesori berkilau berpindah tangan ke dalam kantong belanjaan berlabel emas yang dibawakan oleh pengawalnya. Bagi Kyra, setiap barang yang ia beli bukan sekadar untuk memuaskannya, melainkan simbol kebebasan dan kemenangan kecil atas hidupnya sendiri.
Pukul tiga sore, setelah merasa cukup puas berkeliling, Kyra memutuskan untuk menyudahi aktivitas belanjanya dan berjalan menuju area lobi utama tempat mobil jemputannya biasa menunggu.
Langkah kaki Kyra yang santai mendadak terhenti ketika pandangannya tak sengaja menangkap kerumunan orang yang tengah memadati area sekitar atrium mal. Di tengah-tengah kerumunan itu, sebuah layar berukuran raksasa membentang megah, menampilkan cuplikan sebuah film romantis bergenre drama yang sedang menjadi buah bibir dan trending di berbagai platform media sosial minggu ini. Poster film dengan visual sinematik yang memukau terpampang jelas, memuat cuplikan adegan penuh emosi yang langsung menarik perhatian siapa saja yang melintas.
Kyra tertegun sejenak, ia terbiasa hidup dalam tekanan, terasingkan atau disibukkan dengan rencana balas dendam hingga ia tidak pernah benar-benar menikmati hal-hal sederhana yang dinikmati oleh gadis-gadis seusianya, seperti berjalan-jalan santai di mal atau sekadar menonton film di bioskop tanpa beban, keinginan itu tiba-tiba saja muncul begitu kuat di benaknya.
Tanpa pikir panjang, Kyra pergi ke area bioskop yang terletak di lantai 4. Ia melihat jadwal penayangan dan beruntung, masih ada satu studio yang menayangkan film tersebut dalam waktu dua puluh menit ke depan.
.
.
.
Bersambung.....
semangat balas dendam
salah sendiri ngapain doyan ngangkang sama orang yang tidak jelas 🤣🤣🤣🤭🤭🤭