Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Kemajuan Ibu Busnah
Suara ritmis dari layar pemantau jantung memberikan ketenangan mendalam yang sudah sekian lama hilang dari hidupku.
Bunyi bip... bip... yang stabil itu mengalun lembut di dalam ruangan bernuansa putih gading. Tidak ada lagi suara jeritan pasien dari ranjang sebelah. Tidak ada lagi hiruk-pikuk perawat yang berlarian membawa tabung oksigen berkarat di lorong kumuh.
Kamar VIP ini lebih menyerupai kamar hotel bintang lima dibandingkan sebuah ruang rawat inap rumah sakit.
Lantai granitnya mengkilap bersih. Sebuah sofa kulit panjang terletak di sudut ruangan, menghadap ke arah televisi layar datar berukuran besar. Sirkulasi udara terasa sangat sejuk dan tersaring sempurna, menjaga kenyamanan pasien di tingkat maksimal.
Aku berdiri di samping ranjang medis berteknologi tinggi, menatap wajah Ibu yang tertidur pulas.
Wajah beliau masih pucat, namun raut kesakitan yang selalu menyiksanya selama beberapa bulan terakhir telah menghilang. Selang infus yang terpasang di tangannya menyalurkan cairan nutrisi dan obat-obatan kualitas terbaik yang sebelumnya hanya bisa kuimpikan.
Teks hijau dari sistem A.U.R.A berkedip perlahan di sudut retinaku, memindai kondisi fisik Ibu secara otomatis.
[Memindai Subjek: Ibu Busnah.]
[Detak Jantung: Stabil. Tekanan Darah: Menuju Normal.]
[Tingkat Pemulihan Jaringan Organ: Terdeteksi Kemajuan 15% dalam 24 Jam Terakhir.]
[Analisis Medis: Perawatan intensif berjalan sangat efektif. Risiko kegagalan organ menurun drastis.]
Air mata hangat menetes perlahan dari sudut mataku. Aku segera mengusapnya dengan punggung tangan.
Semua beban berat yang menghancurkan tulang punggungku seolah terangkat begitu saja. Keputusan Sakti malam itu benar-benar mengubah garis takdir keluargaku.
Pria dingin dan arogan itu menyelamatkan nyawa Ibuku tanpa meminta imbalan apa pun, selain memintaku untuk tetap bekerja secara maksimal di sisinya.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Pintu ruangan terbuka perlahan dari luar.
Aku menoleh dan mendapati Halifa berdiri mematung di ambang pintu. Sahabat karibku itu menjatuhkan tas jinjingnya ke lantai dengan mulut setengah terbuka. Matanya yang bulat menyapu seluruh kemewahan ruangan ini dengan tatapan tak percaya.
"Astaga naga..." gumam Halifa, melangkah masuk ke dalam kamar dengan langkah ragu, seolah takut mengotori lantai granitnya. "Ter, kau merampok bank mana semalam?"
Aku tersenyum tipis dan meletakkan jari telunjuk di depan bibirku, mengisyaratkan padanya untuk tidak berbicara terlalu keras agar Ibu tidak terbangun.
Halifa segera menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu berjalan berjingkat menghampiriku.
"Ini gila," bisik Halifa dengan nada histeris yang tertahan. Ia menunjuk ke arah peralatan medis mutakhir dan sofa kulit di sudut. "Kau tahu berapa tarif menginap satu malam di kamar VIP rumah sakit spesialis ini? Gajimu selama setahun pun tidak akan cukup untuk membayar sewa ruangan ini seminggu!"
Aku menarik Halifa menjauh dari ranjang Ibu, membawanya duduk di sofa kulit agar kami bisa berbicara lebih leluasa.
"Aku tidak membayar ruangan ini, Fa," jawabku pelan.
Mata Halifa langsung membelalak semakin lebar. "Jangan bilang padaku kau menjual organ ginjalmu demi ini, Tera!"
"Bukan!" Aku mendengus pelan, memutar bola mataku malas. "Bosku yang menanggung semuanya."
Keheningan menyergap kami selama beberapa detik. Halifa menatap wajahku dengan tatapan menyelidik yang sangat tajam, mencoba mencari kebohongan atau candaan di mataku.
Ketika ia menyadari aku berkata jujur, senyum jahil yang sangat menjengkelkan mulai terbentuk di wajah sahabatku itu.
"Tunggu, tunggu," Halifa menyilangkan tangannya di depan dada. "Maksudmu... Sakti? Tuan CEO muda, tampan, dingin, penguasa Vanguard Corp yang digilai seluruh wanita di kota ini?"
Aku mengangguk ragu. "Ya."
Halifa memukul bahuku pelan. "Tera! Laki-laki sekelas CEO tidak mungkin menggelontorkan dana miliaran rupiah dari kantong pribadinya untuk staf yang baru bekerja hitungan hari tanpa alasan personal!"
Aku segera menepis tuduhannya. "Ini hanya investasi perusahaan, Fa. Dia bilang aku adalah aset berharga karena kemampuanku menganalisis data. Dia tidak ingin fokusku terpecah oleh urusan biaya rumah sakit."
Halifa tertawa pelan, tawa yang penuh dengan nuansa meremehkan logikaku.
"Kau ini memang jenius dalam urusan angka dan data, Ter. Tapi otak asmaramu benar-benar mati rasa," cibir Halifa tanpa ampun. "Investasi perusahaan tidak memindahkan ibu seorang asisten ke kamar presiden suite! Kalau dia menganggapmu hanya mesin pengeruk uang, dia cukup memberimu pinjaman potong gaji."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Perkataan Halifa menghantam dinding logikaku keras-keras.
Aku menyandarkan tubuhku ke sofa. Mataku menerawang ke arah ranjang tempat Ibu terlelap tenang.
Sistem A.U.R.A di dalam kepalaku mendadak mencoba menganalisis motivasi Sakti atas dasar perintah alam bawah sadarku.
[Menganalisis Variabel Motivasi Subjek Sakti.]
[Mengkalkulasi Riwayat Pengeluaran Pribadi CEO Vanguard Corp.]
[Peringatan: Data Tidak Cukup. Variabel Emosi Subjek Sakti Terlalu Kompleks untuk Diterjemahkan ke Dalam Persentase Logika Bisnis.]
Sistem menyerah. Kecerdasan buatan super canggih di dalam otakku pun tidak mampu menemukan alasan logis mengapa Sakti melakukan hal sejauh ini.
Teringat kembali tatapan Sakti di dalam mobil malam itu. Cara pria itu mengucapkan kalimat 'Tetaplah berada di sisiku, Tera'. Nada posesif yang sangat kental, jauh melampaui batas hubungan atasan dan bawahan.
"Fa..." panggilku pelan, merasakan suhu tubuhku sedikit memanas. "Dia sangat keras dan menuntut saat di kantor. Dia tidak pernah tersenyum. Tapi, setiap kali aku berada dalam bahaya, dia selalu menjadi orang pertama yang berdiri di depanku."
Halifa tersenyum lembut, meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
"Itu artinya dia peduli padamu, Ter. Lebih dari sekadar atasan ke asisten," ucap Halifa tulus. "Pria dengan kekuasaan besar tidak pandai merangkai kata manis. Mereka menunjukkan perasaannya lewat tindakan absolut."
Aku menundukkan wajahku, menyembunyikan rona merah yang perlahan menjalar di pipiku.
Aku tidak berani berharap terlalu tinggi. Perbedaan strata sosial kami ibarat langit dan bumi. Aku hanyalah wanita dari keluarga miskin dengan banyak hutang, sementara ia adalah penerus tunggal dinasti bisnis terbesar di negara ini.
Dunia korporat elit tidak pernah memberikan ruang bagi kisah romansa tanpa syarat.
Namun, menatap Ibu yang kini mendapatkan perawatan terbaik, aku tidak bisa menolak rasa terima kasih dan kehangatan yang perlahan mengakar di dalam hatiku untuk pria itu.
"Apapun alasannya, Fa... aku berhutang nyawa padanya," bisikku pelan. "Aku akan menggunakan seluruh kemampuanku untuk membantunya mempertahankan perusahaan itu."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Halifa baru saja hendak menimpali kalimatku, namun pergerakan gagang pintu di ujung ruangan seketika menghentikan pembicaraan kami.
Gagang pintu berwarna perak itu bergerak turun secara perlahan.
Pintu terbuka tanpa menimbulkan suara decit sedikit pun. Sosok jangkung melangkah masuk ke dalam kamar rawat inap dengan tenang.
Langkah kakinya mantap. Pria itu mengenakan kemeja biru tua yang sangat pas di tubuh atletisnya. Lengan kemejanya digulung sebatas siku, memberikan kesan sedikit lebih santai dibandingkan penampilan kaku di kantor. Kacamata peraknya membingkai mata tajamnya yang langsung mengunci keberadaanku di atas sofa.
Halifa langsung melompat berdiri dari sofa dengan wajah panik, seolah baru saja tertangkap basah sedang membicarakan atasanku.
Sakti tidak mempedulikan Halifa. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada kondisi ruangan ini.
Di salah satu tangannya, pria paling berkuasa di Vanguard Corp itu membawa sebuah parsel buah-buahan mewah berukuran besar yang dihiasi pita rapi.
Sakti telah datang berkunjung.
TERA itu ......
T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?