Dante Marcondes adalah Don mafia Italia yang ditakuti semua orang. Hidupnya dipenuhi kekuasaan, darah, dan aturan keluarga yang tidak bisa ia abaikan, sampai sebuah pengkhianatan membuatnya berada di ambang kematian.
Camile Fontana hanyalah perawat yang ingin menjalani hidup tenang setelah meninggalkan masa lalu kelam di negeri asalnya. Namun ketika ia menyelamatkan Dante dan mendengar rahasia yang seharusnya terkubur, hidupnya ikut terseret ke dunia pria itu: dunia penuh bahaya, kekuasaan, perlindungan, dan cinta yang tak mengenal setengah hati.
Di antara ancaman keluarga, pernikahan yang dipaksakan, dendam lama, dan rahasia yang menghancurkan, Dante dan Camile harus memilih: lari dari takdir, atau bertahan bersama di sisi paling gelap cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Ia tetap di sana, duduk di tengah tempat tidurku, mata besarnya membelalak, dadanya naik turun cepat, gaunnya kusut di atas seprai yang hanya beraroma diriku. Sesaat, kulihat keraguan melintas di wajahnya: keras kepala yang menyuruhnya pergi, meninggalkanku menderita seperti ancamannya tadi, dan hasrat yang menyala di matanya, sama kuatnya dengan hasratku, memintanya tetap tinggal, menyerahkan diri.
Aku tidak bergerak. Aku berdiri di kaki ranjang, mengamati setiap gerakannya, setiap pikiran yang seolah melintas di kepalanya, merasakan tubuhku terbakar, ereksi yang sakit dan mendesak, hanya menunggu keputusan darinya. Sebab sebesar apa pun kekuasaanku atas dunia, sebanyak apa pun yang sudah kuambil darinya, pada saat itu hanya dia yang punya kuasa memberiku hal yang paling kuinginkan.
Ia menarik napas dalam-dalam, menyisir rambutnya yang berantakan dengan tangan, lalu perlahan, sangat perlahan, mulai berdiri. Kupikir ia benar-benar akan pergi, melangkah tegas keluar dan meninggalkanku bersama keinginanku sendiri. Namun alih-alih menuju pintu, ia datang kepadaku. Ia berhenti sangat dekat, begitu dekat sampai aku bisa merasakan panas yang memancar dari kulitnya, lalu mengangkat wajah untuk memandangku, dengan campuran marah dan gairah yang hanya ia miliki.
"Kamu pria yang mustahil, Dante," bisiknya, tangannya naik pelan di dadaku, membuka kancing-kancing yang tadi kulepas, jari-jarinya yang hangat menyentuh kulitku. "Keras kepala, suka memerintah, arogan... dan masih saja membuatku berdiri di sini, menginginkan sesuatu yang sudah kusumpahi tidak akan kuberikan."
"Kamu menginginkannya, Camile," jawabku serak, mencengkeram pinggangnya kuat-kuat, menariknya ke tubuhku, merekatkan setiap lekuk tubuhnya pada tubuhku. "Kamu menginginkannya sejak hari pertama, sejak aku membuka mata dan melihatmu."
Ia tidak menyangkal. Ia menunduk, membiarkan keningnya menempel di dadaku, dan selama beberapa saat hanya ada suara napas kami yang bercampur. Lalu, dengan keberanian yang mengejutkanku, ia mendorongku perlahan ke belakang sampai aku terduduk di tepi ranjang. Ia berdiri di antara kedua kakiku, menatap lurus ke dalam mataku, dan ekspresi gadis takut itu berubah menjadi sesuatu yang lebih kuat, lebih membara.
"Aku tidak akan membiarkanmu menderita sendirian," katanya lirih, dengan senyum yang membuat sisa akal sehatku hilang sepenuhnya. "Tapi ketahuilah: ini bukan karena aku milikmu. Ini karena... karena aku juga sudah tidak sanggup menunggu."
Ia menunduk, mencium mulutku dengan amarah yang sama dengan milikku, lalu melepaskan pakaiannya sendiri perlahan, tepat di hadapanku, menunjukkan setiap detail lingerie renda yang indah, yang tadi ia bilang tidak akan pernah kulihat. Dan ketika yang tersisa hanyalah kulit lembutnya yang berkilau di bawah cahaya lampu meja, ia naik ke tubuhku, duduk perlahan di pangkuanku, membuat duniaku berputar, membuat seluruh nalar lenyap seketika.
"Sekarang," bisiknya, bibirnya menggesek telingaku, tangannya mencengkeram bahuku kuat-kuat, "kamu boleh memiliki semuanya. Tapi ingat: aku tidak melupakan pengacara itu, atau aturan yang kamu langgar. Kamu akan membayar untuk semuanya."
Aku tertawa di kulit lehernya, merasakan rasa, aroma, dan sensasi akhirnya memilikinya utuh untukku.
"Tagih sebanyak yang kamu mau, hidupku," jawabku, tiba-tiba membalik tubuhnya, membaringkannya di atas seprai, berada di atasnya, memandang wanita yang telah mengubah segalanya. "Aku memang berutang segalanya padamu. Dan aku akan membayarnya, dengan bunga, setiap detik, setiap sentuhan, setiap kali kamu memandangku dan membuatku gila."
Aku memang melemparkannya ke ranjang, tetapi sekarang akulah yang sepenuhnya menyerah, dikuasai oleh pemandangan dirinya yang terbaring di antara seprai. Tidak ada lagi aturan, tidak ada lagi kesepakatan, hanya hasrat lama yang tersimpan dan kini meledak dengan seluruh kekuatannya.
Aku berlutut di tepi ranjang, di samping tubuhnya, lalu mulai menyentuhnya perlahan, dengan ketenangan yang terukur, menikmati setiap detik, setiap sentuhan, seolah sedang menyingkap harta yang hanya milikku. Jemariku naik di sepanjang kakinya yang lembut, ke pahanya, sampai menarik kain tipis celana dalamnya ke bawah, melepasnya perlahan, membiarkan kulitnya muncul sedikit demi sedikit, putih, halus, sempurna di bawah cahaya lembut lampu meja.
Kulepas juga branya dengan hati-hati, dan ketika payudaranya terbebas, berat, penuh, putingnya mengeras oleh hasrat dan udara sejuk kamar, aku tidak ragu. Aku menunduk dan mengambil salah satunya dengan mulutku, utuh. Kuhisap dengan penuh keinginan, merasakan rasa manis kulitnya, teksturnya yang lembut, panas yang datang dari dalam. Lidahku bergerak pelan mengelilinginya, bibirku menekannya lembut, merasakan ia melengkungkan punggung, melepas erangan rendah yang tertahan, suara paling indah yang pernah kudengar. Kulakukan hal yang sama pada yang satu lagi, memberinya perhatian yang sama, kelaparan yang sama, merasakan tangannya mencengkeram rambutku, menarikku lebih dekat, meminta tanpa kata agar aku tidak pernah berhenti.
Setelah itu, aku turun perlahan, mencium setiap senti kulit yang kutemukan di jalan. Kucium lengkung lembut lehernya, tempat jantungnya berdetak cepat dan kuat, nyaris melompat keluar, merasakan aromanya bercampur dengan udara. Kugigit kecil, kuhisap kulit halusnya, meninggalkan tanda yang hanya bisa kubuat, yang hanya bisa kulihat. Aku turun ke tulang selangka, ke tengah dadanya, ke perutnya yang rata dan tegang, merasakan setiap merinding yang kutimbulkan padanya, setiap getaran yang menjalari tubuh kecilnya yang hangat.
Aku menginginkan semuanya. Aku ingin mencicipi setiap bagian dirinya, ingin membuatnya merasakan apa yang ia lakukan padaku, ingin mendengar kenikmatannya tumbuh sampai ia tidak sanggup lagi menahannya. Aku menunduk di antara pahanya, merasakan panas kuat yang memancar dari sana, aroma manis dan tak tertukar yang hanya miliknya. Lalu aku menciumnya di sana, di pusat seluruh hasratnya, dengan kelaparan yang sama, gairah yang sama seperti yang kurasakan pada seluruh dirinya.
Lidahku bergerak perlahan, menjelajahi setiap bagian, setiap titik yang membuatnya bergetar, yang membuatnya meneriakkan namaku. Kuhisap, kucium, bergerak dengan ritme, dengan intensitas, merasakan rasanya memenuhi mulutku, lidahku, masuk seperti candu yang tidak akan pernah ingin kusembuhkan. Ia bergerak di bawahku, kakinya mengapit kepalaku, jari-jarinya menarik rambutku kuat-kuat, erangannya kini keras, bebas, memenuhi seluruh kamar, seluruh dunia. Aku tidak ingin berhenti. Aku bisa menghabiskan seumur hidup seperti ini, hanya menikmatinya, melihatnya kehilangan kendali, melihatnya menyerahkan diri sepenuhnya kepadaku.
Dan ketika akhirnya kurasakan seluruh tubuhnya menegang, ketika kudengar pekik nikmat keluar dari mulutnya, ketika kurasakan rasanya menjadi lebih kuat, lebih pekat, aku mengangkat pandangan dan melihatnya: terbaring, terengah, mata terpejam, wajah memerah, seluruh tubuhnya ditandai oleh ciumanku, oleh mulutku, oleh hasratku.
Ia milikku. Ia sudah menjadi milikku sejak hari pertama. Dan sekarang, dengan setiap ciuman, setiap sentuhan, setiap tetes kenikmatan yang kuberikan kepadanya, aku mendapatkan kepastian mutlak: tidak akan ada yang pernah mencintainya, tidak akan ada yang pernah menginginkannya, tidak akan ada yang pernah membuatnya merasakan apa yang kuberikan. Karena ia bukan hanya wanitaku. Ia adalah hidupku. Dan aku akan memberikan segalanya, semua yang kumiliki, untuk memilikinya seperti ini, untukku, selamanya.