Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Memperhatikan
Mira masih membereskan beberapa bungkus cangcimen yang jatuh ketika mobil hitam itu akhirnya berhenti tidak jauh dari taman. Anak perempuan yang tadi berdebat dengannya sudah kembali menghampiri seorang wanita yang terlihat anggun. Sementara pria yang berdiri di samping mereka hanya sesekali melihat keadaan sekitar.
Mira tidak terlalu memperhatikan. Baginya, yang lebih penting saat ini adalah dagangan ibunya, agar berkurang sedikit demi sedikit dari keranjangnya.
“Cangcimen... cangcimen...” suaranya terdengar begitu semangat.
Anak itu kembali berjalan berkeliling menawarkan dagangannya, beberapa pengunjung ada yang membeli jualannya, satu persatu akhirnya dagangannya ada yang laku juga.
"Kacangnya berapaan Dek?" tanya salah satu ibu-ibu.
"Lima ribu aja Bu," sahutnya dengan ramah.
"Ibu ambil tiga ya, juga permennya satu," ujar ibu itu.
Dengan cekatan tangan Mira mengambil kacang juga permennya, senyum syukur terukir jelas dari bibirnya, tanpa ia sangka pelanggan pertamanya membeli jajanannya empat sekaligus.
"Ya Allah makasih banyak, untuk pelanggan pertamaku, Mira harus berjualan lagi, agar Ibu senang," gumam gadis kecil itu lalu mulai kembali jualannya.
Mira terus berjalan menghampiri satu-satu pengunjung yang mulai memadati taman raya, sebagian pengunjung ada yang melambaikan tangan, dan sebagian lagi ada yang membeli jalannya.
Tidak terasa jualan Mira pagi ini banyak yang laku ia pun mulai kembali ke tenda ibunya, dari situ ia melihat Shasa masih duduk dengan ibunya. Tidak lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara seorang wanita wanita yang memanggil nama Shasa sambil berlari.
“Shasa!”
Gadis kecil itu yang sejak tadi duduk di samping Rina langsung berdiri. Matanya membulat.
“Ibu!”
Shasa berlari secepat mungkin. Seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan juga mempercepat langkahnya.
Dalam hitungan detik, keduanya sudah saling berpelukan. “Ibu kangen sekali sama Shasa,” ucap wanita itu sambil mengusap rambut putrinya.
“Aku juga kangen, Bu.”
Suara Shasa terdengar bergetar. Sudah hampir dua bulan ia tidak bertemu ibunya. Sementara itu, Mira yang melihat pemandangan itu ikut tersenyum.
“Untung ya, Kak Shasa akhirnya ketemu Ibunya,” gumamnya pelan.
Rina mengangguk. “Iya.”
Tak lama kemudian, wanita itu melihat ke arah ibu dan anak itu, lalu menghampiri mereka.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Rina.
“Maaf ya, Bu. Shasa merepotkan.”
“Enggak sama sekali,” sahut Rina cepat. “Anaknya baik kok.”
Wanita itu tersenyum lega, ia tidak menyangka jika anaknya yang pendiam menemukan seorang teman, kemudian pandangannya beralih kepada Mira.
“Kamu Azmira?”
Mira mengangguk. “Iya, Bu.”
“Shasa sering cerita tentang kamu.”
Mata Mira langsung berbinar. “Benarkah?”
“Iya. Katanya kamu sering menemaninya.”
Mira langsung tersenyum malu. “Enggak sering juga sih, Bu.”
Wanita itu terkekeh kecil. “Terima kasih ya sudah mau jadi teman Shasa.”
Mira segera menggeleng. “Mira juga senang punya teman.”
Mendengar jawaban polos itu, hati wanita tersebut terasa hangat. Ia lalu mengambil beberapa kantong besar yang tadi dibawanya.
“Nah, ini yang Ibu janjikan.”
Shasa langsung mendekat. “Banyak sekali, Bu.”
“Ada makanan, baju, sama beberapa barang yang sudah tidak dipakai lagi.”
Mira hanya melihat dari kejauhan. Matanya memang penasaran. Namun ia tidak berani mendekat, anak itu cukup tahu diri, jika itu bukan miliknya.
Melihat ekspresi Mira, ibu Shasa seolah menyadarinya. “Kamu juga boleh lihat, Mira.”
Mira langsung menggeleng cepat. “Enggak usah, Bu.”
“Kenapa?”
“Mira cuma lihat saja.”
“Kalau ada yang kamu suka, ambil saja.”
Mira kembali menggeleng. “Enggak bisa.”
“Kenapa tidak bisa?”
Mira menunduk sebentar sebelum menjawab. “Soalnya Mira enggak punya uang buat bayar.”
Seketika suasana menjadi hening. Rina yang mendengar itu langsung memalingkan wajahnya, ia tahu betul dengan sifat anaknya yang tidak mau menerima barang cuma-cuma dari seseorang.
Sementara wanita tersebut menatap Mira dengan mata yang mulai terasa panas. Anak sekecil itu bahkan tidak berpikir untuk meminta. Ia justru memikirkan bagaimana cara membayarnya.
“Kalau Ibu kasih?”
Mira tersenyum kecil. “Terima kasih, Bu. Tapi Mira enggak boleh menerima cuma-cuma.”
Wanita itu terdiam. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. Sementara tidak jauh dari sana, seorang pria yang baru keluar dari area taman tanpa sengaja melihat pemandangan tersebut.
Ia melihat seorang anak kecil yang mengenakan baju sederhana. Wajah yang penuh senyum. Namun kalimat yang baru saja diucapkan anak itu membuat langkahnya terhenti sesaat.
"Mira enggak boleh menerima cuma-cuma."
Pria itu menoleh sekilas, hanya sekilas tidak menoleh ke arah lain selain ke arah anak kecil itu, padahal jika saja matanya lebih teliti, mungkin dirinya akan melihat seseorang dari masa lalunya.
Ia pun kembali berjalan menuju mobilnya.
Dika tidak mengenali anak itu. Dan anak itu juga tidak mengenalinya, tapi Dika tahu jika asisten rumah tangganya itu sedang membagikan barang-barang bekas anak perempuannya.
Sementara itu, Shasa yang sedang membuka kantong barang tiba-tiba berseru.
“Bu, lihat! Ini masih bagus.”
Ia mengangkat sebuah tas kecil berwarna biru.“Cantik ya, Mir?”
Mira mengangguk kagum. “Cantik sekali.”
“Kalau ini kamu mau?”
Mira tertawa kecil. “Enggak ah.”
“Kenapa lagi?”
“Mira takut nanti Kak Shasa enggak punya.”
Shasa langsung cemberut. “Kamu itu baik terus.”
Mira terkekeh pelan. Sementara mereka tertawa bersama, tak ada yang menyadari bahwa dari balik kaca mobil hitam itu, sepasang mata sedang memperhatikan ke arah mereka.
Dan untuk pertama kalinya anak perempuan yang tadi bertabrakan dengan Mira mulai merasa penasaran. Kenapa anak yang memakai baju sederhana itu bisa tetap tersenyum sebahagia itu?
Bersambung...
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡