Alya hanya ingin bertahan hidup bersama putrinya yang masih bayi dan adik perempuan yang tidak pernah meninggalkannya. Setelah diusir keluarga, ditinggalkan pria yang seharusnya bertanggung jawab, dan dipaksa menghadapi dunia sendirian, suara adalah satu-satunya jalan yang ia punya.
Satu malam, di sebuah acara mewah yang penuh rahasia, suaranya menarik perhatian Arkan Wiratama, seorang pria berkuasa yang dikenal dingin, berbahaya, dan tidak pernah kehilangan kendali. Arkan semula mengira Alya bisa dibeli seperti segala hal lain di dunianya. Namun satu tamparan dan satu kalimat membuatnya sadar: perempuan itu tidak punya harga.
Ketika nyawa kecil Kirana terancam, Arkan memilih masuk ke hidup Alya bukan sebagai penyelamat sesaat, melainkan sebagai pria yang berani menawarkan nama, perlindungan, dan sebuah keluarga. Namun menjadi perempuan di sisi seorang Don berarti masuk ke dunia yang dipenuhi kesetiaan, rahasia, musuh, dan bahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara luka lama, cinta yang tumbuh perlahan, dan ancaman dari orang-orang yang ingin merebut kembali apa yang sudah mereka buang, Alya harus memutuskan apakah hati yang pernah hancur masih berani percaya. Dan Arkan harus membuktikan bahwa cinta, bagi pria sepertinya, bukan kelemahan, melainkan sumpah yang akan ia jaga dengan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15 - Mereka Akan Membayar Mahal
Kami tiba di lokasi serangan dalam waktu kurang dari dua puluh menit. Begitu turun dari mobil, udara sudah terasa berbeda: campuran asap, minyak terbakar, dan keheningan tegang orang-orang yang menunggu perintah. Tidak ada teriakan, tidak ada kepanikan berlebihan. Hanya pria-pria berwajah kaku, berdiri dalam formasi, tahu bahwa kesalahan sekecil apa pun sekarang akan dibayar mahal.
Aku masuk ke gudang yang berfungsi sebagai pos penjagaan sekaligus tempat penyimpanan, dan pemandangan di dalamnya sudah bicara sendiri: rak-rak roboh, kotak-kotak terbuka dan diacak-acak, kaca pecah, serta bekas tembakan di dinding beton. Kerugian itu terlihat jelas, tetapi yang paling menggangguku bukan jumlah nilai yang hilang. Yang menggangguku adalah keberanian orang-orang yang berani menyerbu sesuatu milikku.
"Tunjukkan semuanya," perintahku dengan suara berat. Aku tidak meninggikan nada, tetapi ketegasannya cukup untuk membekukan ruangan. "Aku ingin melihat apa yang diambil, apa yang tersisa, dan setiap detail dari kejadian ini."
Salah satu orang kepercayaanku mendekat dengan tablet di tangan.
"Tuan, kami berhasil memulihkan rekaman kamera keamanan. Mereka mematikan sistem alarm luar, tetapi tidak sempat menghapus gambarnya."
Aku duduk di meja darurat dan memperhatikan layar. Rekaman itu memperlihatkan sekelompok delapan pria, semuanya berpakaian hitam, memakai tudung, dan membawa senjata laras panjang. Gerakan mereka teratur. Mereka bukan amatir. Mereka tahu persis harus mencari di mana dan berapa lama waktu yang mereka punya.
Setiap detik yang kuamati membuat wajahku semakin kaku. Di duniaku, tidak ada ruang untuk kesalahan, apalagi pengampunan ketika seseorang menantang otoritas. Siapa pun yang menyerangku, menyerang struktur yang menjaga semuanya tetap berdiri. Dan itu punya harga yang belum mereka sadari harus mereka bayar.
"Perbesar gambarnya," perintahku sambil menunjuk layar. "Aku ingin melihat wajah, tato, jenis senjata yang mereka pakai, detail apa pun yang bisa dipakai untuk mengenali mereka."
"Kami sudah mencocokkannya, Tuan," jawabnya. "Dari cara mereka bergerak dan rute yang mereka ambil, semuanya mengarah pada kelompok yang beroperasi di wilayah selatan. Tapi sebelumnya mereka tidak pernah punya nyali untuk mendekat sejauh ini."
Aku meletakkan siku di atas meja, menautkan jari, dan memandangi rekaman itu lekat-lekat, seolah bisa menembus layar sampai menemukan satu per satu dari mereka.
"Kalau begitu perburuan dimulai," kataku pelan, setiap kata sarat keputusan. "Aku ingin tahu siapa mereka, di mana mereka tinggal, siapa yang menyuruh mereka, dan langkah apa yang mereka rencanakan berikutnya. Aku tidak hanya ingin mengambil kembali apa yang dicuri. Aku ingin mereka memahami bahwa melintasi jalanku adalah kesalahan terakhir yang seseorang lakukan dalam hidupnya."
Rian dan Malik berdiri di sisiku dalam diam. Mereka tahu, pada saat seperti ini, tidak ada tempat untuk bercanda. Suasana di sana mematikan: tidak ada kelengahan yang akan ditoleransi, tidak ada informasi yang boleh diabaikan. Aturannya jelas dan lama: hormat, atau tanggung akibatnya.
"Bagi tim," lanjutku, sudah menyusun jalurnya. "Satu periksa semua jalan keluar kota, satu lagi cari kontak lama, bar, titik pertemuan. Aku ingin kabar sebelum hari ini berakhir. Siapa pun yang menemukan jejak pertama, ikuti tanpa berhenti sampai ke tujuan akhir. Tim yang berhasil mendapat satu malam bebas di klub malam terbaik."
Sementara semua orang bergerak melaksanakan perintah, aku tinggal sejenak di sana, kembali memperhatikan rekaman itu. Pikiranku bekerja di dua sisi. Di satu sisi, perburuan ini menuntut seluruh perhatianku. Di sisi lain, ada ingatan tentang senyum Kirana, ekspresi Alya, dan kabar yang kutunggu setiap saat: izin pulangnya.
Namun pada saat itu, sang pemimpin berbicara lebih keras. Tantangan sudah dilemparkan, dan aku akan menjawab dengan mata uang yang sama, dengan kekuatan tanpa ampun yang menjaga namaku dan kerajaanku tetap berdiri.
Beberapa jam berlalu, dan pekerjaan tidak berhenti satu detik pun. Tim-tim menyebar ke seluruh wilayah, mengikuti setiap petunjuk, setiap jejak yang ditinggalkan oleh mereka yang berani menyerbu milikku. Dan seperti yang selalu terjadi ketika aturan jelas dan organisasi berjalan ketat, jawaban tidak perlu waktu lama untuk datang.
Aku menerima laporan lengkap, rinci dan dingin, seperti semua hal yang menyentuh sisi hidup ini.
"Kami sudah mendapatkan semuanya kembali, Tuan: senjata, uang, dan suplai yang mereka ambil. Tidak ada yang hilang. Di pihak mereka, tujuh orang tewas dalam pengejaran dan konfrontasi terakhir, sementara tiga lainnya terluka dan berada dalam pengawasan kami. Di pihak kita, hanya empat luka ringan. Semuanya sudah ditangani dan sedang beristirahat."
"Keluarga orang-orang kita?" tanyaku, tidak mengabaikan kewajiban seorang pemimpin.
"Semuanya sudah kami urus. Yang terluka akan menerima bantuan penuh sampai pulih. Untuk keluarga mereka yang tidak kembali, jumlah yang disepakati, perlindungan, dan tunjangan seumur hidup, sesuai aturan kita. Tidak ada yang ditinggalkan tanpa dukungan."
Aku mengangguk tanpa emosi yang terlihat. Itulah yang memang diharapkan dariku. Setelah itu, datang informasi yang menutup lingkaran.
"Penyelidikan memastikan mereka orang-orang dari kelompok rival yang sudah berbulan-bulan mencoba mengambil ruang di sini. Mereka membentuk unit serangan rahasia, mengira kita akan lengah dan tidak merespons secepat ini. Tapi mereka salah memilih sasaran dan salah menilai kekuatan kita dalam menangani masalah."
Aku menutup laporan, tahu urusan itu sudah selesai. Peringatan sudah diberikan: siapa pun yang mencoba melintasi jalanku akan membayar harga yang terlalu tinggi.
Pada saat itulah ponsel di tanganku bergetar, nama Mama muncul di layar. Aku langsung menjawabnya, dan suara Mama, tenang serta penuh kegembiraan yang langsung kukenali, terdengar di telingaku.
"Arkan? Mama punya kabar luar biasa. Dokter sudah menandatangani berkasnya. Kirana boleh pulang. Kami bisa keluar dari sini setengah jam lagi."
Untuk sesaat, seluruh beban, ketegangan, dan dingin yang kubawa di tempat itu lenyap seolah tidak pernah ada. Kelegaan yang sangat besar menjalar di tubuhku, hingga hampir saja aku melepaskan napas yang kutahan tanpa sadar.
"Aku mengerti, Ma," jawabku, suaraku lebih ringan tanpa kehilangan ketegasan. "Aku segera ke sana. Tidak akan lama."
Aku memutus panggilan, memandang sekali lagi orang-orang di sekelilingku, lalu memberi perintah terakhir.
"Urusan ini selesai. Tempatkan para penanggung jawab di tempat yang seharusnya dan tetap kendalikan semua rute. Kalau ada gerakan aneh, segera beri tahu aku. Sekarang, kita pergi."
Aku meninggalkan tempat itu dengan langkah lebih cepat, menaruh perburuan dan bahaya di belakang. Sekarang yang penting adalah kembali ke rumah sakit, menjemput Alya, Laras, dan Kirana kecil, lalu membawa mereka ke tempat yang mulai hari ini akhirnya akan menjadi tempat aman bagi mereka: rumahku, di bawah perlindunganku.