Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Pemberian Sepatu
Perjalanan pulang keduanya terasa begitu menyenangkan. Sesekali terdengar tawa kecil di antara mereka ketika sepeda mini yang dikayuh Mira harus melewati jalan berbatu.
Bagi Mira, perjalanan itu bukan sekadar mengantarkan Shasa pulang. Entah kenapa, sejak mengenal kakak kelasnya itu, perjalanan pulang yang biasanya terasa melelahkan kini justru terasa lebih menyenangkan.
“Pelan-pelan, Mir,” ujar Shasa ketika sepeda itu sedikit bergoyang.
“Tenang, Kak. Mira sudah biasa.”
“Kalau jatuh bagaimana?”
Mira terkekeh. “Ya bangun lagi.”
Jawaban sederhana itu kembali membuat Shasa tertawa.
Tidak terasa, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sederhana yang berada tidak terlalu jauh dari sekolah.
Rumah itu memang tidak mewah, tetapi terlihat cukup nyaman. Halamannya bersih dan beberapa pot bunga tersusun rapi di depan teras.
“Ini rumah Kak Shasa?” tanya Mira sambil turun dari sepeda.
“Iya,” sahut Shasa lalu membuka pagar dengan pelan.
Sementara seorang wanita tua yang sedang duduk di teras langsung menoleh heran karena tidak pernah melihat cucunya membawa seorang teman ke rumah.
“Shasa?”
“Iya, Nek.”
“Loh, tumben kamu bawa teman?”
Shasa mengangguk patuh. “Iya, Nek. Ini Mira. Mira ini juga yang kemarin menolongku.”
Wanita sepuh itu langsung menatap wajah Azmira dengan penuh kagum. Ia melihat kepercayaan diri gadis kecil itu begitu terpancar jelas.
“Wah, makasih banyak ya, Nak,” ucap Nenek Surti lalu segera menghampiri Mira.
Mira segera mendekat dan tersenyum sopan. Mendapat pujian itu bukan membuatnya tinggi melambung, malah timbul rasa sungkan di dalam hatinya.
“Sama-sama, Nek. Itu cuma kebetulan saja Mira melihat Kak Shasa.”
“Masyaallah, anak cantik. Sudah cantik, baik juga hatimu,” pujinya kembali.
Mira langsung tersenyum malu. “Terima kasih, Nek.”
Shasa kemudian menarik tangan Mira pelan. “Ayo masuk.”
Mira mengikuti langkah Shasa ke dalam rumah. Baru beberapa langkah, Shasa tiba-tiba berhenti.
“Tunggu sebentar, Mir.”
“Kenapa, Kak?”
“Aku mau ambil sesuatu.”
Shasa kemudian masuk ke salah satu kamar. Mira hanya berdiri sambil memperhatikan keadaan rumah tersebut. Tidak lama kemudian Shasa kembali dengan membawa sebuah kotak sederhana.
"Apa itu sepatu yang Kakak janjikan tadi."
Shasa mengangguk pelan. "Iya."
Kemudian Shasa mulai membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sepasang sepatu yang masih terlihat cukup bagus. Mata Mira langsung tertuju pada sepatu tersebut.
“Iya, ini sepatu yang tadi aku bilang.”
Mira terdiam. “Kakak benar-benar mau kasih ke Mira?”
“Iya.”
Mira belum juga mengambilnya. “Tapi Mira belum goncengin Kakak.”
Shasa terkekeh. “Makanya mulai besok kamu harus rajin goncengin aku pulang.”
Mira akhirnya tersenyum. “Kalau begitu Mira terima.”
Tangannya perlahan mengambil kotak tersebut. Ada kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Bukan karena ia mendapatkan sepatu, tetapi karena ia tahu sepatu itu bukan pemberian cuma-cuma.
Itu adalah upah dari kesepakatan mereka.
“Jangan sampai besok kamu lupa,” ujar Shasa.
“Enggak akan. Mira pasti ingat.”
Setelah itu Mira melihat beberapa foto keluarga yang terpajang di dinding. Salah satunya adalah foto Shasa bersama seorang wanita.
Mira menunjuk foto itu. “Itu Ibu Kak Shasa?”
Shasa mengangguk. “Iya.”
“Ibu Kakak di mana?”
“Kerja.”
“Kerja di mana?”
“Di kota.”
Mira mengangguk pelan. “Kerja apa?”
“Ibu jadi pembantu rumah tangga.”
Mira tidak menunjukkan wajah iba. Ia hanya mengangguk. “Oh.”
Shasa kemudian duduk di lantai. “Ibu jarang pulang.”
“Kapan pulangnya?”
“Minggu depan.”
Mata Mira langsung berbinar. “Serius? Wah, pastinya Kakak senang dong, Ibunya mau pulang.”
Shasa hanya tersenyum hambar karena ia tahu sang Ibu pulang bukan karena cuti kerja, melainkan hanya menjenguknya sesaat.
Perlahan senyum di bibir gadis kecil itu memudar. “Memang benar Ibu pulang. Tapi cuma sebentar.”
“Kenapa?”
“Karena Ibu cuma mengantar majikannya jalan-jalan.”
“Ke sini? Katanya mereka mau liburan.”
“Liburan di mana?”
“Di daerah sini. Katanya tempatnya masih bagus, banyak pohon dan pemandangannya juga bagus.”
Mira membayangkan tempat tersebut. “Berarti kayak di sebuah vila gitu ya? Pastinya mereka sangat suka dengan pemandangan desa.”
“Tentunya. Karena setiap hari kan mereka hidupnya di kota.”
Mira terkekeh pelan. Entah kenapa bayangannya berada di sebuah vila yang begitu besar dan nyaman.
“Andai saja Mira bisa ke vila sama Ibu.”
Gadis itu segera menutup mulutnya sendiri karena sadar khayalannya terlalu tinggi.
“Mira kenapa?” tanya Shasa heran.
“Enggak apa-apa, Kak,” elaknya lirih.
“Oh ya, Kak, biasanya mobil mereka berhenti di mana?”
“Biasanya sih di taman raya.”
Mendengar itu, Mira langsung tersenyum. “Loh, kalau begitu gampang!”
Shasa mengernyit. “Gampang apanya?”
“Ibu Mira juga jualan di sana.”
“Serius?”
“Iya. Biasanya Ibu jualan makanan, minuman sama jepitan rambut.”
Shasa tersenyum. “Kamu mau enggak temani aku ketemu Ibu?”
Mira langsung mengangguk. “Iya!”
Kemudian ia berpikir sebentar. “Sekalian Mira bantu Ibu jualan.”
Shasa tertawa kecil. “Kamu ini kalau diajak jalan-jalan malah ingat kerja.”
“Kalau bisa bantu Ibu, kenapa enggak?”
Shasa mengangguk. “Iya deh.” Kemudian ia teringat sesuatu. “Oh iya, biasanya Ibu juga bawa banyak makanan.”
“Makanan?”
“Iya. Kadang Ibu juga bawa baju-baju bekas anak majikannya.”
Shasa menunjuk sepatu yang baru saja diberikan kepada Mira. “Masih bagus. Ada sandal sama sepatu juga.”
Mira terdiam sebentar. Tangannya tanpa sadar menyentuh kotak sepatu yang kini berada di sampingnya.
“Kalau begitu pasti banyak yang masih bisa dipakai.”
“Iya.”
Mereka kemudian berbincang cukup lama. Sampai akhirnya Mira melihat matahari mulai condong ke barat.
“Mira pulang dulu, ya, Kak.”
“Iya.”
“Jangan lupa minggu depan.”
“Enggak lupa.”
Mira kemudian membawa kotak sepatu itu dengan hati-hati sebelum menaiki sepedanya. Shasa berdiri di depan rumah sambil melambaikan tangan.
“Hati-hati!”
“Iya!”
Mira membalas lambaian itu sebelum akhirnya mengayuh sepedanya menuju rumah.
Di sepanjang perjalanan, sesekali ia melihat kotak sepatu yang diletakkan di keranjang sepedanya. Senyumnya kembali merekah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mira merasa memiliki sesuatu yang bisa membuatnya berjalan ke sekolah tanpa harus menyembunyikan kaus kaki yang keluar dari lubang sepatunya.
Namun ia tidak pernah tahu... sepatu sederhana itu hanyalah awal dari sebuah pertemuan yang kelak akan mengubah kehidupannya
☘️☘️☘️☘️
Sore hari. Rina baru saja tiba di rumah. Langkahnya terlihat berat. Keranjang dagangan terlihat ringan bukan karena laku melainkan habis terjatuh tadi, dan setelah itu hanya laku beberapa biji saja.
Mira yang sedang duduk di teras langsung berdiri. “Ibu sudah pulang?”
Rina tersenyum lemah. “Sudah, Nak.”
Mira segera membantu mengambil keranjang dari tangan ibunya. “Dagangan Ibu masih banyak?”
Rina mengangguk. “Hari ini agak sepi.”
Mira terdiam. Ia tahu ibunya pasti lelah tapi beberapa detik kemudian wajahnya kembali ceria.
“Bu, lihat!”
Rina yang sedang membereskan sesuatu menoleh. Mira berdiri di hadapannya sambil mengangkat sepasang sepatu yang dibawanya dari rumah Shasa.
“Sepatu apa itu?”
“Punya Kak Shasa. Kak Shasa kasih ke Mira.”
Rina menerima sepatu itu, lalu memperhatikannya sebentar. Meski bukan sepatu baru, kondisinya masih sangat bagus.
“Masih bagus sekali.”
“Iya, Bu.” Mira tersenyum lebar. “Kata Kak Shasa, sudah enggak dipakai lagi.”
Rina mengembalikan sepatu itu kepada putrinya.
“Kalau begitu, Mira harus menjaganya baik-baik.”
Mira mengangguk. “Tapi Mira enggak mau gratis.”
Rina menatap putrinya dengan sedikit heran. “Kenapa?”
“Mira mau bayar. Biar Mira enggak cuma terima.”
“Iya, Nak. Bagus sekali pemikiranmu itu."
Rina tersenyum. Tangannya perlahan mengusap kepala Mira. Dalam hati, sebenarnya wanita itu menjerit andai saja keadaannya tidak seperti ini sudah pasti ia bisa memberikan anaknya kehidupan layak.
"Ya Allah Nak maafkan Ibu," ucapnya dalam hati.
Bersambung .....
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡