Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.
Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.
Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Perjanjian di balik kabut
Malam turun menyelimuti wilayah perbatasan dengan kelam yang pekat. Di kediaman keluarga Ashford, lampu-lampu minyak sudah mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan keheningan yang damai. Namun, ketenangan itu tidak terasa sama sekali di kediaman megah milik Tuan Karis yang terletak beberapa kilometer ke arah kota. Di sana, suasana justru tegang dan dipenuhi bau anyir darah serta dupa yang menyengat.
Di ruang bawah tanah yang jarang disentuh, dinding-dinding batu terlihat lembap dan gelap. Di tengah ruangan itu, Tuan Karis berdiri tegak, namun sikap angkuhnya kini tampak sedikit goyah. Di hadapannya berdiri sosok yang seluruh tubuhnya tertutup jubah kain kasar berwarna abu-abu gelap, wajahnya tersembunyi di balik bayangan tudungnya.
"Kau memanggilku kembali padahal belum lama ini kita bertemu," suara orang itu terdengar parau dan bergetar seolah berasal dari tenggorokan yang sudah lama tidak digunakan. "Apakah kau sudah menyiapkan bayarannya?"
Tuan Karis mengangguk cepat, tangannya yang memegang gelas anggur bergetar sedikit. Ia meletakkan gelas itu ke meja batu kasar di sampingnya.
"Aku membawakan apa yang kau minta. Emas, logam berharga, dan dua belas budak yang tidak akan dicari orang. Tapi sebelumnya... aku harus memastikan janjimu." Tuan Karis menelan ludah, menatap tajam ke arah sosok berjubah itu. "Anak itu... Arlen, dan tanah keluarganya. Setelah kau selesai dengan mereka, apakah aku akan benar-benar menguasai seluruh wilayah itu beserta rahasianya?"
Sosok berjubah itu mengangkat kepalanya sedikit. Dari balik bayangan, terlihat sepasang mata yang tidak berwarna, kelabu dan kosong seperti kabut tebal.
"Kau akan mendapatkan tanahnya, kekayaannya, dan bahkan tanaman ajaib yang tumbuh di sana. Namun ingatlah perjanjian kita: bagian yang tersembunyi di dalam bukit itu adalah milikku. Kau tidak boleh mencampuri urusanku dengan apa pun yang ada di bawah tanah itu."
Tuan Karis tersenyum lebar, matanya berkilau serakah. Baginya, apa pun yang ada jauh di dalam tanah tidak penting selama ia bisa menguasai tanah yang subur dan menjadi penguasa tunggal wilayah itu.
"Sepakat. Lakukan apa yang harus kau lakukan pada anak itu dan keluarganya. Aku tidak ingin mereka ada lagi saat matahari terbit besok lusa."
Sosok berjubah itu mengangguk pelan, lalu mengulurkan tangannya yang kurus dan pucat keluar dari balik kain jubahnya. Di telapak tangannya terdapat sebuah benda kecil berbentuk seperti duri hitam yang berdenyut pelan seolah memiliki nyawa sendiri.
"Pergilah dari sini dan kunci pintunya. Biarkan aku bekerja sendirian di sini. Saat kau kembali besok pagi, semua masalahmu akan selesai."
Tuan Karis tidak menunggu lagi. Ia segera berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruang bawah tanah itu, mengunci pintu berat di belakangnya. Ia tidak tahu siapa sebenarnya orang yang ia bawa masuk ke rumahnya sendiri, dan ia juga tidak peduli. Selama orang itu bisa menghancurkan keluarga Ashford, ia rela memberikan apa saja.
Sementara itu, jauh di bukit yang kini hijau subur, Arlen duduk diam di atas sebuah batu besar yang menghadap ke arah kejauhan. Angin malam berhembus pelan menerbangkan ujung rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Di sampingnya, serigala kelabu besar yang dia panggil Penjaga sedang berbaring, namun telinganya terus bergerak mendengarkan setiap suara yang dibawa angin.
Arlen mengangkat kepalanya, menatap ke arah kabut gelap yang mulai turun menyelimuti jalan raya menuju kota. Matanya yang berwarna kelabu gelap tampak tenang namun menyimpan ketajaman yang tidak wajar bagi seorang anak seusianya. Sejak pesan singkat misterius itu datang, Arlen terus merasakan adanya gelombang energi yang tidak biasa dari arah kediaman Tuan Karis. Energi itu tidak tajam seperti pedang, melainkan menjijikkan, dingin, dan merayap perlahan seperti racun.
"Ada sesuatu yang buruk bersembunyi di sana," gumam Arlen pelan, suaranya rendah namun tegas. Ia mengusap kepala Penjaga yang segera bangkit berdiri dan menggeram pelan ke arah yang ditunjuk tuannya. "Bukan lagi sekadar manusia yang serakah. Kali ini dia membawa sesuatu yang lebih gelap."
Arlen berdiri tegak. Di bawah cahaya remang bulan, samar terlihat bayangan tubuhnya yang tampak lebih tegap dari biasanya. Dia sadar bahwa ketenangan yang ia nikmati beberapa hari terakhir hanyalah jeda singkat sebelum badai yang sesungguhnya datang. Ia sudah menguasai tingkat Aura Perak, menemukan ruang rahasia di bawah bukit, dan memperkuat pertahanan luar. Namun dia belum pernah benar-benar menguji kekuatannya melawan seseorang yang sengaja menggunakan kekuatan terlarang untuk mencelakai orang lain.
Arlen berjalan perlahan turun dari bukit menuju rumahnya. Ia harus memastikan kedua orang tuanya aman malam ini.
Saat dia melangkah masuk ke dalam rumah, ia melihat ayahnya masih duduk di ruang tengah sambil mengasah sebilah pedang tua yang sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun. Cedric tampak serius dan waspada. Saat melihat Arlen masuk, ia menghentikan gerakannya sejenak.
"Ayah tidak bisa tidur," ujar Cedric tanpa menoleh, seolah bisa merasakan kehadiran anaknya. "Hati ini terasa gelisah seolah ada bahaya yang mengintai dari setiap sudut gelap."
Arlen berjalan mendekat dan berdiri di samping ayahnya. Ia menatap bilah pedang yang memantulkan bayangannya sendiri—wajah anak-anak yang polos namun sorot mata yang jauh lebih tua.
"Perasaan Ayah benar," jawab Arlen pelan namun tegas. Ia tidak lagi menyembunyikan kekhawatirannya sepenuhnya. "Tuan Karis tidak akan datang sendirian kali ini. Dia membawa hal yang seharusnya tidak ada di dunia ini."
Cedric mengangkat kepalanya, menatap anaknya dengan tajam namun tidak sepenuhnya heran. Dia sudah lama menyadari bahwa putranya bukanlah anak biasa.
"Apakah kita harus pergi meninggalkan tempat ini malam ini juga?" tanya Cedric, suaranya rendah namun tegas. Ia siap berkemas saat itu juga demi keselamatan keluarganya.
Namun Arlen menggeleng pelan. Ia melangkah mendekat ke arah jendela yang menghadap ke jalan masuk utama.
"Melarikan diri hanya akan membuat mereka semakin berani mengejar. Jika kita meninggalkan tanah ini, kita kehilangan tempat berlindung terbaik sekaligus tanggung jawab yang ada di pundak kita. Kita tetap tinggal."
Arlen berbalik menatap ayahnya, dan saat itu Cedric merasa seolah-olah sedang menatap bukan anak kecilnya, melainkan seorang pemimpin yang bijaksana dan berwibawa.
"Malam ini, biarkan Ibu tidur di ruang paling dalam rumah. Ayah, siapkan pedang itu, tapi jangan bertindak sebelum aku memberi isyarat. Biarkan aku yang berdiri di garis depan."
Cedric hendak membantah, ingin mengatakan bahwa tugas melindungi ada di pundaknya sebagai ayah, namun saat ia bertemu tatapan mata Arlen, kata-kata itu seolah tertahan di tenggorokannya. Cedric mengangguk pelan patuh, sebuah rasa hormat yang muncul secara alami dari lubuk hatinya.
"Baiklah. Kami akan berada di belakangmu."
Malam semakin larut. Kabut tebal turun semakin pekat hingga menyembunyikan jalan dan pepohonan. Tidak ada suara apa pun di luar, seolah seluruh alam pun menahan napas menunggu sesuatu terjadi.
Namun Arlen tidak tidur. Dia duduk diam di ambang pintu utama rumah, matanya terpejam namun kesadarannya terentang jauh melampaui batas tanahnya. Ia merasakan ada dua kehadiran yang bergerak perlahan mendekat dari arah kabut gelap itu. Satu kehadiran itu lemah namun penuh niat jahat—itu pasti orang suruhan atau mata-mata. Kehadiran lainnya... gelap, dingin, dan kosong, seolah tidak memiliki jiwa sama sekali.
Itulah yang dibawa Tuan Karis, batin Arlen bergumam dingin. Sesuatu yang bahkan tidak pantas disebut makhluk hidup.
Perlahan dari balik kabut, muncul sosok bayangan tinggi yang berjalan melayang sedikit di atas tanah. Tubuhnya tertutup kain hitam lusuh, dan setiap langkahnya meninggalkan titik-titik hitam yang membekas di tanah sebelum perlahan menghilang. Di belakangnya, mengikuti dari jarak aman, terlihat sosok Tuan Karis yang bersembunyi di balik pohon besar, matanya berkilau penuh harap akan kemenangan.
Sosok bayangan itu berhenti tepat di depan batas tanah keluarga Ashford. Ia mengangkat kepalanya, dan sepasang mata kosong itu menatap lurus ke arah Arlen yang duduk diam di depan pintu rumah seolah sedang menunggu kedatangannya.
"Kau lebih muda dari perkiraanku," suara serak itu terdengar, bukan dari mulut makhluk itu, melainkan bergaung langsung di udara di sekelilingnya. "Namun aku mencium bau kekuatan yang kuat tersembunyi di dalam tubuh kecilmu. Kekuatan yang sudah terlupakan."
Arlen berdiri perlahan, menyingkirkan penutup pintu di sampingnya. Dia tidak terlihat takut sedikit pun, justru ia berdiri tegak seolah menyambut tamu yang tidak diundang.
"Dan kau membawa bau kematian serta kepalsuan," jawab Arlen tenang, suaranya terdengar jelas menembus keheningan malam. "Kau tidak berhak melangkah satu langkah pun masuk ke tanah ini."
Dari balik pohon besar, Tuan Karis mengerutkan kening . Ia tidak menyangka seorang anak kecil berani berbicara seberani itu.
"Hancurkan dia!" teriak Tuan Karis dari tempat persembunyiannya. "Hancurkan mereka semua!"bunuh semua nya.
Sosok bayangan itu menggerakkan tangannya yang kurus. Seketika kabut hitam pekat melesat cepat ke arah Arlen seolah memiliki cakar raksasa yang ingin meremasnya hingga hancur.
Namun Arlen tidak bergeming. Ia hanya mengangkat satu tangannya perlahan ke depan. Cahaya keperakan yang samar namun kokoh langsung memancar keluar dari telapak tangannya dan langsung menabrak kabut hitam itu hingga berhamburan menjadi kepingan asap yang lenyap.
"Kekuatan yang kotor tidak akan bisa menembus batas ini," ucap Arlen pelan.
Meskipun tubuh itu baru berusia sepuluh tahun, suara yang keluar terdengar begitu berat, dingin, dan menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya.
"...Tidak ada nada kekanak-kanakan di sana. Yang terdengar adalah suara dari seorang kesatria agung yang telah melewati pertempuran yang tak terhitung jumlahnya; sebuah suara yang tenang namun dipenuhi tekanan absolut, lahir dari jiwa yang telah menempa takdir di atas ribuan mayat musuhnya."
Matanya yang kelabu menatap tajam, lurus mengunci makhluk bayangan di hadapannya dengan tatapan mendominasi yang mutlak.
Pergi atau mati," Arlen memberi perintah, setiap kata-kata nya membawa tekanan yang membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak terasa mencekik ,Di saat itu juga, angin malam berubah arah dengan liar, menerbangkan ujung jubah sederhana yang dikenakan Arlen.
Di bawah cahaya bulan yang samar, sosok anak itu tampak seolah memancarkan keagungan yang tersembunyi. Di mata makhluk kegelapan tersebut, ilusi dari seorang raja perang yang tak tergoyahkan mendadak bangkit di belakang Arlen. Meski kekuatan di kehidupan ini belum sepenuhnya lahir, dominasi mental yang dipancarkannya sudah lebih dari cukup untuk membuat makhluk gelap itu ragu dan lumpuh dalam ketakutan untuk melangkah maju selangkah lagi.
Pertarungan baru saja dimulai, dan Arlen tahu ini hanyalah ujian kecil sebelum ia menghadapi ancaman yang jauh lebih besar dan gelap lagi di masa depan.