Alya hanya ingin bertahan hidup bersama putrinya yang masih bayi dan adik perempuan yang tidak pernah meninggalkannya. Setelah diusir keluarga, ditinggalkan pria yang seharusnya bertanggung jawab, dan dipaksa menghadapi dunia sendirian, suara adalah satu-satunya jalan yang ia punya.
Satu malam, di sebuah acara mewah yang penuh rahasia, suaranya menarik perhatian Arkan Wiratama, seorang pria berkuasa yang dikenal dingin, berbahaya, dan tidak pernah kehilangan kendali. Arkan semula mengira Alya bisa dibeli seperti segala hal lain di dunianya. Namun satu tamparan dan satu kalimat membuatnya sadar: perempuan itu tidak punya harga.
Ketika nyawa kecil Kirana terancam, Arkan memilih masuk ke hidup Alya bukan sebagai penyelamat sesaat, melainkan sebagai pria yang berani menawarkan nama, perlindungan, dan sebuah keluarga. Namun menjadi perempuan di sisi seorang Don berarti masuk ke dunia yang dipenuhi kesetiaan, rahasia, musuh, dan bahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara luka lama, cinta yang tumbuh perlahan, dan ancaman dari orang-orang yang ingin merebut kembali apa yang sudah mereka buang, Alya harus memutuskan apakah hati yang pernah hancur masih berani percaya. Dan Arkan harus membuktikan bahwa cinta, bagi pria sepertinya, bukan kelemahan, melainkan sumpah yang akan ia jaga dengan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21 - Tindakan Sempurna
Malam sudah jauh larut. Kamar kami hening, hanya diterangi cahaya redup yang sengaja kami biarkan menyala untuk berjaga-jaga. Aku tidur sangat pulas, lelah oleh semua emosi dan perubahan hari itu, ketika sebuah suara kecil dari baby monitor di atas nakas membangunkanku. Tangisan Kirana terdengar lemah dan mengantuk, tanda ia terbangun karena lapar.
Aku langsung membuka mata dan bergerak hendak duduk, sudah berniat turun dari ranjang dan pergi ke boks bayi. Namun sebelum kakiku menyentuh lantai, tangan besar Arkan yang hangat mendarat lembut di bahuku, menahanku dengan hati-hati.
"Jangan. Tetap di sini," katanya, suaranya masih serak oleh kantuk, tetapi tegas dan tenang. "Istirahatlah."
Aku menoleh, terkejut.
"Tapi botol susunya harus dihangatkan, dan..."
"Semuanya ada di mana?" tanyanya, sudah bangkit sambil mengenakan celana. "Beri tahu aku. Biar aku yang urus."
Aku sedikit canggung, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Seumur hidup, aku tidak pernah membayangkan melihat pria seperti dia, dengan wibawa sebesar itu, dengan aura seseorang yang terbiasa memerintah dan menentukan nasib orang lain, berjalan memakai piyama di dalam rumah untuk menyiapkan botol susu dan menimang seorang bayi. Rasanya begitu jauh dari dunianya sampai aku nyaris sulit percaya.
"Di laci kamar ada termos berisi air hangat, kaleng susunya ada di rak bawah lemari," jawabku, masih agak terpaku. "Botolnya sudah bersih, di sebelahnya."
Arkan mengangguk, keluar dari kamar dengan langkah pelan, lalu menutup pintu hati-hati tanpa menimbulkan suara.
Aku tetap duduk di ranjang, mata tertuju pada baby monitor, mendengarkan semua yang terjadi lewat alat itu. Mula-mula terdengar langkah ringan, lalu suara wadah-wadah disentuh sangat pelan, seolah ia mengerahkan seluruh kehati-hatian di dunia agar tidak berisik.
Beberapa menit kemudian, aku mendengarnya masuk ke kamar sebelah, tempat boks bayi berada. Tangis Kirana mendadak mereda, seakan putriku sudah menyadari ada seseorang yang datang.
Lalu aku mendengar suara Arkan. Rendah, manis, dengan nada yang belum pernah kudengar sebelumnya, sama sekali berbeda dari nada perintah yang ia pakai kepada anak buahnya, bahkan berbeda dari suaranya yang tegas kepadaku sepanjang hari.
"Lihat ini, putri kecilku... lapar sampai terbangun, ya? Tidak perlu menangis. Aku di sini. Aku Arkan, papamu sekarang, jadi kita harus berteman, putriku."
Aku tersenyum sendiri, merasakan dadaku sesak oleh emosi. Putriku, begitu katanya. Dan kata itu terdengar begitu wajar, begitu benar, seolah ia sudah mengatakannya seumur hidup.
"Aku akan memberimu susu pelan-pelan, tidak usah terburu-buru," lanjutnya, dan aku bisa membayangkan ia duduk di kursi dekat boks bayi, menggendong Kirana dengan seluruh kehati-hatian. "Begini, pelan-pelan... enak?"
Setelah itu, yang kudengar hanya suara halus bayi mengisap susu, disusul suara Arkan yang kembali berbisik, seolah sedang membagi rahasia hanya untuk Kirana.
"Dalam beberapa hari, kamu akan lihat... semua urusan dokumen akan selesai. Secara resmi kamu akan menjadi Kirana Maheswari Wiratama. Kamu akan punya margaku, namaku, dan seluruh perlindunganku. Tidak akan ada seorang pun lagi yang melihatmu lalu berpikir kamu sendirian."
Saat ia bicara, suaranya semakin tenang. Gerakan yang kubayangkan pun lembut, menimang Kirana perlahan ke kanan dan kiri. Tak lama kemudian, suara isapan susu melemah, lalu kudengar Arkan berbisik lagi.
"Sudah, habis semuanya. Sekarang tidur lagi sebentar, putriku. Mimpilah yang indah-indah. Di sini kamu selalu aman."
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar kami, menutup pintu tanpa suara, lalu berbaring lagi di sisiku. Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, Arkan menarikku mendekat dan menyelimuti kami berdua.
"Dia tidur. Semua beres," katanya sederhana, seolah ia sudah melakukan itu sepanjang hidupnya.
Aku menyandarkan kepala di dadanya, mendengar detak jantungnya, dan merasakan kedamaian yang begitu besar sampai sulit dijelaskan. Siapa sangka pria yang tampak begitu keras dan tak tersentuh bisa selembut itu?
"Terima kasih," bisikku pelan.
Ia hanya mencium puncak kepalaku dan menjawab, "Tidak perlu berterima kasih. Sekarang kita bertiga, ingat?"
Kamar kembali hening. Hanya ada cahaya redup dan suara napas kami yang lembut. Aku berbaring di sana, mendengar detak jantungnya yang pelan, lalu merasa inilah saatnya membicarakan hal-hal yang sedikit membebani pikiranku, tetapi harus dikatakan dengan jelas.
Aku mengangkat wajah, menumpukan dagu di dadanya agar bisa melihat matanya, lalu bertanya dengan suara rendah.
"Arkan... jawab satu hal. Kamu ingin punya anak lagi di masa depan?"
Ia memandangku penuh perhatian, tanpa terkejut, hanya menunggu aku melanjutkan. Aku menarik napas dalam dan menjelaskan tanpa menyembunyikan apa pun.
"Aku baru ingat harus bilang. Saat kita keluar dari rumah sakit, aku meminta dokter memasang implan kontrasepsi. Metodenya aman, bertahan beberapa tahun, dan untuk sekarang membuatku tenang. Tapi aku tidak melakukannya diam-diam untuk menyembunyikan sesuatu. Aku hanya ingin hidup kita tertata, tanpa terburu-buru. Kalau waktunya tiba dan kita berdua setuju, aku tinggal melepasnya, lalu semuanya kembali normal. Tidak permanen. Hanya pilihan untuk saat ini."
Arkan mendengarkan semuanya dalam diam, tanpa memotong, dan aku melihat ia tidak tersinggung ataupun khawatir. Maka aku memakai kesempatan itu untuk membuka isi hatiku, sesuatu yang tumbuh semakin besar dari hari ke hari.
"Dan ada lagi... aku tidak menyangka semuanya akan terjadi secepat ini. Aku juga tidak menyangka bisa merasa seperti ini begitu cepat. Tapi setiap hari, aku sadar aku semakin jatuh cinta kepadamu. Ini bukan hanya rasa terima kasih, bukan hanya rasa aman yang kamu berikan. Ini tentang kamu, tentang caramu menjadi dirimu sendiri, bahkan dalam hal-hal kecil yang tidak dilihat orang lain. Tapi aku takut... takut menyerahkan diri sepenuhnya lalu akhirnya terluka, takut suatu hari kamu berubah pikiran dan mematahkan hatiku."
Kata-kata itu keluar lirih, agak bergetar. Aku memalingkan pandangan sesaat, malu karena memperlihatkan rasa tidak amanku. Namun Arkan memegang daguku dengan lembut, mengangkat wajahku, lalu menciumku. Ciuman itu tenang, dalam, penuh kepastian, tanpa sedikit pun tergesa. Ketika ia sedikit menjauh, suaranya kembali tegas dan penuh keyakinan.
"Dengarkan baik-baik apa yang akan kukatakan, Alya. Aku tidak akan pernah, dalam keadaan apa pun, mematahkan hatimu. Kalau aku mengambil tanggung jawab atas sesuatu, aku melakukannya sungguh-sungguh. Bukan hanya untuk sementara, bukan hanya selama itu nyaman bagiku."
Ia mengusap pipiku dengan ujung jarinya, lalu melanjutkan.
"Soal anak, kalau suatu hari kita ingin punya lagi, kita akan memutuskannya bersama. Tidak perlu terburu-buru. Kita pilih yang terbaik untuk kita bertiga. Implan itu sama sekali bukan masalah. Kamu melakukan apa yang menurutmu benar untuk saat ini, dan aku menghormatinya sepenuhnya. Yang penting, kita sedang berjalan ke arah yang sama."
Aku tersenyum, merasakan beban besar terangkat dari dada, lalu kembali meringkuk di pelukannya. Suaranya terdengar lembut dan aman.
"Sekarang istirahatlah dengan tenang. Kamu dan Kirana adalah hal paling berharga yang kumiliki. Tidak seorang pun, tidak ada apa pun, yang akan membuatku berhenti menjaga kalian."
Aku memejamkan mata, dilingkupi hangat tubuhnya dan kepastian dalam kata-katanya, lalu tertidur dengan perasaan seolah sedang hidup di dalam mimpi.