Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Hari-hari berikutnya berjalan sangat padat. Barra harus membagi fokusnya antara perkuliahan dan penyelesaian kasus RSH Saputra Corp bersama tim hukum. Sementara itu, Farra menikmati hari-harinya dengan menyelesaikan tugas-tugas kuliah ringan dan memanjakan diri berbelanja perlengkapan calon bayi kembar mereka yang kian lengkap.
Suatu siang, diskusi lanjutan kasus hukum kembali digelar di ruang kerja CEO Saputra Tower. Setelah rapat besar bersama seluruh tim usai dan para advokat senior pamit keluar ruangan, Indira memanfaatkan kesempatan emas itu. Dengan dalih ingin mengonfirmasi ulang draf dokumen gugatan balik, Indira sengaja tetap bertahan di dalam ruangan, menyisakan dirinya berduaan saja dengan Barra.
"Pak Barra, ada beberapa poin dalam draf gugatan ini yang perlu kita selaraskan secara personal," ujar Indira dengan nada halus yang dibuat-buat, sambil melangkah pelan mendekati meja kerja Barra.
Barra yang duduk di kursi kebesarannya hanya menatap dingin ke layar laptop, tangannya sibuk meneliti dokumen tanpa mengindahkan pesona Indira. "Bahas langsung dengan tim hukum internal saya, Indira. Semuanya sudah terstruktur."
Bukannya mundur, Indira justru sengaja melangkah makin rapat ke sisi meja Barra, memiringkan tubuhnya seolah-olah hendak menunjukkan lembaran kertas di tangannya.
Pada saat yang bersamaan, pintu ruang kerja CEO terdorong pelan. Farra—yang baru saja selesai shopping dari mall dan merasa lelah—berniat memberikan kejutan manis dengan mengunjungi suaminya di kantor. Namun, langkah kaki Farra mendadak terhenti di ambang pintu.
Mata Farra membelalak menangkap pemandangan di dalam ruangan: wanita berambut pendek dari perpustakaan itu kini sedang berdiri sangat dekat di samping kursi Barra.
Rasa cemburu, lelah, dan ledakan hormon kehamilan seketika membakar dada Farra. Wajahnya memucat, matanya berkaca-kaca menatap Barra dengan kekecewaan yang mendalam. Tanpa menguapkan sepatah kata pun, Farra membalikkan badan dan berlari kecil meninggalkan area kantor.
"Farra!" seru Barra terkejut, seketika bangkit berdiri dari kursinya.
Melihat reaksi Farra yang memicu emosi Barra, Indira hendak bersuara, "Pak Barra, biar saya—"
"Tutup mulutmu dan keluar dari kantor saya sekarang!" potong Barra dengan suara berat yang menggelegar dan tatapan penuh amarah yang menakutkan, membuat Indira seketika membeku ketakutan.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Barra melompati meja kerjanya dan berlari kencang menyusuri koridor kantor, mengejar sang istri yang berjalan cepat menuju lift dengan air mata yang mulai menetes deras.
Langkah kaki Farra yang cepat terhenti tepat di depan pintu lift. Sebelum pintu baja itu tertutup rapat, sepasang lengan kekar dengan sigap menahan celahnya. Barra berhasil menerobos masuk ke dalam lift, napasnya memburu dengan raut wajah yang dipenuhi kepanikan luar biasa.
"Sayang, tunggu! Dengarkan aku dulu, demi Tuhan itu nggak seperti yang kamu lihat!" seru Barra memohon, berusaha meraih jemari istrinya.
Farra langsung menepis tangan Barra dengan kasar. Ia memalingkan wajahnya ke dinding lift, memeluk erat tas belanjaannya sembari menahan isak tangis yang hendak pecah. Ledakan emosi dan cemburu yang membakar hatinya membuat setiap penjelasan Barra terdengar seperti angin lalu. Sepanjang perjalanan di dalam lift hingga menuju parkiran, Farra sama sekali tidak menggubris ucapan suaminya. Ia masuk ke dalam mobil dan tetap bungkam seribu bahasa, menatap lurus ke luar jendela selama perjalanan pulang ke apartemen.
Setibanya di unit penthouse apartemen mereka, Farra langsung berjalan cepat menuju kamar utama. Tanpa mengulur waktu, ia menarik sebuah koper besar dari dalam lemari dan mulai mengemas pakaian-pakaiannya dengan tangan gemetar akibat amarah dan kesedihan.
Barra yang menyusul masuk ke kamar seketika panik setengah mati melihat pemandangan tersebut. Jantungnya serasa berhenti berdetak.
"Farra! Kamu mau ke mana? Tolong jangan seperti ini, Sayang!" Barra berlutut di samping koper, menahan tangan Farra agar berhenti memasukkan pakaian. "Wanita itu cuma perwakilan firma hukum! Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia, aku bahkan nggak melirik dia sedikit pun!"
"Lepas, Barra!" bentak Farra dengan suara bergetar dan mata yang sudah sembab memerah. "Aku lelah! Aku capek tiap kali ngeliat cewek itu selalu ada di sekitar kamu! Kamu bilang kamu nggak melirik dia, tapi kenapa dia bisa ada berduaan di ruangan kamu dengan posisi sedekat itu?!"
"Dia yang mendekat sendiri, Farra! Aku langsung mengusir dia setelah kamu pergi!" tegas Barra mencoba membela diri, matanya ikut berkaca-kaca melihat penderitaan istrinya.
Perdebatan hebat tak terelakkan di antara pasangan suami istri tersebut. Farra yang terlanjur dikuasai kecemburuan mendalam dan pengaruh hormon kehamilan tua tidak lagi mau mendengarkan alasan apa pun. Dengan sisa tenaganya, Farra mendorong tubuh Barra, lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Gabriella.
"Gaby... tolong jemput aku di apartemen sekarang. Aku mau pulang ke rumah Papi," bisik Farra terisak di telepon.
Tak butuh waktu lama, Gabriella tiba di apartemen dengan raut wajah cemas sekaligus bingung. Melihat koper besar dan kondisi Farra yang menangis sesenggukan, Gabriella langsung pasang badan melindungi sahabatnya.
Barra terus berusaha menahan dan memohon di ambang pintu apartemen. "Farra, tolong jangan pergi... Kasihan si kembar, Sayang. Bicara baik-baik sama aku, tolong..."
Namun, Farra tetap bersikeras dengan keputusannya. Tanpa memandang wajah Barra sedikit pun, ia berjalan melewati suaminya dan melangkah pergi didampingi Gabriella menuju rumah orang tuanya. Barra yang tak berdaya hanya bisa menatap punggung istrinya yang kian menjauh, merasa dunianya runtuh seketika akibat kesalahpahaman tersebut.